home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengulik Penyebab Sekaligus Faktor Risiko dari Penyakit Epilepsi

Mengulik Penyebab Sekaligus Faktor Risiko dari Penyakit Epilepsi

Penyakit epilepsi atau yang dikenal sebagai “ayan” adalah gangguan pada sistem saraf karena terjadinya aktivitas yang listrik di otak yang abnormal. Kondisi ini menyebabkan berbagai reaksi pada tubuh manusia seperti melamun, kesemutan, gangguan kesadaran, kejang-kejang dan atau kontraksi otot. Namun, tahukah Anda apa penyebab dari penyakit epilepsi? Ingin tahu jawabannya? Simak ulasannya berikut ini.

Penyebab penyakit epilepsi pada anak-anak maupun orang dewasa

penyakit epilepsi adalah

Setidaknya satu kali seumur hidup seseorang pernah mengalami kejang. Namun jika kejang terus-menerus terjadi, bisa jadi ini adalah gejala dari penyakit epilepsi.

Penyebab dari penyakit ini sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, hasil pemeriksaan pada otak menunjukkan adanya aktivitas kelistrikan abnormal di otak saat kejang terjadi.

Melansir dari laman Mayo Clinic, ada beberapa faktor dan kondisi yang dapat menyebabkan aktivitas tidak normal di otak yang mungkin juga menjadi penyebab epilepsi pada anak-anak maupun orang dewasa, d antaranya:

1. Genetik

Meski jarang, mutasi gen yang diwariskan dari orangtua bisa menyebabkan epilepsi pada keturunannya. Itu artinya, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit epilepsi, memiliki kemungkinan terkena penyakit yang sama.

Biasanya, penderita epilepsi yang dilatarbelakangi oleh gen akan menunjukkan gejala-gejalanya lebih awal. Entah itu ketika masih bayi, anak-anak, atau di usia remaja.

Hasil penelitian menemukan bahwa beberapa gen tertentu dapat membuat seseorang jadi lebih peka terhadap kondisi yang memicu kejang. Gen penyebab penyakit epilepsi ini adalah SLC2A1, LGI1, dan DEPDC5.

Jika memang terjadi penyakit epilepsi dalam keluarga Anda, sebaiknya lakukan tes genetik dan konsultasi dokter. Tujuannya, untuk melihat seberapa besar peluang Anda terkena penyakit epilepsi. Dengan begitu, dokter bisa mendapatkan arahan untuk melakukan tindakan pencegahan berkembangnya penyakit di kemudian hari.

2. Cedera pada kepala

Kejang yang menjadi salah satu gejala khas dari penyakit epilepsi terjadi akibat adanya aktivitas abnormal di otak. Nah, dari sini dapat disimpulkan bahwa adanya cedera di kepala, yakni lokasi otak Anda berada, bisa menjadi penyebab dari penyakit epilepsi.

Anda bisa mengalami cedera kepala lewat kecelakaan kendaraan, terjatuh dari tempat tinggi, atau tertimpa benda berat di kepala. Kondisi ini diperkirakan menyerang 35 persen pada anak-anak dan 15 persen pada orang dewasa.

Waktu munculnya gejala epilepsi pada pasien cedera kepala sangat bervariasi. Sekitar 50 persen kasus mengalami kejang dalam 24 jam pertama, sisanya satu hingga empat minggu setelah cedera kepala terjadi.

3. Masalah pada otak

Selain cedera kepala, penyebab penyakit epilepsi lain yang mungkin terjadi adalah kerusakan pada otak akibat stroke dan tumor otak. Penyakit stroke diketahui jadi pemicu utama epilepsi pada orang dewasa yang berusia 35 tahun ke atas.

Stroke sendiri adalah kondisi pembuluh darah di otak yang pecah atau adanya gumpalan yang menghalangi suplai darah ke otak. Tubuh Anda mengalami kejang sebanyak satu kali setelah stroke terjadi.

Jika Anda tidak punya penyakit epilepsi sebelumnya, kemungkinan Anda akan mengembangkan penyakit ini di kemudian hari. Jenis stroke tertentu yang dapat menyebabkan perdarahan parah, dapat menyebabkan epilepsi dalam waktu dekat.

Sementara tumor otak menimbulkan adanya jaringan abnormal di otak. Kondisi ini diketahui dapat memicu terjadinya kejang berulang kali.

4. Adanya penyakit akibat infeksi

Infeksi pada sistem saraf dapat mengakibatkan aktivitas kejang. Ini termasuk infeksi pada meliputi otak dan cairan tulang belakang atau penyakit meningitis, infeksi otak atauensefalitis, dan virus yang memengaruhi imun manusia (HIV), serta infeksi saraf dan imun manusia terkait yang dapat menjadi pemicu epilepsi.

5. Gangguan perkembangan otak dan kerusakan otak

Penyebab epilepsi yang terjadi pada bayi atau anak-anak adalah adanya gangguan perkembangan, seperti autisme atau neurofibromatosis. Autisme membuat si kecil mengalami kejang-kejang dan ini terjadi karena gangguan perkembangan otak selama masa kehamilan yang penyebab tidak diketahui pasti.

Autisme sendiri adalah gangguan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan manusia untuk berpikir dan berperilaku. Epilepsi bisa terjadi bersamaan dengan autisme atau baru muncul gejalanya setelah autisme terjadi.

Sementara neurofibromatosis adalah kelainan genetik yang menyebabkan tumbuhnya tumor pada jaringan saraf yang membuat seseorang rentan mengalami penyakit kanker dan kejang-kejang.

Di samping itu, penyebab penyakit epilepsi lain yang mungkin menyerang bayi dan anak-anak adalah kerusakan otak akibat sang ibu terinfeksi, kekurangan oksigen, atau mengalami gizi buruk.

Penyebab tingginya risiko penyakit epilepsi

tips-puasa-aman-lansia

Pada beberapa orang, risiko penyakit epilepsi mungkin lebih besar ketimbang orang lain. Nah, beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ayan ini adalah:

1. Usia

Epilepsi umumnya terjadi pada anak kecil dan manula. Biasanya anak kecil yang baru berusia 1 atau 2 tahun akan mengalami ayan atau kejang akibat epilepsi. Setelah usia seseorang mencapai 35 tahun ke atas, tingkat kasus baru epilepsi yang mulai muncul pun meningkat.

2. Melakukan aktivitas yang tinggi mengalami cedera otak

Kerusakan atau cedera otak terjadi ketika sel-sel otak yang dikenal sebagai neuron menjadi hancur. Hal ini dapat disebabkan oleh kerusakan fisik antara lain pasca operasi bagian otak, kecelakaan, terbentur, dan hal yang mengakibatkan saraf otak manusia mengalami kerusakan.

Kondisi ini sangat mungkin terjadi pada orang yang bekerja di tempat tinggi, pembalap, petinju, atau yang bekerja dengan mengoperasikan kendaraan.

3. Memiliki penyakit jantung dan demensia

Penyakit stroke rentan dialami oleh orang yang memiliki penyakit jantung. Ya, ini karena jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh mengalami masalah sehingga menghambat pasokan darah kaya oksigen ke otak. Stroke inilah yang nantinya akan jadi penyebab epilepsi.

Risikonya juga ada pada orang dengan penyakit demensia, yakni sekumpulan gangguan fungsi otak yang memengaruhi kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Penyakit ini seiring waktu dapat merusak sel-sel otak dan mungkin memicu aktivitas abnormal di otak sehingga menyebabkan tubuh kejang-kejang.

Penyebab penyakit epilepsi kambuh

stres memicu kejang epilepsi

Epilepsi adalah penyakit yang sifatnya kambuhan. Gejalanya dapat muncul kapan saja dan di mana saja. Selain memahami penyebab dasar dari penyakitnya, Anda juga perlu mengetahui penyebab dari kekambuhannya.

Lebih jelasnya, berikut beberapa hal yang bisa menjadi penyebab penderita epilepsi mengalami kekambuhan:

  • Melewatkan dosis obat. Penyakit epilepsi diharuskan untuk minum obat antiepilepsi secara rutin untuk mencegah kekambuhan gejala. Jika dosisnya terlewatkan atau tidak minum obat sesuai anjuran dokter, gejalanya bisa jadi akan kambuh. Oleh karena itu, obat harus diminum secara rutin sesuai dengan instruksi dokter.
  • Kurang tidur dan stres. Kurang tidur dapat mengganggu aktivitas kelistrikan di otak yang nantinya bisa menyebabkan gejala epilepsi kembali kumat. Di samping itu, kondisi ini juga lebih mudah membuat Anda stres. Akibatnya, risiko kambuh akan jadi lebih besar.
  • Minum alkohol berlebihan. Kebiasaan minum alkohol tidak terkontrol juga bisa menyebabkan gejala epilepsi kembali kambuh. Sebaiknya selama masa pengobatan, Anda perlu berhenti dari kebiasaan ini.

 

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Englot, D. J., Chang, E. F., & Vecht, C. J. (2016). Epilepsy and brain tumors. Handbook of clinical neurology134, 267–285. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-802997-8.00016-5 [Accessed on December 3rd, 2020]

Epilepsy – Symptoms and causes. (2020, May 5). Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy/symptoms-causes/syc-20350093 [Accessed on December 3rd, 2020]

The curious case of epileptic seizures: What triggers a seizure? – Penn medicine. (n.d.). University of Pennsylvania Health System | Penn Medicine. https://www.pennmedicine.org/updates/blogs/neuroscience-blog/2019/august/surprising-epilepsy-seizure-triggers [Accessed on December 3rd, 2020]

Strokes may lead to epilepsy. (2019, July 15). Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/epilepsy/communications/features/stroke.htm [Accessed on December 3rd, 2020]

Ding, K., Gupta, P. K., & Diaz-Arrastia, R. (n.d.). Epilepsy after traumatic brain injury – Translational research in traumatic brain injury – NCBI bookshelf. National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK326716/ [Accessed on December 3rd, 2020]

Englot, D. J., Chang, E. F., & Vecht, C. J. (2016). Epilepsy and brain tumors. Handbook of clinical neurology134, 267–285. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-802997-8.00016-5 [Accessed on December 3rd, 2020]

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 27/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri