home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenali Ciri Gangguan Emosional dan Perilaku pada Anak

Mengenali Ciri Gangguan Emosional dan Perilaku pada Anak

“Apakah anak saya mengalami gangguan emosional dan perilaku?” Pertanyaan ini kadang diajukan Anda para orangtua yang mengalami dilema melihat perilaku buah hati Anda, yang harusnya terlihat anteng dan manis tetapi malah bersikap sebaliknya. Semua anak pada dasarnya akan mengalami periode masa nakal, tetapi bagaimana jika kenakalannya berada di luar batasan normal? Seperti marah dengan emosi yang meledak-ledak? Berteriak kepada orang yang lebih tua (khususnya orangtua sendiri)? Atau suka melempar sesuatu, seperti mainan di rumah dan di sekolah?

Baiknya Anda simak penjelasan mengenai gangguan emosional perilaku pada yang mungkin saja menimpa anak Anda seperti di bawah ini.

Apa itu gangguan emosional dan perilaku?

Anak yang mengalami gangguan emosional dan perilaku juga disebut sebagai anak tunalaras. Ketika mengalami gangguan ini, anak mengalami keadaan emosional yang tidak stabil. Saat berinteraksi dan berada di lingkungan sosial, perilakunya akan sangat mengganggu di muka umum.

Ada 5 ciri yang menggambarkan anak yang mengalami gangguan perilaku, antara lain:

  1. Tidak mampu belajar yang bukan disebabkan oleh faktor kesehatan seperti cacat indera atau fisik lainnya. Anak ini, pada dasar fisiknya baik-baik saja, yang menghambat adalah keadaan psikologisnya
  2. Tidak bisa menjalin hubungan atau pertemanan dengan teman sebaya, bahkan orangtua dan gurunya di sekolah. Karena perilakunya yang labil, emosional, dan berubah-ubah, anak menjadi individualis karena lingkungannya tidak bisa menerima keadaan anak tersebut.
  3. Perasannya suka tidak normal, berubah-ubah tidak jelas tanpa sebab nyata dan pasti.
  4. Mood mudah terganggu atau terdistraksi, kadang marah, depresi, kecewa. Intinya emosionalnya labil.
  5. Cenderung takut sendiri karena masalah pribadi dan di sekolah, maka akan mengeluarkan emosi dan perilaku seperti, menangis dan mengamuk. Jika ditanyakan alasannya, akan menyinggung perihal masalah pribadi dan hal di sekolahnya.

Apa yang harus saya lakukan jika anak saya memiliki ciri dan tanda gangguan emosional dan perilaku seperti di atas?

Sebelum Anda mengambil seribu langkah ke depan mengenai kondisi buah hati Anda yang meragukan, baiknya Anda evaluasi dulu situasi dan lingkungan buah hati Anda.

  • Baiknya, Anda berbicara dan bertanya pada teman, kerabat atau guru anak Anda di sekolah. Apa mereka melihat perilaku yang sama dari anak Anda?
  • Ketika pada masa perkembangan yang sulit pada anak, Anda harus mencari cara demi mendukung anak melalui masa-masa sulit yang harusnya bisa teratasi dengan baik dalam tahapan normal.
  • Cermati, dan cari tahu apakah usia anak Anda masih cukup normal memiliki perilaku dan emosional yang labil? Amati dengan anak-anak seusianya. Pada tahapan yang normal, anak usia 8 tahun ke atas harusnya sudah cukup labil emosi dan perilakunya.

Pertimbangkan juga beberapa faktor yang mungkin luput dari perhatian dan kesadaran Anda para orangtua

Tidak serta merta kondisi ganguan mental dan perilaku anak Anda hadir dan muncul begitu saja tanpa sebab. Cek, apakah faktor lainnya bisa terjadi karena Anda, lingkungan atau yang lainnya? Seperti contoh di bawah ini:

  • Kondisi fisiknya memang bermasalah, seperti adanya alergi yang berdampak pada kestabilan emosionalnya. Obat-obatan yang dikonsumsi anak, nyatanya juga dapat berpengaruh pada perilaku.
  • Masalah di sekolah kadang terbawa hingga ke rumah. Ketika anak sulit mengerjakan tugas atau memahami pelajaran, hal itu juga perlu dicermati, karena berdampak menimbulkan stress tambahan pada anak.
  • Menggunakan narkoba atau alkohol. Jangan salah, usia berapapun dapat tercemar oleh penyimpangan sosial ini. Perhatikan dan pantau lingkungannya.
  • Keluarga Anda yang bermasalah. Faktor ini juga merupakan faktor umum yang wajar dialami anak yang mengalami gangguan emosional dan perilaku. Seperti, perceraian atau perpisahan orang tua, cemburu mempunyai adik baru, merasa tidak adil orangtuanya memberikan kasih sayang, dan trauma pada kehilangan sosok sesorang yang berarti, atau kematian.

Bila memang Anda yakin dan menyadari anak Anda mengalami gangguan emosional dan perilaku, mungkin ini saatnya Anda berkonsultasi ke ahli atau terapi yang bisa menjadi salah satu solusi “menyembuhkan” buah hati. Pengobatan yang bisa Anda lakukan akan tergantung dengan kondisi dan faktor dari gangguan si anak. Seperti terapi perilaku koginitif, dengan tujuan membantu anak mengendalikan pikiran dan perilaku mereka.

Lalu ada juga pendidikan yang perlu dijalani oleh orang tua, jika faktor tersebut disebabkan oleh komunikasi orangtua yang buruk kepada anak. Dan yang terakhir dengan bantuan obat-obatan, jika memang anak Anda mengalami perilaku impulsif yang disebabkan oleh kesalahan pada tubuh anak Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Does My Child Have  an Emotional or Behavioral Disorder? http://www.pacer.org/cmh/does-my-child-have-an-emotional-or-behavioral-disorder/ Diakses pada 2 Maret 2017

Mental Illnes in Children http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/mental-illness-in-children/art-20046577 Diakses pada 2 Maret 2017

Behavioural Disorder in Children https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/behavioural-disorders-in-children Diakses pada 2 Maret 2017

Foto Penulis
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 08/03/2017
x