Radang Usus (Kolitis)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Kalkulator BMI

Benarkah berat badan Anda sudah ideal?

Ayo Cari Tahu!
general

Definisi radang usus

Apa itu radang usus (kolitis)?

Radang usus atau dikenal dengan istilah medis kolitis adalah penyakit peradangan pada lapisan usus besar. Peradangan bisa disebabkan oleh infeksi, penyakit tertentu yang menyerang fungsi usus, atau reaksi alergi.

Usus besar berbentuk seperti tabung berongga yang dipenuhi oleh otot-otot polos. Bagian usus ini berfungsi untuk mengolah makanan dari usus kecil, menyerap air, dan menyaringnya hingga benar-benar menjadi feses.

Peradangan yang terjadi pada usus besar menyebabkan pembentukan luka berlubang yang disertai dengan berbagai gejala menyakitkan.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Penyakit radang usus atau kolitis termasuk penyakit umum yang menyerang sistem pencernaan. Semua kelompok usia bisa mengalami penyakit ini, meskipun umumnya terjadi pada orang dewasa ketimbang anak-anak.

Tanda & gejala radang usus

Apa saja tanda dan gejalanya?

Peradangan yang menyebabkan lubang di usus besar dapat mengganggu kinerja usus sekaligus tentunya menimbulkan gejala yang mengganggu. Gejala radang usus atau kolitis yang umumnya dialami penderita adalah sebagai berikut.

1. Sakit perut

Peradangan membuat lapisan dalam otot usus lebih sering mengalami kontraksi. Hal ini memunculkan sakit perut atau kram yang sifatnya kambuhan. Rasa sakit biasanya terjadi pada bagian bawah perut.

2. Diare

Selain sakit perut, kolitis juga membuat penderitanya buang air terus-menerus dengan feses yang encer. Diare disebabkan oleh pergerakan usus yang bermasalah. Biasanya kondisi ini diikuti dengan rasa nyeri, baik itu sebelum, selama, atau sesudah diare.

3. Gejala lain yang menyertai

Gejala radang usus lain yang menyertai adalah demam menggigil, tubuh lemah, dan dehidrasi. Penyakit ini juga bisa menimbulkan masalah di luar sistem pencernaan, seperti pembengkakan sendi atau peradangan pada mata, mulut, dan kulit.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala diare yang terus berlanjut selama lebih dari dua hingga tiga minggu, segera lakukan pemeriksaan ke dokter. Begitu juga bila Anda mengalami gejala radang usus lain yang mengkhawatirkan, seperti:

  • demam,
  • BAB berdarah,
  • menunjukkan tanda dehidrasi, seperti mulut kering, lelah, pusing, terus merasa haus, dan urine berwarna kuning pekat, serta
  • sakit perut yang parah.

Penyebab radang usus

Apa penyebab radang usus (kolitis)?

Penyakit radang usus memiliki beragam jenis. Ini menandakan bahwa setiap jenisnya memiliki penyebab yang berbeda-beda. Berikut di antaranya.

1. Kolitis akibat infeksi

Kolitis adalah penyakit radang usus yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit. Sebagian besar kasus peradangan disebabkan oleh bakteri yang mencemari makanan sehingga dapat masuk ke dalam saluran pencernaan Anda.

Jenis bakteri yang menyebabkan radang usus yakni Campylobacter, Shigella, E. coli, Yersinia, dan Salmonella. Virus cytomegalovirus juga bisa menyebabkan peradangan usus, tapi kondisi ini biasanya hanya dialami oleh orang-orang dengan sistem imun yang lemah.

Selain itu, ada pula parasit penyebab radang usus yang disebut giardia. Parasit ini masuk ke dalam tubuh melalui air yang tercemar dari kolam renang, air sungai, atau air danau. Giardia sangat mudah menginfeksi tubuh orang yang suka berkreasi ke tempat tersebut.

2. Kolitis akibat iskemik

Iskemik adalah kondisi ketika suatu jaringan tubuh mengalami kerusakan sel akibat tidak adanya aliran darah ke jaringan tersebut. Hal inilah yang terjadi pada usus jika mengalami kolitis iskemik atau iskemia usus.

Dalam kondisi ini, radang dan luka muncul akibat gangguan aliran darah ke bagian usus sehingga usus tak mendapatkan makanan. Lama-kelamaan, jaringan usus rusak sehingga muncul luka serta peradangan.

Berikut adalah orang-orang yang berisiko mengalami kondisi ini.

  • Orang yang lanjut usia (lansia). Penuaan mengakibatkan aliran darah sudah tak baik dan lancar lagi.
  • Orang-orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi.
  • Pasien dengan atrial fibrilasi, yaitu detak jantung tak beraturan akibat masalah sinyal listrik jantung. Kondisi ini menimbulkan masalah aliran darah pada tubuh pasien.
  • Orang yang mengalami anemia atau tekanan darah rendah.

3. Kolitis dan inflammatory bowel disease (IBD)

Penyakit inflammatory bowel disease (IBD) dapat membuat penderitanya mengalami radang usus. Penyakit sistem pencernaan ini biasanya berkaitan dengan gangguan autoimun.

Radang terjadi karena sistem kekebalan tubuh menyerang bagian tubuhnya sendiri yang sehat dan akhirnya mengalami peradangan usus. Kondisi inilah yang terjadi pada penderita IBD, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.

4. Kolitis mikroskopik

Kolitis mikroskopik cukup jarang terjadi dan biasanya menyerang wanita yang telah lanjut usia. Penyakit ini diduga disebabkan oleh faktor genetik, tapi penyebab pastinya belum diketahui. Kolitis mikroskopik membuat penderitanya mengalami diare yang berkepanjangan.

5. Kolitis akibat alergi

Peradangan usus juga bisa disebabkan oleh konsumsi makanan yang dapat memicu reaksi alergi. Akan tetapi, kondisi ini biasanya dialami oleh bayi di bawah satu tahun.

Ketika si kecil alergi terhadap suatu makanan seperti susu sapi atau susu kacang kedelai, maka tubuh akan mengeluarkan respon alergi dan peradangan. Dalam kasus ini, bagian tubuh yang meradang adalah usus.

Faktor-faktor risiko radang usus

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk terkena kolitis?

Selain penyebab langsung, ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami radang usus. Berikut di antaranya.

1. Genetik

Seseorang berisiko tinggi terkena kolitis bila ada anggota keluarganya yang memiliki penyakit serupa. Kemungkinan besar hal ini disebabkan oleh mutasi genetik yang bermasalah sehingga memengaruhi respons kekebalan tubuh dalam usus besar.

2. Mikrobioma di usus

Pada saluran cerna Anda terdapat berbagai jenis bakteri, jamur, dan virus. Semua itu disebut sebagai mikrobioma. Mikrobioma dalam jumlah yang seimbang semestinya tidak akan menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan.

Sebaliknya, perubahan mikrobioma pada usus bisa memicu respons kekebalan tubuh yang menyebabkan peradangan secara tak normal. Pada beberapa kasus, perubahan ini bisa disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

3. Lingkungan

Selain faktor genetik dan kondisi mikrobioma, berbagai hal dari lingkungan sekitar juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena radang usus besar. Faktor-faktor tersebut di antaranya:

  • kurang mengonsumsi makanan sehat,
  • kebiasaan merokok,
  • sering terpapar polusi, dan
  • kurang menjaga kebersihan.

Komplikasi radang usus

Apa saja komplikasi yang bisa timbul akibat radang usus (kolitis)?

Radang usus atau kolitis adalah penyakit yang memerlukan perawatan medis karena bisa menimbulkan komplikasi. Melansir situs George Washington University Hospital, di bawah ini adalah berbagai komplikasi yang dapat terjadi.

1. Perforasi usus

Perforasi usus menandakan peradangan jangka panjang yang melemahkan dinding usus hingga akhirnya membentuk lubang. Adanya lubang pada usus mengundang sejumlah besar bakteri untuk berkembang biak dan akhirnya menimbulkan infeksi.

2. Kolitis fulminan

Kolitis fulminan menandakan adanya masalah pada ketebalan dinding usus. Kondisi ini membuat kontraksi usus normal menjadi terhenti sementara sehingga usus besar kehilangan massa otot. Gas yang dihasilkan akan terperangkap pada bagian usus yang lumpuh.

3. Toxic megacolon

Komplikasi radang usus ini menandakan perbesaran usus besar. Kondisi ini membuat usus kehilangan kemampuan untuk berkontraksi dengan baik. Jika tidak segera diobati, usus berisiko pecah.

4. Kanker usus

Peradangan yang tidak diobati membuat sel-sel di sekitar usus menjadi abnormal. Pada akhirnya, sel-sel abnormal dapat berkembang menjadi jaringan kanker.

Diagnosis & pengobatan radang usus

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk kolitis?

Penyakit kolitis atau radang usus menimbulkan gejala yang hampir serupa dengan beberapa masalah pencernaan, salah satunya penyakit Crohn. Guna menegakkan diagnosis, dokter akan meminta Anda melakukan tes kesehatan berikut.

  • Tes umum berupa tes pencitraan pada usus besar, kolonoskopi, dan sigmoidoskopi.
  • Tes tambahan seperti tes darah dan mengamati adanya nanah atau darah pada feses.
  • Tes lanjutan berupa ESR (erythrocyte sedimentation rate) untuk mengukur jumlah sel darah merah.

Apa saja pilihan pengobatan yang tersedia?

Pengobatan kolitis umumnya dilakukan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Namun, obat yang diberikan akan disesuaikan dengan penyebab radang. Berikut beberapa obat yang umumnya digunakan untuk mengobati kolitis.

1. Oralit

Larutan oralit sebenarnya bukan obat yang secara langsung mengatasi peradangan. Akan tetapi, obat ini biasanya diresepkan ketika Anda mengalami diare parah yang berisiko menyebabkan dehidrasi.

Oralit adalah larutan mengandung elektrolit dari garam dan gula yang bisa mencegah terjadinya dehidrasi. Obat ini bisa didapatkan di apotek atau dibuat sendiri dari garam dan gula yang ada di rumah Anda.

2. Antibiotik

Jika penyebab radang usus adalah bakteri, dokter akan merekomendasikan antibiotik. Obat ini diberikan untuk mengurangi infeksi dengan membunuh bakteri penyebab peradangan. Contoh antibiotik yang digunakan adalah ciprofloxacin dan metronidazole.

3. Obat antiradang

Obat ini sering kali diberikan sebagai pengobatan utama untuk radang usus. Beberapa obat yang diresepkan adalah kortikosteroid dan aminosalisilat, seperti mesalamine, balsalazide, dan olsalazine.

4. Obat antinyeri dan antidiare

Kedua obat ini diberikan untuk mengobati diare dan sakit perut. Biasanya, obat yang akan diresepkan adalah acetaminophen dan lopemirade.

Jika gejala tidak juga membaik atau berisiko menyebabkan komplikasi, dokter akan merekomendasikan operasi pembedahan. Namun, pengobatan ini jarang dilakukan mengingat gejala kolitis cenderung bisa diatasi dengan obat dan gaya hidup.

Pengobatan radang usus di rumah

Apa saja pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi radang usus?

Selain pengobatan dokter, perawatan rumahan juga harus dilakukan agar radang usus tidak bertambah parah dan kondisi usus jadi membaik. Berikut perawatan rumahan yang dapat Anda lakukan.

  • Menjauhi makanan yang dapat memicu gejala, seperti makanan pedas, asam, mengandung susu, atau tinggi gula.
  • Berhenti merokok dan berupaya menjauhi asap rokok.
  • Atasi stres dengan olahraga yang sesuai dengan kondisi atau menjalani hobi yang disukai.
  • Istirahat dengan cukup.

Kolitis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan pada usus. Kendati terbilang umum, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi bila tidak ditangani dengan baik. Salah satu bentuk komplikasinya adalah pembentukan luka pada usus.

Jika Anda mengalami gejala radang usus, segeralah kunjungi dokter agar Anda dapat menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan akan membantu dokter menentukan pengobatan yang sesuai untuk Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Cara Menahan Rasa Lapar Saat Melakukan Diet

Sering kali diet Anda gagal karena Anda tak bisa menahan lapar dan akhirnya menyerah dan kembali makan dengan porsi besar. Begini cara mengatasinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Tips Berat Badan Turun, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Baru Pakai Skincare Antiaging Usia 50 Tahun ke Atas, Bermanfaatkah?

Produk skincare antiaging fungsinya adalah mencegah penuaan dini. Namun, kalau baru pakai antiaging di usia 50 tahun ke atas, apa hasilnya akan sama?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Lansia, Gizi Lansia 21 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

3 Manfaat yang Bisa Didapat dari Minum Kopi Sebelum Olahraga

Suka olahraga di pagi hari dan harus minum kopi dulu biar segar? Penelitian membuktikan kalau minum kopi sebelum olahraga ternyata baik buat tubuh, lho!

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Gizi Olahraga, Nutrisi 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Berbagai Pilihan Pengobatan untuk Atasi Tipes

Gejala tipes umumnya dapat diobati di rumah. Selain minum obat dari dokter, apa saja cara mengobati tipes lainnya di rumah?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Penyakit Infeksi, Demam Tifoid (Tifus) 20 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Mengurangi Bau Badan

Deodoran Tidak Mempan Kurangi Bau Badan? Atasi Dengan Bahan Alami Berikut Ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Marsha Desica Arsanta
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
tips lari untuk penderita rematik

6 Kesalahan Saat Olahraga Lari yang Wajib Dihindari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
olahraga malam hari

4 Jenis Olahraga yang Aman Dilakukan di Malam Hari

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
sakit kepala setelah makan

Sakit Kepala Setelah Makan? Ini 4 Hal yang Bisa Jadi Penyebabnya

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit