Mengulik Penyebab Sekaligus Faktor Risiko dari Penyakit Epilepsi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Penyakit epilepsi atau yang dikenal sebagai “ayan” adalah gangguan pada sistem saraf karena terjadinya aktivitas yang listrik di otak yang abnormal. Kondisi ini menyebabkan berbagai reaksi pada tubuh manusia seperti melamun, kesemutan, gangguan kesadaran, kejang-kejang dan atau kontraksi otot. Namun, tahukah Anda apa penyebab dari penyakit epilepsi? Ingin tahu jawabannya? Simak ulasannya berikut ini.

Penyebab penyakit epilepsi pada anak-anak maupun orang dewasa

penyakit epilepsi adalah

Setidaknya satu kali seumur hidup seseorang pernah mengalami kejang. Namun jika kejang terus-menerus terjadi, bisa jadi ini adalah gejala dari penyakit epilepsi.

Penyebab dari penyakit ini sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, hasil pemeriksaan pada otak menunjukkan adanya aktivitas kelistrikan abnormal di otak saat kejang terjadi.

Melansir dari laman Mayo Clinic, ada beberapa faktor dan kondisi yang dapat menyebabkan aktivitas tidak normal di otak yang mungkin juga menjadi penyebab epilepsi pada anak-anak maupun orang dewasa, d antaranya:

1. Genetik

Meski jarang, mutasi gen yang diwariskan dari orangtua bisa menyebabkan epilepsi pada keturunannya. Itu artinya, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit epilepsi, memiliki kemungkinan terkena penyakit yang sama.

Biasanya, penderita epilepsi yang dilatarbelakangi oleh gen akan menunjukkan gejala-gejalanya lebih awal. Entah itu ketika masih bayi, anak-anak, atau di usia remaja.

Hasil penelitian menemukan bahwa beberapa gen tertentu dapat membuat seseorang jadi lebih peka terhadap kondisi yang memicu kejang. Gen penyebab penyakit epilepsi ini adalah SLC2A1, LGI1, dan DEPDC5.

Jika memang terjadi penyakit epilepsi dalam keluarga Anda, sebaiknya lakukan tes genetik dan konsultasi dokter. Tujuannya, untuk melihat seberapa besar peluang Anda terkena penyakit epilepsi. Dengan begitu, dokter bisa mendapatkan arahan untuk melakukan tindakan pencegahan berkembangnya penyakit di kemudian hari.

2. Cedera pada kepala

Kejang yang menjadi salah satu gejala khas dari penyakit epilepsi terjadi akibat adanya aktivitas abnormal di otak. Nah, dari sini dapat disimpulkan bahwa adanya cedera di kepala, yakni lokasi otak Anda berada, bisa menjadi penyebab dari penyakit epilepsi.

Anda bisa mengalami cedera kepala lewat kecelakaan kendaraan, terjatuh dari tempat tinggi, atau tertimpa benda berat di kepala. Kondisi ini diperkirakan menyerang 35 persen pada anak-anak dan 15 persen pada orang dewasa.

Waktu munculnya gejala epilepsi pada pasien cedera kepala sangat bervariasi. Sekitar 50 persen kasus mengalami kejang dalam 24 jam pertama, sisanya satu hingga empat minggu setelah cedera kepala terjadi.

3. Masalah pada otak

Selain cedera kepala, penyebab penyakit epilepsi lain yang mungkin terjadi adalah kerusakan pada otak akibat stroke dan tumor otak. Penyakit stroke diketahui jadi pemicu utama epilepsi pada orang dewasa yang berusia 35 tahun ke atas.

Stroke sendiri adalah kondisi pembuluh darah di otak yang pecah atau adanya gumpalan yang menghalangi suplai darah ke otak. Tubuh Anda mengalami kejang sebanyak satu kali setelah stroke terjadi.

Jika Anda tidak punya penyakit epilepsi sebelumnya, kemungkinan Anda akan mengembangkan penyakit ini di kemudian hari. Jenis stroke tertentu yang dapat menyebabkan perdarahan parah, dapat menyebabkan epilepsi dalam waktu dekat.

Sementara tumor otak menimbulkan adanya jaringan abnormal di otak. Kondisi ini diketahui dapat memicu terjadinya kejang berulang kali.

4. Adanya penyakit akibat infeksi

Infeksi pada sistem saraf dapat mengakibatkan aktivitas kejang. Ini termasuk infeksi pada meliputi otak dan cairan tulang belakang atau penyakit meningitis, infeksi otak atauensefalitis, dan virus yang memengaruhi imun manusia (HIV), serta infeksi saraf dan imun manusia terkait yang dapat menjadi pemicu epilepsi.

5. Gangguan perkembangan otak dan kerusakan otak

Penyebab epilepsi yang terjadi pada bayi atau anak-anak adalah adanya gangguan perkembangan, seperti autisme atau neurofibromatosis. Autisme membuat si kecil mengalami kejang-kejang dan ini terjadi karena gangguan perkembangan otak selama masa kehamilan yang penyebab tidak diketahui pasti.

Autisme sendiri adalah gangguan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan manusia untuk berpikir dan berperilaku. Epilepsi bisa terjadi bersamaan dengan autisme atau baru muncul gejalanya setelah autisme terjadi.

Sementara neurofibromatosis adalah kelainan genetik yang menyebabkan tumbuhnya tumor pada jaringan saraf yang membuat seseorang rentan mengalami penyakit kanker dan kejang-kejang.

Di samping itu, penyebab penyakit epilepsi lain yang mungkin menyerang bayi dan anak-anak adalah kerusakan otak akibat sang ibu terinfeksi, kekurangan oksigen, atau mengalami gizi buruk.

Penyebab tingginya risiko penyakit epilepsi

tips-puasa-aman-lansia

Pada beberapa orang, risiko penyakit epilepsi mungkin lebih besar ketimbang orang lain. Nah, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ayan ini adalah:

1. Usia

Epilepsi umumnya terjadi pada anak kecil dan manula. Biasanya anak kecil yang baru berusia 1 atau 2 tahun akan mengalami ayan atau kejang akibat epilepsi. Setelah usia seseorang mencapai 35 tahun ke atas, tingkat kasus baru epilepsi yang mulai muncul pun meningkat. 

2. Melakukan aktivitas yang tinggi mengalami cedera otak

Kerusakan atau cedera otak terjadi ketika sel-sel otak yang dikenal sebagai neuron menjadi hancur. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan fisik antara lain pasca operasi bagian otak, kecelakaan, terbentur, dan hal yang mengakibatkan saraf otak manusia mengalami kerusakan.

Kondisi ini sangat mungkin terjadi pada orang yang bekerja di tempat tinggi, pembalap, petinju, atau yang bekerja dengan mengoperasikan kendaraan.

3. Memiliki penyakit jantung dan demensia

Penyakit stroke rentan dialami oleh orang yang memiliki penyakit jantung. Ya, ini karena jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh mengalami masalah sehingga menghambat pasokan darah kaya oksigen ke otak. Stroke inilah yang nantinya akan jadi penyebab epilepsi.

Risikonya juga ada pada orang dengan penyakit demensia, yakni sekumpulan gangguan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Penyakit ini seiring waktu dapat merusak sel-sel otak dan mungkin memicu aktivitas abnormal di otak sehingga menyebabkan tubuh kejang-kejang.

Penyebab penyakit epilepsi kambuh

stres memicu kejang epilepsi

Epilepsi adalah penyakit yang sifatnya kambuhan. Gejalanya dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Selain memahami penyebab dasar dari penyakitnya, Anda juga perlu mengetahui penyebab dari kekambuhannya.

Lebih jelasnya, berikut beberapa hal yang bisa menjadi penyebab penderita epilepsi mengalami kekambuhan:

  • Melewatkan dosis obat. Penyakit epilepsi diharuskan untuk minum obat antiepilepsi secara rutin untuk mencegah kekambuhan gejala. Jika dosisnya terlewatkan atau tidak minum obat sesuai anjuran dokter, gejalanya bisa jadi akan kambuh. Oleh karena itu, obat harus diminum secara rutin sesuai dengan instruksi dokter.
  • Kurang tidur dan stres. Kurang tidur dapat mengganggu aktivitas kelistrikan di otak yang nantinya bisa menyebabkan gejala epilepsi kembali kumat. Di samping itu, kondisi ini juga lebih mudah membuat Anda stres. Akibatnya, risiko kambuh akan jadi lebih besar.
  • Minum alkohol berlebihan. Kebiasaan minum alkohol tidak terkontrol juga bisa menyebabkan gejala epilepsi kembali kambuh. Sebaiknya selama masa pengobatan, Anda perlu berhenti dari kebiasaan ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bisakah Mengetahui Keperawanan Wanita Lewat Ciri Fisiknya?

Banyak yang percaya gadis perawan memiliki ciri-ciri khusus. Tapi bagaimana dengan pandangan medis soal tes keperawanan wanita? Benarkah bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Berbagai Manfaat Menakjubkan Kunyit untuk Kecantikan dan Kesehatan Tubuh

Anda mungkin cukup familier dengan manfaat kunyit untuk meredakan mual. Nah, ternyata masih ada khasiat lain dari kunyit yang mungkin belum Anda tahu!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Pengobatan Herbal dan Alternatif, Herbal A-Z 25 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Wabah Kesepian, Fenomena Kekinian yang Menghantui Kesehatan Masyarakat

Rasa kesepian banyak dialami oleh masyarakat modern. Bahkan, kondisi psikologis ini bisa dianggap sebagai salah satu ancaman kesehatan yang serius.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 25 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Ragam Makanan dengan Kandungan Bakteri yang Baik untuk Usus

Tubuh kita membutuhkan bakteri dalam usus untuk menjaga fungsinya. Cari tahu makanan yang baik untuk usus dalam artikel berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Pencernaan 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tidak bisa kentut susah kentut

Tiba-Tiba Susah Kentut? Tak Perlu Pusing, Begini Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
cara mengusir semut

9 Cara Jitu untuk Mengusir Semut Bandel di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
lidah terasa pahit saat sakit

Kenapa Lidah Terasa Pahit saat Anda Sedang Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Seks setelah haid

Berhubungan Seks Sehari Setelah Haid, Apakah Bisa Hamil?

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 2 menit