Penanganan dan Pertolongan Pertama Pada Pasien Epilepsi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Penyakit epilepsi dapat menyebabkan komplikasi berupa kerusakan otak. Parahnya lagi, dapat berujung pada kematian jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat segera. Itulah sebabnya, baik pasien itu sendiri, keluarga, maupun pengasuh harus mengikuti pengobatan dan perawatan yang diarahkan dokter. Yuk, bahas penanganan pasien epilepsi sekaligus pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan saat melihat pasien kumat, pada ulasan berikut ini.

Penanganan pasien epilepsi di rumah sakit

Guna mencegah terjadinya komplikasi yang membahayakan jiwa, pasien yang menunjukkan gejala epilepsi akan diminta untuk mendatangi rumah sakit. Lebih jelasnya, berikut prosedur penanganan pasien epilepsi yang biasanya diterapkan.

1. Tes kesehatan untuk menegakkan diagnosis

Kejang merupakan gejala epilepsi yang khas. Akan tetapi, tidak semua orang yang mengalami gejala tersebut berarti terkena penyakit epilepsi. Pasalnya, kejang juga bisa terjadi pada orang yang minum alkohol berlebihan, kadar garam dalam darah rendah, kurang tidur, atau mengalami demam tinggi.

Kejang pertanda epilepsi biasanya terjadi berulang kali dan muncul secara tiba-tiba. Jika Anda, keluarga, atau teman Anda baru mengalami kejang, dokter akan melakukan pengamatan gejala. Kemudian, Anda atau keluarga akan diminta menjalani tes kesehatan, seperti tes darah, tes neurologis, dan tes electroencephalogram (EEG). Biasanya, Anda akan dirujuk ke dokter spesialis neurologi.

2. Pemberian obat

Penanganan pertama pada pasien epilepsi untuk menekan gejalanya adalah dengan pemberian obat. Beberapa obat yang biasanya diresepkan sodium valproate, carbamazepine, lamotrigine, levetiracetam, atau topiramate. Sebelum obat diresepkan, dokter biasanya akan menanyakan riwayat kesehatan pasien.

Pasien yang memiliki penyakit hati, ginjal, alergi pada zat tertentu, sedang hamil atau merencanakan kehamilan harus memberi tahu ini pada dokter. Setelah obat diberikan, dokter akan mengamati efektivitas obat dalam mengurangi frekuensi gejala maupun efek samping yang muncul.

3. Prosedur medis lanjutan

Jika penanganan dengan obat epilepsi tidak efektif, dokter akan mengajukan prosedur medis lanjutan berupa operasi. Tujuannya, dari operasi ini adalah mengangkat area otak yang memicu kejang, memblokir jalur saraf otak yang menyebabkan kejang, dan memasukkan alat khusus ke otak untuk mengurangi risiko kerusakan otak atau kematian mendadak.

Setelah operasi dilakukan, Anda akan diminta untuk menjalani opname selama beberapa hari dan menghindari berbagai aktivitas berat.

Pertolongan pertama pada pasien epilepsi yang kambuh

klasifikasi macam jenis jenis macam epilepsi

Mayoritas orang yang terdiagnosis dengan epilepsi dapat mengendalikan kejadian kejang mereka dengan obat-obatan dan pembedahan. Akan tetapi, hingga 30-40 persen penderita epilepsi diharuskan untuk terus hidup dengan risiko kejang karena terapi perawatan yang tersedia tidak sepenuhnya bisa mengontrol kejang mereka.

Jika Anda bersama seseorang yang mengalami kejang epileptik tonik-klonik (kejang yang diikuti oleh kekakuan otot dan kehilangan kesadaran yang membuat pasien epilepsi berisiko terjatuh), tindakan penanganan yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Tetap tenang dan tetap bersama orang tersebut.
  • Hitung waktu kejang dari awal hingga akhir.
  • Longgarkan pakaian di sekitar lehernya.
  • Singkirkan benda-benda tajam dan berbahaya (kacamata, furnitur, benda keras lainnya) dari orang tersebut.
  • Minta orang di sekitar, jika ada, untuk mundur dan memberi ruangan untuk orang tersebut.
  • Secara perlahan, baringkan orang tersebut dalam posisi miring secepat mungkin, taruh bantal (atau sesuatu yang lembut) di bawah kepalanya, dan buka rahangnya untuk membuka jalur pernapasan yang lebih baik sekaligus mencegah orang tersebut dari tersedak air liur atau muntah. Seseorang tidak bisa menelan lidahnya, tapi lidah bisa terdorong ke belakang dan menyebabkan terhalangnya jalur napas.
  • Terus berkomunikasi dengan orang tersebut sehingga Anda tahu kapan mereka telah sadar.
  • Setelah korban sadar, ia mungkin merasa linglung. Tetap temani dan tenangkan korban. Jangan tinggalkan korban sendirian sampai ia merasa benar-benar kembali fit.

Hindari hal ini dalam penanganan pertama pada pasien epilepsi

  • Menahan kejang atau mengekang orang tersebut. Hal ini bisa berakibat cedera
  • Memasukkan benda apapun ke dalam mulut korban atau menarik lidahnya keluar. Hal ini juga bisa menyebabkan cedera
  • Memberi makan, minum, atau obat sampai korban benar-benar pulih dan sadar sepenuhnya

Cari bantuan medis segera, jika …

  • Jika ini adalah kejang pertamanya (tetap cari bantuan jika Anda tidak yakin).
  • Kejang berlangsung lebih dari lima menit, atau kejang pertama segera diikuti oleh kejang lanjutan tanpa jeda (status epiliptikus), atau jika korban tidak bisa dibangunkan setelah kejang dan gemetar usai.
  • Orang tersebut tidak bisa sadar sepenuhnya atau mengalami kesulitan bernapas.
  • Kejang terjadi di dalam air.
  • Orang tersebut mengalami cedera selama kejang.
  • Orang tersebut hamil.
  • Anda ragu-ragu.

Jika kejang terjadi saat orang tersebut berada di kursi roda, kursi penumpang kendaraan, atau kereta dorong anak, biarkan ia tetap terduduk selama keadaan mereka aman dan terjaga oleh sabuk pengaman.

Sangga kepalanya sampai kejang selesai. Terkadang, korban perlu diangkat keluar dari kursi saat kejang selesai, misalnya, jika jalur pernapasannya tersumbat atau mereka butuh tidur. Jika ada makanan, minum, atau muntah, pindahkan orang tersebut dari kursi dan segera baringkan dalam posisi menyamping.

Jika kondisi tidak memungkinkan untuk memindahkan korban, terus berikan dukungan pada kepalanya untuk memastikan kepala tidak terkulai ke belakang, kemudian buang isi mulut mereka saat kejang usai.

Tindakan penanganan pasien epilepsi lainnya

perbedaan pendapat dalam keluarga

Penanganan epilepsi tidak hanya dilakukan ketika gejalanya kumat saja, juga tidak hanya berupa pertolongan pertama pada penderitanya. Anda juga perlu melakukan tindakan pencegahan. Ini dilakukan supaya pasien tetap aman dalam beraktivitas ketika gejalanya kambuh. Panduan hidup aman bagi keluarga yang tinggal dengan pasien epilepsi, seperti dilansir laman National Health Service:

Penanganan epilepsi di rumah

  • Memasang detektor asap untuk menghindari kebakaran yang mungkin terjadi ketika epilepsi kambuh.
  • Menutupi tepi atau sudut furniture yang tajam atau menonjol dengan bantalan yang empuk untuk menghindari cedera ketika Anda jatuh saat gejala kumat.
  • Pastikan lantai rumah yang rentan basah, contoh di depan pintu kamar mandi atau beranda rumah untuk selalu di lengkapi dengan lap keset. Tujuannya, menghindari Anda tergelincir saat gejala kambuh.

Penanganan epilepsi dalam melakukan aktivitas

  • Jangan  biarkan pasien berolahraga sendiri, terutama olahraga air seperti berenang.. Anda atau pengasuh harus selalu mengawasinya ketika melakukan aktivitas ini.
  • Pastikan pasien selalu menggunakan alat pelindung ketika berolahraga, seperti helm atau bantalan pelindung lutut dan siku ketika bersepeda.
  • Sebaiknya tidak lagi mengizinkan pasien untuk mengemudi. Anda atau bisa juga minta bantuan orang lain untuk mengantar pasien jika ingin mengunjungi suatu tempat.

Penanganan epilepsi di sekolah

  • Pastikan pihak sekolah dan teman-temannya tahu kondisi anak.
  • Selalu siapkan obat-obatan yang perlu diminum anak. Beri label pada setiap obat dan sudah disesuaikan dosisnya agar anak tidak salah minum.
  • Anak dengan epilepsi bisa saja mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran. Oleh karena, coba pertimbangkan anak untuk mengikuti kelas khusus agar si kecil mendapat bimbingan yang lebih baik dalam mengikuti kegiatan belajar.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tortikolis

Tortikolosis membuat leher penderitanya mengalami kecondongan untuk miring ke satu sisi. Bisakah penyakit ini disembuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 27 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Kejang Parsial

Kejang parsial bisa terjadi pada siapa saja. Seberapa umumkah kondisi ini? Bisakah dicegah dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Otak dan Saraf, Epilepsi 23 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Info Lengkap Pemeriksaan EEG (Elektroensefalografi) yang Perlu Anda Tahu

Tes electroencephalography (EEG) adalah pemeriksaan untuk gangguan otak, seperti epilepsi. Ketahui info lengkap tentang tes elektroensefalografi di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Otak dan Saraf 20 Desember 2020 . Waktu baca 10 menit

Informasi Lengkap mengenai PET Scan, Mulai dari Manfaat Hingga Risiko

PET scan adalah pemeriksaan medis untuk mendeteksi penyakit tertentu dengan melihat fungsi jaringan atau organ. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan, Tes Kesehatan A-Z 20 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kaki terasa panas, kaki panas

Berbagai Hal yang Bisa Menyebabkan Kaki Terasa Panas di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
meningioma adalah

Meningioma

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 9 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
hidrosefalus pada anak

Hidrosefalus

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 14 menit
atrofi otak

Semua yang Perlu Diketahui Seputar Atrofi Otak, Ketika Ukuran Otak Menciut

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 28 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit