Ingin berbagi cerita soal anak? Ikut komunitas Parenting sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Kenali Tanda dan Cara Mengatasi Anak Hiperaktif

Jangan salah sangka, tidak semua anak yang terlalu aktif itu hiperaktif lho, Bu! Banyak orangtua mengira bahwa anaknya masuk kategori hiperaktif padahal mungkin hanya aktif saja. Agar tidak keliru, yuk cari tahu tanda dan cara mengatasi anak hiperaktif.

Tanda anak hiperaktif

menenangkan anak hiperaktif

Mengutip dari Understood, hiperaktif adalah kondisi ketika anak terus aktif tidak melihat waktu, situasi, dan suasana sekitar.

Berikut beberapa tanda anak hiperaktif, yaitu:

  • Berlari dan berteriak saat main meski berada di dalam ruangan.
  • Berdiri di tengah kelas dan berjalan-jalan ketika guru sedang bicara.
  • Bergerak dengan cepat sampai menabrak orang lain atau barang-barang
  • Bermain terlalu kasar sampai melukai anak lain bahkan diri sendiri
  • Bicara terus menerus
  • Sering mengganggu orang lain
  • Bergerak meski sedang duduk
  • Gelisah dan ingin mengambil mainan
  • Kesulitan untuk fokus dan duduk diam saat makan atau bermain

Kondisi ini menyebabkan banyak masalah karena anak yang hiperaktif tidak dapat berkonsentrasi, baik di sekolah maupun di tempat kerja.

Hiperaktivitas juga bisa menyebabkan masalah dalam hubungannya dengan orang-orang sekitar seperti teman, keluarga, guru, dan rekan kerja.

Lambat laun, orang yang hiperaktif berisiko mengalami gangguan kecemasan atau depresi karena kondisi tersebut serta reaksi dari orang lain terhadap dirinya.

Hiperaktif sering dikaitkan dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) alias gangguan defisit atensi hiperaktivitas.

Keduanya adalah kondisi yang berbeda, tapi hiperaktif menjadi salah satu tanda dari gangguan tumbuh kembang anak jenis ADHD.

Apa penyebab anak hiperaktif?

anak hiperaktif

Hiperaktif adalah gejala dari masalah lain, termasuk penyakit mental dan fisik. Jadi, hiperaktivitas itu sendiri merupakan kondisi, bukan suatu penyakit yang berdiri sendiri. Penyebab paling umum anak hiperaktif adalah:

  • ADHD (gangguan defisit atensi/ hiperaktivitas),
  • hipertiroidisme,
  • gangguan otak dan gangguan saraf pusat, serta
  • gangguan psikologis.

Apabila hiperaktif disebabkan oleh kondisi gangguan tiroid, gangguan otak, atau gangguan saraf pusat, anak akan memerlukan pengobatan untuk mengatasi kondisi tersebut.

Sementara kalau hiperaktif disebabkan oleh gangguan emosional, anak akan memerlukan bantuan dari spesialis kesehatan mental bersamaan dengan pengobatan atau terapi perilaku kognitif.

Penanganan kondisi hiperaktif membutuhkan dukungan dan bantuan dari orang-orang di sekitar anak, terutama keluarga.

Cara mengatasi anak hiperaktif

benarkah gula membuat anak hiperaktif

Mengatasi anak hiperaktif membutuhkan kesabaran agar Anda bisa mengendalikannya dengan cara yang tepat.

Orangtua perlu memperhatikan perilaku yang tidak biasa atau tidak sopan pada anak. Kalau itu terjadi sesekali dalam situasi tertentu, hal ini bisa jadi masih terbilang normal.

Namun kalau anak terlihat kesulitan berkonsentrasi di sekolah dan di rumah secara konisten, orangtua perlu mengetahui cara menenangkan yang tepat.

Berikut beberapa cara mengatasi anak hiperaktif:

1. Jauhkan dari hal yang mengganggu konsentrasi

Anak hiperaktif sangat sulit berkonsentrasi. Maka, sangat penting untuk orangtua mengatur suasana yang nyaman saat si kecil mengerjakan PR atau tugas harian di rumah.

Hindari untuk memaksanya untuk duduk tenang, karena hal ini justru akan membuat ia semakin gelisah.

Untuk mengurangi distraksi yang bisa mengganggu konsentrasi, tempatkan anak jauh dari jendela, pintu, atau segala hal yang bisa menjadi sumber kebisingan.

2. Jadwalkan olahraga

Aktivitas fisik atau berolahraga bisa menjadi cara untuk menjaga keseimbangan konsentrasi anak hiperaktif. Olahraga yang bisa menjadi pilihan yaitu, bersepeda, berlari, atau karate.

Ini membantu anak untuk belajar mengatur energi, belajar disiplin, dan kontrol diri.

Orangtua juga bisa mengajaknya masuk ke tim sepak bola atau basket yang membuat anak belajar berinteraksi dengan anak lain. Kegiatan ini baik untuk mengasah keterampilan sosial si kecil.

3. Buat jadwal yang terstruktur

Anak hiperaktif membutuhkan arahan yang jelas dan pola terstruktur untuk ia ikuti. Mengapa demikian?

Alasanny yaitu karena anak memiliki kecenderungan cepat cemas ketika tidak melakukan apa-apa.

Oleh karena itu, buatlah jadwal kegiatan yang sederhana dan terstruktur di rumah. Sebagai contoh, menentukan waktu untuk mandi, makan, bermain, belajar, sampai tidur dan sikat gigi.

Jadwal yang tersusun dan terencana dengan baik, otak si kecil akan belajar menerima sesuatu yang lebih terstruktur.

Diharapkan ini akan membuatnya lebih tenang dan fokus untuk melakukan sesuatu.

4. Membuat peraturan yang jelas dan konsisten

Beberapa orang tua memang memiliki caranya sendiri untuk mendidik anak. Ada yang mungkin menetapkan banyak peraturan, ada pula yang lebih santai.

Namun sayangnya, anak hiperaktif tidak bisa dididik dengan cara yang santai. Mereka umumnya membutuhkan peraturan yang jelas dan konsisten.

Itu sebabnya, penting untuk menerapkan disiplin positif dan sederhana di rumah.

Berikan pujian ketika si kecil memahami dan menuruti peraturan dan arahan yang diberikan.

Namun, ketika anak melanggar aturan tersebut, jangan lupa berikan konsekuensi dengan alasan yang jelas.

5. Bermain di luar rumah

Menghirup udara segar dan melakukan aktivitas fisik di luar ruangan membantu anak menggunakan energinya untuk kegiatan positif.

Kegiatan yang bisa dilakukan seperti berkemah, berjalan-jalan santai, atau hiking.

6. Redam amarah dan rasa kesal

Anak hiperaktif sering membuat orangtua kesal. Ia bisa menunjukkan perasaan dengan sangat jelas dan gamblang, entah itu kegembiraan atau ledakan kemarahan secara tiba-tiba saat suasana hatinya memburuk.

Meski begitu, orangtua disarankan untuk tetap tenang dan sabar. Hindari membentak anak, dan memberikan hukuman fisik pada anak. Ingat, Anda ingin mengajarkan mereka untuk lebih tenang dan tidak agresif bukan?

Jika Anda membentak atau memberikan hukuman fisik padanya, hal ini justru akan membuat kemarahan si kecil semakin tidak terkendali.

Untuk membuat diri lebih rileks, coba ambil napas dalam-dalam lalu embuskan secara perlahan selama beberapa kali sampai merasa tenang.

8. Berikan makan makanan bergizi

Beberapa orang beranggapan bahwa konsumsi gula berlebih akan menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Padahal, tidak demikian.

Sampai saat ini belum ada penelitian yang terbukti secara ilmiah bahwa gula bisa menyebabkan seseorang jadi hiperaktif. Meski begitu, konsumsi gula bisa memengaruhi perilaku seseorang.

Gula merupakan karbohidrat sederhana yang mudah diserap oleh tubuh tapi bisa membuat peningkatan dan penurunan kadar darah dalam tubuh dengan cepat.

Pada anak, penurunan kadar gula darah yang tiba-tiba ini dapat mengakibatkan ia menjadi rewel karena tubuh seolah-olah kekurangan energi dan sel-sel tubuh kelaparan. Hal inilah yang justru membuat perilaku dan suasana hati si kecil menjadi tidak stabil.

Itu sebabnya, penting bagi orangtua untuk memperhatikan makanan anak sesuai gizi balita sehari-sehari.

Penuhi asupan nutrisinya dengan gizi yang seimbang dari buah dan sayuran. Selain itu, hindari pula makanan olahan pada anak.

Pusing setelah jadi orang tua?

Ayo gabung di komunitas parenting Hello Sehat dan temukan berbagai cerita dari orang tua lainnya. Anda tidak sendiri!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Hyperactivity: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2020). Retrieved 11 September 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/003256.htm

Understanding Your Child’s Hyperactivity. (2020). Retrieved 11 September 2020, from https://www.understood.org/en/learning-thinking-differences/child-learning-disabilities/hyperactivity-impulsivity/understanding-your-childs-trouble-with-hyperactivity

Krummel, D., Seligson, F., Guthrie, H., & Gans, D. (1996). Hyperactivity: Is candy causal?. Critical Reviews In Food Science And Nutrition36(1-2), 31-47. doi: 10.1080/10408399609527717

Ask an expert: Active or ADHD – what’s the difference? | Providence Oregon . (2020). Retrieved 11 September 2020, from https://oregon.providence.org/forms-and-information/a/ask-an-expert-active-or-adhd-whats-the-difference/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Riska Herliafifah Diperbarui 7 hari lalu
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Sp.A