Sebaiknya Tunggu Berapa Lama Jika Ingin Memotong Tali Pusat Bayi?

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 06/10/2018
Bagikan sekarang

Bisa dibilang, seremoni pemotongan tali pusat adalah momen yang paling penting dari kehidupan awal bayi. Setelah sembilan bulan hidup dalam kandungan hanya bergantung pada tali pusat untuk menerima segala asupan gizi dari sang ibu, kini bayi sudah bisa lebih mandiri. Beberapa dokter biasanya langsung memotong tali pusat bayi segera setelah lahir ke dunia untuk menurunkan risiko perdarahan berat pada ibu. Meski begitu, menunda pemotongan tali pusat bayi barang sebentar saja ternyata ada manfaatnya, lho!

Di sisi lain, dokter dan orangtua harus pintar-pintar memperkirakan lama waktunya jika tidak ingin langsung memotong tali pusat bayi. Para pakar kesehatan berargumen bahwa menundanya terlalu lama mungkin akan berisiko negatif pada perkembangan bayi. Lalu, harus berapa lama idealnya kalau ingin menunda pemotongan tali pusar yang benar-benar aman bayi ibu dan bayinya?

Menunda memotong tali pusat bayi kurangi risiko anemia

Menjaga tali pusat tetap utuh tersambung selama beberapa saat sebelum akhirnya dijepit (klem) dan dipotong dilaporkan dapat berdampak baik bagi sang buah hati, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG). Terutama apabila bayi lahir prematur.

Penundaan klem memungkinkan bayi terus menerima lebih banyak pasokan darah segar yang kaya zat besi dari plasenta. Aliran darah segar dari plasenta mungkin masih mengalir sampai lima menit setelah bayi lahir, tapi transfer darah yang paling optimal terjadi dalam 1-3 menit pertama. Dengan demikian, menunda memotong tali pusar bayi dapat menurunkan risiko anak tumbuh besar mengidap anemia defisiensi zat besi. Anemia defisiensi besi merupakan masalah kekurangan gizi yang paling umum ditemukan pada anak-anak Indonesia, lapor IDAI.

Di antara banyak manfaat dari menjaga tali pusar tetap utuh setelah bayi lahir adalah meningkatkan asupan oksigen ke dalam paru-paru bayi untuk memperkaya napas pertama mereka. Pasalnya, darah beroksigen yang mengalir melalui plasenta akan terus mengalir ke paru untuk memungkinkan organ tersebut berkembang maksimal saat menghirup udara.

Selain itu, berdasarkan riset-riset terdahulu, penundaan pemotongan tali pusat bayi juga bermanfaat untuk:

  • Menurunkan risiko perdarahan intraventrikular sebesar 59 % pada bayi prematur.
  • Penurunan risiko terjadinya infeksi sebesar 29 persen.
  • Penurunan risiko enterokolitis nekrotikans (peradangan saluran cerna yang sering terjadi pada bayi prematur dan bayi susu formula) sebesar 62 persen.

Namun demikian, menundanya terlalu lama juga tidak baik. Misalnya dengan menunggu sampai tali pusat mengering dan terlepas sendiri, seperti yang umum dilakukan pada persalinan alami Lotus birth.

Terlalu lama mengulur waktu berisiko sebabkan infeksi tali pusat

Masih nenurut Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG), ketika tali pusat sudah berhenti berdenyut maka plasenta sudah menjadi jaringan mati sehingga tidak lagi mengandung darah segar.

Bila didiamkan terus menerus dalam waktu lama, tali pusat akan rentan terinfeksi akibat paparan bakteri dan kuman dari lingkungan sekitar. Hal ini akan meningkatkan risiko bayi terserang infeksi tali pusat

maka akan menjadi tempat yang rentan bagi bakteri dan kuman untuk bersarang. Akibatnya, sang buah hati akan menjadi rentan terkena infeksi akibat plasenta dan tali pusat yang terus menerus menempel dan tidak dipotong. Pada kasus yang parah, infeksi dapat meluas hingga ke area kulit perut di sekitar tali pusat dan membuat kulit tampak mengeras, memerah, dan membengkak.

Jadi, berapa lama waktu yang ideal untuk menunda memotong tali pusat bayi?

Keputusan tentang kapan waktu yang tepat untuk memotong tali pusar idealnya harus dibuat setelah dokter dan ibu (serta calon ayahnya) berdiskusi matang bahkan sebelum persalinan dimulai, dengan mempertimbangkan proses persalinan, kesehatan bayi, dan juga kondisi ibu.

Namun umumnya, berbagai studi menunjukkan menunggu setidaknya 30 detik sampai satu menit sebelum penjepitan tali pusar memungkinkan lebih banyak darah segar kaya zat besi dari plasenta mengalir ke dalam tubuh bayi yang baru lahir. Sejumlah organisasi kesehatan internasional, termasuk Badan Kesehatan Dunia (WHO), bahkan merekomendasikan pemotongan tali pusar dilakukan sekiranya dalam satu sampai tiga menit setelah bayi lahir.

Pemotongan tali pusat dalam rentang waktu ini juga sama disarankan untuk ibu yang mengidap HIV positif. Berdasakan riset WHO, penundaan pemotongan tidak berdampak terhadap peningkatan risiko penularan HIV dari ibu ke bayi karena darah yang masih didapat bayi sementara masih tersambung pada tali pusatnya akan tetap sama dengan darah yang selama ini diperoleh dalam kandungan. Risiko bayi tertular HIV dari ibu yang positif lebih disebabkan dari adanya virus HIV yang masuk ke tubuh bayi lewat aliran darah yang mengalir dalam plasenta selama kehamilan, atau adanya paparan terhadap darah ibu ketika melahirkan normal, bukan dari penundaan pemotongan tali pusat.

Meski begitu, dokter biasanya tidak akan menunda memotong tali pusat bayi jika ia diketahui memiliki masalah pernapasan dan/atau kondisi medis lain yang membutuhkan perawatan darurat.

You are already subscribed to notifications.

Baca Juga:

Sumber
  1. Delayed Clamping Of The Umbilical Cord To Reduce Infant Anaemia. World Health Organization. Tersedia pada http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/120074/WHO_RHR_14.19_eng.pdf;jsessionid=8FA2D9C6CF9418A4CF35406E5D6D98AB?sequence=1. Diakses pada 13 Agustus 2018
  2. Uwins C, Hutchon D. Delayed umbilcal cord clamping after childbirth: potential benefits to baby’s health. Pediatric Health, Medicine and Theraupetics. 2014 (5): 161-171
  3. Guideline : Delayed Umbilical Cord Clamping for improved maternal and infant health and nutrition outcomes. 2014. Tersedia pada http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/148793/9789241508209_eng.pdf;jsessionid=2CFE1956C70B81172659CACCAA428D64?sequence=1. Diakses pada 14 Agustus 2018
  4. Pogliani L, et al. Effects and safety of delayed versus early umbilical cord clamping in newborns of HIV-infected mothers. Journal of Maternal-Fetal and Neonatal Medicine. 2017 : 1
  5. RCOG Statement on umbilical non-severance or ‘lotus birth’. Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2008. Tersedia pada https://www.rcog.org.uk/en/news/rcog-statement-on-umbilical-non-severance-or-lotus-birth. Diakses pada 14 Agustus 2018
  6. Tricarico A, et al. Lotus Birth Associated With Idiopathic Neonatal Hepatitis. Pediatrics and Neonatology. 2017 (58): 281-282

Yang juga perlu Anda baca

Hal yang Perlu Diperhatikan Pasien Anemia Saat Puasa Ramadan

Bagi sebagian besar pasien anemia puasa Ramadan bukan hal yang berbahaya namun ada hal-hal yang harus diperhatikan sebelumnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hari Raya, Ramadan 24/04/2020

Bagaimana Selulitis Terjadi pada Anak dan Cara Mencegahnya?

Infeksi di kulit sering terjadi pada anak. Salah satunya adalah selulitis. Apa itu selulitis dan bagaimana mencegahnya terjadi pada anak?

Ditinjau secara medis oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila

Gastritis

Gastritis adalah istilah medis untuk radang lambung, berbeda dari maag. Cari tahu penyebab, gejala, dan cara mengatasinya di Hello Sehat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph

Apakah Kucing dan Hewan Lainnya Dapat Tertular COVID-19 dari Manusia?

Coronavirus terbukti menular dari manusia ke manusia. Tapi belakangan ada kasus kucing positif COVID-19 karena tertular pemiliknya. Benarkah?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 09/04/2020

Direkomendasikan untuk Anda

Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

Penyebab dan Cara Mengatasi ASI yang Tidak Keluar Setelah Melahirkan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Bukan Dimarahi, Ini 5 Cara Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
5 Hal yang Perlu Dihindari Jika Anda Menderita Anemia Defisiensi G6PD

5 Hal yang Perlu Dihindari Jika Anda Menderita Anemia Defisiensi G6PD

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 24/05/2020
Melahirkan di Rumah Sakit Saat Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Disiapkan?

Melahirkan di Rumah Sakit Saat Pandemi COVID-19, Apa Saja yang Harus Disiapkan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 14/05/2020