backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

5 Cara yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengurangi Kerusakan Saraf Tepi

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 20/11/2023

 5 Cara yang Bisa Kamu Lakukan untuk Mengurangi Kerusakan Saraf Tepi 

Kerusakan pada jaringan saraf tepi dapat mengganggu fungsi motorik, sensorik, dan autonomik Anda sehingga beberapa aktivitas harian menjadi terhambat. Lantas, adakah cara mengurangi kerusakan saraf tepi? Berikut informasinya. 

Penyebab kerusakan saraf tepi

Secara umum, sistem saraf manusia terbagi menjadi dua, yaitu pusat dan tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. 

Sementara itu, sistem saraf tepi merupakan sambungan saraf dari sumsum tulang belakang ke seluruh tubuh. Adanya jaringan saraf tepi memungkinkan Anda untuk merasakan atau merespon rangsangan luar tubuh.

Sebagai Gambaran

Anda bisa menganalogikan saraf tepi sebagai kabel-kabel dan komputer sebagai saraf pusat. Normalnya, kabel-kabel akan terhubung ke berbagai bagian komputer. 
Saat kabel tersebut terjadi gangguan, akan banyak hal yang bisa ikut terganggu dalam pengoperasian komputer. 
Nah, begitu pula dengan saraf tepi. Saat ada bagian saraf tepi yang mengalami kerusakan, maka fungsi tubuh bisa ikut terganggu. 

Gejala yang terjadi saat alami kerusakan saraf tepi atau neuropati perifer dapat berbeda-beda tergantung bagian saraf yang diserangnya. 

Namun umumnya, neuropati perifer bisa membuat penderitanya mengalami kelemahan otot, kebas, kesemutan, dan kram pada pergelangan kaki atau tangan. 

Kondisi neuropati perifer dapat terjadi pada siapa saja. Risiko terjadinya neuropati perifer dapat meningkat seiring dengan pertambahan usia. 

Selain itu, adanya riwayat kondisi medis tertentu dapat membuat Anda memiliki risiko yang lebih tinggi. Berikut adalah beberapa kondisi yang dapat menyebabkan neuropati perifer.

1. Diabetes

Diabetes merupakan penyebab kerusakan saraf tepi yang paling umum terjadi. Melansir dari Mayo Clinic, setengah dari penderita diabetes akan mengalami kerusakan saraf tepi. 

Neuropati perifer yang dialami penderita diabetes biasanya akan menyebabkan rasa kesemutan, kebas, atau kaki terasa terbakar. 

Selain itu, gejala lainnya juga bisa berupa nyeri di satu sisi tubuh, mati rasa serta kelemahan di panggul.

2. Kekurangan vitamin dan nutrisi

Bila Anda kekurangan vitamin B1, B6,dan  B12, ada kemungkinan Anda r akan mengalami kerusakan saraf tepi. 

Meski kekurangan vitamin menjadi salah satu penyebab kerusakan saraf, Anda perlu berhati-hati dalam menambah asupan vitamin B6. Pasalnya, kelebihan vitamin B6 juga dapat menyebabkan kerusakan saraf tepi.  

Bila Anda mulai merasakan gejala kerusakan saraf tepi, sebaiknya konsultasikan kepada dokter agar penanganan yang tepat dapat dilakukan.

Cara mengurangi gejala kerusakan saraf tepi

Seperti yang telah disebutkan, gejala kerusakan saraf tepi tergantung pada bagian saraf yang terserang dan tingkat keparahannya. 

Pada beberapa kasus, gejala kerusakan saraf tepi dapat membaik dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan lanjutan. Hal ini karena sel saraf tepi dapat terus tumbuh selama saraf tersebut tidak mati.

Nah, untuk mengurangi kemungkinan kerusakan saraf tepi semakin parah, Anda bisa melakukan beberapa cara berikut ini.

1. Olahraga

Berolahraga rutin penting untuk mengurangi nyeri akibat kerusakan saraf tepi dan membantu mengelola kadar gula dalam darah. Anda bisa mencoba merutinkan olahraga setidaknya tiga kali seminggu selama 30 menit sampai satu jam. 

Beberapa jenis olahraga yang disarankan adalah aerobik dan peregangan. Olahraga aerobik, seperti jalan cepat dan berenang, dapat membantu menguatkan otot-otot Anda.

Sementara itu, peregangan diperlukan untuk menjaga fleksibilitas sendi dan mengurangi risiko cedera saat berolahraga. 

2. Hindari konsumsi alkohol 

Minum minuman beralkohol secara berlebihan dalam jangka waktu yang panjang dapat merusak saraf. 

Oleh sebab itu, mengurangi hingga berhenti dari konsumsi alkohol adalah salah satu cara Anda menurunkan risiko untuk alami kerusakan saraf tepi.

3. Selalu menggunakan alat pelindung diri saat berkendara 

Kondisi trauma fisik atau cedera, seperti kecelakaan motor atau mobil dan jatuh, dapat  menyebabkan saraf meregang, hancur atau tertekan dapat menjadi penyebab kerusakan saraf tepi.

Oleh sebab itu, menggunakan alat pelindung diri saat berkendara penting untuk keselamatan diri Anda dari kondisi kerusakan saraf tepi.  

4. Pantau gula darah dalam batas normal

Bila Anda memiliki riwayat penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, Anda akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk alami kerusakan saraf. 

Oleh sebab itu, penting untuk selalu mengelola kesehatan Anda dengan makanan makanan yang bernutrisi dan berolahraga. Selain itu, Anda juga perlu rutin memantau kadar gula dalam darah sewaktu untuk selalu dalam batas normal.

5. Cukupi kebutuhan vitamin B

Nutrisi yang baik selalu menjadi solusi untuk melawan berbagai macam penyakit, termasuk kerusakan saraf tepi. Anda perlu banyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran, gandum, protein tanpa lemak untuk menjaga kesehatan saraf. 

Untuk mencegah diri dari kekurangan vitamin B12, Anda bisa banyak konsumsi daging, ikan, telur, dan produk susu rendah lemak. 

Nah, selain dari makanan, Anda juga bisa menambah suplemen vitamin B kompleks yang terdiri dari B1, B6, B12 untuk membantu mengurangi gejala nyeri akibat gangguan saraf tepi. 

Salah satu suplemen vitamin B kompleks yang bisa Anda coba adalah HUFANEURON . Suplemen ini berbentuk kaplet yang bisa diminum sebanyak satu kali sehari. 

HUFANEURON dijual bebas tanpa memerlukan resep dokter. Namun, penggunaannya harus sesuai aturan pakai yang tertera pada kemasan  atau anjuran dokter, ya.

Nah, secara umum, perubahan gaya hidup yang lebih sehat dapat menjadi cara mengurangi kerusakan saraf tepi yang cukup efektif. 

Menerapkan pola hidup sehat dan diiringi dengan perawatan kerusakan saraf tepi dari dokter secara teratur, gejala neuropati perifer bisa semakin membaik.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Fatin Nur Jauhara · Tanggal diperbarui 20/11/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan