home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Jangan Langsung Tidur Setelah Makan, Ini 4 Dampak Negatifnya

Jangan Langsung Tidur Setelah Makan, Ini 4 Dampak Negatifnya

Ada banyak alasan yang membuat seseorang langsung tidur setelah makan. Meskipun kebiasaan ini tidaklah berbahaya, perlu diingat bahwa tubuh memerlukan waktu untuk mengolah makanan dalam sistem pencernaan. Jika sering dilakukan, kebiasaan tidur sehabis makan justru dapat menimbulkan sejumlah gangguan kesehatan.

Apa bahayanya jika Anda tidur setelah makan?

Diare dan sakit perut gejala covid-19

Kebiasaan tidur sehabis makan dapat mengganggu kualitas tidur, memengaruhi berat badan, dan bahkan meningkatkan risiko sejumlah penyakit. Berikut berbagai masalah kesehatan yang mungkin muncul akibat kebiasaan ini.

1. Heartburn

Heartburn merupakan rasa tak nyaman, nyeri, atau panas pada ulu hati akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan. Kondisi ini biasanya dialami oleh penderita penyakit asam lambung (GERD) dan orang-orang yang mengalami obesitas.

Ada banyak faktor yang dapat memicu heartburn, salah satunya kebiasaan tidur setelah makan. Saat Anda berbaring dengan perut yang penuh, asam lambung dapat mengalir kembali ke kerongkongan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.

Gejala gangguan pencernaan ini akan lebih sering muncul bila sebelumnya Anda telah memiliki masalah dengan asam lambung. Selain itu, tekanan pada perut akibat berat badan berlebih juga dapat memperparah rasa tak nyaman pada ulu hati.

2. Stroke

Menurut sebuah studi oleh University of Ioannina Medical School, Yunani, tidur sehabis makan dapat meningkatkan risiko stroke. Orang yang memiliki jeda paling lama antara waktu makan dan tidur justru berisiko paling rendah untuk mengalami penyakit ini.

Penelitian ini tidak menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi, tapi ada teori yang mengatakan bahwa makan mendekati waktu tidur meningkatkan risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan. Hal ini menyebabkan sleep apnea yang berkaitan dengan stroke.

Teori lainnya menyatakan bahwa terjadi perubahan kadar gula darah, kolesterol, serta tekanan darah bila Anda terlelap setelah makan. Ketiga faktor ini mungkin meningkatkan risiko stroke, tapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membuktikan hal ini.

3. Berat badan berlebih

Jika Anda langsung terlelap setelah makan malam, tubuh tidak akan memiliki cukup waktu untuk membakar kalori dalam makanan. Kalori yang tidak terbakar akhirnya menumpuk dalam tubuh dan berubah menjadi timbunan lemak.

Makan malam mendekati waktu istirahat juga bisa membuat Anda merasa kenyang pada esok harinya. Hal ini dapat memicu keinginan untuk makan dalam jumlah banyak pada siang hari atau makan makanan ringan yang tidak sehat secara berlebihan.

Kebanyakan jenis camilan pada malam hari juga mengandung banyak lemak dan kalori, sebut saja mi instan, gorengan, atau makanan manis. Jika dibiarkan, kebiasaan makan sebelum waktu tidur dapat mengganggu berat badan ideal Anda.

4. Mengganggu kualitas tidur

Kebiasaan tidur setelah makan bisa memengaruhi kualitas tidur Anda pada malam hari. Misalnya, makanan berat atau berlemak dapat menyebabkan kembung dan sakit perut sehingga membuat Anda harus berganti posisi tidur berulang kali.

Bila Anda makan makanan pedas sebelum tidur, Anda bisa saja mengalami heartburn atau gangguan pencernaan sehingga Anda jadi tidak bisa tidur nyenyak. Bahkan, Anda mungkin saja harus bolak-balik ke kamar mandi karena rasa panas pada perut.

Makan terlalu banyak sebelum tidur juga bisa menimbulkan gangguan lain, yakni sleep apnea. Kondisi ini ditandai dengan terhentinya napas selama beberapa saat. Akibatnya, otak tidak mendapatkan pasokan oksigen yang cukup selama Anda terlelap.

Jeda antara waktu makan dan istirahat yang disarankan

kualitas tidur

Setelah makan malam, tunggulah setidaknya selama tiga jam sebelum Anda berbaring. Selama periode ini, makanan yang Anda konsumsi telah melewati proses pencernaan dalam lambung dan siap bergerak menuju usus halus.

Produksi asam lambung juga mulai menurun karena lambung telah selesai menggiling makanan. Meski proses pencernaan belum sepenuhnya selesai, setidaknya lambung kini telah kosong dan makanan hanya perlu melewati proses penyerapan zat gizi.

Dengan begitu, saat Anda berbaring, kemungkinan bagi asam lambung untuk mengalir naik ke kerongkongan akan menjadi lebih kecil. Anda tentu akan terhindar dari masalah pencernaan, heartburn, atau insomnia akibat rasa tidak nyaman pada perut.

Menghentikan kebiasaan tidur setelah makan seharusnya dapat meningkatkan kualitas tidur Anda. Namun, apabila keluhan berlanjut, konsultasikan kepada dokter agar Anda mengetahui penyebab dan cara mengatasinya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Should You Eat Just Before Bed? – All The Risks Explained. (2020). Retrieved 5 May 2021, from https://www.sleepadvisor.org/eat-just-before-bed-risks/

Is it Bad to Sleep After a Meal?. (2015). Retrieved 5 May 2021, from https://share.upmc.com/2015/11/is-it-bad-to-sleep-after-a-meal/

Sleeping Soon After Dinner May Raise Stroke Risk. (2011). Retrieved 5 May 2021, from https://www.webmd.com/stroke/news/20110830/sleeping-soon-after-dinner-may-raise-stroke-risk

Night Owls at Risk for Weight Gain. (2011). Retrieved 5 May 2021, from https://www.northwestern.edu/newscenter/stories/2011/05/night-owls-weight-gain.html

Maw, S., & Haga, C. (2019). Effect of a 2-hour interval between dinner and bedtime on glycated haemoglobin levels in middle-aged and elderly Japanese people: a longitudinal analysis of 3-year health check-up data. BMJ Nutrition, Prevention & Health, 2(1), 1-10. https://doi.org/10.1136/bmjnph-2018-000011

Hairston, K. G., Bryer-Ash, M., Norris, J. M., Haffner, S., Bowden, D. W., & Wagenknecht, L. E. (2010). Sleep duration and five-year abdominal fat accumulation in a minority cohort: the IRAS family study. Sleep, 33(3), 289–295. https://doi.org/10.1093/sleep/33.3.289

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Arinda Veratamala
Tanggal diperbarui 22/02/2017
x