Daftar Lengkap Imunisasi Wajib dan Pilihan untuk Bayi dan Anak-Anak

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Sudahkah Anda membawa si kecil untuk imunisasi? Apakah sudah lengkap juga jenis imunisasi yang harus si kecil dapatkan? Ingat, imunisasi tidak cuma satu kali seumur hidup, lho! Imunisasi adalah kegiatan rutin yang harus dilakukan beberapa kali sepanjang hidup seseorang untuk melindunginya dari penyakit. Nah, apa saja jenis imunisasi yang wajib didapatkan anak sejak kecil beserta tambahannya?

Imunisasi itu penting untuk anak

vaksin itu aman

Imunisasi penting buat kesehatan anak. Imunisasi bertujuan untuk meningkatkan pembentukan antibodi untuk memperkuat kerja sistem imun tubuh anak saat melawan patogen (kuman, bakteri, jamur, virus, dan lainnya) penyebab penyakit berbahaya.

Imunisasi dilakukan dengan menyuntikkan versi jinak dari virus atau bakteri penyakit yang sudah dilemahkan. Tubuh anak kemudian mendeteksi kedatangannya sebagai “ancaman” dan memicu sistem imun untuk memproduksi antibodi yang nantinya bertugas untuk melawan penyakit. Jadi, jika suatu saat anak terserang penyakit tersebut, tubuhnya sudah memiliki “pasukan” antibodi yang mampu mengenali dan melawan serangan virus atau bakteri.

Namun sayang, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 ada berbagai alasan yang membuat anak tidak menerima imunisasi. Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Farid Moeloek, Sp.M(K), selaku Menteri Kesehatan RI, menuturkan cukup banyak orangtua yang takut akan mitos imunisasi menyebabkan autisme dan membuat anak jadi gampang sakit sehingga tidak mengizinkan anaknya divaksin. Tidak sedikit juga orangtua yang meragukan kehalalan kandungan vaksin sehingga enggan mendapatkannya untuk anak.

Padahal, imunisasi terbukti mampu mencegah berbagai penyakit menular yang berbahaya. Mulai dari campak, gondongan, batuk rejan (pertusis), polio, cacar air, tetanus, dan lainnya. Oleh karena itu, ayo bawa buah hati Anda ke Posyandu, Puskesmas, ataupun rumah sakit terdekat untuk melengkapi imunisasinya.

Apa akibatnya jika anak tidak diimunisasi?

efek samping imunisasi

Imunisasi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sejak bayi baru lahir untuk menjaga kesehatannya. Kemudian demi memperpanjang “masa berlaku” perlindungannya, beberapa jenis vaksin utama harus diulangi sesuai dengan jadwal dan jarak yang telah ditentukan.

Namun, sebenarnya bukan itu saja yang menjadi alasan kenapa Anda harus membawa anak diimunisasi. Ada tiga alasan penting mengapa imunisasi wajib untuk semua bayi.

Pertama karena imunisasi sudah terbilang aman, cepat, dan sangat efektif untuk mencegah penularan penyakit. Kedua, sekali diimunisasi maka setidaknya tubuh anak telah terlindungi dengan baik dari ancaman penyakit tersebut. Ketiga, anak justru berisiko lebih tinggi untuk terkena penyakit dan mengalami gejala yang lebih parah jika tidak diimunisasi. Penyakit tersebut juga berisiko berakibat fatal di kemudian hari.

Sebab ketika anak sudah divaksin, otomatis tubuhnya akan dilengkapi dengan sistem imun yang bekerja spesifik untuk menyerang virus penyebab penyakit tertentu. Sebaliknya jika anak tidak diimunisasi, tubuh mereka tidak memiliki sistem pertahanan khusus yang bisa mendeteksi jenis-jenis penyakit berbahaya tersebut. Terlebih sistem imun anak kecil juga belum sekuat dan bekerja semaksimal orang dewasa. Hal ini akan membuat kuman penyakit semakin mudah berkembang biak di dalam tubuh anak.

Singkatnya, tanpa vaksinasi si kecil akan lebih berisiko tertular, mengalami sakit yang lebih parah, serta risiko mengalami komplikasi yang juga lebih tinggi. Anda tentu tidak ingin hal tersebut menimpa buah hati kesayangan Anda, ‘kan?

Risiko anak tidak diimunisasi bahkan tidak hanya mengorbankan kesehatan anak, tapi orang lain di sekitarnya. Jika anak tidak diimunisasi, virus dan kuman yang masuk ke dalam tubuhnya bisa dengan mudah menyebar ke kakak, adik, teman, maupun orang lain di sekitarnya.

Pada akhirnya, wabah penyakit pun akan menyebar ke lingkungan sehingga menimbulkan kasus jangkitan penyakit dan kematian yang lebih banyak.

Jenis imunisasi wajib untuk bayi

imunisasi wajib untuk bayi

Berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017, ada beberapa imunisasi wajib yang harus diberikan kepada bayi sebelum berusia 1 tahun. Imunisasi ini bisanya diberikan gratis oleh pelayanan kesehatan di bawah naungan pemerintah, seperti Posyandu, Puskesmas, maupun rumah sakit daerah.

1. Vaksin hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi menular yang menyerang hati (liver) dan bisa berujung pada kanker hati atau sirosis. Vaksin hepatitis B harus didapat segera setelah bayi baru lahir, paling lambat 12 jam setelah kelahiran. Namun, bayi harus mendapatkan suntikan vitamin K1 dulu 30 menit sebelum divaksin.

Selain untuk melindungi bayi dari penularan hepatitis B dari orang lain di masa depannya, vaksin ini sekaligus berfungsi mencegah risiko penularan dari ibu ke anak saat persalinan. Sebab kenyataannya cukup banyak ibu yang tidak menyadari dirinya kena hepatitis B karena tidak pernah merasakan gejala apa pun.

Setelah jadwal vaksin yang pertama, imunisasi hepatitis B juga harus diulang dua kali lagi. Satu saat bayi telah berumur 1 bulan dan terakhir saat usianya 6 bulan. Pengulangan imunisasi ini bertujuan untuk “memperbarui” jangka waktu perlindungannya dan memperkuat sistem imun anak.

2. Vaksin polio

Polio adalah infeksi virus menular yang menyerang sistem saraf pusat di otak. Polio menyebabkan badan pengidapnya lumpuh sehingga juga umum dikenal sebagai penyakit lumpuh layu. Pada kasus yang lebih parah, polio sampai mengganggu pernapasan dan proses menelan sehingga dapat berakibat fatal bila tidak diobati.

Itu kenapa bayi perlu mendapatkan vaksin polio secepatnya sebelum berusia genap 1 tahun. Vaksin polio terdiri dari 4 rangkaian yang harus dilengkapi semuanya. Vaksin yang pertama diberikan segera setelah baru lahir, yang kedua pada usia 2 bulan, 4 bulan, dan terakhir saat menginjak 6 bulan.

Namun, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan imunisasi polio dilanjutkan saat bayi berusia sekitar 18-24 bulan.

3. Vaksin BCG

Vaksin BCG adalah imunisasi untuk mencegah penyakit tuberkulosis (TBC). TBC adalah penyakit menular berbahaya yang menyerang saluran pernapasan, dan mungkin menyebar ke bagian tubuh lainnya jika tidak segera diobati.

Berbeda dengan beberapa jenis imunisasi di atas, vaksin BCG cukup diberikan 1 kali sebelum bayi berusia 3 bulan. Efektivitasnya akan paling optimal jika diberikan saat bayi berusia 2 bulan.

Vaksin BCG bekerja menyerang bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menginfeksi paru-paru dan selaput otak.

4. Vaksin campak

Campak (rubeola) adalah infeksi menular yang cukup umum terjadi pada usia anak-anak. Penyakit ini menyerang saluran pernapasan dan kemudian menginfeksi seluruh tubuh.

Nah, imunisasi dapat membantu menurunkan risiko buah hati Anda tertular penyakit ini. Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit campak berat yang dapat menyebabkan pneumonia (radang paru), diare, dan bahkan bisa menyerang otak.

Vaksin campak diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat anak berusia 9 bulan dan 24 bulan. Namun, vaksin campak kedua pada usia 24 bulan tidak perlu lagi diberikan jika anak sudah mendapatkan vaksin MMR pada usia 15 bulan.

Sebelum program imunisasi dilaksanakan secara global, campak adalah salah satu penyakit endemik penyebab kematian anak terbanyak setiap tahun di dunia.

5. Vaksin pentavalen (DPT-HB-HiB)

Vaksin pentavalen merupakan vaksin kombinasi dari vaksin DPT, vaksin HB, dan vaksin HiB (haemophilus influenza tipe B). Vaksin ini diberikan untuk mencegah 6 penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, hepatitis B, pneumonia, dan meningitis (radang otak).

Jadwal pemberian vaksin ini sebanyak 4 kali, yaitu pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan 18 bulan. Jika tidak dicegah sejak dini, beragam penyakit ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius pada anak di masa depannya.

Difteri, misalnya, dapat menyebabkan penyumbatan jalur napas dan melumpuhkan kerja jantung. Sementara batuk rejan bisa berujung pada infeksi pneumonia, dan tetanus bisa melumpuhkan saraf dan otot-otot tubuh. Begitu pula dengan haemophilus influenza tipe B yang bisa menyebabkan pneumonia dan meningitis di kemudian hari.

Jenis imunisasi tambahan untuk bayi dan anak

imunisasi BCG

Masih mengacu pada ketentuan Permenkes No. 12 Tahun 2017, bayi sangat ditekankan untuk mendapat beberapa imunisasi tambahan di luar lima vaksin wajib di atas. Jenis vaksin pilihan juga bisa diberikan pada anak-anak hingga orang dewasa seusai dengan kebutuhan dan kondisi.

1. Vaksin MMR

Vaksin MMR bertujuan untuk mencegah penyakit campak (Measles), gondongan (Mumps), dan Rubela (campak Jerman). Vaksin ini umumnya diberikan saat anak berusia 12-18 bulan.

Namun jika anak sudah pernah vaksin campak dan punya riwayat kena salah satu penyakit di atas sebelumnya, ia tetap perlu mendapatkan vaksin MMR.

Vaksin ini juga direkomendasikan bagi anak yang memiliki penyakit kronis seperti kistik fibrosis, kelainan jantung bawaan, kelainan ginjal bawaan, serta sindrom Down.

2. Vaksin tifoid

Vaksin tifoid bertujuan mencegah infeksi bakteri Salmonella typhii yang merupakan penyebab penyakit tifus. Vaksin ini bisa diberikan saat anak berusia 24 bulan.

Perlu dicatat bahwa kemampuan vaksin tifoid untuk melindungi anak dari tipes kurang lebih hanya sekitar 50-80% saja. Itu kenapa vaksin ini sebaiknya diulang setiap 3 tahun sekali. Namun, orangtua juga tetap perlu untuk memilah-milih makanan yang sehat serta memastika kebersihan diri anak dan kualitas sanitasi di tempat tinggal.

3. Vasin rotavirus

Vaksin rotavirus berfungsi mencegah infeksi rotavirus yang bisa mengakibatkan diare kronis. Ada 2 jenis vaksin rotavirus, yakni vaksin monovalent dan pentavalent. Kedua jenis vaksin tersebut bisa diberikan secara oral, dengan jadwal pemberian yang berbeda.

Vaksin monovalent diberikan 2 kali saat anak berusia 6-12 minggu, dengan jarak waktu pemberian selama 8 minggu. Sementara vaksin pentavalent diberikan 3 kali, mulai saat anak berusia 2 bulan dengan jarak waktu pemberian per 4-10 minggu. Vaksin pentavalent terakhir maksimal diberikan saat anak berusia 8 bulan.

Rangkaian vaksin rotavirus sebaiknya sudah selesai dilengkapi semua saat anak menginjak usia 24 bulan.

4. Vaksin pneumokokus (PCV)

Vaksin PCV adalah imunisasi untuk melindungi anak dari infeksi bakteri pneumokokus. Infeksi bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit pneumonia, meningitis, dan infeksi telinga.

Vaksin ini bisa diberikan pada anak mulai usia 7-12 bulan sebanyak 2 kali dengan jarak 2 bulan. Jika diberikan pada anak yang sudah berusia di atas 2 tahun, PCV cukup diberikan sebanyak 1 kali.

5. Varicella

Vaksin varicella (Varivax) adalah imunisasi rutin untuk mencegah cacar air.

Vaksin ini biasanya diberikan sebanyak 2 kali, yang pertama pada rentang usia 12-15 bulan sebelum masuk sekolah dasar. Imunisasi yang kedua kalinya kemudian diberikan saat anak berusia 4-6 tahun. Vaksin cacar juga bisa diberikan pada orang dewasa yang belum pernah kena cacar air sebelumnya.

Perlu dipahami bahwa vaksin ini tidak menjamin sepenuhnya Anda akan kebal dari cacar air sama sekali. Namun, setidaknya imunisasi bisa menurunkan keparahan gejala penyakitnya. Sebab jika anak tidak mendapatkan vaksin sama sekali, risiko komplikasi cacar air justru akan semakin tinggi.

6. Vaksin influenza

Vaksin influenza idealnya diberikan saat anak minimal sudah berumur 6 bulan. Berbeda dengan jenis vaksin lainnya yang hanya diberikan sesuai jadwal, vaksin influenza tidak demikian. Vaksin influenza boleh didapatkan kapan saja. Pemberian vaksin ini juga sebaiknya diulang kembali setiap tahun untuk meencegah anak terkena flu.

7. Hepatitis A

Hepatitis A adalah infeksi virus yang menyebar melalui makanan maupun feses penderitanya. Penyakit hepatitis A bisa menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Itu sebabnya pemberian vaksin hepatitis A harus dilakukan sedini mungkin, tepatnya saat usia anak sudah menginjak 2 tahun.

Pemberian vaksin ini biasanya dilakukan 2 kali dengan jarak 6-12 bulan sekali. Namun, bisa juga didapatkan 2-3 kali per 6-12 bulan bagi anak yang sudah berusia lebih dari 2 tahun.

Bagi anak yang lebih tua dan orang dewasa, vaksin ini bisa diulang setiap 10 tahun sekali. Efektivitas vaksin akan mulai bekerja sekitar 15 hari setelah didapatkan dan akan bertahan selama kurang lebih 20-50 tahun.

8. HPV (human papiloma virus)

Vaksin HPV (human papiloma virus) bisa mulai diberikan ketika anak sudah berusia 10 tahun. Vaksin ini dapat diberikan sebanyak 3 kali dalam rentang usia 10-18 tahun.

Pemberian vaksin ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari virus HPV yang dapat mengakibatkan kanker serviks, penyakit seks menular seperti kutil kelamin, hingga kanker anus dan penis.

Apakah imunisasi pasti membuat anak kebal?

mata bayi belekan

Pertanyaan ini mungkin kerap hadir di benak orangtua yang berencana mendapatkan vaksin untuk buah hatinya. Imunisasi memang ampuh untuk mencegah penularan penyakit.

Anak yang sudah diimunisasi akan sangat jarang sakit karena sistem imunnya sudah diperkuat oleh bantuan vaksin. Meski begitu, perlu dipahami bahwa bahkan setelah anak melengkapi imunisasi wajib, lanjutan, maupun tambahan tetap masih ada kemungkinan kecil untuk terserang penyakit tersebut.

Mendapatkan imunisasi bukan jaminan anak akan sama sekali terhindar dari penyakit karena vaksin tidak otomatis memberikan 100% perlindungan. Artinya, si kecil masih bisa terkena penyakit tapi kondisi dan gejalanya rata-rata jauh lebih ringan dan mudah diatasi ketimbang jika tidak diimunisasi sama sekali.

Lagi-lagi, penting untuk dipahami bahwa bukan berarti imunisasi tersebut gagal atau tidak bekerja optimal. Itu karena keefektian perlindungan yang diberikan dari vaksinasi memang hanya sekitar 80-95 persen.

Mengutip dari laman IDAI, penelitian epidemiologi di Indonesia dan negara-negara lain telah membuktikan manfaat perlindungan dari imunisasi. Ketika ada wabah campak, difteri atau polio seperti baru-baru ini, anak yang sudah mendapat imunisasi lengkap tercatat sangat jarang tertular. Apabila memang sakit karena tertular, biasanya kondisi anak tidak akan terlalu parah sampai membahayakan nyawa.

Sebaliknya, anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi sama sekali biasanya cenderung mengalami sakit yang lebih berat, komplikasi berupa kecacatan, atau bahkan kematian.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca