Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengapa Bayi Sering Kentut? Ini 6 Penyebab Serta Cara Mengatasinya

Mengapa Bayi Sering Kentut? Ini 6 Penyebab Serta Cara Mengatasinya

Kentut merupakan hal yang umum terjadi termasuk pada bayi. Bahkan, tanpa ibu sadari, si kecil mungkin kentut cukup sering. Tak perlu khawatir berlebihan, berikut adalah penjelasan lengkap untuk menjawab pertanyaan kenapa bayi sering kentut atau kentut terus-menerus.

Tanda bayi sering kentut

Sering atau tidaknya kentut seseorang, termasuk bayi, umumnya tergantung dengan kondisi tubuh serta pola makan. Biasanya, rata-rata bayi kentut sekitar 15 – 40 kali dalam sehari.

Berikut adalah beberapa tanda serta gejala lain saat bayi sering buang gas, seperti:

  • tak hanya sering, bunyi kentut juga cukup keras,
  • perut kembung sehingga membuat anak rewel, dan
  • ada suara gemuruh pada perut bagian bawah.

Penyebab bayi sering kentut

bayi sering kentut

Dalam istilah medis, Anda dapat menyebut kentut sebagai flatus. Mengutip dari Kids Health, flatus adalah kondisi saat gas yang berada dalam sistem pencernaan dan keluar melalui anus.

Saat gas masuk ke dalam perut lalu terperangkap, inilah yang membuat bayi mengalami masuk angin serta kembung.

Padahal, gas tersebut seharusnya keluar baik melalui proses kentut maupun sendawa.

Jadi, dapat dikatakan penyebab utama bayi yang kentut terus menerus adalah karena banyaknya angin atau gas yang masuk ke dalam perut.

Untuk lebih jelasnya, berikut penyebab bayi menjadi sering buang gas.

1. Masuknya udara ke dalam tubuh

Ini merupakan penyebab utama kenapa bayi menjadi sering kentut. Perlu orangtua ketahui bahwa saat proses menyusui, ia kerap menelan sejumlah kecil udara yang masuk.

Hal ini membuat udara terserap ke dalam aliran darah sampai ke usus sehingga membuat perut kembung yang kemudian dikeluarkan lewat kentut.

2. Sering menangis

Ketika si kecil rewel atau mengalami kolik, hal ini juga bisa menjadi penyebab bayi sering kentut. Ini karena saat menangis ia menelan udara.

Apabila perutnya menjadi kembung setelah menangis, kemungkinan bayi akan kentut terus-menerus. Hal yang bisa ibu lakukan adalah membantunya untuk bersendawa.

3. Saluran pencernaan belum matang

Berbeda dengan orang dewasa, saluran pencernaan bayi baru lahir masih membutuhkan adaptasi. Di dalamnya pun belum ada bantuan bakteri baik yang dapat membantu melancarkan proses pencernaan.

Hal ini membuat perutnya masih terlalu sensitif sehingga ia pun menjadi kentut terus-menerus.

4. Gangguan pencernaan

Sebagian bayi kerap mengalami gangguan pencernaan seperti sembelit. Ketika hal ini terjadi, perut bayi menjadi penuh dan kencang hingga membuatnya jadi sering kentut.

5. Tidak banyak bergerak

Dalam beberapa bulan kehidupannya, sebagian besar bayi lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, berbaring, dan tidak terlalu banyak bergerak.

Ternyata, hal ini dapat menyebabkan bayi sering kentut karena gas menumpuk di dalam perut.

6. Mencoba makanan baru

Seiring berjalannya waktu, si kecil akhirnya masuk ke dalam fase MPASI. Pada masa awal perkenalan makanan baru, mungkin saja bayi menjadi lebih sering buang gas.

Penyebabnya adalah karena jenis makanan baru yang ia konsumsi sehingga masih dalam tahap adaptasi atau ia tidak cocok dengan jenis makanan tertentu.

Cara mengatasi bayi yang sering kentut

bayi sering kentut

Berikut adalah cara yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasi si kecil yang sering kentut serta mengurangi gas yang menumpuk, seperti:

1. Mengubah posisi menyusui

Saat menyusui, baik melalui payudara atau pun botol coba untuk menjaga posisi kepala bayi lebih tinggi dari perutnya.

Posisi menyusui ini perlu ibu lakukan agar susu lebih mudah masuk ke dalam perut dan udara mengalir ke atas sehingga nantinya ia mudah bersendawa.

Apabila menggunakan botol susu, coba untuk memperlambat aliran susu sehingga ia menelan lebih sedikit udara.

2. Membantu anak bersendawa

Agar bayi tidak terlalu sering kentut dan mencegah kembung, bantu ia untuk bersendawa setelah ia selesai menyusu.

Apabila ia tidak bisa langsung bersendawa, baringkan dalam posisi telentang selama beberapa menit.

Kemudian, sendawakan sambil menepuk pelan punggungnya.

3. Pijat area perut

Memijat area perut, kaki, punggug, serta perut dengan teknik tertentu dapat membantu anak menjadi lebih rileks.

Tak hanya itu saja, pijat bayi juga dapat membantu meredakan perut kembung yang membuatnya jadi lebih sering buang gas.

Tekan perut secara pelan dengan gerakan memutar untuk membantu mengeluarkan gas berlebih.

Kapan ibu perlu membawa anak ke dokter?

Pada bayi, sering kentut adalah hal yang normal terjadi. Akan tetapi, ada suatu kondisi yang membuat orangtua sebaiknya segera membawa anak ke dokter, seperti:

  • bayi menangis terus menerus karena sakit perut hingga kolik,
  • ada darah pada kotoran,
  • sembelit cukup lama,
  • diare,
  • demam, atau
  • muntah disertai dengan penurunan berat badan.

Segera bawa si kecil ke dokter jika melihat satu atau lebih gejala di atas ya, Bu.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Flatulence | betterhealth.vic.gov.au. (2021). Retrieved 8 April 2021, from https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/ConditionsAndTreatments/flatulence

What’s a Fart? (for Kids) – Nemours KidsHealth. (2021). Retrieved 8 April 2021, from https://kidshealth.org/en/kids/fart.html

Passing wind or flatulence. (2021). Retrieved 8 April 2021, from https://raisingchildren.net.au/guides/a-z-health-reference/wind

Blog, P. (2021). What’s causing gas in my breastfed baby? | Pavilion for Women. Retrieved 8 April 2021, from https://women.texaschildrens.org/blog/whats-causing-gas-my-breastfed-baby

Breaking Up Gas. (2021). Retrieved 8 April 2021, from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Breaking-Up-Gas.aspx

Colic – Stanford Children’s Health. (2021). Retrieved 8 April 2021, from https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=colic-90-P01985

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Atifa Adlina Diperbarui 09/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita