Begini Frekuensi Normal BAB Bayi yang Baru Saja Lahir

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19/05/2020
Bagikan sekarang

Seperti yang kebanyakan orang ketahui, BAB bayi dapat menjadi indikator kesehatan bayi saat itu, terutama ketika mereka baru saja lahir. Lantas, bagaimana kondisi BAB normal pada bayi baru lahir, seperti warna dan frekuensi?

Kondisi BAB bayi yang baru lahir

bayi anophthalmia adalah

Salah satu hal yang perlu diperhatikan orangtua ketika baru saja memiliki bayi adalah memantau buang air besar (BAB) mereka.

Walaupun bau dan tampilannya tidak menyenangkan, BAB mengindikasikan kepada ayah dan ibu perihal kesehatan bayi mereka, seperti jumlah konsumsi susu cukup atau tidak. 

Dari BAB juga dapat terlihat apakah bayi Anda yang baru lahir mengalami gangguan pencernaan seperti dehidrasi dan sembelit atau tidak. 

Frekuensi normal bayi yang baru lahir biasanya tergantung pada minggu-minggu pertama kelahiran. Antara mereka menyusui atau mendapatkan asupan nutrisi dari susu formula.

penyebab kematian bayi

Hal ini dikarenakan ASI dan susu formula ternyata memberikan pengaruh yang sedikit berbeda pada pergerakan usus bayi. Bayi yang mendapatkan ASI umumnya memiliki pergerakan usus setiap hari. 

Sedangkan, mereka yang mengonsumsi susu formula kemungkinan lebih jarang BAB. Jika Anda beralih dari menyusui ke susu formula, akan ada perubahan pada kondisi usus mereka, begitu juga sebaliknya. 

Oleh karena itu, pemberian susu formula dan ASI pun ternyata juga berpengaruh terhadap kondisi BAB bayi yang baru lahir. 

Frekuensi normal BAB bayi yang baru lahir

bayi baru lahir

Bagi Anda yang baru saja menjadi orangtua mungkin merasa kewalahan karena sering mengganti popok bayi. Sebagian dari Anda mungkin merasa cemas dan bertanya-tanya, apakah bayi yang baru lahir sering BAB normal atau tidak. 

Dilansir dari C.S Mott Children’s Hospital, frekuensi BAB bayi yang baru lahir terjadi satu hingga dua kali sehari. Pada akhir minggu pertama, kemungkinan besar bayi Anda akan membuang kotorannya sebanyak 5 kali dalam 10 hari. Bayi pun akan lebih sering buang air kecil setelah menyusui. 

Sebenarnya, frekuensi normal BAB pada bayi yang baru saja lahir itu berbeda-beda. Ada beberapa bayi yang buang air besar sesaat setelah makan. 

feses bayi

Hal ini disebabkan oleh refleks gastrokolik, yaitu kontraksi yang merangsang usus agar buang air besar ketika sudah penuh dengan feses. Rangsangan tersebut juga mengaktifkan sistem pencernaan setiap kali perut diisi dengan makanan. 

Namun, ketika bayi menginjak usia 6 minggu, mereka mungkin tidak akan buang air besar setiap hari atau sesering ketika baru lahir. Kondisi ini dapat terjadi karena ASI tidak begitu padat untuk benar-benar dihilangkan dari sistem pencernaan bayi. 

Dengan begitu, frekuensi BAB bayi yang berkurang bukan tanda sembelit dan bisa jadi bukan sebagai masalah pencernaan selama feses masih lunak. 

Bayi Anda masih dikatakan normal ketika berat badannya terus bertambah, rutin menyusui, dan konsistensi fesesnya yang lunak. 

Hal penting yang perlu diingat orangtua tentang BAB bayi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,kondisi BAB bayi dan anak sangat penting untuk diperhatikan karena dapat dijadikan indikator kesehatan mereka.  

Selain kondisi dan frekuensi normal BAB bayi , ternyata ada beberapa hal lainnya yang perlu diingat oleh orangtua, yaitu:

1. Variasi warna dan konsistensi feses bayi

feses anak abu-abu

Frekuensi BAB bayi tidak bisa dijadikan satu-satunya patokan untuk melihat kondisi kesehatan mereka seperti apa. Ada beberapa faktor lainnya yang dapat menentukan apakah bayi Anda sehat atau tidak, seperti konsistensi dan warna feses

Sebenarnya, warna dan konsistensi feses bayi yang bervariasi cukup normal terjadi. Contoh, proses pencernaan bayi dapat melambat jika mereka mengonsumsi makanan yang padat dan warnanya berubah menjadi hijau. 

Apabila bayi diberikan tambahan zat besi, feses dapat berubah warna menjadi cokelat tua. Sedangkan, ketika terjadi iritasi ringan pada anus kemungkinan besar akan ada bercak darah pada bagian luar feses. 

Saat Anda menemukan darah, lendir, atau air pada feses bayi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter. Umumnya, gejala tersebut menunjukkan bahwa sistem pencernaan bayi sedang terganggu. 

2. Tanda-tanda diare pada bayi

diare kronik pada bayi

Normalnya, BAB bayi yang baru lahir lebih lunak dan sedikit berair, sehingga orangtua mungkin kesulitan untuk mengetahui kapan anak mereka mengalami diare

Jika bayi Anda mengalami diare, biasanya akan ada peningkatan frekuensi BAB. Misal, lebih dari satu kali pergerakan usus setelah makan dan feses terlihat berlendir. 

Diare pada bayi mungkin merupakan tanda adanya infeksi usus atau disebabkan oleh perubahan pola makan mereka. Jika bayi menyusui, mereka ternyata dapat mengalami diare akibat konsumsi asupan makanan dari sang ibu. 

3. Dehidrasi pada bayi

tanda bayi dehidrasi

Tidak hanya diare, BAB bayi juga bisa menjadi faktor untuk melihat apakah mereka dehidrasi atau tidak. Masalah utama dari diare yang cukup mengkhawatirkan adalah dehidrasi atau kekurangan cairan.

Jika bayi mengalami demam tinggi dan masih berusia kurang dari dua bulan, segera hubungi dokter anak Anda.

Namun, ketika bayi sudah berumur lebih dua bulan dan demamnya berlangsung lebih dari satu hari, cobalah untuk memeriksa urine dan suhu fesesnya. Kemudian, laporkan temuan tersebut pada dokter anak agar tahu apa yang perlu Anda lakukan. 

Mendeteksi masalah kesehatan pada bayi yang baru lahir memang akan sulit, sehingga Anda perlu melihat dari konsistensi, frekuensi, dan warna BAB mereka. Jika bayi Anda tidak terlihat sehat, segera konsultasikan dengan dokter anak untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Aspirasi Mekonium, Ketika Bayi Keracunan Air Ketuban yang Terkontaminasi Oleh Feses

Feses pertama bayi (mekonium) bisa tercampur bersama air ketuban sehingga bayi keracunan. Kondisi ini dinamakan aspirasi mekonium. Apa akibatnya pada bayi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Melahirkan, Kehamilan 16/08/2019

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada Bayi, Apa Saja Penyebab dan Penanganannya?

Berat badan rendah pada bayi yang baru lahir bisa menandakan kurang terpenuhinya kebutuhan zat gizi selama di dalam kandungan. Bagaimana penanganannya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Memahami Denyut Jantung Bayi Baru Lahir, Mana yang Normal dan Tidak

Denyut jantung bayi yang baru lahir bisa berdetak lebih lambat atau lebih cepat daripada normalnya (aritmia). Untuk lebih jelasnya, mari simak informasinya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Melahirkan, Kehamilan 06/08/2019

Asfiksia pada Bayi Baru Lahir, Saat Persediaan Oksigen Bayi Tidak Mencukupi

Salah satu komplikasi saat melahirkan yakni asfiksia pada bayi baru lahir. Jangan disepelekan karena ini bisa berakibat fatal bagi bayi.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Melahirkan, Kehamilan 06/08/2019

Direkomendasikan untuk Anda

warna bab bayi

Perhatikan, Ini Warna BAB Bayi yang Normal

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020
bermain bersama bayi

Bermain Bersama Membuat Otak Bayi dan Orangtua Makin Terhubung

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 16/01/2020
bayi menangis tidak keluar air mata

Bayi Baru Lahir Menangis Tanpa Air Mata, Kenapa Ya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 01/12/2019
umur bayi keluar rumah

Usia Berapa Bayi yang Baru Lahir Diperbolehkan Keluar Rumah?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 23/11/2019