Apa itu asma?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu asma?

Asma adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran pernapasan. Peradangan ini membuat saluran pernapasan bengkak dan sangat sensitif. Akibatnya, saluran pernapasan menyempit, menyebabkan kurangnya udara yang mengalir ke paru-paru. 

Sel di saluran pernapasan juga mungkin membuat lebih banyak lendir dari biasanya. Lendir ini selanjutnya dapat makin mempersempit saluran pernapasan dan membuat Anda lebih sulit untuk bernapas lega. 

Tergantung faktor pemicunya, asma terdiri dari banyak jenis. Namun, jenis yang paling umum meliputi:

  • Asma olahraga
  • Asma nocturnal (malam hari)
  • Asma karena pekerjaan tertentu
  • Asma batuk
  • Asma alergi

Seberapa umumkah kondisi ini?

Asma adalah salah satu penyakit tidak menular yang paling umum menyerang anak-anak di seluruh dunia. Meski begitu, orang dewasa yang berusia di bawah 40 tahun juga bisa mengalami penyakit ini. 

Asma memiliki tingkat kematian yang relatif rendah dibandingkan dengan penyakit kronis lainnya. Sayangnya, kebanyakan kematian terkait asma terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah termasuk Indonesia.

Penyakit asma tidak bisa diobati. Pengobatan yang ada hanya sekadar membantu meringankan gejala dan mencegah kekambuhan serangan asma. Anda bisa mencegah penyakit asma dengan menghindari faktor risiko yang ada. Silakan berkonsultasi ke dokter untuk mengulik informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja ciri dan gejala asma?

Secara umum, berikut beberapa tanda dan gejala asma paling khas yang perlu Anda waspadai.

1. Batuk

Batuk karena gejala penyakit ini dapat berupa batuk kering maupun berdahak (berlendir). Umumnya batuk cenderung akan semakin parah pada malam hari hingga membuat Anda kesulitan untuk tidur. 

2. Mengi

Mengi adalah suara siulan seperti “ngik ngik” yang muncul ketika Anda bernapas. Bunyi ini terjadi karena udara dipaksa keluar melalui saluran pernapasan yang tersumbat. 

3. Dada sesak

Saluran udara yang tengah meradang dan tersumbat menyebabkan dada terasa sesak atau sakit. Dada Anda mungkin terasa seperti ditekan atau ditindih dengan benda yang sangat berat.

4. Sesak napas

Saluran udara yang mengalami peradangan dan tersumbat sering kali membuat seseorang kesulitan bernapas dan mengambil napas. Selain membuat tidak nyaman, kondisi ini juga dapat menyebabkan perasaan gelisah.

Selain yang sudah disebutkan di atas, orang dengan kondisi ini juga bisa memunculkan gejala lain, seperti:

  • Badan lemas, lesu, dan tidak bertenaga
  • Suara sengau
  • Menghela napas terus-terusan
  • Rasa gelisah yang tidak biasa

Pada dasarnya gejala penyakit ini dapat berbeda-beda pada setiap orang. Bahkan, seseorang yang mengalami penyakit ini juga dapat mengalami serangan yang bervariasi. Anda mungkin dapat mengalami serangan secara berkala, setiap hari, hanya di malam hari, atau bahkan hanya setelah beraktivitas.

Itu sebabnya, bila Anda mencurigai satu atau beberapa gejala yang sudah disebutkan tadi, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter. Dokter akan menanyakan riwayat medis (termasuk jenis dan frekuensi gejala) serta menjalani pemeriksaan fisik dan tes fungsi paru-paru. 

Penyebab dan Faktor Risiko

Apa penyebab asma?

Penyebab pasti dari penyakit ini belum diketahui. Namun, prinsipnya begini; ketika saluran udara bersentuhan dengan faktor pemicu, maka saluran tersebut akan meradang, menyempit, dan dipenuhi lendir. 

Berikut berbagai pemicu asma yang paling umum:

1. Alergi

Alergi dan asma saling berkaitan satu sama lain. Sekitar 80 persen orang dengan kondisi ini mengalami alergi seperti alergi debu, bulu binatang, kecoa, hingga serbuk sari. Dalam kasus yang kurang umum, alergi makanan juga bisa jadi penyebab seseorang mengalami gejala dari penyakit pernapasan kronis ini.

2. Batuk

Batuk terus-terusan karena flu, rhintis kronis, sinusitis atau bronkitis sering kali berujung pada serangan asma. Oleh karena itu, bila Anda mengalami batuk berkepanjangan, ada baiknya segera periksa ke dokter spesialis paru-paru.

3. Olahraga terlalu berat

Aktivitas berat, termasuk olahraga, dapat memicu serangan asma bagi beberapa orang. Biasanya kondisi ini lebih mudah dialami oleh orang yang memang sebelumnya sudah punya riwayat penyakit ini. Meski begitu, tak menutup kemungkinan kalau orang yang tidak punya riwayat penyakit ini (termasuk atlet) justru mengalaminya hanya ketika mereka olahraga.

4. Paparan iritan

Paparan iritan seperti asap rokok, polusi udara, bahan kimia, atau debu di tempat kerja dapat membuat saluran pernapasan Anda lebih reaktif terhadap zat di udara. Akibatnya, Anda akan lebih mudah untuk mengalami penyakit peradangan saluran napas. 

5. Obat-obatan tertentu

Sejumlah obat-obatan seperti obat NSAID hingga obat penyakit jantung beta blocker dapat memicu serangan asma. Bahkan tak jarang, efek samping obat-obatan tersebut dapat berakibat fatal bagi orang dengan kondisi ini.

6. GERD

Data menyebutkan bahwa orang dengan penyakit penyakit ini dua kali lebih rentan terkena GERD ketimbang mereka yang sehat. Mayo Clinic, mengungkapkan GERD dapat membuat gejala asma memburuk dan asma dapat memperburuk gejala GERD.

7. Malam hari

Meningkatnya suhu udara, paparan alergen, posisi tidur berbaring, hingga produksi hormon tertentu pada malam hari dapat memicu serangan asma. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa kasus kematian akibat penyakit ini paling banyak terjadi di malam hari.

8. Penyebab lainnya

Bau-bauan yang kuat, udara dingin, serta stres psikologis ternyata juga dapat menjadi penyebab asma. Bahkan, berteriak dan tertawa terlalu keras pun dapat memicu hal serupa.

Faktor risiko

Siapa yang berisiko terkena asma?

Menurut WHO, asma adalah penyakit pernapasan kronis yang paling umum menyerang anak-anak. Sebenarnya penyakit pernapasan ini dapat mempengaruhi orang-orang dari segala usia. Namun, penyakit ini paling sering dimulai pada masa kanak-kanak karena:

  • Kelahiran prematur.
  • Lahir dengan berat badan rendah.
  • Mengalami alergi tertentu, misalnya alergi makanan atau eksim.
  • Mengalami infeksi pernapasan atas, seperti pneumonia, bronkitis, dan lain sebagainya.
  • Orangtua memiliki riwayat penyakit asma.

Di antara anak-anak, anak laki-laki lebih berisiko mengalami penyakit pernapasan ini dibandingkan anak perempuan. Sementara di antara orang dewasa, wanita lebih sering terkena penyakit ini dibanding pria. 

Sayangnya, sampai saat ini tidak diketahui pasti bagaimana jenis kelamin dan hormon seks memainkan peran dalam menyebabkan penyakit pernapasan ini.

Diagnosis

Bagaimana cara mendiagnosis asma?

Penyakit pernapasan ini hanya bisa didiagnosis lewat pemeriksaan oleh dokter. Hal pertama yang akan dilakukan dokter adalah menanyakan riwayat medis Anda dan keluarga.

Sembari menanyakan seputar riwayat kesehatan Anda, dokter biasanya juga akan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter akan mendengarkan pernapasan Anda dan mencari tanda-tanda penyakit pernapasan atau alergi. 

Beri tahu dokter bila keluarga terdekat Anda, seperti orangtua, saudara kandung, serta kakek dan nenek ada yang mengalami kondisi ini. Beri tahu dokter juga soal gejala yang Anda keluhkan selama ini. Mulai dari kapan dan seberapa sering Anda mengalaminya.

Dokter Anda akan menggunakan tes yang disebut spirometri untuk memeriksa bagaimana paru-paru Anda bekerja. Tes ini mengukur seberapa cepat dan banyak udara yang dapat Anda hirup serta embuskan. 

Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan sejumlah tes lain, seperti:

  • Tes alergi untuk mengetahui alergen yang mempengaruhi Anda, jika ada.
  • Tes bronkus untuk mengukur sensitivitas saluran pernapasan Anda. 
  • Sebuah tes untuk menunjukkan apakah Anda memiliki kondisi lain dengan gejala yang sama seperti asma. Sebut saja seperti penyakit refluks, kelainan pita suara, atau sleep apnea. 
  • Rontgen dada atau EKG (electrocardiogram). Tes ini akan membantu mengetahui apakah benda asing atau penyakit lainnya dapat menyebabkan gejala Anda.

Obat & Pengobatan

Apa saja pengobatan untuk asma?

Asma adalah penyakit yang tak bisa disembuhkan. Namun, berbagai cara mulai dari penggunaan obat hingga perubahan gaya hidup dapat membantu mengendalikan gejala dan mencegahnya kambuh.

Pengobatan penyakit ini ada dua jenis, yaitu obat kontrol jangka panjang dan jangka pendek.

Obat kontrol jangka panjang

Kebanyakan orang dengan penyakit ini harus minum obat kontrol jangka panjang setiap hari untuk membantu mencegah kekambuhan gejala. Obat kontrol jangka panjang memiliki beberapa jenis yang meliputi:

  • Leukotriene modifiers; montelukast, zafirlukast, dan zileuton. Obat ini efektif untuk meringankan gejala hingga 24 jam. Sayangnya, obat ini dapat menyebabkan reaksi psikologis, seperti rasa gelisah berlebih, halusinasi, hingga depresi. Maka dari itu, pastikan Anda segera periksa ke dokter bila mengalami sejumlah gejala yang tidak biasa.
  • Kortikosteroid hirup; budesonide, fluticasone, ciclesonide, beclomethasone, fluticasone furoate, flunisolide, fluticasone furoate, dan mometasone. Anda mungkin perlu menggunakan obat-obatan jenis ini selama beberapa hari hingga minggu untuk mencapai hasil yang optimal. Efek samping obat ini relatif rendah meski digunakan untuk jangka panjang.
  • Long-acting beta agonists; formoterol dan salmeterol. Biasanya obat ini dikombinasikan dengan kortikosteroid hirup. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat ini secara tunggal dapat meningkatkan risiko serangan asma yang parah. Jadi, gunakan obat ini sesuai anjuran yang diberikan dokter.
  • Obat kombinasi; obat kortikosteroid hirup dengan long-acting beta agonists. Misalnya, fluticasone-salmeterol, budesonide-formoterol, dan formoterol-mometasone.
  • Theophylline; seperti Theo-24 dan Elixophyllin. Obat ini biasanya digunakan setiap hari untuk membantu melemaskan otot-otot di sekitar saluran udara. Dengan begitu, Anda dapat bernapas lebih lega.

Obat kontrol jangka pendek

Semua orang yang mengalami kondisi ini memerlukan obat kontrol jangka pendek. Fungsi obat ini adalah membantu meringankan gejala asma yang baru muncul dan kambuh sewaktu-waktu. Namun, obat ini tidak boleh diminum lebih dari 2 minggu. 

Berikut beragam jenis obat kontrol jangka pendek yang paling umum.

  • Short-acting beta agonists; albuterol, levalbuterol, pirbuterol, dan bitolterol. Obat ini bertindak sebagai bronkodilator yang bekerja cepat untuk meredakan gejala ketika serangan kambuh. Obat jenis ini dapat digunakan lewat inhaler genggang atau nebulizer.
  • Ipratropium. Obat ini bekerja seperti bronkodilator yang secara cepat akan melemaskan saluran udara Anda ketika serangan kambuh. Alhasil, Anda dapat bernapas lebih mudah. Selain untuk penyakit pernapasan kronis, obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati penyakit emfisema dan bronkitis akut.
  • Kortikosteroid oral atau suntik; predisone dan methylpredisolone. Obat-obatan ini dapat meredakan peradangan di saluran napas yang memicu gejala. Obat ini dapat menyebabkan efek samping yang serius bila digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pastikan Anda hanya menggunakan obat ini sesuai yang diresepkan dokter.

Jika Anda menggunakan obat-obatan ini lebih dari 2 minggu, segera laporan ke dokter. Dokter dapat membuat perubahan rencana aksi asma yang disesuaikan dengan kondisi Anda. 

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi akibat asma?

Pengobatan yang tidak cepat dan tepat dapat memengaruhi kondisi Anda secara menyeluruh. Bahkan, hal tersebut dapat menyebabkan sejumlah komplikasi yang berdampak langsung pada fungsi tubuh Anda. Berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi akibat asma:

  • Pneumonia (infeksi paru-paru)
  • Rusaknya paru-paru sebagian atau keseluruhan
  • Kegagalan pernapasan, di mana kadar oksigen dalam darah menjadi sangat rendah, atau kadar karbon dioksida menjadi sangat tinggi
  • Status asmatikus (serangan asma berat yang tidak merespon pengobatan)

Semua komplikasi ini dapat mematikan dan membutuhkan perawatan medis segera.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah kekambuhan serangan asma?

Meski tak bisa disembuhkan, serangan asma dapat Anda cegah supaya tidak kambuh. Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kekambuhan gejala penyakit ini. 

1. Buat rencana aksi asma

Setiap pasien dengan kondisi ini dianjurkan untuk menentukan rencana perawatan asma bersama dokter dan tim kesehatan lainnya. Dokter akan membantu dalam menent​​ukan jenis obat dan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda. Pastikan Anda mengikuti rancangan perawatan tersebut supaya kekambuhan gejala dapat dicegah. 

2. Menghindari faktor pemicunya

Seseorang akan mengalami serangan gejala bila terpapar pemicunya. Maka dari itu, kenali hal-hal ap saja yang dapat memicu kekambuhan gejala Anda. Beberapa faktor pemicu yang paling umum adalah paparan zat iritan dari asap rokok, polusi udara, bahan kimia dalam produk rumah tangga hingga bulu binatang dan serbuk sari. 

3. Rutin cek fungsi paru-paru

Rutin mengecek fungsi paru-paru dengan peak flow meter juga bisa jadi cara mencegah kekambuhan serangan. Peak flow meter membantu mengukur jumlah aliran udara dalam napas penderita sehingga akan memudahkan penanganan sebelum gejalanya memburuk. Di sisi lain ini alat ini pun dapat membantu mengenali pemicu atau penyebab asma, sehingga penderita dapat menghindarinya. 

4. Kenali gejalanya

Ketika peak flow meter menunjukkan jumlah aliran udara menurun, ini tandanya serangan asma akan muncul. Kalau sudah begini, segera minum obat-obat yang dianjurkan dokter dan hentikan aktivitas yang memicu kekambuhan gejala. Bila gejala yang Anda alami tidak juga membaik, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter.

5. Minum obat sesuai yang dianjurkan dokter

Meskipun gejalanya mungkin tampak membaik, sebaiknya Anda tidak menghentikan pengobatan atau mengurangi dosis obat tanpa izin dokter. Selain itu, pastikan Anda selalu membawa obat-obatan asma setiap kali akan berkonsultasi ke dokter. Hal ini akan memudahkan dokter untuk melihat efek pengobatan yang sedang Anda jalani. 

6. Vaksin flu

Seseorang sering kali mengalami kekambuhan gejala karena dipicu oleh batuk berkepanjangan akibat flu. Maka itu, tidak ada salahnya untuk melakukan vaksin flu. Namun sebelumnya, pastikan Anda berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter. 

Direview tanggal: September 22, 2016 | Terakhir Diedit: September 9, 2019

Yang juga perlu Anda baca