7 Pertanyaan yang Paling Sering Diajukan Seputar Imunisasi

Oleh

Imunisasi atau vaksinasi adalah suatu tindakan pemberian zat yang berasal dari kuman, baik yang sudah mati ataupun yang dilemahkan. Diharapkan dengan pemberian vaksin ini, sistem pertahanan tubuh mengenali kuman tersebut, sehingga tubuh bisa mengatasinya apabila suatu saat terinfeksi. Meskipun bertujuan baik, dalam perjalanannya banyak pihak yang dan kontra dengan imunisasi, ini disebabkan oleh beredarnya informasi yang kurang tepat mengenai imunisasi.

Berikut beberapa informasi yang perlu kita ketahui tentang imunisasi.

Perlukah imunisasi untuk penyakit yang saat ini sudah tidak ada di Indonesia?

Walaupun sebuah penyakit sudah tidak ditemukan di suatu daerah, penyakit tersebut mungkin masih ada di tempat lain dan bisa menyerang kita kapan saja, bahkan menyebabkan wabah. Dengan tetap melakukan vaksinasi, kita menjaga diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan dari suatu penyakit.

Saya sudah diimunisasi saat kecil, untuk apa diimunisasi lagi?

Kekebalan yang kita dapatkan dari imunisasi akan “melemah” seiring berjalannya waktu, atau mungkin saja orangtua kita lupa apakah sudah memberikan suatu vaksin atau tidak. Oleh karena itu, pada beberapa penyakit dianjurkan imunisasi “booster” setiap beberapa tahun untuk menjaga kekebalan tubuh kita.

Apakah orang dewasa perlu diimunisasi?

Beberapa vaksin justru diberikan pada saat kita dewasa, seperti vaksin cacar dan vaksin pneumonia yang dianjurkan untuk usia  di atas 65 tahun (pada beberapa kondisi dianjurkan utuk diberikan lebih cepat). Selain itu, beberapa “booster” juga dapat diberikan saat dewasa, seperti vaksin tetanus, difteri, pertusis, dan lainnya.

Lebih baik sakit dan otomatis mendapat kekebalan tubuh, atau imunisasi?

Saat kita sakit, tubuh akan memproduksi antibodi dan membentuk kekebalan terhadap penyakit tersebut apabila terserang lagi. Prinsip yang sama juga terjadi saat seseorang mendapat imunisasi, kekebalan yang sama seperti saat menderita penyakit juga terbentuk. Malahan, Anda tidak perlu menderita penyakit tersebut untuk mendapat kekebalannya.

Imunisasi menyebabkan autisme, benarkah?

Pada tahun 1998, dr. Andrew mengatakan bahwa vaksin MMR menyebabkan peradangan usus yang berujung pada autisme pada anak, sedangkan gejala autisme sendiri tidak didahului oleh adanya gangguan di sistem pencernaan. Selain itu virus yang terkandung dalam MMR (campak, gondok, dan rubella) terbukti tidak menyebabkan peradangan usus maupun kerusakan membran yang melapisi sistem pencernaan. Protein yang menurut dr. Andrew mengalir dari aliran darah sampai ke otak dan menyebabkan kerusakan sampai saat ini tidak pernah terbukti adanya.

Pada tahun 2004, terbongkarlah fakta bahwa dr. Andrew memalsukan data penelitiannya, sehingga penelitian ini dicabut dari peredaran.

Imunisasi yang dilakukan bersamaan menyebabkan autisme, benarkah?

Pemberian vaksin yang bersamaan diduga dapat melemahkan sistem pertahanan tubuh sehingga timbul interaksi sistem saraf yang menyebabkan autisme pada anak yang memang sudah memiliki reiiko. Seiring berjalannya waktu, teori ini tidak terbukti oleh karena beberapa alasan, yaitu:

  • Sistem pertahanan anak. Bahkan anak yang baru berusia hari tetap bisa memberikan respon positif terhadap beberapa vaksin yang diberikan sekaligus.
  • Autisme bukan penyakit yang disebabkan oleh gangguan sistem pertahanan tubuh. Tidak ada penelitian yang membuktikan gangguan sistem pertahanan atau peradangan sistem saraf bisa menyebabkan autisme.

Imunisasi mengandung senyawa toksin yang berbahaya, benarkah?

Kandungan etilmerkuri yang terdapat dalam thimerosal diduga menyebabkan autisme. Argumen ini selanjutnya dipatahkan oleh perbedaan gejala yang diderita oleh anak penderita autisme dan anak yang keracunan merkuri. Penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa kandungan merkuri dalam vaksin masih di bawah ambang batas yang bisa menyebabkan keracunan.

Senyawa kimia lain yang terdapat dalam vaksin adalah formaldehid dan aluminium, namun senyawa tersebut diberikan dalam dosis yang sangat kecil, lebih kecil dibanding paparan kita terhadap senyawa tersebut sehari-hari.

BACA JUGA:

Sumber