Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kamitetep Memicu Penyakit Kulit, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

Kamitetep Memicu Penyakit Kulit, Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

Pernahkah Anda mendengarkan serangga bernama kamitetep? Serangga ini dipercaya menyebabkan masalah kulit, seperti gatal dan ruam kemerahan. Yuk, simak langkah penanganannya berikut ini.

Apa itu kamitetep?

kamitetep

Kamitetep (Phereoeca uterella) adalah spesies ngengat yang berasal dari famili Tinedae dan ordo Lepidoptera, sama halnya seperti kupu-kupu.

Serangga ini ditemukan dalam bentuk larva atau ulat dalam kepompong sehingga beberapa kalangan juga menyebutnya sebagai ulat kantong atau bagworm.

Kepompong dari kamitetep berbentuk seperti biji labu yang pipih dan lunak. Hal ini terbentuk dari serat sutra, pasir, tanah, hingga rambut manusia.

Kamitetep umumnya tinggal di sejumlah bagian rumah yang lembap, berdebu, dan gelap, misalnya dinding, lemari, dan bawah kasur.

Masalah kulit akibat kamitetep

Makanan utama kamitetep adalah serat sutra dan jaring laba-laba. Hal ini membuat serangga ini bisa menjadi hama karena bisa merusak pakaian berbahan sutra atau wol.

Pada dasarnya, serangga ini tidak menyebabkan dampak berbahaya pada manusia. Masalah kulit akibat kamitetep mungkin disebabkan oleh bulu yang terdapat padanya.

Dikutip dari DermNet NZ, sebagian spesies ulat bisa mengembangkan duri atau bulu halus sebagai cara untuk mempertahankan diri dari pemangsa.

Bulu halus yang mungkin beracun ini akan secara langsung akan mengiritasi dan menimbulkan sejumlah gejala, seperti kulit gatal dan bengkak.

Tanda dan gejala penyakit kulit akibat kamitetep

Reaksi kulit terhadap sengatan bulu halus dari kamitetep biasanya cukup ringan. Hal ini umumnya tidak separah gigitan serangga lain, seperti lebah, tawon, atau kutu kasur.

Namun, respons imun tubuh terhadap racun ini bisa menyebabkan ruam dan gangguan kulit lainnya yang dapat berlangsung dalam hitungan jam hingga hari.

Sejumlah tanda dan gejala penyakit kulit akibat sengatan kamitetep, antara lain:

  • kemerahan,
  • kulit gatal,
  • sakit dan nyeri,
  • pembengkakan pada area sengatan, dan
  • sensasi terbakar.

Selain gangguan pada kulit, sengatan ulat bulu juga dapat menimbulkan reaksi alergi parah atau syok anafilaksis pada sebagian orang.

Kondisi ini bisa menimbulkan gejala yang parah, seperti mual, muntah, detak jantung tidak beraturan, kesulitan bernapas, mengi, hingga kehilangan kesadaran.

Apabila Anda merasakan gejala yang parah setelah kontak dengan kamitetep, sebaiknya segera cari pertolongan medis darurat.

Bagaimana cara mencabut bulu kamitetep?

Kamitetep umumnya jarang menempel langsung pada permukaan kulit, lain halnya seperti ulat bulu.

Untuk menyingkirkan bulu kamitetep dari kulit, Anda bisa menggunakan lakban. Tempelkan sisi lengket lakban pada kulit yang terkena, lalu angkat untuk menarik bulunya keluar.

Lakukan hal ini beberapa kali hingga gejalanya sedikit mereda yang menandakan bulu sudah terangkat.

Setelah itu, Anda perlu mencuci secara menyeluruh kulit yang terkena dengan sabun dan air. Pakaian yang terkontaminasi juga harus dilepas dan dicuci secara menyeluruh.

Bagaimana cara mengobati penyakit kulit akibat kamitetep?

salep kulit gatal

Sengatan bulu dari kamitetep umumnya menimbulkan rasa gatal. Sebaiknya Anda menghindari untuk menggaruk kulit gatal yang malah akan memperparah kondisi ini.

Berulang kali menggaruk bisa menyebabkan iritasi hingga luka lecet. Pada akhirnya, lama-kelamaan hal ini membuat kulit yang terdampak jadi menghitam.

Tidak ada pengobatan khusus untuk mengobati penyakit kulit akibat kamitetep. Namun, Anda bisa melakukan langkah-langkah di bawah ini untuk membantu meredakan gejalanya.

1. Kompres dingin

Untuk mengurangi rasa sakit dan gatal, sebaiknya lakukan kompres dingin. Anda dapat menggunakan es batu atau air dingin dan handuk yang bersih.

Balut es dalam handuk atau rendam handuk dalam air dingin selama beberapa saat. Tempelkan kompres dingin pada bagian kulit yang terdampak selama 10–15 menit.

Hindari menempelkan es langsung ke kulit atau mengompres terlalu lama karena bisa merusak kulit.

2. Minum obat pereda nyeri

Penyakit kulit akibat sengatan kamitetep juga bisa menimbulkan rasa sakit dan nyeri yang mengganggu.

Untuk meredakan gejala ini, Anda dapat minum obat pereda nyeri, seperti parasetamol. Obat-obatan ini umumnya tersedia di rumah atau dijual bebas di warung atau apotek terdekat.

3. Oleskan salep untuk kulit gatal

Selain itu, Anda bisa mengoleskan obat kulit gatal, seperti losion kalamin atau krim hidrokortison untuk mengurangi pembengkakan, gatal, dan iritasi pada kulit.

Cukup oleskan obat topikal ini pada area kulit yang terdampak satu atau dua kali sehari bila diperlukan.

Obat pereda gatal ini tersedia secara bebas atau dengan resep dokter di apotek.

4. Gunakan antihistamin oral

Apabila rasa gatal tak kunjung hilang, Anda dapat minum obat antihistamin oral, seperti cetirizine atau diphenhydramine.

Antihistamin adalah obat antialergi yang membantu menurunkan kadar histamin akibat reaksi alergi sekaligus mengurangi peradangan pada tubuh.

Jika gejala bertambah parah setelah melakukan berbagai pengobatan di atas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Bagaimana cara mencegah sengatan kamitetep?

Kamitetep merupakan hama rumah. Jika penyebarannya kian parah, Anda perlu sering membersihkan rumah terutama bagian yang lembap, seperti kamar mandi, lemari, dan tempat tidur.

Anda juga bisa menyebarkan kamper pada lemari atau menggunakan pestisida untuk mengendalikan perkembangbiakan serangga ini di dalam rumah.

Pada dasarnya, kamitetep adalah serangga yang tidak terlalu berbahaya bagi manusia. Namun, sebagian orang mungkin mengembangkan reaksi alergi terhadapnya.

Apabila gangguan kulit yang dirasakan kian mengganggu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter spesialis kulit untuk memastikan kondisi yang Anda alami.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Household Casebearer (Phereoeca uterella). Entomology & Nematology University of Florida. (2020). Retrieved 11 February 2022, from https://entnemdept.ufl.edu/creatures/urban/occas/household_casebearer.htm

Arthropod bites and stings. DermNet NZ. (2015). Retrieved 11 February 2021, from https://dermnetnz.org/topics/arthropod-bites-and-stings

Skin problems due to caterpillars and moths. DermNet NZ. (2010). Retrieved 11 February 2021, from https://dermnetnz.org/topics/skin-problems-due-to-caterpillars-and-moths

Can a Caterpillar Really Cause a Skin Rash?. Cleveland Clinic. (2021). Retrieved 11 February 2021, from https://health.clevelandclinic.org/caterpillar-rash/

Insect bites and stings: First aid. Mayo Clinic. (2018). Retrieved 11 February 2021, from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-insect-bites/basics/art-20056593

Tips to Prevent and Treat Bug Bites. American Academy of Dermatology. (2022). Retrieved 11 February 2021, from https://www.aad.org/public/everyday-care/injured-skin/bites/prevent-treat-bug-bites

DuGar, B., Sterbank, J., Tcheurekdjian, H., & Hostoffer, R. (2014). Beware of the caterpillar: Anaphylaxis to the spotted tussock moth caterpillar, Lophocampa maculata. Allergy & rhinology (Providence, R.I.), 5(2), 113–115. https://doi.org/10.2500/ar.2014.5.0086

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Apr 08
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan