home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

5 Cara yang Berpotensi Mencegah Radang Usus Buntu

5 Cara yang Berpotensi Mencegah Radang Usus Buntu

Ketika radang usus buntu terjadi, nyeri di perut sebelah kanan bawah akan timbul. Agar tidak semakin parah dan terhindar komplikasi, usus buntu harus segera ditangani. Lantas, adakah cara ampuh untuk mencegah usus buntu?

Cara terbaik untuk mencegah usus buntu

setelah operasi usus buntu

Usus buntu sebenarnya merupakan organ kecil yang terletak pada ujung usus besar. Usus buntu punya peran yang berhubungan dengan sistem imun. Namun, organ ini kerap kali mengalami penyumbatan yang dikenal dengan penyakit radang usus buntu (apendisitis).

Penyakit apa pun termasuk radang usus buntu tentu lebih baik dicegah ketimbang diobati. Hal tersebut mengingat radang usus buntu dapat menyebabkan dampak yang fatal dan umumnya pengobatan berujung dengan operasi usus buntu yang memakan biaya.

Menurut Cleveland Clinic, tidak ada cara khusus untuk mencegah radang usus buntu. Meski begitu, beberapa langkah pendekatan dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya apendisitis.

Berbagai cara yang berpotensi mencegah usus buntu

buah untuk anak

Tidak ada cara yang secara langsung dapat mencegah radang usus buntu. Akan tetapi, bukan berarti Anda berpasrah diri tanpa melakukan usaha apa pun. Tindakan pencegahan apendisitis akan dilakukan dengan menyesuaikan penyebab radang usus buntu.

Pada kebanyakan kasus, usus buntu yang meradang disebabkan oleh penyumbatan, infeksi, dan masalah kesehatan tertentu.

Lebih jelasnya, berikut beberapa cara yang bisa Anda terapkan untuk mencegah terjadinya penyumbatan yang berujung pada apendisitis.

1. Makan makanan berserat

Penyumbatan pada usus buntu bisa terjadi karena adanya fekalit. Fekalit adalah penumpukan feses yang mengeras. Kondisi ini kemungkinan besar terjadi pada orang yang kurang makanan berserat.

Hal ini juga terlihat pada studi yang pernah dilakukan oleh peneliti dari Universitas Sumatera Utara pada 2016. Studi ini menunjukkan, 14 dari 19 anak dengan kasus radang usus buntu akut diketahui jarang mengonsumsi makanan berserat.

Oleh karena itulah banyak ahli kesehatan yang menyarankan konsumsi makanan berserat sebagai salah satu cara mencegah radang usus buntu akibat fekalit.

Serat makanan membantu menarik lebih banyak air ke usus besar sehingga tekstur feses tetap lunak dan mudah dikeluarkan dari tubuh. Selain itu, serat juga merangsang gerakan usus tetap normal. Itu artinya, baik makanan maupun feses akan melewati usus dengan lancar tanpa menimbulkan penumpukan.

Tidak hanya sampai di situ. Penelitian lain yang dimuat dalam Biochemical Journal memperoleh hasil bahwa makanan kaya akan serat bisa membantu memelihara bakteri baik yang di dalam sistem pencernaan.

Anda bisa meningkatkan asupan makanan berserat dari sayur, buah, maupun kacang-kacangan, seperti apel, buah pir, pisang, brokoli, bayam, atau kacang polong.

Hindari beberapa makanan penyebab usus buntu, seperti makanan pedas yang penuh biji cabai.

2. Minum air putih

Agar cara mencegah radang usus buntu yang Anda lakukan efektif, seimbangkan konsumsi makanan berserat dengan cukup minum air.

Rajin minum air tidak hanya mencegah dehidrasi, tapi juga mendukung kinerja usus dan serat makanan berfungsi dengan baik di usus. Jika serat menarik air ke usus, tapi persediaan air di tubuh tidak mencukupi, serat tetap tidak bisa melunakkan feses.

Oleh karena itu, pastikan Anda cukup minum air putih setiap hari, setidaknya 8 gelas per hari. Selain air putih, Anda juga bisa mendapatkan cairan dari jus buah atau sup.

3. Makan dengan tenang

Anda juga perlu menerapkan cara makan yang baik untuk mencegah radang usus buntu. Pasalnya, studi pada Asian Pacific Journal of Tropical Biomedicine menunjukkan bahwa 1 dari 7 kasus usus buntu terjadi akibat adanya penyumbatan partikel makanan.

Dari studi tersebut, disarankan bagi Anda untuk makan secara perlahan dan fokus bila ingin terhindar dari radang usus buntu. Pusatkan konsentrasi Anda sepenuhnya dan kunyah makanan sampai halus.

Dengan begitu, Anda bisa lebih waspada saat ada partikel makanan yang tersisa dan memastikan makanan sudah benar-benar halus saat ditelan.

Pada waktu tersebut, Anda juga sebaiknya tidak mengobrol, main ponsel, atau melakukan berbagai kegiatan yang memecah konsentrasi.

4. Konsumsi makanan mengandung probiotik

Selain penyumbatan, radang usus buntu juga dapat terjadi akibat adanya infeksi bakteri. Perlu diketahui, terdapat ribuan bakteri yang hidup di dalam usus Anda. Bakteri ini bisa bersifat baik atau buruk bagi pencernaan.

Hal yang harus Anda lakukan adalah menjaga kestabilan jumlah antara bakteri yang baik dan bakteri yang buruk. Anda bisa mengonsumsi makanan yang mengandung probiotik, seperti yogurt, tempe, atau kimchi.

Meskipun bukan cara yang dapat mencegah usus buntu secara langsung, konsumsi makanan probiotik tetap penting guna menjaga kesehatan sistem pencernaan.

5. Rutin cek kesehatan ke dokter

Ada beberapa orang yang lebih rentan terkena radang usus buntu, salah satunya adalah kelompok orang yang pernah mengalami cedera traumatis atau tumor di perut. Orang yang berisiko ini harus menerima perawatan medis yang sesuai.

Dengan mengobati kondisi tersebut, kemungkinan risiko radang usus buntu juga menurun. Ini menjadi salah satu cara mencegah terjadinya peradangan pada usus buntu bagi orang yang berisiko.

Cara mencegah usus buntu bertambah parah

Kanker kolorektal adalah istilah yang digunakan untuk menyebut kanker yang bermula dari usus besar hingga rektum (anus). Kanker ini juga bisa disebut sebagai kanker usus besar atau kanker rektum secara terpisah, tergantung pada lokasi bermulanya kanker. Apa dampaknya memiliki kanker usus besar pada kesehatan sistem pencernaan? Begini penjelasannya. Cara kerja sistem pencernaan tubuh yang normal Usus besar dan rektum adalah bagian dari sistem pencernaan. Bagian pertama dari sistem pencernaan (lambung dan usus halus) memproses makanan sebagai energi, sementara bagian terakhir (usus besar dan rektum) menyerap cairan untuk membentuk kotoran padat yang kemudian dikeluarkan dari tubuh. Setelah dikunyah dan ditelan, makanan bergerak dari kerongkongan menuju lambung. Di sinilah makanan sebagian diuraikan dan kemudian dikirim ke usus halus, atau disebut juga usus kecil. Usus ini disebut kecil karena lebih sempit daripada usus besar (kolon dan rektum), tetapi usus halus sebenarnya merupakan bagian terpanjang dari sistem pencernaan — dengan panjang sekitar 6 meter. Usus halus berfungsi untuk melanjutkan penguraian makanan dan menyerap sebagian besar nutrisi, yang kemudian diedarkan ke seluruh tubuh. Usus halus menyambung ke usus besar di perut kanan bawah. Sebagian besar usus besar terdiri dari saluran berotot dengan panjang sekitar 1,5 meter. Kolon menyerap air dan garam dari zat sisa makanan dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan residu kotoran. anatomi usus besar (sumber: WebMD) Usus besar (kolon) memiliki 4 bagian: Bagian pertama disebut kolon asenden. Bagian ini dimulai dengan kantung kecil (sekum) di mana usus halus tersambung dengan kolon dan memanjang ke atas di sisi perut kanan. Sekum juga merupakan tempat di mana usus buntu tersambung ke kolon. Bagian kedua disebut kolon transversum karena membentang dari sisi kanan ke kiri perut atas. Bagian ketiga, disebut kolon desenden, terus memanjang ke bawah di sisi kiri. Bagian keempat, dan yang terakhir, disebut kolon sigmoid karena bentuknya yang menyerupai huruf “S” atau “sigmoid.” Zat sisa makanan yang tersisa setelah melewati kolon disebut feses atau tinja. Kotoran ini diangkut dan disimpan di rektum, di 15 cm terakhir dari sistem pencernaan sampai waktunya dikeluarkan dari tubuh lewat anus. Dinding usus besar dan rektum terbentuk dari beberapa lapisan. Kanker kolorektal dimulai di lapisan terdalam dan bisa tumbuh melalui sebagian atau semua lapisan lainnya. Tingkat penyebaran kanker usus besar akan bergantung pada seberapa dalam kanker bertumbuh ke dalam lapisan-lapisan ini. Perkembangan kanker usus besar dalam tubuh Kebanyakan kanker usus besar berkembang perlahan selama beberapa tahun. Sebelum kanker berkembang, pertumbuhan jaringan atau tumor biasanya dimulai sebagai polip non-kanker pada dinding dalam usus besar atau rektum. Tahap perkembangan kanker usus besar (Ki-ka: polip kolon jinak hingga jadi tumor kanker) sumber: askdoctork.com Tumor adalah jaringan abnormal dan bisa bersifat jinak (bukan kanker) atau ganas (kanker). Polip adalah tumor non-kanker yang jinak. Beberapa polip bisa berubah menjadi kanker, tetapi tidak semuanya. Kemungkinan berubahnya polip menjadi kanker bergantung pada jenis polip itu sendiri. Ada dua jenis utama dari polip: Polip adenomatosa/adenoma (Gambar kedua dari kiri) adalah polip yang bisa berubah menjadi kanker. Oleh karena itu, adenoma disebut sebagai kondisi pra-kanker. Polip hiperplastik dan polip inflamasi, secara umum, bukanlah pra-kanker. Namun, beberapa dokter berpikir bahwa beberapa polip hiperplastik bisa menjadi pra-kanker atau bisa menjadi tanda peningkatan risiko terkena adenoma dan kanker, terutama jika polip ini tumbuh di kolon asenden. Jenis kondisi pra-kanker lainnya disebut displasia (gambar keempat dari kiri dari ilustrasi di atas). Displasia adalah area di dinding usus besar atau rektum di mana sel terlihat abnormal, tetapi tidak seperti sel kanker yang sesungguhnya, saat dilihat dengan mikroskop. Sel-sel ini bisa berubah menjadi kanker seiring waktu. Displasia biasanya ditemukan pada orang yang pernah terkena penyakit seperti kolitis ulseratif atau penyakit Crohn selama bertahun-tahun. Baik kolitis ulseratif dan penyakit Crohn menyebabkan peradangan kronis pada usus besar. Jika terbentuk polip, kanker pada akhirnya bisa mulai berkembang masuk ke dalam dinding usus besar atau rektum. Saat berada di dinding, sel-sel kanker kemudian bisa merasuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Pembuluh getah bening adalah saluran tipis dan kecil yang mengangkut kotoran dan cairan. Saluran-saluran ini pertama mengalir ke kelenjar getah bening, yaitu struktur berbentuk kacang yang mengandung sel-sel imun yang membantu melawan infeksi. Begitu menyebar ke dalam pembuluh darah atau pembuluh getah bening, sel-sel kanker bisa bergerak ke kelenjar getah bening terdekat atau bagian lain yang jauh di tubuh, seperti hati. Saat kanker menyebar ke bagian yang jauh di tubuh, ini disebut metastasis. Macam-macam jenis kanker usus besar Beberapa jenis kanker bisa dimulai di usus besar atau rektum, contohnya: Adenokarsinoma Lebih dari 95% kanker kolorektal adalah jenis kanker adenokarsinoma. Kanker ini dimulai di sel-sel yang membentuk kelenjar penghasil lendir untuk melumasi dinding dalam usus besar dan rektum. Saat dokter berbicara tentang kanker usus besar, inilah yang hampir selalu mereka maksudkan. Tumor karsinoid Tumor ini dimulai dari sel-sel penghasil hormon khusus di usus. Tumor stroma gastrointestinal (GIST) Tumor ini dimulai dari sel-sel khusus di dinding usus besar yang disebut sel interstisial dari Cajal. Beberapa bersifat jinak (non-kanker), dan lainnya bersifat ganas (kanker). Tumor ini bisa terdapat di setiap bagian sistem pencernaan, tetapi jarang ditemukan di usus besar. Limfoma Limfoma adalah jenis kanker yang memengaruhi sel sistem kekebalan tubuh, yang biasanya dimulai di kelenjar getah bening. Limfoma juga bisa dimulai di usus besar, rektum, atau organ lainnya. Sarkoma Sarkoma adalah jenis tumor yang bisa dimulai di pembuluh darah, otot, dan jaringan ikat pada dinding usus besar dan rektum. Sarkoma usus besar atau sarkoma rektum merupakan jenis kanker langka.

Tindakan pencegahan tidak hanya sebatas menghindari terjadinya penyakit usus buntu, tapi juga meminimalisasi keparahan gejala dan komplikasi. Cara ampuh untuk menghindari keparahan radang buntu ini yaitu dengan memahami beberapa gejala yang ditimbulkan.

Ada beberapa gejala radang usus buntu yang umum terjadi yaitu sebagai berikut.

  • Sakit perut di sisi kanan bawah perut.
  • Rasa sakit semakin bertambah buruk ketika Anda bergerak, batuk, atau bersin.
  • Mual, muntah, perut kembung, dan nafsu makan menurun.
  • Sembelit atau diare.
  • Demam karena tubuh berusaha melawan infeksi.
  • Pada anak, perutnya terlihat membengkak dan terasa halus ketika ditekan pelan.

Jika Anda merasakan gejala di atas dan mencurigainya sebagai radang usus buntu, segera periksa ke dokter. Jangan sepelekan gejalanya dalam waktu 48 – 72 jam karena abses akan terbentuk dan usus buntu yang meradang bisa pecah.

Bila usus buntu sudah pecah, infeksi akan keluar dari rongga perut dan menyebar area tubuh lainnya.

Bahkan, bakteri bisa masuk ke aliran darah dan menyebabkan keracunan darah (septikemia). Kondisi ini dapat menyebabkan kematian karena darah yang terkontaminasi bisa dialirkan ke seluruh tubuh, termasuk jantung, otak, dan paru-paru.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Appendicitis Prevention. (2020). Cleveland Clinic. Retrieved 6 January 2021, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8095-appendicitis/prevention

Appendicitis – Symptoms and causes. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 6 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543

Foto Penulis
Ditulis oleh Aprinda Puji Diperbarui 19/01/2021
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum