Penjelasan Lengkap Imunisasi, Mulai dari Pengertian, Manfaat, Sampai Jenisnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/07/2020 . Waktu baca 13 menit
Bagikan sekarang

Sudahkah Anda membawa si kecil untuk imunisasi? Apakah sudah lengkap juga jenis vaksin yang harus si kecil dapatkan? Ingat, imunisasi tidak cuma satu kali seumur hidup, lho! Imunisasi adalah kegiatan rutin yang harus dilakukan beberapa kali sepanjang hidup seseorang untuk melindunginya dari penyakit. Imunisasi tidak hanya untuk bayi, tetapi juga anak balita sampai usia sekolah. Mengapa imunisasi atau vaksinsi penting diberikan? Ini penjelasan lengkapnya.

Ketahui perbedaan imunisasi dan vaksinasi

Banyak orang menyamakan arti imunisasi dan vaksinasi. Padahal, kedua istilah ini memiliki arti yang berbeda.

Lantas, apa bedanya imunisasi dan vaksinasi? Sebenarnya keduanya masuk ke dalam rangkaian proses pencegahan penyakit. Vaksinasi dan imunisasi diberikan dan terjadi secara bertahap untuk memperkuat antibodi secara perlahan.

Vaksin adalah ‘alat’ untuk membentuk antibodi terhadap suatu penyakit tertentu. Ini berarti vaksinasi adalah proses pemberian antibodi untuk menangkal penyakit.

Sementara imunisasi adalah proses pembuatan antibodi di dalam tubuh setelah divaksin agar sistem imun semakin kuat, sehingga kebal terhadap serangan penyakit.

Meski begitu, istilah imunisasi lebih dikenal pada orang awam ketimbang vaksinasi. Secara tak langsung, hal ini membuat imunisasi dan vaksinasi diartikan sama meski berbeda arti.

Manfaat imunisasi bagi anak

anak diimunisasi

Kementerian Kesehatan RI menetapkan jenis imunisasi untuk anak yang wajib dilakukan beberapa kali sepanjang hidup si kecil. Penting untuk Anda mengetahui manfaatnya, yaitu:

  • Melindungi anak dari risiko kematian
  • Efektif mencegah penyakit
  • Vaksin melindungi orang lain

Bagaimana bisa melindungi orang lain? Hal ini disebut juga dengan herd immunity atau kekebalan kelompok, ketika vaksin tidak hanya melindungi orang yang diimunisasi, tetapi juga memiliki manfaat untuk anak yang tidak diberikan vaksin. 

Ketika banyak anak mendapatkan perlindungan vaksin, mereka akan membantu melindungi sebagian anak yang kekurangan sistem kekebalan tubuh dengan mengurangi penyebaran penyakit. 

Semakin banyak anak yang mendapat vaksin, semakin sedikit penyebaran penyakit. Dengan begitu, mereka yang tidak mendapatkan imunisasi dapat ikut terlindungi.

Apa akibatnya jika anak tidak mendapatkan imunisasi?

anak vaksin

Pada dasarnya, pengertian imunisasi adalah kebutuhan yang harus dipenuhi sejak bayi baru lahir untuk menjaga kesehatannya. Ada tiga alasan penting mengapa ini wajib untuk semua bayi, yaitu:

  • Imunisasi sudah terbilang aman, cepat, dan sangat efektif untuk mencegah penularan penyakit
  • Sekali diimunisasi maka setidaknya tubuh anak telah terlindungi dengan baik dari ancaman penyakit
  • Anak justru berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit dan mengalami gejala yang lebih parah jika tidak diimunisasi

Selain itu, bila bayi tidak diimunisasi atau bayi terlambat imunisasi bisa berakibat fatal untuk kesehatannya di kemudian hari. Sebab ketika anak sudah divaksin, otomatis tubuhnya akan dilengkapi dengan sistem imun yang bekerja spesifik untuk menyerang virus.

Sebaliknya jika anak tidak diimunisasi, tubuh mereka tidak memiliki sistem pertahanan khusus yang bisa mendeteksi jenis-jenis penyakit berbahaya tersebut.

Terlebih sistem imun anak kecil juga belum sekuat dan bekerja semaksimal orang dewasa. Hal ini akan membuat kuman penyakit semakin mudah berkembang biak di dalam tubuh anak. Efek samping imunisasi tidak sebanding dengan bayi yang tidak diimunisasi.

Jenis imunisasi dasar lengkap untuk bayi

anak vaksin

Berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017, ada beberapa imunisasi atau vaksin yang wajib untuk bayi baru lahir sampai sebelum berusia 1 tahun.

Jenis imunisasi ini bisanya diberikan gratis oleh pelayanan kesehatan di bawah naungan pemerintah, seperti Posyandu, Puskesmas, maupun rumah sakit daerah.

1. Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi menular yang menyerang hati (liver) dan bisa berujung pada kanker hati atau sirosis.

Vaksin hepatitis B termasuk dalam imunisasi dasar dan harus didapat segera setelah bayi baru lahir, paling lambat 12 jam setelah kelahiran. Namun, bayi harus mendapatkan suntikan vitamin K1 dulu 30 menit sebelum divaksin.

Selain untuk melindungi bayi dari penularan hepatitis B dari orang lain di masa depannya, imunisasi wajib ini sekaligus berfungsi mencegah risiko penularan dari ibu ke anak saat persalinan.

Sebab kenyataannya cukup banyak ibu yang tidak menyadari dirinya kena hepatitis B karena tidak pernah merasakan gejala apa pun.

Setelah jadwal vaksin yang pertama, imunisasi hepatitis B juga harus diulang saat usia 2,3,4 bulan. Pengulangan imunisasi ini bertujuan untuk “memperbarui” jangka waktu perlindungannya dan memperkuat sistem imun anak.

2. Polio

Polio adalah infeksi virus menular yang menyerang sistem saraf pusat di otak. Polio menyebabkan badan pengidapnya lumpuh sehingga juga umum dikenal sebagai penyakit lumpuh layu.

Pada kasus yang lebih parah, polio sampai mengganggu pernapasan dan proses menelan sehingga dapat berakibat fatal bila tidak diobati. Sesuai jadwal imunisasi bayi dan anak,  bayi perlu mendapatkan vaksin polio secepatnya sebelum berusia genap 1 tahun.

Vaksin polio terdiri dari 4 rangkaian yang harus dilengkapi semuanya. Vaksin yang pertama diberikan segera setelah bayi baru lahir, yang kedua pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan terakhir saat menginjak 4 bulan.

Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan imunisasi polio dilanjutkan saat bayi berusia sekitar 18 bulan.

3. BCG

Vaksin BCG adalah imunisasi untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). TBC adalah penyakit menular berbahaya yang menyerang saluran pernapasan, dan mungkin menyebar ke bagian tubuh lainnya sehingga butuh imunisasi sebagai langkah p

Berbeda dengan beberapa jenis imunisasi di atas, vaksin BCG cukup diberikan 1 kali sebelum bayi berusia 3 bulan. Efektivitasnya akan paling optimal jika diberikan saat bayi berusia 2 bulan.

Vaksin BCG bekerja menyerang bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi paru-paru dan selaput otak.

4. Campak

Campak (rubeola) adalah infeksi menular yang cukup umum terjadi pada usia anak-anak. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan kemudian menginfeksi seluruh tubuh.

Imunisasi dapat membantu menurunkan risiko buah hati Anda tertular penyakit ini. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat menyebabkan pneumonia (radang paru), diare, dan bahkan bisa menyerang otak.

Vaksin campak diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat anak berusia 9 bulan dan 18 bulan. Namun, vaksin campak kedua pada usia 18 bulan tidak perlu lagi diberikan jika anak sudah mendapatkan vaksin MMR pada usia 15 bulan.

5. Pentavalen (DPT-HB-HiB)

Vaksin pentavalen merupakan vaksin kombinasi dari vaksin DPT, vaksin HB, dan vaksin HiB (haemophilus influenza tipe B).

Ini diberikan untuk mencegah 6 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B, pneumonia, dan meningitis (radang otak).

Dilansir dari CDC, pemberian beberapa vaksin kombinasi  tidak menyebabkan masalah kesehatan kronis. Kombinasi vaksin terbukti efektif memberikan perlindungan pada anak selama masa pertumbuhan tubuh dan perkembangan sistem kekebalan tubuhnya.

Jadwal pemberian vaksin ini sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Jika tidak dicegah sejak dini, beragam penyakit ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius pada anak di masa depannya.

Difteri, misalnya, dapat menyebabkan penyumbatan jalur napas dan melumpuhkan kerja jantung. Sementara batuk rejan bisa berujung pada infeksi pneumonia, dan tetanus bisa melumpuhkan saraf dan otot-otot tubuh.

Begitu pula dengan haemophilus influenza tipe B yang bisa menyebabkan pneumonia dan meningitis di kemudian hari.

Jenis imunisasi tambahan untuk bayi dan anak

anak vaksin

Masih mengacu pada ketentuan Permenkes No. 12 Tahun 2017, bayi sangat ditekankan untuk mendapat beberapa imunisasi tambahan di luar lima vaksin wajib di atas. Jenis vaksin pilihan juga bisa diberikan pada anak-anak hingga orang dewasa seusai dengan kebutuhan dan kondisi.

1. MMR

Vaksin MMR bertujuan untuk mencegah penyakit campak (Measles), gondongan (Mumps), dan Rubela (campak Jerman). Vaksin ini umumnya diberikan saat anak berusia 12-18 bulan.

Namun jika anak sudah pernah vaksin campak dan punya riwayat kena salah satu penyakit di atas sebelumnya, ia tetap perlu mendapatkan vaksin MMR.

Vaksin ini juga direkomendasikan bagi anak yang memiliki penyakit kronis seperti kistik fibrosis, kelainan jantung bawaan, kelainan ginjal bawaan, serta sindrom Down.

2. Tifoid

Vaksin tifoid bertujuan mencegah infeksi bakteri Salmonella typhii yang merupakan penyebab penyakit tifus. Vaksin ini bisa diberikan saat anak berusia 24 bulan.

Perlu dicatat bahwa kemampuan vaksin tifoid untuk melindungi anak dari tipes kurang lebih hanya sekitar 50-80 persen saja. Itu kenapa vaksin ini sebaiknya diulang setiap 3 tahun sekali.

Namun, orangtua juga tetap perlu untuk memilah-milih makanan yang sehat serta memastikan kebersihan diri anak dan kualitas sanitasi di tempat tinggal.

3. Rotavirus

Rotavirus adalah penyakit yang berbahaya untuk anak. Vaksin rotavirus berfungsi mencegah infeksi rotavirus yang bisa mengakibatkan diare kronis.

Ada 2 jenis vaksin rotavirus, yakni vaksin monovalent dan pentavalent. Kedua jenis tersebut bisa diberikan secara oral, dengan jadwal pemberian yang berbeda.

Vaksin monovalent diberikan 2 kali saat anak berusia 6-12 minggu, dengan jarak waktu pemberian selama 8 minggu. Sementara vaksin pentavalent diberikan 3 kali, mulai saat anak berusia 2 bulan dengan jarak waktu pemberian per 4-10 minggu.

Vaksin pentavalent terakhir maksimal diberikan saat anak berusia 8 bulan. Rangkaian vaksin rotavirus sebaiknya sudah selesai dilengkapi semua saat anak menginjak usia 24 bulan.

4. Pneumokokus (PCV)

Vaksin PCV adalah imunisasi untuk melindungi anak dari infeksi bakteri pneumokokus. Infeksi bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit pneumonia, meningitis, dan infeksi telinga.

Vaksin ini bisa diberikan pada anak mulai 2,4, dan 6 bulan. Jika diberikan pada anak yang sudah berusia di atas 2 tahun, PCV cukup diberikan 1 kali.

5. Varicella

Vaksin varicella (Varivax) adalah imunisasi rutin untuk mencegah cacar air. Vaksin ini biasanya diberikan 1 kali, tepatnya setelah anak berusia 12 bulan. Namun, alangkah lebih baiknya untuk diberikan sebelum anak masuk sekolah dasar.

Jika vaksin varicella diberikan setelah usia anak 12 tahun, dibutuhkan pemberian 2 dosis dengan jarak minimal sekitar 4 minggu. Vaksin cacar juga bisa diberikan pada orang dewasa yang belum pernah kena cacar air sebelumnya.

Perlu dipahami bahwa vaksin ini tidak menjamin sepenuhnya Anda akan kebal dari cacar air sama sekali. Namun, setidaknya imunisasi bisa menurunkan keparahan gejala penyakitnya.

Sebab jika anak tidak mendapatkan vaksin sama sekali, risiko komplikasi cacar air justru akan semakin tinggi.

6. Influenza

Vaksin influenza idealnya diberikan saat anak minimal sudah berumur 6 bulan. Berbeda dengan jenis vaksin lainnya yang hanya diberikan sesuai jadwal, vaksin influenza tidak demikian.

Imunisasi influenza boleh didapatkan kapan saja. Pemberian vaksin ini juga sebaiknya diulang kembali setiap tahun untuk meencegah anak terkena flu. Meski bukan termasuk imunisasi wajib, anak Anda perlu mendapatkan vaksin tambahan untuk menangkal penyakit flu.

7. Hepatitis A

Hepatitis A adalah infeksi virus yang menyebar melalui makanan maupun feses penderitanya.

Penyakit hepatitis A bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Itu sebabnya pemberian imunisasi hepatitis A harus dilakukan sedini mungkin, tepatnya saat usia anak sudah menginjak 2 tahun.

Pemberian imunisasi ini biasanya dilakukan 2 kali dengan jarak 6-12 bulan sekali. Namun, bisa juga didapatkan 2-3 kali per 6-12 bulan bagi anak yang sudah berusia lebih dari 2 tahun.

Bagi anak yang lebih tua dan orang dewasa, vaksin ini bisa diulang setiap 10 tahun sekali. Efektivitas vaksin akan mulai bekerja sekitar 15 hari setelah didapatkan dan akan bertahan selama kurang lebih 20-50 tahun.

8. HPV (human papiloma virus)

Imunisasi HPV (human papiloma virus) tidak termasuk imunisasi wajib, tapi sudah bisa mulai diberikan ketika anak sudah berusia 10 tahun. Obat ini dapat diberikan sebanyak 3 kali dalam rentang usia 10-18 tahun.

Pemberian imunisasi ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari virus HPV yang dapat mengakibatkan kanker serviks, penyakit seks menular seperti kutil kelamin, hingga kanker anus dan penis.

Jenis imunisasi untuk usia anak sekolah

akibat anak tidak imunisasi

Kebanyakan imunisasi yang diberikan pada anak usia sekolah adalah pengulangan atau booster dari imunisasi saat bayi. Di Indonesia sendiri, telah ada jadwal imunisasi lanjutan yang diperuntukkan bagi anak usia sekolah.

Berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan no.12 tahun 2017, jenis vaksinasi anak usia sekolah yang dicanangkan di Indonesia adalah:

  • diphtheria tetanus (DT)
  • Campak
  • Tetanus diphteria (Td)

Berikut jadwal imunisasi anak usia sekolah dasar yang telah diatur oleh Kementerian Kesehatan:

  • Kelas 1 SD: Imunisasi campak setiap bulan Agustus dan imunisasi diphteria tetanus  (DT) setiap bulan November
  • Kelas 2-3 SD: Imunisasi tetanus diphteria (Td) di bulan November

Sedangkan menurut Center for Disease Control and Prevention, jenis vaksinasi anak lainnya yang juga sebaiknya dilakukan adalah:

  • Influenza: anak usia 7-18 tahun yang mengalami flu setiap tahun
  • Human papillomavirus (HPV): Dimulai saat anak berusia 11-12 tahun, juga bisa diberikan saat anak usia 9-10 tahun, jika memang kondisi kesehatan anak memerlukannya
  • Meningitis: Anak berusia 11-12 tahun
  • Vaksinasi dengue: Anak usia di atasi 9 tahun yang pernah terkena DBD
  • Japanese Encephalitis (JE): Bila akan mendatangi negara epidemi

Khusus untuk vaksinasi meningitis, ini termasuk dalam imunisasi khusus sehingga harus dikonsultasikan dulu dengan dokter anak. Selain itu, pemberian imunisasi di atas perlu dikonsultasikan ke dokter untuk mempertimbangkan sesuai kebutuhan anak. 

Apakah imunisasi pasti membuat anak kebal?

imunisasi bayi

Anak yang sudah diimunisasi akan sangat jarang sakit karena sistem imunnya sudah diperkuat oleh bantuan obat ini.

Meski begitu, perlu dipahami bahwa bahkan setelah anak melengkapi imunisasi wajib, lanjutan, maupun tambahan tetap masih ada kemungkinan kecil untuk terserang penyakit tersebut.

Mengutip dari laman IDAI, penelitian epidemiologi di Indonesia dan negara-negara lain telah membuktikan manfaat perlindungan dari vaksinasi.

Ketika ada wabah campak, difteri atau polio, anak yang sudah mendapat imunisasi lengkap tercatat sangat jarang tertular. Apabila memang sakit karena tertular, biasanya kondisi anak tidak akan terlalu parah sampai membahayakan nyawa.

Sebaliknya, anak-anak yang tidak mendapatkan vaksinasi wajib sama sekali biasanya cenderung mengalami sakit yang lebih berat, komplikasi berupa kecacatan, atau bahkan kematian.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin Rotavirus, Bermanfaat untuk Mencegah Diare Parah pada Anak

Vaksin rotavirus termasuk ke dalam imunisasi tambahan yang dianjurkan IDAI. Mengapa vaksin ini perlu diberikan dan adakah efek sampingnya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 24/06/2020 . Waktu baca 7 menit

Pentingnya Mengontrol Tumbuh Kembang Anak Saat Pandemi COVID-19

Tumbuh kembang anak selama pandemi COVID-19 harus tetap terkontrol meski pelayanan kesehatan anak banyak terganggu. Simak ulasan berikut.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 17/06/2020 . Waktu baca 4 menit

5 Tips Ajarkan Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak

Tips ini akan membantu Anda menerapkan kebiasaan kesehatan gigi dan mulut pada anak sejak dini. Yuk, cari tahu apa saja caranya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Sponsored
menyikat gigi bersama merupakan salah satu cara mendorong minat si kecil dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak
Parenting, Tips Parenting 16/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Jenis Imunisasi yang Perlu Diberikan pada Bayi dan Anak-Anak

Ada beragam jenis imunisasi yang diberikan pada bayi dan anak-anak. Berikut penjelasan lengkap seputar macam-macam imunisasi pada bayi dan anak.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Kesehatan Anak, Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Sponsored
penyebab stunting

Benarkah Cacingan Bisa Menyebabkan Stunting pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
mengatasi ruam popok bayi

Si Kecil Mengalami Ruam? Berikut 8 Cara Mengobatinya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 7 menit
mutasi coronavirus

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit