Apa itu penyakit GERD (Acid Reflux)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Definisi

Apa itu gastroesophageal reflux disease (GERD)?

Gastroesophageal reflux disease atau yang akrab disebut GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus). Kerongkongan bisa dikatakan sebagai sebuah saluran khusus berbentuk tabung, yang menghubungkan mulut dengan perut dan organ pencernaan lain.

Akibatnya, timbul rasa seolah terbakar di dada dan kerongkongan, karena lapisan kerongkongan tersebut mengalami iritasi. Sebenarnya, asam lambung normalnya bisa naik setelah makan, dan hanya terjadi dalam waktu yang cukup singkat alias tidak akan lama.

Jangan khawatir, karena kenaikan asam lambung yang normal tersebut jarang muncul selama Anda tidur. Akan tetapi, kenaikan asam lambung yang sebenarnya normal ini dapat berubah menjadi GERD ketika gejelanya sering muncul. 

Misalnya sekitar 2-3 kali atau saat timbul luka pada kerongkongan. Seseorang dinyatakan mengalami GERD ketika mengalami kenaikan asam lambung ringan selama 2 kali seminggu, atau kenaikan asam lambung berat hingga minimal seminggu sekali.

Seberapa umumkah penyakit GERD?

Penyakit GERD adalah kondisi umum yang bisa dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Namun, risiko untuk mengalami penyakit GERD ini cenderung lebih tinggi pada orang yang:

  • obesitas
  • gangguan jaringan ikat (scleroderma)
  • sedang hamil
  • perokok aktif
  • sering minum alkohol

Namun, jangan khawatir. Anda dapat mengurangi risiko terserang penyakit ini dengan mengurangi faktor risiko yang Anda miliki. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk mencari tahu informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-­tanda dan gejala penyakit GERD?

Gejala utama dari penyakit ini timbul ketika asam lambung yang seharusnya tetap berada di sistem pencernaan, justru naik kembali ke atas. Alhasil, asam lambung tersebut akan melewati katup kerongkongan yang terbuka.

Kondisi tersebutlah yang kemudian akan membuat kebanyakan orang merasakan sensasi terbakar di dada (heartburn). Sensasi seperti terbakar atau heartburn akibat GERD adalah munculnya rasa panas atau tidak nyaman di bagian belakang tulang dada.

Hal ini biasanya bisa semakin memburuk ketika Anda selesai makan, sedang berbaring atau membungkuk. Secara garis besarnya, berikut berbagai gejala penyakit GERD:

  • Merasa seperti ada makanan yang tersangkut di dalam kerongkongan, sulit menelan, serta cegukan.
  • Mengalami sensasi panas seolah terbakar di dada (heartburn), yang bisa menyebar sampai ke leher.
  • Sakit atau nyeri pada dada.
  • Timbul rasa asam atau pahit di mulut.
  • Ada cairan atau makanan yang naik dari dalam perut ke bagian mulut.
  • Masalah pernapasan, seperti batuk kronis dan asma.
  • Suara serak.
  • Sakit tenggorokan.

Kemungkinan masih ada tanda­-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda khawatir akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah segera dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Segera konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami gejala penyakit GERD seperti sesak napas dan dada terasa sakit. Terlebih lagi, ketika gejala penyakit ini sering kali terjadi, bahkan semakin bertambah buruk setiap harinya.

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda.

Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab penyakit GERD?

Seperti yang sempat dijelaskan sebelumnya, kenaikan asam lambung sebenarnya cukup umum terjadi. Entah itu karena makan dalam porsi yang terlalu banyak, langsung berbaring setelah makan, atau makan makanan jenis tertentu.

Hanya saja, naiknya asam lambung yang dikategorikan sebagai penyakit GERD, biasanya memiliki penyebab tersendiri. Bahkan, bisa berujung pada komplikasi yang cukup serius.

Penyebab utama penyakit GERD yakni karena katup kerongkongan bagian bawah (sfringter) melemah, sehingga membuatnya terbuka pada kondisi tertentu. Katup atau sfringter kerongkongan adalah otot di bagian bawah kerongkongan, sebagai pemisah antara bagian tersebut dengan lambung.

Sfringter kerongkongan seharusnya dalam posisi tertutup sehingga mencegah asam yang ada di lambung agar tidak naik ke atas. Katup di bagian bawah kerongkongan ini baru akan terbuka ketika makanan di mulut akan masuk ke dalam perut. Setelahnya, katup kerongkongan seharusnya tertutup kembali.

Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Katup atau sfringter kerongkongan tersebut malah melemah, sehingga bisa dengan mudah terbuka meski sedang tidak ada makanan di mulut.

Hal ini tentu menyebabkan asam pada lambung berbalik naik ke kerongkongan. Jika kondisi tersebut terjadi terus-menerus, lapisan kerongkongan akan mengalami iritasi hingga peradangan.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya mengalami penyakit GERD?

Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan Anda untuk mengalami penyakit GERD adalah sebagai berikut:

  • Obesitas
  • Mengalami masalah pada jaringan ikat, contohnya scleroderma
  • Ada tonjolan di perut bagian atas yang bisa naik sampai ke diafragma (hiatal hernia)
  • Pengosongan perut yang memakan waktu lama

Selain itu, beberapa hal lainnya yang juga dapat turut memperburuk GERD adalah sebagai berikut:

  • Merokok
  • Makan makanan dalam jumlah banyak sekali makan
  • Waktu makan terlalu dekat dengan waktu tidur
  • Terlalu banyak makan makanan tertentu (pemicu), seperti makanan berlemak dan gorengan
  • Minum kopi
  • Minum teh
  • Minum alkohol
  • Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk mengatasi penyakit GERD?

Langkah pertama yang biasanya dilakukan untuk mengobati penyakit GERD adalah dengan mengonsumsi obat-obatan. Salah satunya yakni obat penghambat pompa proton atau proton pump inhibitor (PPI). Obat ini berfungsi untuk mengurangi jumlah asam yang dihasilkan oleh lambung.

Selain itu, beberapa jenis pilihan obat-obatan yang dijual bebas (OTC) lainnya untuk mengobati GERD adalah sebagai berikut:

1. Antasida

Obat ini berguna untuk menetralisir asam yang ada di perut dengan bantuan bahan kimia alkali. Ambil contohnya seperti Mylanta, Rolaids, dan Tums, yang bisa membantu meredakan gejala GERD dalam waktu singkat.

Akan tetapi, mengonsumsi obat antasida saja tidak cukup ampuh untuk memulihkan kerongkongan yang meradang akibat asam lambung. Jika terlalu sering minum obat-obatan jenis antasida, bisa menimbulkan efek samping berupa diare, sembelit, serta gangguan ginjal.

2. Obat-obatan untuk mengurangi jumlah asam

Obat-obatan yang termasuk dalam kategori ini yakni H2-receptor blocker, seperti: 

Kesemua obat-obatan untuk mengatasi gejala GERD tersebut bertujuan untuk mencegah serta menghambat seksresi asam lambung.

Kerja H-2 receptor blocker memang tidak secepat obat antasida. Namun, H-2 receptor blocker bisa membantu mengurangi produksi asam lambung dalam waktu yang cukup lama, yakni hingga 12 jam.

3. Obat-obatan untuk menghambat produksi asam dan mengobati kerongkongan

Penghambat pompa proton (PPI) masuk ke dalam golongan obat yang bertugas sebagai penghambat produksi asam, sekaligus memulihkan kondisi kerongkongan. Sebab tidak menutup kemungkinan, kerongkongan akan mengalami iritasi akibat GERD.

Obat PPI untuk mengatasi GERD adalah jenis obat penghambat produksi asam yang jauh lebih kuat ketimbang H-2 receptor blocker. Bukan hanya itu, obat PPI juga memberikan waktu penyembuhan yang lebih cepat bagi jaringan kerongkongan yang bermasalah.

Obat PPI yang dijual bebas meliputi lansoprazole (Prevacid 24 HR) dan omeprazole (Prilosec OTC, Zegerid OTC).

Di samping obat-obatan yang dijual bebas, dokter juga bisa memberikan obat-obatan resep untuk membantu mengobati GERD, seperti:

1. Obat H-2 receptor blocker dengan resep

Jenis obat-obatan ini meliputi famotidine (Pepcid), nizatidine dan ranitidine (Zantac), tapi yang hanya bisa diperoleh melalui resep dokter. Obat-obatan ini umumnya tidak masalah untuk digunakan selama jangka waktu tertentu.

Akan tetapi, dalam penggunaan dalam jangka panjang bisa berisiko mengakibatkan kekurangan vitamin B12 dan patah tulang.

2. Penghambat pompa proton (PPI) dengan resep

Jenis obat-obatan ini termasuk esomeprazole (Nexium), lansoprazole (Prevacid), omeprazole (Prilosec, Zegerid), pantoprazole (Protonix), rabeprazole (Aciphex) dan dexlansoprazole (Dexilant). Sebenarnya obat-obatan PPI dengan resep ini bisa diterima dengan baik oleh tubuh.

Hanya saja, tetap ada risiko munculnya efek samping berupa diare, sakit kepala, mual, kekurangan vitamin B12, hingga kemungkinan patah tulang pinggul.

3. Obat untuk memperkuat katup (sfringter) kerongkongan

Obat baclofen dapat membantu meredakan gejala GERD, dengan cara mengurangi frekuensi terbukanya katup kerongkongan bagian bawah. Obat ini bisa menimbulkan efek samping berupa kelelahan dan mual.

Penting untuk diingat bahwa obat-obatan resep maupun yang dijual bebas untuk mengatasi GERD, dapat menimbulkan satu atau lebih efek samping. Cari tahu lebih lanjut tentang obat-obatan yang tersedia untuk mengobati GERD.

Pilihan pengobatan GERD selain minum obat

Tindakan operasi

Jika setelah minum beragam obat-obatan GERD tidak kunjung mengalami perubahan, operasi adalah cara lain yang bisa ditempuh. Jenis operasi yang biasanya dilakukan untuk mengobati GERD adalah sebagai berikut: 

Fundoplication

Fundoplication dilakukan dengan cara mengikat bagian atas perut, atau bagian bawah sfringter kerongkongan. Tujuannya untuk mengencangkan otot pada katup kerongkongan, yang kemudian dapat mencegah naiknya asam lambung.

Jadi, tindakan ini menggunakan alat yang disebut laraskop. Alat ini punya kamera kecil di ujungnya yang akan membantu dokter melihat kondisi organ pencernaan Anda dari dalam. Saat menjalani operasi ini, biasanya pasien akan dibius untuk mengurangi rasa sakit.

Pemulihan pasca tindakan operasi ini umumnya cukup cepat, yaitu sekitar 1 sampai 3 hari pasien sudah diizinkan pulang. Sementara, pasien baru boleh beraktivitas normal setelah 2 hingga 3 minggu setelah operasi, atau jika dokter telah mengizinkan.

Endoskopi

Prosedur endoskopi melibatkan jahitan untuk mengencangkan katup kerongkongan. Caranya yakni dengan membuat luka bakar kecil yang akan membantu membuat memperkuat otot-otot pada katup kerongkongan.

LINX

Prosedur ini melibatkan pemasangan cincin yang dililit pada bagian persimpangan antara perut dan kerongkongan. Selanjutnya, akan muncul daya tarik magnetis yang cukup kuat pada cincin tersebut untuk membantu memperkuat kerja katup kerongkongan agar tertutup. 

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit GERD?

Jika gejala penyakit GERD terbilang ringan, Anda mungkin tidak perlu periksa ke dokter karena dapat diobati dengan obat-obatan. Namun, jika gejala bertambah buruk dan terulang kembali, dokter akan mendiagnosis penyakit ini dengan melakukan tes.

Berbagai pemeriksaan untuk mendeteksi adanya penyakit GERD adalah sebagai berikut:

  • Prosedur endoskopi, dilakukan dengan cara memasukkan sebuah tabung fleksibel beserta kamera kecil ke dalam kerongkongan. Prosedur ini juga bisa dilakukan untuk mengambil sampel jaringan (biopsi) guna mendeteksi kondisi barret esophagus.
  • Esophageal manometry, dilakukan dengan cara memasukkan tabung flekibel ke dalam kerongkongan guna mengukur kekuatan otot kerongkongan.
  • Pengukuran PH esofagus, dilakukan dengan cara memasukkan monitor ke dalam kerongkongan guna mengetahui kapan asam lambung naik kembali melewati kerongkongan.
  • X-ray atau rontgen bagian atas sistem pencernaan, agar dokter dapat melihat gambaran keseluruhan mengenai kondisi kerongkongan, lambung, dan usus bagian atas.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit GERD?

Selain dengan mengonsumsi berbagai jenis obat-obatan, biasanya dokter juga menganjurkan Anda untuk melakukan perubahan gaya hidup.

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi penyakit GERD:

  • Pilihlah makanan yang tepat dan sehat. Misalnya lebih banyak buah, sayuran, dan kurangi makan makanan yang bisa memicu GERD.
  • Kurangi makan gorengan, makanan berlemak, dan makanan pedas.
  • Jangan langsung berbaring setelah makan. Sebaiknya beri jeda minimal 2-3 jam setelah makan dan sebelum Anda tidur.
  • Gunakan obat yang dianjurkan dan diresepkan oleh dokter. Baik itu obat yang dijual bebas (OTC) maupun obat-obatan resep.
  • Tinggikan posisi kepala selama tidur menggunakan bantal yang ditumpuk. Posisi kepala yang lebih tinggi daripada tubuh dapat membantu meredakan sakit dada karena kenaikan asam lambung.
  • Hindari merokok.
  • Hindari minum minuman beralkohol, kopi, dan teh.
  • Hindari konsumsi beberapa jenis obat-obatan, seperti aspirin, karena berisiko semakin memperburuk gejala.

Para ahli juga menyarankan agar orang yang memiliki GERD untuk:

  • Menurunkan berat badannya
  • Makan dengan porsi yang sesuai dengan kebutuhan
  • Posisikan kepala lebih tinggi 20 sentimeter dari badan ketika berbaring

Menurut American College of Gastroenterology, beberapa penelitian telah membuktikan bahwa perubahan gaya hidup tersebut mampu mencegah asam lambung naik ke kerongkongan.

Pencegahan

Apa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit GERD?

Jika tidak ingin mengalami penyakit GERD, sebaiknya patuhi beberapa aturan pencegahannya, seperti:

  • Selalu makan dalam porsi secukupnya, atau tidak terlalu berlebihan.
  • Jaga berat badan tetap dalam rentang normal.
  • Hindari menggunakan pakaian yang terlalu ketat, terutama di bagian perut, karena berisiko menekan katup kerongkongan bagian bawah.
  • Jangan biasakan langsung tidur setelah makan.
  • Jangan makan terlalu dekat dengan waktu tidur.
  • Hindari beberapa jenis makanan dan minuman yang bisa memicu munculnya GERD. Mulai dari makanan berminyak, berlemak, pedas, cokelat, permen, makanan dengan kandungan tomat, minuman beralkohol, kopi, dan lain sebagainya.

Jika sudah mencoba melakukan berbagai upaya pencegahan tersebut tapi masih kerap mengalami gejala GERD, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter. Sebab mungkin saja, ada kondisi medis lainnya yang ternyata menjadi pemicu gejala penyakit GERD tersebut.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: Juli 19, 2019 | Terakhir Diedit: Juli 19, 2019

Yang juga perlu Anda baca