Apa itu epilepsi (ayan)?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu penyakit epilepsi (ayan)?

Ayan atau epilepsi adalah penyakit kronis yang memiliki ciri khas berupa kejang kambuhan yang seringnya muncul tanpa pencetus. Kejang epilepsi terjadi karena adanya gangguan sistem saraf pusat (neurologis) yang menyebabkan kejang atau terkadang hilang kesadaran.

Kejang memang gejala utama penyakit epilepsi, namun tidak semua orang yang mengalami kejang pasti mengidap kodisi ini. Umumnya, seseorang tidak dianggap mengidap ayan jika ia tidak pernah mengalami dua kali kejang atau lebih dalam waktu 24 jam kejang tanpa alasan jelas. Beberapa orang bisa sangat jarang mengalami kejang ayan, sedangkan sebagian lainnya bisa mengalami kejang hingga ratusan kali dalam sehari.

Kondisi ini dapat ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala epilepsi (ayan)?

Karena ayan disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak, kejang dapat memengaruhi proses apa pun yang diatur oleh otak Anda. Dalam banyak kasus, gejala epilepsi berlangsung secara spontan dan singkat.

Berikut ini beberapa tanda dan gejala epilepsi adalah:

  • Kebingungan sementara
  • Mata kosong (bengong) menatap satu titik terlalu lama
  • Gerakan menyentak tak terkendali pada tangan dan kaki
  • Hilang kesadaran sepenuhnya atau sementara
  • Gejala psikis
  • Kekakuan otot
  • Gemetar atau kejang, pada sebagian anggota tubuh (wajah, lengan, kaki) atau keseluruhan
  • Kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan hilang kesadaran secara tiba-tiba, yang bisa menyebabkan orang tersebut tiba-tiba terjatuh

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala epilepsi yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala epilepsi tertentu, segera konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Terlebih, gejala kejang karena ayan bervariasi pada setiap orang. Beberapa orang mungkin mengalami gerakan berulang yang terjadi secara cepat, mendadak, dan berulang tanpa bisa dikendalikan serta kehilangan kesadaran sesaat. Gejala kejang ayan ini disebut sebagai penyakit epilepsi umum. Dalam beberapa kasus, seseorang juga dapat mengalami kehilangan kesadaran secara mendadak, kekakuan tubuh dan gemetar, dan kadang-kadang kehilangan kontrol kandung kemih atau menggigit lidahnya.

Beberapa orang lainnya mungkin hanya memiliki tatapan kosong seperti sedang bengong sesaat, padahal itu adalah kejang. Kondisi ini disebut epilepsi parsial alias sebagian. Beberapa orang juga menunjukkan gejala gerakan berulang, seperti menggosok tangan, mengunyah, menelan, atau berjalan berputar-putar.

Pada beberapa orang lainnya, gejala kejang epilepsi sering disalahartikan sebagai gangguan saraf lainnya seperti migrain, narkolepsi, atau penyakit mental. Seseorang dengan kondisi ini masih merasakan sadar dan kemudian mengalami cemas atau perubahan emosi secara tiba-tiba. Kemudian kondisi ini dapat berkembang menjadi epilepsi parsial komplek yang membuat penderitanya hilang kesadaran atau bengong dalam beberapa detik. 

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus segera menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala epilepsi berikut ini:

  • Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
  • Pernapasan atau kesadaran tidak kembali setelah kejang berhenti.
  • Kejang kedua berlangsung segera setelahnya.
  • Demam tinggi.
  • Kelelahan akibat panas.
  • Sedang hamil.
  • Memiliki diabetes.
  • Pernah mengalami cedera akibat kejang.

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala epilepsi di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda dalam mengembangkan gejala epilepsi. Jadi, selalu konsultasikan ke dokter untuk memastikan Anda memiliki gejala epilepsi atau tidak.

Penyebab

Apa penyebab epilepsi?

Dalam banyak kasus, penyebab penyakit epilepsi tidak diketahui. Namun, epilepsi biasanya melibatkan otak yang terpengaruh oleh beberapa faktor, seperti:

  • Pengaruh genetik. Bagi kebanyakan orang, gen dapat berpotensi besar jadi penyebab epilepsi. Beberapa jenis ayan, yang dikategorikan berdasarkan tipe kejang yang Anda alami atau bagian otak yang terpengaruh, terjadi dalam keluarga. 
  • Cedera pada kepala. Cedera kepala akibat kecelakaan mobil, terjatuh, ataupun cedera traumatik lainnya juga bisa jadi penyebab epilepsi.
  • Kondisi otak. Kondisi otak yang menyebabkan kerusakan pada otak, seperti tumor otak atau stroke, dapat menyebabkan ayan. Stroke adalah penyebab epilepsi yang paling sering terjadi pada orang dewasa yang berusia di atas 35 tahun.
  • Penyakit menular. Penyakit menular, seperti meningitis, HIV/AIDS dan ensefalitis virus, bisa jadi menyebabkan ayan. 
  • Cedera sebelum persalinan. Epilepsi pada anak biasanya dipicu karena berbagai gangguan selama kehamilan. Sebelum lahir, bayi sensitif terhadap kerusakan otak yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti infeksi pada ibu, nutrisi yang buruk atau kekurangan oksigen.
  • Gangguan perkembangan. Ayan kadang-kadang dapat dikaitkan dengan gangguan perkembangan, seperti autisme dan neurofibromatosis.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena penyakit epilepsi (ayan)?

Ada banyak faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena ayan. Berikut ini beberapa hal yang meningkatkan risiko Anda terkena ayan di antaranya:

  • Usia. Usia bisa jadi ikut jadi faktor penyebab epilepsi. Ada lebih banyak kasus epilepsi pada anak dan lansia daripada orang dewasa usia produktif. Meski begitu, kondisi ini juga dapat dialami oleh semua kalangan usia yang memang berisiko tinggi memiliki ayan.
  • Genetik. Bagi kebanyakan orang, gen dapat menjadi penyebab epilepsi. Jadi, jika Anda memiliki riwayat keluarga ayan, Anda berisiko lebih tinggi memiliki kondisi tersebut.
  • Cedera pada kepala. Cedera kepala akibat kecelakaan mobil, terjatuh, ataupun cedera traumatik lainnya ikut berperan menjadi penyebab epilepsi.
  • Stroke dan penyakit vaskular. Stroke dan penyakit vaskular (pembuluh darah) lainnya dapat menyebabkan kerusakan otak yang dapat memicu kondisi ini.
  • Demensia. Demensia dapat meningkatkan risiko ayan pada lansia.
  • Infeksi otak. Infeksi seperti meningitis, yang menyebabkan peradangan di otak atau sumsum tulang belakang, dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini.
  • Riwayat kejang di masa kecil. Demam tinggi bisa menjadi penyebab penyakit epilepsi pada anak. Meski idak semua anak yang mengalami demam tinggi berisiko ayan, tapi kondisi ini umumnya lebih rentan dialami anak yang memang memiliki gangguan sistem saraf dan riwayat keluarga dengan ayan.

Obat & Pengobatan

Bagaimana penyakit epilepsi didiagnosis?

Selain melihat gejala dan sejarah medis Anda, dokter dapat melakukan beberapa tes untuk mendiagnosis kondisi Anda. Beberapa tes yang umumnya dilakukan dokter untuk mendiagnosis penyakit epilepsi adalah:

  • Pemeriksaan neurologis
  • Tes darah
  • Electroencephalogram (EEG)
  • Computerized tomography (CT) scan
  • Magnetic resonance imaging (MRI)
  • Functional MRI (fMRI)
  • Positron emission tomography (PET)
  • Single-photon emission computerized tomography (SPECT).

Bagaimana penyakit epilepsi diobati?

Perawatan untuk penyakit ayan difokuskan untuk mengendalikan kejang, walau tidak semua orang dengan kondisi ini memerlukan perawatan.

Terapi obat epilepsi

Banyak obat epilepsi yang tersedia untuk mengontrol kejang. Pilihan obat epilepsi biasanya berdasarkan oleh faktor seperti toleransi pasien terhadap efek samping, penyakit lain yang dimiliki, serta metode penyampaian obat.

Walau jenis ayan sangat bervariasi, pada umumnya obat epilepsi dapat mengendalikan kejang pada 70 persen pasien. Namun, terdapat beberapa efek samping dari obat epilepsi yang harus diwaspadai:

  • Rasa kantuk
  • Kekurangan tenaga
  • Agitasi/gelisah
  • Sakit kepala
  • Gemetar yang tidak terkendali (tremor)
  • Kerontokan rambut atau pertumbuhan rambut yang tidak diinginkan
  • Gusi bengkak
  • Ruam

Operasi epilepsi

Operasi biasanya dilakukan apabila terapi obat epilepsi sudah tidak mempan lagi. Selain itu, prosedur ini juga dilakukan setelah hasil tes menunjukkan bahwa kejang berasal dari area tertentu pada otak yang tidak mengganggu fungsi vital seperti bicara, bahasa, fungsi motorik, penglihatan atau pendengaran. Dengan operasi, dokter akan mengangkat area di otak yang menyebabkan kejang.

Namun jika kejang berasal dari bagian otak yang tidak dapat diangkat, dokter akan merekomendasi jenis operasi lain di mana ahli bedah akan melakukan beberapa sayatan pada otak. Sayatan tersebut dirancang untuk menghindari menyebarnya kejang ke bagian otak yang lain.

Walau banyak orang yang tetap memerlukan obat epilepsi untuk mencegah kejang setelah operasi yang berhasil, Anda mungkin hanya akan memerlukan lebih sedikit jenis obat epilepsi serta dosisinya.

Pada sedikit kasus, operasi untuk kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi, seperti perubahan kemampuan berpikir (kognitif) secara permanen.

Pertolongan pertama saat penyakit epilepsi kambuh

Sebanyak 30-40 persen orang dengan ayan berisiko mengalami kejang sewaktu-waktu karena terapi perawatan yang ditawarkan tidak sepenuhnya dapat mengontrol kejang yang mereka alami.

Jika ada kerabat ataupun orang di sekitar Anda yang sewaktu-waktu mengalami kejang ayan tau kejang epileptik tonik-klonik, yaitu kejang yang diikuti oleh kekakuan otot dan kehilangan kesadaran yang membuat orang tersebut berisiko terjatuh, Anda harus mencoba untuk:

  • Jangan panik dan tetaplah bersama orang tersebut
  • Hitung waktu kejang dari awal hingga akhir
  • Longgarkan pakaian di sekitar lehernya
  • Singkirkan benda-benda tajam dan berbahaya (kacamata, furnitur, benda keras lainnya) dari orang tersebut
  • Jika ada, mintalah mintalah orang di sekitar Anda untuk mundur dan memberi ruangan untuk orang tersebut
  • Secara perlahan, baringkan orang tersebut dalam posisi miring secepat mungkin, taruh bantal (atau sesuatu yang lembut) di bawah kepalanya, dan buka rahangnya untuk membuka jalur pernapasan yang lebih baik sekaligus mencegah orang tersebut dari tersedak air liur atau muntah. Seseorang tidak bisa menelan lidahnya, tapi lidah bisa terdorong ke belakang dan menyebabkan terhalangnya jalur napas.
  • Terus berkomunikasi dengan orang tersebut sehingga Anda tahu kapan mereka telah sadar.
  • Setelah korban sadar, ia mungkin merasa linglung. Tetap temani dan tenangkan korban. Jangan tinggalkan korban sendirian sampai ia merasa benar-benar kembali fit.

Jangan lakukan hal ini:

  • Menahan kejang atau mengekang orang tersebut. Hal ini bisa berakibat cedera
  • Memasukkan benda apapun ke dalam mulut korban atau menarik lidahnya keluar. Hal ini juga bisa menyebabkan cedera
  • Memberi makan, minum, atau obat sampai korban benar-benar pulih dan sadar sepenuhnya

Cari bantuan medis segera, jika:

  • Ini adalah kejang pertamanya (tetap cari bantuan jika Anda tidak yakin)
  • Kejang berlangsung lebih dari lima menit, atau kejang pertama segera diikuti oleh kejang lanjutan tanpa jeda (status epilipticus), atau jika korban tidak bisa dibangunkan setelah kejang dan gemetar usai.
  • Orang tersebut tidak bisa sadar sepenuhnya atau mengalami kesulitan bernapas
  • Kejang terjadi di dalam air
  • Orang tersebut mengalami cedera selama kejang
  • Orang tersebut hamil
  • Anda ragu-ragu

Jika kejang terjadi saat orang tersebut berada di kursi roda, kursi penumpang kendaraan, atau kereta dorong anak, biarkan ia tetap terduduk selama keadaan mereka aman dan terjaga oleh sabuk pengaman. Sangga kepalanya sampai kejang selesai.

Terkadang, korban perlu diangkat keluar dari kursi saat kejang selesai, misalnya, jika jalur pernapasannya tersumbat atau mereka butuh tidur. Jika ada makanan, minum, atau muntah, pindahkan orang tersebut dari kursi dan segera baringkan dalam posisi menyamping.

Jika kondisi tidak memungkinkan untuk memindahkan korban, terus berikan dukungan pada kepalanya untuk memastikan kepala tidak terkulai ke belakang, kemudian buang isi mulut mereka saat kejang usai.

Menghadapi penyakit epilepsi pada anak

Epilepsi pada anak dapat menyebabkan beberapa masalah, terutama dalam masalah belajar, seperti:

  • Masalah akademis. Kesulitan membaca, menulis, menghitung.
  • Masalah bahasa. Kesulitan memahami, berbicara dan komunikasi.
  • Masalah perhatian dan konsentrasi. Anak dapat kurang memerhatikan, hiperaktif, atau keduanya. Hanya dapat berkonsentrasi pada waktu yang singkat.
  • Kelambanan. Diperlukan waktu yang lebih lama untuk memproses informasi baru atau menyelesaikan tugas dibanding dengan anak-anak lainnya.
  • Ingatan. anak dapat mempelajari suatu topik berulang kali, namun tidak mengingatnya pada keesokan hari.

Sebagai tambahan, epilepsi pada anak juga mungkin dapat menyebabkan gangguan dalam pembelajaran yang terkait kejang, pola tidur, dan obat-obatan anak. Gangguan-gangguan epilepsi pada anak ini dapat berubah dari hari ke hari atau jam ke jam. Meski begitu bukan berati epilepsi pada anak tidak dapat diatas.

Bicarakan dengan anak Anda tentang pengalamannya di sekolah dan kesulitan yang dialami. Hal ini dapat membantu Anda mengerti situasi, bagaimana perasaannya, dan bagaimana Anda dapat membantunya dalam mengatasi masalah. Menciptakan lingkungan yang mendukung di sekolah dari guru dan teman sekelasnya dapat membantu anak Anda meningkatkan potensi untuk belajar.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi epilepsi (ayan)?

Walau ayan dapat mempengaruhi orang dengan berbagai cara, beberapa tips berikut dapat membantu.

  • Kenali pemicu: semakin Anda mengetahui hal-hal yang memicu terjadinya kejang dan bagaimana mencegahnya, semakin Anda dapat mengatasi kondisi ini dengan lebih baik.
  • Rajin minum obat: obat epilepsi mengendalikan kejang pada sekiar 70% orang. Anda disarankan untuk mengikuti resep dokter dengan tepat karena kemungkinan cara ini merupakan cara yang paling efektif untuk bertahan dengan ayan.
  • Awasi pengobatan secara rutin: Anda akan melakukan peninjauan rutin terhadap kondisi dan perawatan ayan Anda. Peninjauan ini harus dilakukan setidaknya sekali setahun, walau Anda mungkin memerlukan peninjauan yang lebih sering jika kondisi Anda tidak terkendali dengan baik.
  • Jaga diri Anda: Anda harus mencari tahu dan tetap melakukan apa yang perlu Anda lakukan setiap hari untuk tetap bugar dan jaga kesehatan fisik serta mental Anda, hindari penyakit atau kecelakaan, serta perhatikan penyakit-penyakit minor dan kondisi kesehatan jangka panjang.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit epilepsi (ayan)?

Perlu dipahami bahwa kunci mencegah kejang ayan kambuh adalah mengenali pemicunya terlebih dahulu. Jika Anda sudah mengetahui segala hal yang dapat memicu terjadinya kejang, maka Anda dapat mengatasi kondisi tersebut dengan lebih baik.

Lebih dari 70 persen orang dengan ayan mengatakan bahwa obat epilepsi bisa mengatasi kejang. Oleh sebab itu, Anda disarankan untuk mengonsumsi obat epilepsi seusai dengan resep dokter karena kemungkinan cara tersebut paling efektif untuk mengendalikan kondisi Anda jika kejang kambuh.

Berikut adalah beberapa hal lain yang dapat mencegah risiko kambuhnya kejang ayan:

  • Perbanyak jam tidur setiap malam, cobalah untuk mengatur jadwal tidur yang teratur, dan melakukan dengan disiplin.
  • Anda bisa mencoba untuk mengatur stres dan mempelajari teknik relaksasi yang bisa menenangkan otak, tubuh, serta pikiran guna mencegah ayan muncul. Ini dapat Anda lakukan dengan cara yoga atau meditasi.
  • Hindari mengonsumsi narkoba dan alkohol.
  • Hindari cahaya yang terang, lampu kelap-kelip, dan rangsangan visual lainnya yang bisa memicu kaget.
  • Kurangi waktu Anda menonton TV dan berada di komputer.
  • Kurangi bermain video game.
  • Terapkan pola makan sehat dan diet untuk mencegah epilepsi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber

Direview tanggal: Maret 12, 2016 | Terakhir Diedit: April 23, 2018

Yang juga perlu Anda baca