Ragam Penyakit Kulit Menular Beserta Penyebab dan Gejalanya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 27 November 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Penyakit kulit adalah salah satu penyakit yang paling banyak menyerang orang-orang. Terbagi menjadi penyakit menular dan tidak menular, penyakit kulit yang menular lebih sering muncul pada masyarakat Indonesia.

Penyebab penyakit ini biasanya adalah infeksi jamur, virus, dan bakteri yang bisa menyebar melalui kontak langsung dengan kulit, udara, atau penggunaan barang bersama. Apa saja jenis penyakitnya?

Jenis penyakit kulit menular yang perlu diwaspadai

Jangan sepelekan gejala apa pun yang muncul pada kulit Anda. Gejala tersebut bisa saja menjadi ciri-ciri penyakit kulit menular berikut.

1. Herpes Simpleks

herpes

Herpes adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks (HSV). Ciri utama yang menandai herpes adalah munculnya luka lepuh atau lenting pada kulit, terutama di area mulut atau alat kelamin.

Berdasarkan area yang terinfeksi, penyakit ini dibedakan menjadi herpes simpleks tipe 1 (HSV-1) dan herpes simpleks tipe 2 (HSV-2).

HSV-1 menyerang area sekitar mulut dan dikenal sebagai herpes oral atau luka dingin. Penyakit kulit menular ini dapat tersebar dari berciuman, berbagi sikat gigi dan peralatan makan, ataupun aktivitas lainnya yang memungkinkan cairan dari mulut penderita masuk ke tubuh Anda.

Sementara itu, HSV-2 biasanya menginfeksi area sekitar alat kelamin atau rektum sehingga disebut sebagai herpes genital. Penyakit ini dapat ditularkan melalui hubungan seksual dengan penderita herpes atau dari ibu penderita herpes ke anak yang dilahirkan.

Virus herpes akan terus menetap dalam tubuh setelah menginfeksi. Dengan kata lain, penyakit kulit ini tidak dapat disembuhkan. Meski demikian, Anda bisa saja tidak menunjukkan gejala apa pun.

Gejala dan luka lepuh biasanya baru muncul saat Anda mengalami seperti kelelahan, sakit, stres, menstruasi, atau ketika sistem kekebalan tubuh melemah.

2. Cacar air

Cacar-Air

Cacar air adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Sebelum vaksin cacar air ditemukan, penyakit kulit yang mudah menular ini dapat berakibat fatal.

Perkembangan vaksin cacar air hingga saat ini telah berhasil menurunkan angka kejadiannya, meskipun sejumlah kasus cacar air memang masih menimpa anak-anak setiap tahunnya.

Penyakit cacar air ditandai dengan ruam gatal yang dapat muncul di wajah, kulit kepala, atau sekujur tubuh dan disertai dengan bintik-bintik merah muda. Bintik ini nantinya akan berubah menjadi luka lepuh kecil atau lenting-lenting berisi air yang bisa tersebar ke seluruh tubuh.

Penularan cacar air dapat terjadi dari penderita ke orang-orang di sekitarnya melalui berbagai cara. Virus ini bisa menyebar melalui sentuhan antara kulit dengan kulit, dari ludah atau lendir orang yang terinfeksi, atau melalui butiran udara dari orang yang batuk atau bersin.

Kendati dapat menyerang siapa saja, penyakit kulit yang berlangsung selama 5-10 hari ini bisa lebih mudah menular pada anak-anak dan orang-orang dari kelompok rentan seperti bayi baru lahir, orang yang belum divaksin, serta orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah.

3. Cacar api atau cacar ular

Cacar Ular Cacar Api

Sama seperti cacar air, cacar api alias cacar ular pada orang dewasa juga disebabkan oleh virus bernama varicella-zoster. Orang yang sudah pernah terkena cacar air bisa menghidupkan lagi virus ini ketika sistem kekebalan tubuhnya menurun, sedang mengalami stres berat, atau ketika sudah berusia di atas 50 tahun.

Hal ini bisa terjadi sebab saat Anda terserang cacar air dan sembuh, ada kemungkinan virus belum benar-benar menghilang dari tubuh. Virus tersebut hanya terdiam di dalam sistem saraf dalam waktu yang lama sampai akhirnya aktif kembali lalu bergerak menuju sel kulit hingga menyebabkan penyakit berbentuk cacar api.

Cacar api dapat menular kepada orang-orang yang belum mendapatkan vaksin cacar air. Penularannya bisa terjadi melalui kontak kulit dengan luka terbuka cacar api.

Namun, penyakit yang tertular ini bukanlah cacar api, tapi tetap berupa cacar air. Risiko penyebarannya akan berkurang jika lepuhan ini ditutup, dan barulah tidak menular lagi begitu luka mengering seutuhnya.

Gejala cacar api diawali dengan munculnya sederet bintik merah pada salah satu sisi tubuh atau wajah yang disertai dengan rasa sakit atau sensasi terbakar. Gejala lainnya meliputi sensasi geli di bawah kulit, nyeri perut, demam, menggigil, dan sakit kepala.

4. Kudis

Kudis

Berbeda dengan penyakit kulit menular lainnya yang terjadi akibat infeksi, penyakit kudis justru disebabkan oleh tungau kecil yang bernama Sarcoptes scabei. Parasit ini tersebar di lapisan luar kulit, lalu menggalinya dan menetaskan telur di sana sehingga menimbulkan ruam dan gatal.

Kudis dapat muncul di sela-sela jari-jari, di sekitar pinggang atau pusar, di lutut, atau di bokong. Penyakit kulit ini sangat mudah menular melalui kontak fisik antar kulit yang sangat dekat serta melalui pakaian, handuk, atau sabun yang dipakai bersama-sama.

Itulah sebabnya jika seseorang mengalami kudis, maka seluruh anggota keluarganya juga harus mendapatkan penanganan.

Gejala kudis biasanya tidak langsung muncul begitu Anda terinfeksi. Setelah empat hingga enam minggu, kulit Anda akan mulai bereaksi dengan menimbulkan sejumlah gejala.

Di antara gejala tersebut adalah rasa gatal hebat terutama pada malam hari, muncul ruam menyerupai jerawat, kulit bersisik atau terdapat luka lepuh, serta muncul luka akibat terlalu banyak menggaruk.

5. Kurap

Kurap

Kurap adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh jamur. Penyakit ini dapat menyerang kulit tubuh, kepala, kuku, kaki, bahkan area organ intim.

Jamur penyebab kurap tumbuh subur pada bagian tubuh yang hangat dan lembap. Karenanya, Anda lebih berisiko mengalami penyakit ini bila tidak cermat dalam menjaga kebersihan kulit.

Kurap bisa menyebar melalui kontak dari kulit ke kulit. Risiko tertular lebih tinggi bila Anda saling meminjam benda-benda yang terkontaminasi seperti aksesoris rambut, pakaian, atau handuk.

Penyakit yang dikenal sebagai ringworm ini juga bisa berpindah dari hewan ke manusia. Bagi Anda yang memiliki hewan peliharaan, bawalah ke dokter untuk diperiksa secara rutin guna mengurangi risikonya.

Penderita kurap umumnya memiliki bercak kemerahan pada kulitnya. Bercak ini akan tampak melingkar, tampak timbul dibandingkan permukaan kulit di sekitarnya, serta memiliki tepi yang kasar. Jika muncul pada kulit kepala, Anda mungkin mendapati bercak bersisik dan rambut yang rontok di bagian tersebut.

6. Kutil

Dilansir dari American Academy of Dermatology Association, kutil adalah pertumbuhan kulit berlebih akibat infeksi virus pada lapisan atas kulit.

Pertumbuhan kutil dapat terjadi pada jari-jari tangan, telapak kaki, serta area kulit yang sering dicukur. Virus yang menyebabkan kutil ini dikenal sebagai human papilomavirus (HPV).

HPV dapat menyebar melalui sentuhan langsung antara kulit yang masih sehat dengan kulit orang yang terinfeksi. Anda bahkan dapat mengalami kutil setelah menyentuh barang yang digunakan oleh penderita, misalnya setelah memegang handuk bekas pakai. Inilah sebabnya kutil termasuk dalam penyakit kulit yang mudah menular.

Bahaya kutil pun tidak berhenti sampai di situ. Selain bagian-bagian tubuh yang telah disebutkan sebelumnya, HPV juga dapat menyerang alat kelamin dan menular melalui hubungan seksual. Karenanya, penyakit ini turut digolongkan sebagai infeksi menular seksual.

Sistem kekebalan tubuh Anda sebenarnya cukup kuat untuk melawan infeksi HPV sehingga tidak semua orang yang terpapar virus ini akan mengalami penyakit kutil.

Akan tetapi, daya tahan tubuh dapat melemah akibat penyakit, pengobatan, atau pun kondisi lainnya. Anda juga lebih rentan mengalami kondisi ini bila sebelumnya pernah mengalami penyakit kulit kronis.

7. Impetigo

Impetigo adalah infeksi kulit yang umum terjadi dan disebabkan oleh bakteri tertentu yang terdapat pada lingkungan sekitar, terutama pakaian, handuk, tempat tidur, serta peralatan sehari-hari. Bakteri penyebab impetigo tumbuh subur di tempat yang hangat dan lembap.

Saat gejala awal muncul, orang yang mengalami impetigo akan merasakan gatal sehingga menggaruk dan merusak permukaan kulitnya. Ini akan membuat bakteri lebih mudah masuk ke dalam kulit.

Luka akibat impetigo bisa berbentuk seperti lenting di sekitaran mulut (bula) atau seperti koreng kering (krusta). Pada kasus yang parah, penyakit ini bisa menyerang ke bagian kulit yang lebih dalam.

Impetigo termasuk dalam kelompok penyakit kulit yang sangat mudah menular. Penyebaran bakteri bisa terjadi melalui sentuhan antarkulit dengan penderita, masuk ke kulit melalui luka, atau gigitan serangga. Risiko penularan bahkan lebih tinggi bila Anda tinggal di lingkungan yang padat.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya impetigo. Misalnya, anak-anak yang berusia antara 2 – 5 tahun, cuaca yang lembap dan hangat, serta olahraga yang melibatkan kontak antara kulit seperti gulat atau bela diri.

Orang-orang yang menderita diabetes atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah juga lebih berisiko mengalami kondisi ini.

8. Infeksi jamur ragi

Tubuh manusia pada dasarnya tidak benar-benar bersih dari bakteri dan jamur. Jamur ragi seperti Candida adalah salah satu jenis organisme yang secara alamiah terdapat pada tubuh Anda.

Akan tetapi, pertumbuhan jamur ragi yang tidak terkendali dapat memicu infeksi dan mengakibatkan penyakit kulit.

Kebanyakan kasus infeksi jamur ragi umumnya menyerang area organ intim. Pada laki-laki, infeksi biasanya terjadi di kepala penis. Sementara pada perempuan, jamur ragi dapat tumbuh subur di bagian luar vagina atau disebut vulva.

Selain kedua area ini, jamur ragi juga dapat menginfeksi bagian tubuh lain yang memiliki lipatan kulit seperti ketiak dan bagian bawah payudara.

Ciri utama yang menandakan infeksi jamur ragi adalah peradangan pada kulit. Selain itu, Anda juga dapat mengalami gejala sebagai berikut.

  • Munculnya ruam atau tonjolan menyerupai jerawat.
  • Rasa gatal pada kulit.
  • Sensasi terbakar pada alat kelamin, khususnya saat berhubungan seksual atau buang air kecil.
  • Vagina tampak memerah dan membengkak.
  • Nyeri pada area yang terinfeksi.
  • Keluarnya cairan kental bening, putih, atau kekuningan dari alat kelamin.

Penyakit kulit akibat jamur ragi dapat menular melalui hubungan seksual.

Meskipun dapat menyerang siapa saja, kondisi ini lebih banyak terjadi pada perempuan. Terutama jika Anda memiliki jumlah hormon estrogen yang tinggi, rutin menggunakan antibiotik, mengalami diabetes, atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Mengenal Struktur Kulit Manusia, Termasuk Jenis dan Fungsinya

Tips mencegah penularan penyakit kulit

Penyakit kulit menular berbeda dengan penyakit kulit autoimun yang dipicu oleh gangguan pada sistem kekebalan tubuh sehingga tidak dapat dicegah. Faktor penyebabnya berasal dari infeksi bakteri, virus, jamur, atau parasit yang terdapat di lingkungan sekitar.

Karena itulah, Anda masih dapat mengupayakan pencegahan agar tidak ikut tertular. Di bawah ini adalah beberapa tips yang dapat Anda lakukan.

  • Rajin mencuci tangan menggunakan sabun, terutama usai beraktivitas.
  • Membersihkan terlebih dahulu peralatan milik umum sebelum digunakan. Misalnya saat Anda hendak menggunakan alat-alat dalam pusat kebugaran, menggunakan peralatan makan di restoran, dan sebagainya.
  • Berusaha agar tidak bersentuhan secara langsung dengan kulit si penderita penyakit kulit tersebut.
  • Menghindari kebiasaan berbagi barang dengan orang lain. Barang-barang yang dimaksud termasuk pakaian, selimut, sikat gigi, sisir, hiasan rambut, dan lainnya.
  • Menghindari kebiasaan berbagi gelas dan alat makan dengan orang lain.
  • Menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur cukup, dan minum cukup air.
  • Membatasi, bahkan menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan tekanan fisik dan mental secara berlebihan.

Beberapa jenis penyakit kulit juga dapat dicegah melalui vaksinasi, misalnya cacar air. Pastikan bahwa diri Anda dan seluruh anggota keluarga Anda telah menjalani vaksinasi yang diperlukan untuk mencegah timbulnya penyakit-penyakit tersebut.

Vaksin kini telah banyak tersedia dan bisa diperoleh tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya.

Beberapa jenis pekerjaan mungkin membuat Anda harus sering berinteraksi dengan penderita penyakit kulit. Atau, Anda bisa sesekali merasa khawatir mengalami gejala kondisi kulit seperti di atas.

Jika demikian, tidak ada salahnya untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit. Pemeriksaan yang menyeluruh akan membantu Anda dalam mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah penularan ke orang lain.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Panu

Panu (tinea versicolor) adalah penyakit kulit yang ditandai dengan bercak putih atau gelap. Kondisi ini kerap bikin gatal. Bagaimana mengobatinya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Kulit, Penyakit Infeksi Kulit 10 November 2020 . Waktu baca 8 menit

Kutu Air (Tinea Pedis)

Kutu air (tinea pedis atau athlete's foot) adalah infeksi jamur menular yang biasanya muncul pada kulit kaki, terutama di sela-sela jari kaki.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Kulit, Penyakit Infeksi Kulit 10 November 2020 . Waktu baca 10 menit

Kenali Penyebab Kutu Air yang Bisa Merusak Kuku dan Kulit

Kutu air adalah masalah kulit yang cukup menjengkelkan karena membuat kaki atau tangan jadi tidak sedap dipandang. Sebenarnya apa, sih, penyebab kutu air?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Kesehatan Kulit, Penyakit Infeksi Kulit 10 November 2020 . Waktu baca 4 menit

Kusta (Lepra)

Kusta adalah penyakit. Cari tahu semua informasi tentang penyakit ini, termasuk gejala, penyebab, diagnosis, dan cara mengobatinya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Kesehatan Kulit, Penyakit Infeksi Kulit 10 November 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

folikulitis

Folikulitis

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 24 November 2020 . Waktu baca 9 menit
obat memar

7 Obat Memar Paling Efektif Tanpa Harus ke Dokter

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit
penyakit kulit

Jenis Penyakit Kulit Menular dan Tidak Menular yang Umum

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 13 November 2020 . Waktu baca 12 menit
penyebab panu mencegah panu

Penyebab Panu yang Perlu Anda Ketahui Beserta Faktor Risikonya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha
Dipublikasikan tanggal: 11 November 2020 . Waktu baca 5 menit