Apa Itu Tuli?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu tuli?

Kehilangan pendengaran, atau yang juga dikenal dengan istilah tuli, adalah gangguan di mana seseorang tidak dapat mendengar suara secara sebagian atau keseluruhan pada salah satu atau kedua telinga.

Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan pendengaran apabila tidak dapat mendengar lebih dari 40 desibel (dB) pada orang dewasa, dan lebih dari 30 dB pada anak-anak.

Penuaan dan paparan terhadap suara bising dalam jangka waktu panjang adalah faktor-faktor yang berperan besar dalam kondisi ini. Faktor lainnya, seperti kotoran telinga berlebih, juga dapat mengganggu fungsi telinga dalam menghantarkan suara dengan sewajarnya.

Sebagian besar kasus tuli tidak dapat disembuhkan. Karena orang-orang dengan pendengaran yang terganggu mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, sebagian besar menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea.

Seberapa umumkah tuli?

Kondisi ini cukup umum dan dapat terjadi pada hampir siapa saja. Namun, kasus kejadiannya lebih banyak ditemukan pada pasien berusia lanjut, yaitu di antara usia 65 hingga 75.

Berdasarkan data yang dilansir dari World Health Organization, diperkirakan terdapat 5% atau 466 juta orang di seluruh dunia yang menderita gangguan pendengaran, dan 34 juta di antaranya adalah anak-anak.

Selain itu, 1,1 miliar penduduk yang berusia di antara 12-35 tahun memiliki risiko kehilangan pendengaran akibat terpapar suara yang terlalu bising dalam kegiatan sehari-hari.

Kasus gangguan pendengaran lebih banyak ditemukan di negara-negara berkembang dengan tingkat perekonomian yang relatif rendah, seperti Asia Selatan, Asia Pasifik, dan sub-Sahara Afrika.

Tuli adalah gangguan pendengaran yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter.

Jenis

Apa saja jenis-jenis dari tuli?

Tuli atau kondisi kehilangan pendengaran dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Apabila diklasifikasikan berdasarkan bagian telinga mana yang terdampak, berikut penjelasannya:

1. Tuli konduktif

Tuli konduktif terjadi ketika suara tidak dapat melewati saluran telinga luar dan dalam karena adanya penyumbatan. Sumbatan biasanya disebabkan oleh kotoran yang menumpuk di dalam telinga. Biasanya tuli terjadi pada salah satu telinga yang mengalami penyumbatan. Kondisi ini menyebabkan penderita mendengar suara yang seolah-olah teredam.

2. Tuli sensorineural

Tuli sensorineural disebabkan oleh kerusakan sel-sel di telinga bagian dalam atau di saraf pendengaran. Kondisi ini menyebabkan penderita tidak dapat mendengar suara selayaknya orang-orang normal. Gangguan ini umumnya bersifat permanen dan terjadi di kedua telinga

Selain itu, tuli juga dapat dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan apa pemicunya:

1. Kehilangan pendengaran akibat kebisingan (noise-induced)

Terlalu sering terpapar tingkat kebisingan yang tinggi, seperti suara kendaraan bermotor, speaker, televisi, atau tinggal di dekat bandara dapat memengaruhi struktur di dalam telinga. Kondisi ini disebut dengan noise-induced hearing loss (NIHL).

NIHL terkadang dapat terjadi secara mendadak, atau muncul secara bertahap sehingga penderita tidak menyadari bahwa ia mengalami gangguan pendengaran.

2.Kehilangan pendengaran akibat faktor usia

Gangguan pendengaran yang dipicu oleh faktor usia (prebikusis) biasanya terjadi ketika seseorang telah memasuki usia lanjut. Maka dari itu, kondisi ini lebih banyak ditemukan pada pasien yang berada di rentang usia 65 hingga 75 tahun.

Beberapa penyebab dari kondisi ini di antaranya adalah kelainan di telinga bagian tengah, hingga perubahan pada saraf telinga yang terhubung ke otak. Selain itu, kondisi kesehatan serta pengobatan tertentu juga mungkin berpengaruh.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala tuli?

Penderita gangguan pendengaran biasanya akan menunjukkan tanda-tanda dan gejala awal yang bervariasi. Terkadang, gejala dapat muncul secara bertahap seiring dengan bertambahnya usia, atau timbul secara mendadak.

Beberapa gejala umum yang dirasakan oleh penderita meliputi:

  • Suara yang teredam
  • Kesulitan memahami kata-kata, terutama jika dalam suasana berisik atau kerumunan
  • Kesulitan mendengar konsonan
  • Sering meminta orang lain untuk berbicara lebih perlahan, jelas dan kencang
  • Perlu mengeraskan volume TV atau radio
  • Semakin jarang berkomunikasi
  • Menghindari beberapa situasi sosial
  • Beberapa suara terdengar terlalu keras
  • Kesulitan mengikuti pembicaraan saat 2 orang atau lebih berbicara
  • Kesulitan membedakan konsonan bernada tinggi (seperti β€œs” atau β€œth”)
  • Lebih mudah mendengar suara pria daripada suara wanita
  • Mendengar suara seperti gumaman
  • Merasa tidak seimbang atau pusing (umumnya berhubungan dengan penyakit Meniere dan neuroma akustik)
  • Sensasi tertekan pada telinga (akibat cairan di belakang gendang telinga)
  • Deringan atau dengungan pada telinga (tinnitus)

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Gangguan pendengaran mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari
  • Masalah pendengaran tidak kunjung hilang, bahkan semakin memburuk
  • Penurunan pendengaran di satu telinga
  • Pendengaran hilang mendadak
  • Dengungan di telinga yang parah
  • Gejala lainnya, seperti sakit pada telinga dengan gangguan pendengaran
  • Sakit kepala, lemah, dan mati rasa pada tubuh

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi Anda, pastikan Anda selalu memeriksakan apapun gejala yang Anda alami ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab tuli?

Telinga manusia terdiri dari 3 bagian utama, yaitu telinga luar, tengah, dan dalam. Gelombang suara melewati telinga bagian luar dan menimbulkan getaran pada gendang telinga.

Gendang telinga dan 3 tulang kecil yang terletak di telinga tengah akan memantulkan getaran tersebut menuju telinga bagian dalam. Setelah itu, getaran suara akan melewati organ kecil yang disebut dengan koklea.

Pada koklea, terdapat ribuan rambut halus yang akan mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik, yang kemudian akan dikirim menuju otak. Otak bertugas mengubah sinyal-sinyal tersebut menjadi suara.

Kehilangan pendengaran dapat terjadi akibat beberapa kondisi. Pada tuli jenis konduktif, gangguan terjadi akibat masalah pada bagian luar dan tengah telinga. Penyebab umum dari gangguan pendengaran konduktif adalah:

  • Penumpukan kotoran pada saluran telinga
  • Kerusakan pada tulang-tulang kecil yang terdapat di belakang gendang telinga
  • Penumpukan cairan akibat infeksi telinga
  • Objek asing yang tersangkut pada saluran telinga
  • Luka pada gendang telinga akibat infeksi berulang

Sementara itu, gangguan pendengaran sensorineural terjadi akibat adanya kerusakan pada saraf di rambut-rambut kecil yang terletak di telinga dalam. Kerusakan tersebut biasanya dipicu oleh penyakit tertentu atau cedera. Beberapa kondisi yang memengaruhi kerusakan di telinga dalam adalah:

  • Neuroma akustik
  • Penurunan pendengaran karena faktor usia
  • Infeksi di waktu kecil, seperti meningitis, gondok, scarlet fever, dan campak
  • Penyakit Meniere
  • Paparan jangka panjang terhadap suara keras
  • Penggunaan obat-obatan tertentu

Dalam beberapa kasus, gangguan pendengaran adalah kondisi bawaan lahir yang disebabkan oleh:

  • Cacat lahir yang menyebabkan perubahan pada struktur telinga
  • Faktor keturunan
  • Infeksi yang ditularkan ibu pada saat bayi masih di dalam rahim (seperti toksoplasmosis, rubella, atau herpes)

Telinga juga dapat mengalami cedera akibat:

  • Perbedaan tekanan antara bagian dalam dan luar gendang telinga, biasanya terjadi saat melakukan scuba diving
  • Retak tulang tengkorak yang berpotensi merusak struktur atau saraf telinga
  • Trauma dari suara yang terlampau keras, seperti ledakan, kembang api, tembakan, konser, dan mendengar earphone dengan volume terlalu keras

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko saya untuk mengalami kondisi tuli?

Tuli adalah kondisi yang dapat terjadi pada hampir setiap orang, terlepas dari apa kelompok usia dan golongan rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan terkena suatu penyakit atau mengalami kondisi kesehatan tertentu.

Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat terkena penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya kondisi tuli:

1. Usia

Gangguan telinga lebih banyak terjadi pada pasien berusia lanjut. Masalah kesehatan tertentu serta penurunan fungsi telinga berpengaruh besar pada kondisi ini.

2. Faktor genetik

Faktor keturunan juga dapat membuat Anda menjadi lebih rentan terhadap kerusakan telinga.

3. Terpapar suara terlalu keras

Apabila Anda terpapar suara yang terlalu kencang secara terus menerus, hal tersebut berpotensi merusak sel-sel bagian dalam telinga Anda.

Suara yang terlalu keras dapat muncul dari beberapa situasi, seperti tinggal di dekat bandara, mendengar suara senjata api, serta bekerja di pabrik atau konstruksi bangunan.

Selain itu, beberapa aktivitas rekreasional seperti balap motor, snowmobile, atau menonton konser musik juga dapat memengaruhi kualitas pendengaran Anda jika dilakukan terlampau sering.

4. Konsumsi obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat-obatan, seperti antibiotik gentamicin atau obat-obatan kemoterapi, dapat mengganggu struktur telinga dalam Anda.

Konsumsi obat penawar rasa sakit, aspirin, serta obat diuretik dengan dosis terlalu tinggi juga berpengaruh pada kemampuan pendengaran Anda.

5. Menderita penyakit tertentu

Penyakit yang menyebabkan demam tinggi, seperti meningitis, berpotensi merusak koklea pada telinga.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang diakibatkan oleh tuli?

Tuli umumnya tidak akan menyebabkan masalah kesehatan tertentu. Namun, penderita akan mengalami perubahan yang signifikan dalam beberapa aspek kehidupannya, seperti berkomunikasi.

Pada anak-anak, kehilangan pendengaran dapat mengganggu tumbuh kembang anak, baik dalam performa akademis maupun perkembangan kognitif anak.

Selain itu, penderita gangguan pendengaran yang merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya berpotensi mengalami masalah mental, seperti depresi.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana tuli didiagnosis?

Dalam mendiagnosis kondisi ini, terdapat serangkaian tes dan prosedur yang akan dilakukan oleh dokter dan tim medis. Berikut penjelasannya.

1. Pemeriksaan fisik

Dokter akan melihat secara langsung telinga Anda untuk menyelidiki penyebab gangguan telinga, seperti adanya kotoran telinga atau peradangan akibat infeksi. Dokter juga akan mengecek struktur telinga, yang mungkin dapat memengaruhi kualitas pendengaran Anda.

2. Pemeriksaan pendengaran umum

Biasanya, dokter akan meminta Anda menutup salah satu telinga untuk menilai bagaimana kemampuan Anda dalam mendengar suara dengan volume yang berbeda-beda.

Namun, hasil pemeriksaan ini umumnya tidak cukup akurat, sehingga dokter akan melakukan jenis tes lainnya.

3. Tes garpu tala (tuning fork)

Garpu tala adalah alat dengan 2 gigi metal yang dapat menghasilkan suara tertentu. Tes sederhana dengan garpu tala dapat membantu dokter mengetahui adanya gangguan pendengaran pada pasien.

Evaluasi dengan garpu tala juga dapat menunjukkan apakah tuli disebabkan oleh kerusakan pada telinga tengah, saraf pada telinga dalam, atau kerusakan pada keduanya.

4. Tes audiometer

Dalam tes ini, Anda akan menggunakan earphone pada salah satu telinga secara bergantian. Setiap suara atau kata-kata yang diperdengarkan memiliki volume dan desibel yang berbeda-beda.

Bagaimana tuli ditangani?

Penanganan tuli tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan yang Anda derita. Berikut adalah pilihan penanganan medis yang direkomendasikan oleh dokter:

1. Membersihkan kotoran telinga

Pada kebanyakan kasus, gangguan pendengaran ringan dapat diatasi dengan cara membuang penumpukan kotoran pada saluran telinga. Dokter akan menggunakan alat kecil yang dapat mengisap dan membersihkan kotoran secara tuntas.

2. Prosedur operasi

Beberapa kasus kehilangan pendengaran harus diatasi dengan operasi. Prosedur ini umumnya dilakukan untuk menangani kasus tuli akibat kelainan struktur tulang telinga.

3. Pemasangan alat bantu dengar

Apabila kehilangan pendengaran yang Anda alami disebabkan oleh kerusakan telinga bagian dalam, dokter akan menyarankan Anda memasang alat bantu dengar.

Alat bantu dengar dapat membantu memantulkan gelombang suara yang masuk ke dalam saluran telinga, sehingga kemampuan mendengar Anda akan meningkat.

4. Implan koklea

Jika gangguan pendengaran yang Anda alami lebih serius dan alat bantu dengar tidak banyak membantu, prosedur implan koklea dapat menjadi alternatif untuk Anda.

Implan koklea berfokus pada bagian telinga dalam Anda yang mengalami kerusakan parah, seperti saraf pendengaran.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tuli?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi atau mencegah gangguan pendengaran:

1. Melindungi telinga Anda

Sebisa mungkin, usahakan untuk menghindari telinga Anda dari paparan suara yang terlalu berisik dan lama. Jika Anda bekerja di lingkungan yang berisik, seperti pabrik, Anda dapat menggunakan earplug atau penutup telinga.

2. Membersihkan telinga dengan hati-hati

Saat membersihkan telinga, Anda dapat menggunakan pelunak kotoran telinga seperti Cerumenex. Gunakan cotton bud dan air hangat, lalu bersihkan telinga secara perlahan untuk menghindari kerusakan gendang telinga.

Berhati-hatilah saat mengeluarkan objek asing dari telinga. Kecuali jika kotoran mudah dikeluarkan sendiri, sebaiknya mintalah bantuan medis. Jangan menggunakan alat tajam untuk mengeluarkan objek asing.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Direview tanggal: Maret 12, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 28, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca