Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Ciri-Ciri Cacar Api yang Wajib Dikenali, Jika Anda Sudah Pernah Kena Cacar Air

Ciri-Ciri Cacar Api yang Wajib Dikenali, Jika Anda Sudah Pernah Kena Cacar Air

Cacar api atau herpes zoster adalah infeksi lanjutan dari virus penyebab cacar air. Artinya, Anda mungkin dapat mengalami cacar api jika sudah pernah terjangkit cacar air. Ciri-ciri cacar api sama dengan gejala cacar air, yaitu ruam berupa bintik-bintik merah di kulit. Bedanya, pola penyebarannya berkumpul pada satu bagian. Ketahui secara lebih lengkap setiap gejala herpes zoster melalui ulasan ini!

Kapan gejala herpes zoster bisa muncul?

Cacar api merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh rea-aktivasi virus Varicella-zoster. Virus yang termasuk ke dalam keluarga virus herpes ini merupakan penyebab dari cacar air.

Dengan kata lain, penyakit cacar api hanya bisa muncul pada orang yang sebelumnya pernah terinfeksi cacar air. Namun, penderita herpes zoster bisa menularkan virus ini pada orang lain.

Pada orang yang belum pernah terinfeksi, saat tertular ia tidak mengalami cacar api melainkan cacar air.

Setelah sembuh dari cacar air, virus ini sebenarnya tidak menghilang, tapi tetap tinggal di dalam tubuh.

Virus menetap dan bersembunyi di antara sel-sel saraf, tetapi tidak aktif memperbanyak diri atau di-istilahkan sebagai virus dorman.

Virus yang semula dorman bisa aktif kembali dan menimbulkan gejala herpes zoster. Penyebab mengapa virus Varicella-zoster kembali menginfeksi tubuh sebenarnya belum bisa diketahui secara pasti.

Dari kebanyakan kasus, herpes zoster sebagian besar terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun.

Salah satu penelitian dalam The Science Journal of the Lander College juga memperoleh kaitan antara re-aktivasi virus dengan kondisi sistem imun yang melemah.

Oleh karena itu, orang-orang usia usia lanjut yang sistem imunnya tidak lagi bekerja optimal lebih berisiko tinggi untuk mengalami re-aktivasi.

Berbagai ciri-ciri penyakit cacar api

Setelah infeksi virus kembali aktif, penderita akan mulai mengalami sejumlah gangguan kesehatan. Sama seperti penyakit cacar air, ciri-ciri umum seperti ruam kulit tidak langsung muncul.

Fase infeksi cacar api akan menunjukkan dua tipe gejala yaitu gejala awal dan gejala utama:

Ciri-ciri awal cacar api

Virus yang kembali aktif akan masuk ke dalam saraf kulit dan menyebabkan rasa nyeri dan sensasi panas pada permukaan kulit yang terdampak.

Rasa nyeri akan muncul pada bagian depan tubuh, seperti wajah, dada, perut hingga tangan dan kaki.

Ciri-ciri seperti ini merupakan gejala khas dari cacar api yang membedakannya dengan gejala cacar air.

Menurut National Institute of Aging, terkadang rasa nyeri pada saraf kulit ini diikuti dengan rasa kebas atau rasa gatal pada salah satu sisi tubuh.

Jika penyakit ini terjadi pada anak-anak, biasanya gangguan rasa nyeri yang muncul tidak terlalu parah.

Penderita juga biasanya merasakan beberapa gangguan kesehatan lainnya di fase awal infeksi. Selain rasa nyeri di kulit, ciri-ciri awal cacar air yang bisa dialami adalah:

  • demam,
  • nyeri otot dan sendi,
  • sakit kepala,
  • kelelahan, dan
  • sakit perut.

Gejala utama herpes zoster

Dalam waktu 5 hari, infeksi di bagian saraf dapat menyebabkan kulit mengalami sedikit pembengkakan sehingga mulai muncul ruam merah di permukaan kulit.

Tidak seperti ciri-ciri cacar air dengan ruam yang menyebar, ruam berupa bintik kemerahan pada cacar api akan memusat pada salah satu area kulit.

Ruam ini hanya terbentuk pada salah satu bagian tubuh. Pola persebaran ruam yang memusat paling sering ditemukan di bagian lingkar pinggang.

Dalam beberapa hari setelahnya, ruam merah ini akan berubah jadi lenting atau lepuhan kulit yang berisi cairan. Lenting ini bisa menimbulkan rasa gatal atau perih yang kuat.

Lenting akan mengering membentuk kerak atau keropeng dalam waktu sekitar 10 hari.

Jika lenting yang mengerak dibiarkan tanpa digaruk, lenting bisa mengelupas dengan sendirinya dalam waktu kurang dari seminggu.

Lapisan kulit luar yang baru akan terbentuk selama 4 minggu kemudian.

Pada penderita berumur, 60 tahun ke atas ruam bisa terasa sangat perih. Rasa nyeri yang menjadi ciri-ciri cacar api di awal bisa menghilang ataupun terus terasa sampai ruam mengering.

Singkatnya, perkembangan gejala ruam pada herpes zoster akan melalui fase seperti berikut ini.

  • Ruam berupa bintik-bintik merah yang berkumpul di salah satu bagian kulit.
  • Rasa gatal dan nyeri yang kuat muncul dari dalam kulit.
  • Ruam berubah menjadi lepuhan kulit yang terisi cairan (lenting).
  • Lenting mengering dan membentuk keropeng.

Komplikasi cacar api

Secara umum, cacar api bisa sembuh tanpa menyebabkan komplikasi berbahaya. Namun, beberapa orang bisa mengalami komplikasi jangka panjang.

Gangguan rasa nyeri pada sistem saraf kulit yang terjadi pasca penyembuhan cacar api disebut dengan post-herpetic neuralgia (PHN).

Dalam buku Deadly Diseases and Epidemics: Chickenpox, orang berusia 6o tahun ke atas berpeluang 50 persen untuk mengalami PHN pasca sembuh dari herpes zoster.

Penyakit ini bisa memperpanjang ciri-ciri rasa nyeri dan sensasi terbakar di kulit yang dirasakan saat terserang cacar api.

PHN terjadi karena virus Varicella-zoster yang aktif bereplikasi kembali dapat merusak atau bahkan mematikan sel-sel saraf.

Namun yang lebih parah, perkembangan virus bisa menyebabkan terjadinya peradangan saraf yang bisa menyebar sampai ke saraf tulang belakang atau otak.

Jika ini terjadi, gangguan sinyal pada sistem saraf akan memunculkan rasa nyeri.

Ketika sel-sel saraf yang rusak beregenerasi , sel tersebut menjadi terlalu aktif dan kembali menyebabkan rasa sakit.

Kerusakan saraf akibat PHN membutuhkan waktu pemulihan bertahun-tahun.

Beberapa jenis komplikasi cacar api yang juga berisiko terjadi, selain yang ditandai dengan ciri-ciri rasa nyeri berkepanjangan adalah:

  • Herpes zoster ophthalmicus: kehilangan sebagian penglihatan saat cacar api menyerang bagian mata.
  • Otic zoster: kehilangan sebagian pendengaran saat cacar api menyerang telinga.
  • Bell’s palsy: kelumpuhan sistem saraf.

Kapan harus memeriksa gejala cacar api ke dokter?

Diagnosis dan pengobatan cacar api dapat mencegah kondisi ini memburuk dan penyakit komplikasi dari herpes zoster.

Oleh karena itu, jika Anda mengalami ciri-ciri cacar api yang disebutkan di atas, segerakan untuk memeriksakan diri ke dokter terutama ketika mengalami kondisi seperti:

  • Gejala cacar api muncul di dalam mata.
  • Termasuk ke dalam kelompok berisiko: berumur di atas 60 tahun, ibu hamil, memiliki sistem imun yang lemah, mengalami stres, dll.
  • Ruam menyebar hampir ke seluruh tubuh.

Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memberikan pengobatan yang sesuai dengan kondisi dan keparahan gejala.

Obat yang diberikan biasanya berupa antivirus seperti acyclovir dan obat analgesik untuk mengatasi nyeri seperti obat salep capsaicin dan obat tempel lidocaine.

Jika Anda merasakan gangguan kesehatan atau memiliki pertanyaan terkait kondisi ini, konsultasikanlah lebih lanjut dengan dokter untuk memperoleh solusi terbaik.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Nussbaum, R. (2014). Theories on Varicella Zoster Virus Reactivation Based on Shingles Patterns. The Science Journal of the Lander College of Arts and Sciences8(1), 10. Available at: https://touroscholar.touro.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1082&context=sjlcas

Guilfoile, P. (2010). Deadly Diseases and Epidemics: Chickenpox. New York: Infobase Publishing. 

National Institute of Aging. (2020). Shingles. Retrieved 12 November 2020, from https://www.nia.nih.gov/health/shingles

Mali, S. (2012). Herpes zoster. Egyptian Journal Of Oral & Maxillofacial Surgery, 3(2), 91-100. doi: 10.1097/01.omx.0000418695.06506.6c

Mayo Clinic. (2020). Shingles – Symptoms and causes. Retrieved 12 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/shingles/symptoms-causes/syc-20353054

Kennedy, P. G., & Gershon, A. A. (2018). Clinical features of varicella-zoster virus infection. Viruses, 10(11), 609.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 03/09/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri