home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Penyebab Perut Bayi Bunyi dan Kembung Plus Cara Mengatasinya

Penyebab Perut Bayi Bunyi dan Kembung Plus Cara Mengatasinya

Perut bayi bunyi mungkin membuat ibu khawatir dan cemas. Apalagi sampai membuatnya rewel dan sering menangis. Apa sih penyebabnya dan apa yang sebaiknya ibu lakukan jika hal itu terjadi? Yuk, simak penjelasannya di sini ya, Bu.

Penyebab perut bayi bunyi

popok kain bayi

Jika perut bayi bunyi, ibu tidak perlu panik dan khawatir berlebihan ya. Pasalnya, hal tersebut adalah kondisi wajar yang terjadi pada si kecil. Ada beberapa hal yang menyebabkannya.

1. Gerakan usus yang normal

Pada dasarnya, usus manusia melakukan gerakan peristaltik saat mencerna makanan. Gerakan inilah yang menimbulkan suara seperti bunyi “krucuk krucuk” pada bayi.

Bukan hanya pada bayi lho, Bu. Hal ini juga terjadi pada orang dewasa. Cobalah ibu menempelkan telinga ke perut ayah atau si kakak. Dalam keadaan normal sekalipun, terdengar bunyi krucuk-krucuk dari perutnya, kan?

Nah, pada bayi, dinding ususnya cenderung lebih tipis sehingga suara tersebut terdengar lebih nyaring daripada orang dewasa.

Jadi, jika si kecil terlihat baik-baik saja, tidak rewel, dan buang airnya tidak bermasalah, ibu tidak perlu khawatir ya. Ini karena bunyi pada perut bayi itu normal, kok.

2. Bayi menelan udara

Penyebab berikutnya yang dapat membuat perut bayi bunyi adalah si kecil menelan udara. Udara biasanya masuk ke dalam perut pada saat ia menyusu, baik pada payudara ibu maupun melalui botol susu.

Kondisi ini biasanya terjadi jika si kecil tidak menyusui dengan benar atau bentuk ujung dot yang kurang presisi.

Agar si kecil menyusu dengan benar, pastikan seluruh permukaan bibirnya menyentuh lingkaran gelap pada payudara ibu, bukan hanya di putingnya saja.

Selain itu, pastikan ibu menggunakan botol dengan dot anti sedak serta yang menyesuaikan dengan isapan bayi.

Jangan lupa untuk menyendawakan bayi setelah ia menyusu. Caranya dengan menegakkan badan si kecil hingga posisi duduk dalam dekapan ibu. Elus atau tepuk pelan punggungnya hingga keluar bunyi sendawa.

3. Bayi terlalu kenyang

Alasan lainnya mengapa perut bayi bunyi atau kembung adalah bisa jadi ia kekenyangan.

Mungkin ibu memiliki jumlah ASI yang melimpah dan bayi cukup semangat menyusu, akibatnya ia meminum terlalu banyak ASI atau susu formula (overfeeding).

Jika hal ini terjadi, sebagian susu tidak bisa dicerna oleh lambung si kecil. Apalagi, enzim pencernaan si kecil belum berkembang sempurna. Akibatnya sebagian makanan langsung diteruskan ke usus.

Di usus, makanan tersebut terfermentasi oleh bakteri usus sehingga menimbulkan gas yang menyebabkan perut bayi bunyi ataupun kembung.

4. Mengonsumsi MPASI yang mengandung gas

Selain proses menyusui yang kurang tepat, penyebab lainnya yang mungkin terjadi adalah si kecil diberi MPASI yang dapat menimbulkan gas di perut.

Beberapa jenis makanan yang dapat menimbulkan gas adalah:

  • kubis (kol),
  • kembang kol,
  • produk olahan susu, seperti keju dan yoghurt,
  • produk kedelai, seperti susu kedelai, tahu dan tempe,
  • tomat, serta
  • semua jenis jeruk.

Jika mengonsumsi makanan ini, selain membuat perut bayi bunyi, juga dapat menyebabkan perut bayi kembung.

Perhatikan frekuensi buang air besar, bentuk, dan warna BAB si kecil saat perutnya kembung ya. Jika ia sering kentut dan mengalami diare, segera konsultasikan ke dokter, mungkin si kecil perlu penanganan khusus.

Perut bunyi pada bayi yang perlu diwaspadai

kelainan kongenital cacat bawaan pada bayi baru lahir

Seperti penjelasan sebelumnya, pada dasarnya bunyi pada perut bayi itu normal. Namun, ada beberapa kondisi yang sebaiknya ibu waspadai, ya.

Dilansir dari Ikatan Dokter Indonesia, beberapa kondisi berikut dapat menimbulkan gejala perut bayi kembung dan berbunyi.

1. Usus terpuntir

Usus terpuntir atau volvulus adalah kelainan usus bawaan lahir. Kondisi ini menyebabkan penyumbatan pada usus si kecil baik secara total maupun sebagian.

Gejalanya antara lain adalah:

  • perut bayi kembung,
  • muntah berwarna hijau,
  • tidak buang air besar, dan
  • tidak buang angin.

2. Invaginasi

Invaginasi adalah kondisi di mana bagian usus atas terlipat masuk ke bagian yang lebih bawah. Kondisi ini akan menimbulkan gejala berikut:

  • perut kembung,
  • nyeri pada perut,
  • buang air besar disertai lendir dan darah.

3. Atresia usus

Perlu ibu ketahui bahwa pada usus yang normal terbentuk segmentasi pada usus, yaitu sejenis lekukan yang membagi usus menjadi segmen-segmen.

Namun, pada atresia usus, sebagian lekukan tersebut tidak terbentuk. Akibatnya, si kecil mengalami gangguan pencernaan.

Jika mengalami kondisi ini, biasanya bayi akan mengalami perut kembung sejak 24 jam sampai 48 jam setelah lahir.

4. Kelainan usus bagian bawah

Penyebab perut bayi bunyi lainnya adalah hirschprung atau kelainan saraf pada usus bagian bawah.

Pada kondisi ini, tidak terbentuk saraf pada usus bayi bagian bawah. Akibatnya ususnya tidak dapat berkontraksi sebagaimana usus normal.

Gejalanya antara lain adalah:

  • perut bayi kembung,
  • bayi sulit mengejan, dan
  • bila anusnya dicolok, maka kotoran langsung menyembur keluar.

5. Intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana bayi tidak memiliki enzim untuk mencerna laktosa. Laktosa banyak terdapat pada susu sapi, susu kambing dan produk olahan susu lainnya.

Kondisi ini ternyata cukup umum terjadi. Mengutip Medlineplus, diperkirakan sekitar 6 dari 10 anak tidak mampu mencerna laktosa dengan baik.

Jika si kecil mengalami hal ini, sekitar 30 menit sampai 2 jam setelah minum susu, ia akan menunjukkan gejala berikut:

  • perut bayi bunyi seperti suara gemuruh,
  • perut bayi kembung,
  • si kecil rewel dan nampak kesakitan,
  • sering buang angin dan diare,
  • kotoran berbuih dan berbau asam,
  • kadang disertai muntah.

Jika si kecil mengalami gejala di atas, sebaiknya periksakan diri ke dokter untuk mendeteksi apakah ia mengidap intoleransi laktosa. Jika benar, ibu perlu memberikan asupan nutrisi pengganti susu.

6. Pertumbuhan bakteri berlebih

Selain intoleransi laktosa, si kecil juga bisa saja mengalami pertumbuhan bakteri usus yang berlebih (bacterial overgrowth).

Bakteri yang berlebihan akan meningkatkan produksi gas di perut sehingga menyebabkan kembung dan perut bayi bunyi.

Kondisi ini biasanya terjadi pada bayi yang kurang gizi, mengalami gangguan peristaltik usus, serta penggunaan obat antibiotik jangka panjang.

Kapan harus ke dokter saat perut bayi bunyi?

Secara umum, perut bayi bunyi adalah kondisi yang wajar. Namun, sebaiknya ibu segera memeriksakan si kecil ke dokter jika mengalami gejala-gejala berikut:

  • bayi rewel berlebihan tanpa diketahui sebabnya,
  • perut bayi kembung,
  • muntah berwarna hijau,
  • buang air besar berdarah dan berlendir,
  • sakit perut,
  • demam tinggi,
  • diare atau justru tidak bisa buang air besar dan kentut.

Cara mengatasi perut bayi bunyi

bayi 4 bulan belum bisa tengkurap

Jika ibu khawatir akan perut bayi yang bunyi, alangkah lebih baik jika ibu memeriksakannya ke dokter.

Dokter akan melakukan pemeriksaan apakah bunyi itu termasuk normal ataukah akibat gejala penyakit, serta memberikan obat bila diperlukan.

Selain memeriksakan si kecil ke dokter, upaya lain yang dapat ibu lakukan untuk mengatasi perut bayi bunyi antara lain.

  • Pastikan ia menyusu dengan posisi dan cara yang benar.
  • Sendawakan bayi setelah menyusui.
  • Hindari pemberian MPASI yang memicu gas.
  • Hangatkan perut si kecil dengan mengusapnya perlahan menggunakan minyak yang aman.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

IDAI | Kembung Pada Bayi dan Anak. (2017). Retrieved 12 April 2021, from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/kembung-pada-bayi-dan-anak

11 Common Conditions in Newborns. (2021). Retrieved 12 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/Common-Conditions-in-Newborns.aspx

How to Calm a Fussy Baby: Tips for Parents & Caregivers. (2016). Retrieved 12 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/crying-colic/Pages/Calming-A-Fussy-Baby.aspx

Colic (for Parents) – Nemours KidsHealth. (2019). Retrieved 12 April 2021, from https://kidshealth.org/en/parents/colic.html

Conditions, G. (2010). Lactose intolerance: MedlinePlus Genetics. Retrieved 12 April 2021, from https://medlineplus.gov/genetics/condition/lactose-intolerance/#frequency

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Indah Fitrah Yani Diperbarui 15/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x