home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Ingin Menjadi Seorang Vegan? Pastikan Anda Tidak Mengalami Kondisi Ini

Ingin Menjadi Seorang Vegan? Pastikan Anda Tidak Mengalami Kondisi Ini

Pola makan vegan yang hanya makan makanan nabati sering disebut sebagai gaya hidup paling sehat. Namun, ternyata tidak semua orang boleh menjadi seorang vegan. Ada sejumlah kondisi kesehatan yang membuat Anda tidak disarankan untuk menjalani gaya hidup ini.

Apa perbedaan menjadi seorang vegan dan vegetarian?

Gaya hidup vegan berbeda dengan vegetarian. Seorang vegetarian terkadang masih mengonsumsi ikan, susu, atau telur.

Vegan sama sekali tidak mengonsumsi telur, susu, ikan, madu, atau bahkan menggunakan produk yang dibuat dari bulu dan kulit hewan.

Menjalani pola makan vegetarian atau vegan bisa jadi menyehatkan, tapi Anda tetap berisiko kekurangan sejumlah nutrisi.

Anda harus mencari alternatif lain untuk memenuhi asupan protein, zat besi, kalsium, dan vitamin B12 yang sebenarnya lebih banyak terdapat pada sumber hewani.

Mengutip laman Vegan, protein dapat diperoleh dari kacang-kacangan dan biji-bijian. Sementara itu, ketika menjadi seorang vegan, kalsium juga bisa didapatkan dengan mengonsumsi brokoli, tahu, dan sari kedelai.

Zat besi banyak terdapat dalam bayam, produk kedelai, dan kacang polong. Sementara vitamin B12 diperoleh dari makanan yang diperkaya atau suplemen.

Anda sebaiknya tidak menjadi seorang vegan jika….

Ada beberapa alasan yang mendasari seseorang untuk menjadi vegan. Gaya hidup ini dinilai dapat melindungi hewan, lebih ramah lingkungan, serta menurunkan risiko penyakit jantung, kanker usus besar, diabetes, penyakit ginjal, hipertensi, dan obesitas.

Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang membuat Anda tidak dapat menjalani gaya hidup vegan. Berikut di antaranya.

1. Kekurangan vitamin B12

Bagi orang yang mengalami kekurangan vitamin B12, menjalani pola makan vegan akan terasa lebih berat karena hampir seluruh sumber vitamin B12 berasal dari hewan.

Anda perlu mengonsumsi suplemen atau makanan yang telah diperkaya dengan vitamin B12 untuk mencegah kondisi ini bertambah parah.

2. Kekurangan zinc

Vegetarian dan vegan berisiko lebih besar mengalami kekurangan zinc karena kandungan fitat pada sayuran dapat mengganggu penyerapan mineral.

Kekurangan zinc bahkan dapat bertambah parah jika Anda menghentikan konsumsi makanan hewani sama sekali.

3. Alergi kedelai

Kedelai digunakan pada berbagai produk makanan vegetarian dan vegan. Akan sulit untuk menjadi seorang vegan jika Anda mengalami alergi terhadap protein pada kedelai.

Dampaknya, pilihan makanan yang dapat Anda konsumsi menjadi sangat terbatas.

4. Alergi kacang

Seperti kedelai, kacang pun digunakan sebagai bahan baku camilan vegetarian dan vegan. Alergi kacang yang parah dapat menimbulkan reaksi berbahaya bagi tubuh.

Jika Anda tidak sengaja mengonsumsi makanan vegan yang mengandung kacang, kondisi ini bahkan bisa berakibat fatal.

5. Menderita irritable bowel syndrome (IBS)

Makanan vegan terdiri atas sayuran, buah-buahan, dan bahan nabati lainnya yang kaya serat. Asupan serat yang tinggi dapat memicu gejala pada penderita IBS.

Sebuah penelitian pada tahun 2017 turut menunjukkan bahwa pola makan vegetarian berhubungan dengan gejala penyakit ini.

Beragam kondisi di atas sebenarnya tidak seutuhnya menghalangi Anda untuk menjadi seorang vegan. Namun, Anda harus benar-benar memerhatikan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.

Bila Anda ingin menjalani gaya hidup vegan dengan kondisi tersebut, langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah berkonsultasi dengan dokter.

Pastikan Anda mengetahui risiko kesehatan yang mungkin muncul agar gaya hidup vegan yang menyehatkan tidak merugikan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

About Veganism. https://vegan.org/about-veganism/ Diakses pada 26 April 2019.

Is a vegetarian or vegan diet for you? https://www.health.harvard.edu/staying-healthy/is-a-vegetarian-or-vegan-diet-for-you Diakses pada 26 April 2019.

10 things that might prevent you from going vegan. https://www.thisisinsider.com/reasons-you-cant-be-vegan-2018-9#you-have-irritable-bowel-syndrome-5 Diakses pada 26 April 2019.

Veganism in a Nutshell. https://www.vrg.org/nutshell/vegan.htm#what Diakses pada 27 April 2019.

Buscail, C., Sabate, J., Bouchoucha, M., Torres, M., Allès, B., Hercberg, S., Benamouzig, R. and Julia, C. (2017). Association between self-reported vegetarian diet and the irritable bowel syndrome in the French NutriNet cohort. PLOS ONE, 12(8), p.e0183039.


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari
Tanggal diperbarui 05/05/2019
x