Apa itu neuropati?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu neuropati?

Neuropati adalah sebutan umum untuk nyeri atau kerusakan pada saraf. Kondisi ini dapat memengaruhi sebagian atau seluruh bagian saraf-saraf yang ada di tubuh. Neuropati dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, saraf terjepit, maupun cedera.

Dalam dunia medis, ada lebih dari 100 jenis kerusakan saraf, namun secara garis besar neuropati dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu neuropati perifer, proksimal, kranial, otonom, dan fokal. Setiap jenis neuropati memiliki gejala dan penyebab yang berbeda-beda.

Seberapa umum neuropati?

Neuropati adalah kondisi kesehatan yang sangat umum terjadi. Penderitanya berasal dari segala golongan usia, namun biasanya orang berusia lanjut lebih berisiko terkena kondisi ini.

Neuropati juga banyak ditemukan pada pengidap diabetes. Sebanyak 60 hingga 70 persen penderitanya menunjukkan gejala-gejala neuropati.

Kondisi ini juga lebih sering menyerang pasien wanita dibanding pria. Selain itu, orang-orang dengan pekerjaan yang sering melakukan gerakan repetitif (berulang-ulang) juga lebih mudah terkena kondisi ini.

Jenis

Apa saja jenis-jenis neuropati?

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, neuropati dibagi menjadi 5 jenis secara umum. Pembagian ini berdasarkan pada saraf bagian mana yang mengalami kerusakan.

Berikut adalah kelima jenis neuropati yang paling umum:

1. Neuropati perifer

Jenis ini adalah yang paling sering terjadi pada pasien. Kondisi ini diakibatkan oleh kerusakan pada sistem saraf di otak dan tulang belakang. Kerusakan saraf pada bagian tersebut dapat memengaruhi kaki, lengan, tangan, dan jari.

Neuropati perifer dapat dibagi lagi menjadi 2 tipe, yaitu mononeuropati dan polineuropati. Mononeuropati menyerang satu saraf perifer, sedangkan polineuropati mengenai seluruh bagian saraf perifer.

2. Neuropati proksimal

Kerusakan saraf jenis proksimal cukup langka dan menyerang saraf di bagian paha, pinggang, dan pantat. Neuropati proksimal biasanya hanya terjadi pada satu sisi bagian tubuh, jarang dapat menyebar dibagian tubuh yang lain. Neuropati proksimal lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan wanita. Biasanya pada usia di atas 50 tahun dan memiliki kadar gula darah dan kolesterol (trigliserida) yang tinggi

3. Neuropati kranial

Pada neuropati jenis kranial, kerusakan terjadi pada otak atau batang. Kerusakan di area tersebut dapat memengaruhi pergerakan mata dan wajah.

Penyakit bell’s palsy adalah salah satu dari beberapa penyakit yang termasuk jenis neuropati kranial.

4. Neuropati otonom

Kerusakan terjadi pada sistem saraf involunter yang mengatur jantung, sistem ekskresi, sistem pencernaan, suhu tubuh, sirkulasi darah, kelenjar keringat, dan fungsi organ reproduksi.

5. Neuropati fokal

Neuropati jenis fokal termasuk kelainan saraf yang paling jarang terjadi. Biasanya, kerusakan ditemukan pada saraf-saraf yang berada di pergelangan tangan, kepala, atau kaki, walaupun kadang juga terjadi di saraf bagian punggung, dada, dan mata.

Penyakit yang paling sering dikaitkan dengan neuropati fokal adalah carpal tunnel syndrome (CTS).

Tanda-tanda & gejala

Apa saja gejala neuropati?

Neuropati menunjukkan gejala-gejala yang bervariasi, tergantung pada jenis dan lokasi saraf yang terdampak.

Gejala dapat muncul secara tiba-tiba atau yang biasa disebut neuropati akut. Dalam kasus lain, gejala berkembang seiring berjalannya waktu, yang juga sering disebut neuropati kronis.

Secara umum, kondisi kerusakan saraf memiliki gejala-gejala sebagai berikut:

  • Kesemutan
  • Mati rasa
  • Sakit pada bagian tubuh tertentu

Apabila dibagi berdasarkan jenis saraf yang terdampak, maka neuropati akan menunjukkan gejala-gejala yang bervariasi seperti di bawah ini:

1. Saraf otonomik

Saraf otonomik bertugas untuk mengontrol aktivitas tubuh secara tidak sadar atau setengah sadar. Apabila mengalami kerusakan, maka gejala yang mungkin terasa adalah:

  • Ketidakmampuan untuk merasakan nyeri dada, seperti angina atau serangan jantung
  • Terlalu banyak berkeringat (atau hiperhidrosis) atau terlalu sedikit berkeringat (atau anhidrosis)
  • Pusing
  • Mata dan mulut kering
  • Sembelit
  • Disfungsi kantong kemih
  • Disfungsi seksual

2. Saraf motorik

Saraf motorik berperan dalam mengontrol pergerakan dan tindakan manusia. Jika mengalami neuropati, maka gejala-gejalanya adalah sebagai berikut:

  • Lemas
  • Atrofi otot
  • Kejang, atau fasciculation
  • Kelumpuhan

3. Saraf sensorik

Saraf yang berfungsi untuk menghantarkan rasa sakit dan sensasi lainnya pun dapat mengalami kerusakan, yang ditunjukkan dengan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Nyeri
  • Sensitivitas
  • Mati rasa
  • Kesemutan atau merasa tertusuk
  • Merasa terbakar
  • Gangguan kesadaran akan posisi.

Beberapa gejala atau tanda lainnya mungkin tidak tercantum di atas. Jika Anda merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas, segera konsultasi ke dokter Anda.

Kapan harus pergi ke dokter?

Neuropati biasanya menimbulkan gejala-gejala di atas. Namun, ada kalanya penderita tidak menunjukkan gejala apapun.

Jika Anda memiliki tanda atau gejala yang tercantum di atas atau ingin bertanya, konsultasikan ke dokter.

Setiap tubuh berfungsi dengan berbeda dan menunjukkan gejala yang bervariasi satu sama lain.

Selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi dan penanganan terbaik bagi situasi Anda.

Penyebab

Apa penyebab neuropati?

Neuropati adalah kondisi yang dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Kerusakan saraf bisa saja disebabkan oleh penuaan, seperti yang sering terjadi pada kasus neuropati perifer.

Di kasus lainnya, kerusakan juga dapat terjadi akibat adanya cedera yang mengakibatkan saraf meregang, terputus, atau terjepit.

Berikut ini adalah beberapa penyebab yang dapat memicu terjadinya kerusakan saraf, yaitu:

1. Penyakit autoimun

Beberapa penyakit autoimun yang menyerang sistem saraf dapat menyebabkan neuropati, seperti sindrom Guillain-Barre (kondisi langka di mana sistem imun menyerang saraf perifer), penyakit radang pencernaan, myasthenia gravis, lupus, dan multiple sclerosis.

2. Kanker dan tumor

Sel tumor terkadang dapat masuk dan menekan serat-serat saraf, sehingga bisa memicu kerusakan. Selain itu, respon sistem imun pasien pengidap kanker juga dapat memengaruhi kerusakan saraf.

3. Masalah ginjal dan hati

Apabila ginjal dan hati bermasalah, darah akan mengandung kadar racun yang lebih banyak dari biasanya. Hal ini dapat berujung pada kerusakan jaringan saraf.

4. Obat kemoterapi

Sebanyak 30 hingga 40 persen penderita kanker yang menjalani pengobatan kemoterapi dapat mengalami polineuropati. Terapi radiasi pun juga menunjukkan gejala kerusakan saraf, walaupun dampaknya baru terlihat beberapa bulan atau tahun setelahnya.

5. Diabetes

Angka pengidap diabetes yang mengalami kerusakan saraf cukup tinggi, mulai dari tingkat kerusakan yang sedang hingga parah pada sistem saraf sensorik, motorik, maupun otonomik.

6. Trauma

Tubuh yang mengalami cedera serius akibat kecelakaan dapat mengalami trauma yang serius dan berujung pada kerusakan sistem saraf.

7. Efek samping obat dan zat beracun

Mengonsumsi obat-obatan tertentu dapat berkontribusi pada terjadinya kerusakan saraf. Selain itu, merokok dan minum alkohol juga membiarkan tubuh menerima zat beracun, yang mengakibatkan gejala neuropatik yang parah.

Zat beracun yang mungkin secara tidak sengaja tertelan, termasuk timbal, arsenik, dan merkuri, juga menyebabkan kerusakan saraf.

8. Penyakit saraf motorik

Penyakit yang mempengaruhi sistem saraf motorik, termasuk amyotrophic lateral sclerosis atau penyakit Lou Gehrig, dapat mengakibatkan kerusakan saraf yang memburuk seiring berjalannya waktu.

9. Kekurangan gizi

Kekurangan nutrisi tertentu, termasuk vitamin B6 dan B12, kemungkinan dapat menimbulkan gejala nyeri dan kerusakan saraf.

10. Penyakit menular

Penyakit yang ditularkan melalui virus seperti penyakit Lyme, herpes, HIV, dan hepatitis C dapat merusak sistem saraf pusat dan perifer.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya terkena neuropati?

Neuropati adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja. Namun, ada berbagai macam faktor yang meningkatkan kemungkinan Anda terkena penyakit ini.

Berikut ini merupakan faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan Anda terserang penyakit ini, yaitu:

  • Telah berusia lanjut
  • Memiliki kondisi medis tertentu
  • Memiliki anggota keluarga dengan gangguan saraf
  • Sebelumnya mengalami kerusakan saraf
  • Mengidap kanker
  • Memiliki tumor
  • Berolahraga berat dan berisiko tinggi
  • Memiliki pekerjaan yang berat
  • Melakukan gerakan yang repetitif hampir setiap hari

Diagnosis

Bagaimana neuropati dapat didiagnosis?

Karena kerusakan saraf dibagi menjadi berbagai jenis dan gejala, umumnya sulit untuk mendiagnosis penyakit ini secara akurat. Biasanya, dokter akan melakukan beberapa macam pemeriksaan dan tes sebagai berikut:

1. Diagnosis awal

  • Menanyakan riwayat kesehatan

Dokter akan menanyakan apa saja gejala yang Anda rasakan, faktor risiko seperti lingkungan pekerjaan, kebiasaan sehari-hari, paparan terhadap zat beracun, konsumsi alkohol, adanya penyakit menular, dan apakah anggota keluarga lain yang pernah terkena penyakit saraf.

  • Tes fisik dan neurologis

Setelah itu, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan neurologis untuk mengidentifikasi penyebab gangguan neuropatik, serta tingkat dan jenis kerusakan saraf. Lewat tes ini, dokter dapat mengetahui adanya penyakit atau masalah kesehatan yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, seperti diabetes.

  • Tes darah

Dokter juga akan mengambil darah Anda dan mengecek apakah Anda menderita diabetes, kekurangan vitamin, disfungsi ginjal atau hati, gangguan metabolisme tubuh, infeksi, dan aktivitas sistem imun yang tidak normal.

Kemudian, dokter akan melakukan serangkaian tes tambahan apabila ingin mengetahui seberapa parah kerusakan saraf dan apa tindakan yang harus diambil.

2. Tes fungsi saraf

Terdapat dua jenis tes fungsi saraf yang dapat dokter lakukan, yaitu:

  • Nerve conduction velocity (NCV)

Tes yang mengukur kekuatan dan kecepatan sinyal di saraf motorik dan sensorik ini berfungsi untuk mengetahui jenis saraf yang mengalami kerusakan.

  • Elektromiografi (EMG)

Pada tes elektromiografi, sebuah jarum berukuran sangat kecil akan dimasukkan ke dalam salah satu otot untuk merekam aktivitas listrik saat sedang rileks dan kontraksi. Tes ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas listrik saraf motorik yang tidak wajar, serta membedakan antara gangguan otot dan saraf.

3. Tes neuropatologi tampilan saraf

Ada dua macam tes yang mungkin akan dilakukan oleh dokter:

  • Biopsi saraf

Pada tes ini, dokter akan mengambil bagian dari jaringan saraf Anda, biasanya saraf sensorik di kaki bagian bawah. Walaupun hasil lebih detail dan akurat, tes ini berisiko semakin merusak fungsi saraf dan meninggalkan rasa sakit yang kronis.

  • Biopsi kulit neurodiagnostik

Mirip dengan biopsi saraf, dokter mengambil sedikit bagian dari kulit Anda untuk memeriksa ujung serat saraf.

4. Tes otonom

Beberapa jenis tes otonom dilakukan untuk kerusakan saraf jenis perifer, salah satunya adalah tes QSAT. Tes ini bertujuan untuk mengetahui adanya serat saraf yang tidak bekerja dengan normal, terutama pada kasus polineuropati.

5. Tes radiologi

  • Magnetic resonance imaging (MRI)

Tes MRI pada tulang belakang dapat memperlihatkan apakah ada saraf terjepit, tumor, atau masalah internal lainnya.

  • Computed tomography (CT scan)

Melalui CT scan, dokter dapat mengetahui adanya penyempitan kanal tulang belakang (spinal stenosis), tumor, kerusakan tulang dan pembuluh darah yang mungkin dapat memengaruhi saraf.

Obat & Pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana cara mengobati neuropati?

Tergantung pada seberapa parah kerusakan saraf, pengobatan yang Anda perlukan akan bervariasi.

Dalam kasus neuropati yang ringan, dokter akan menganjurkan untuk beristirahat yang cukup dan meresepkan obat-obatan penghilang rasa sakit seperti antidepresan trisiklik dan obat antikejang tertentu.

Berikut adalah beberapa obat-obatan yang sering diresepkan oleh dokter

  • Injeksi vitamin B12
  • Steroid, untuk meredakan peradangan
  • Obat imunosupresan, untuk mengurangi aktivitas sistem imun
  • Injeksi imunoglobulin
  • Amitriptyline, untuk menghilangkan sakit kepala
  • Duloxetine, untuk meredakan masalah saluran kemih
  • Krim capsaicin
  • Tramadol

Selain itu, dokter juga akan meminta Anda untuk melakukan beberapa hal di bawah:

  • Menjaga kadar gula darah bagi pengidap diabetes
  • Memperbaiki kekurangan gizi
  • Mengganti obat kalau obat menyebabkan kerusakan saraf
  • Fisioterapi atau operasi untuk menangani tekanan atau trauma pada saraf
  • Melakukan pengobatan pada kondisi autoimun tubuh.

Tergantung jenis dan keparahan cedera, dokter akan membahas metode berbeda untuk memperbaiki saraf dan membuat rencana pengobatan yang cocok bagi Anda.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat mengatasi neuropati?

Kerusakan pada saraf dapat diminimalisir dengan cara mengganti gaya hidup dan melakukan pengobatan rumahan.

Hal ini tidak hanya akan membantu mencegah munculnya gejala-gejala neuropati, namun kesehatan tubuh Anda secara keseluruhan akan terjaga.

Gaya hidup dan pengobatan rumahan di bawah ini dapat Anda lakukan untuk mengatasi kerusakan saraf:

1. Berolahraga ringan secara teratur

Dengan rutin berolahraga, kerusakan pada saraf dapat pulih lebih cepat dan Anda akan terhindar dari kondisi mati otot.

2. Berhenti merokok

Rokok dapat memengaruhi dan memperburuk gejala-gejala neuropati. Oleh karena itu, apabila Anda perokok aktif, usahakan untuk berhenti.

3. Mengurangi konsumsi kafein

Kafein yang biasanya terkandung dalam kopi dapat menurunkan kualitas tidur Anda. Hal ini dapat berpengaruh pada keparahan gejala kerusakan saraf dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

4. Menghindari alkohol

Konsumsi minuman beralkohol juga dapat memicu munculnya kembali gejala-gejala neuropati.

5. Mengompres bagian tubuh yang sakit

Apabila gejala neuropati muncul dan Anda mengalami rasa nyeri di bagian tubuh tertentu, Anda dapat mencoba meredakannya dengan cara mengompres area tubuh yang sakit.

Jika ingin bertanya, konsultasikan kepada dokter untuk lebih mengerti solusi terbaik bagi Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat kesehatan, diagnosis atau pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: Januari 8, 2016 | Terakhir Diedit: Juni 21, 2019

Yang juga perlu Anda baca