backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

4

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Mengulik Gejala, Penyebab, dan Perawatan Diare pada Bayi

Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita · General Practitioner · None


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 03/08/2023

Mengulik Gejala, Penyebab, dan Perawatan Diare pada Bayi

Diare adalah gangguan pencernaan yang umum terjadi pada bayi, termasuk yang baru lahir. Namun, jangan sepelekan kondisi ini karena pada bayi di usia dini, risiko komplikasi diare mungkin lebih tinggi dan dapat berakibat fatal. Maka dari itu, orangtua perlu mengetahui penjelasan lengkap serta cara mengatasi mencret atau diare pada bayi seperti di bawah ini.

Apa itu diare pada bayi?

Umumnya, feses bayi yang normal terlihat lembut dan licin. Bukan menjadi hal yang aneh pula ketika bayi baru lahir sering buang air besar setiap kali habis menyusui.

Namun, diare atau mencret pada bayi bisa terlihat ketika ada perubahan saat ia mengeluarkan feses.

Dikutip dari Healthy Children, ada kemungkinan bayi mengalami diare atau mencret saat buang air besar lebih banyak dari biasanya dan terlihat encer.

Tidak menutup kemungkinan feses yang encer atau diare juga bisa terjadi hingga 5—12 kali sehari.

Kondisi ini umum terjadi karena adanya infeksi di saluran pencernaan. Akan tetapi, diare pada bayi juga bisa hilang dengan sendirinya dan tidak berlangsung lama.

Tanda dan gejala diare pada bayi

diare atau mencret pada bayi

Sudah dijelaskan sebelumnya bahwa bayi yang mencret terjadi karena infeksi sistem pencernaan sehingga menyebabkan bayi buang air besar lebih banyak dari biasanya.

Namun, gejala atau ciri-ciri diare pada bayi tidak hanya sebatas buang air besar yang banyak. Berikut ini ada beberapa ciri-ciri lainnya yang paling umum.

1. Buang air terus menerus

Menurut Seattle’s Children Hospital, bayi yang baru lahir memang sering buang air. Namun, Anda bisa membedakan gejala diare pada bayi ini dengan buang air biasa dari frekuensinya.

Bayi yang minum ASI normalnya akan buang air besar sebanyak enam kali dalam sehari. Sementara bayi yang diberi susu formula akan buang air besar sebanyak delapan kali seminggu.

Setelah memasuki usia 2 bulan, frekuensi buang air besar si Kecil akan berkurang. Bayi minum ASI menjadi tiga kali sehari dan bayi minum susu formula menjadi 1—2 kali sehari.

Jika frekuensi buang air besar melebihi batas normal tersebut, bisa jadi ia mengalami mencret pada bayi.

2. Feses cair bahkan berlendir

Feses bayi yang minum ASI memang lunak dan sesekali bisa berair, sedangkan bayi yang minum susu formula, fesesnya jauh lebih padat.

Apabila feses atau BAB anak berlendir, lebih cair, dan mengeluarkan bau lebih busuk, ini merupakan gejala diare pada bayi.

3. Gejala lainnya

Selain tanda di atas, ada kemungkinan ia juga akan mengalami gejala lainnya, seperti berikut ini.

  • Demam pada anak.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Mual dan muntah.
  • Berat badan berkurang.
  • Dehidrasi.

Lalu, Anda juga bisa melihat bayi menjadi lebih rewel karena rasa tidak nyaman pada perutnya.

Perlu diingat!

Ciri-ciri bayi diare atau mencret setiap anak bisa saja berbeda. Ada kemungkinan anak Anda mengalami hal lainnya yang tidak disebutkan di atas. Awasi terus masalah kesehatan anak dan tidak ada salahnya untuk berkonsultasi ke dokter.

Apa saja penyebab diare pada bayi?

pertolongan pertama saat anak kejang

Penyebab bayi yang mengalami mencret tergolong cukup beragam. Umumnya, kondisi ini terjadi karena susu yang diminum atau infeksi kuman pada usus.

Dilansir dari laman Mayo Clinic, penyebab mencret yang mungkin terjadi, antara lain.

1. Infeksi bakteri atau virus

Bayi memiliki sistem imun yang belum terbentuk sempurna. Hal ini menyebabkan ia sangat mudah mengalami infeksi, terutama dari parasit, bakteri, dan virus.

Pasalnya, bayi memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke mulut atau menggigit benda-benda di sekelilingnya.

Apabila tangan atau benda terpapar kuman, sudah pasti kuman masuk ke tubuh dengan mudah dan jadi penyebab diare pada bayi.

Jika bayi buang air besar dan muntah, hal ini biasanya merupakan penyebab mencret akibat infeksi.

Perhatikan ketika ia menunjukkan gejala dehidrasi seperti mulut kering, ganti popok kurang dari enam kali sehari, serta mata cekung karena bisa menjadi sangat berbahaya.

2. Pola makan

Penyebab lainnya saat si Kecil diare adalah pola makan atau asupan susu yang tidak sesuai.

Hal ini biasa terjadi pada bayi yang mengonsumsi susu formula dan mempunyai kondisi intoleransi kandungan laktosa.

Lalu, bayi yang berusia 6 bulan juga seringkali mengalami mencret. Biasanya, ini terjadi karena reaksi dari sistem pencernaan akibat makanan baru seperti MPASI.

3. Memiliki kondisi medis tertentu

Diare pada bayi bisa menjadi tanda adanya masalah medis tertentu. Berikut ini beberapa kondisi medis sehingga menjadi penyebab bayi mencret.

  • Penyakit Celiac yakni penyakit yang menyebabkan tubuh bayi tidak bisa mencerna gluten, seperti gandum, dengan baik.
  • Sindrom iritasi usus besar adalah penyakit yang menandakan usus bayi tidak bisa bekerja secara optimal.
  • Memiliki alergi atau intoleransi pada suatu zat tertentu, contohnya laktosa (gula yang ada pada susu sapi).
  • Penyakit langka seperti cystic fibrosis, gangguan gastrointestinal eosinofilik, penyakit Hirschsprung, dan tumor neuroendokrin.

Guna mengetahui penyebab diare pada si Kecil, dokter akan menanyakan seputar gejala, riwayat kesehatan, bahkan merekomendasikan tes kesehatan seperti tes darah.

Diare bisa menjadi kondisi sangat serius pada bayi. Sebaiknya, Anda memberi tahu dokter jika terjadi perubahan pada saat ia buang air besar.

Diare pada bayi bisa mengakibatkan dehidrasi

Gejala diare dengan dehidrasi pada bayi

Anak serta bayi di bawah usia 3 tahun yang mengalami mencret dapat mengalami dehidrasi.

Diare pada bayi belum sampai tahap dehidrasi jika ia masih terlihat aktif, ceria, dan masih minum air putih meski terus bolak-balik BAB.

Tanda-tanda tersebut menandakan si Kecil kehilangan cairan sekitar 5% dari berat badannya, tapi ini masih terhitung normal.

Namun mengutip laman Kementerian Kesehatan RI, selain mengamati gejala mencret yang umum, orangtua juga wajib bisa mengenali tanda dehidrasi pada bayi.

Berikut penjelassan mengenai gejala dehidrasi pada bayi yang mengalami diare atau mencret.

1. Gejala diare dengan dehidrasi ringan

Saat diare sudah menyebabkan gejala dehidrasi ringan, bayi akan terlihat lebih rewel dari biasanya. Matanya sedikit celong juga terus-terusan minta minum karena kehausan.

Tanda bayi sudah kena dehidrasi ringan akibat diare juga dapat dilihat dan dirasa dari kulitnya. Caranya, cubit lebar dengan pelan kulit perut anak dan tahan 30 detik.

Jika kulit cepat membal kembali dalam 1 detik, turgor masih baik. Sementara jika kembali dalam 2—5 detik, turgor kulit bayi agak kurang.

Turgor adalah penilaian derajat dehidrasi dari seberapa baik elastisitas atau kekenyalan kulit anak. Kondisi ini menandakan si Kecil sudah kehilangan cairan 5—10% dari berat badannya.

2. Gejala diare dengan dehidrasi berat

Dehidrasi berat akibat diare akan membuat bayi terlihat lesu dan lunglai, juga malas minum. Matanya juga sangat cekung.

Tes kulit anak dengan mencubit perutnya perlahan dan lepas setelah 30 detik.

Jika kulit kembali ke kondisi normal dalam 5—10 detik, turgor kurang. Saat lebih dari 10 detik artinya turgor sudah jelek.

Berbagai tanda ini menandakan tubuh anak kehilangan cairan lebih dari 10% dari berat badannya.

Bagaimana cara mengatasi diare pada bayi?

diare pada bayi

Sebenarnya, ada alternatif obat diare atau mencret anak yang bisa diberikan orangtua. Akan tetapi, obat ini hanya boleh diberikan kepada anak usia 2 tahun ke atas.

Sedangkan untuk bayi, perubahan pola makan cukup untuk mengatasi diare atau mencret, tapi pada beberapa kasus ia pun juga membutuhkan obat.

Jangan berikan obat diare untuk bayi kecuali dokter Anda yang meresepkannya.

Maka dari itu, pada usia bayi di bawah 6 bulan akan lebih baik pengobatannya diawasi dokter secara langsung.

Berikut ini perawatan serta cara mengatasi mencret pada bayi, termasuk yang baru lahir.

  • Berikan asupan ASI atau susu formula yang biasa ia konsumsi secara teratur.
  • Jika bayi muntah, Anda mungkin perlu menyusuinya dengan takaran lebih sedikit namun lebih sering.
  • Berikan larutan elektrolit seperti oralit yang direkomendasikan dokter untuk mencegah dehidrasi.
  • Jika Anda memberikan susu formula dan bayi masih diare lebih dari 2 minggu, sebaiknya ganti variannya.
  • Berikan minum air putih lebih banyak pada bayi di atas usia 6 bulan.

Segera bawa ke dokter ketika bayi Anda telah mengalami diare selama lebih 24 jam, atau jika diare berlangsung dengan gejala di bawah ini.

Penting bagi Anda untuk mengobatinya secepat mungkin jika merasa diare disebabkan oleh infeksi.

Perlu dilakukan diagnosis khusus terhadap tanda-tanda infeksi tertentu. Lalu, bayi Anda mungkin butuh dirawat inap untuk pemberian cairan melalui infus.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Damar Upahita

General Practitioner · None


Ditulis oleh Aprinda Puji · Tanggal diperbarui 03/08/2023

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan