home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hanya Minum Susu untuk Sarapan, Sehatkah Kebiasaan Ini?

Hanya Minum Susu untuk Sarapan, Sehatkah Kebiasaan Ini?

Pada pagi hari, banyak orang memilih minum susu untuk dijadikan sarapan. Hal ini dilakukan karena susu sangat praktis, cepat untuk disiapkan, dan cukup mengenyangkan. Namun, apakah kebiasaan ini sehat? Berikut penjelasannya.

Kandungan nutrisi dalam susu

susu memicu asma

Sebelum membahas lebih lanjut minum susu untuk sarapan sebenarnya sehat atau tidak, sebaiknya kenali dulu kandungan nutrisi di dalam susu.

Data Komposisi Pangan Indonesia dari Kementerian Kesehatan merilis, susu mengandung protein dan beragam vitamin dan mineral. Berikut ini adalah kandungan dalam 100 gram susu sapi segar.

  • Kalori: 61 kal
  • Protein: 3,2 gr
  • Lemak: 3,5 gr
  • Kabohidrat: 4,3 gr
  • Kalsium: 143 mg
  • Fosfor: 60 mg
  • Vitamin A: 39 mcg
  • Beta-Karoten: 12 mcg
  • Vitamin B2: 0,18 mg
  • Vitamin C: 1 mg

Susu juga mengandung mineral lainnya yang tak kalah penting seperti zat besi, kalium, tembaga, dan zinc.

Sehatkah jika sarapan hanya minum susu?

susu untuk anak alergi susu sapi

Susu memang bisa menjadi pilihan sarapan yang sehat, mengingat minuman yang satu ini mengandung banyak gizi dan vitamin yang sangat baik untuk kesehatan tubuh. Kandungan nutrisinya dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian Anda.

Baik susu biasa maupun susu rendah lemak bisa memberikan energi yang akan bantu Anda menjalani aktivitas sehari-hari.

Susu mengandung protein kasein dan whey yang mana membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Sehingga, kadar asam amino dalam darah meningkat dan energi yang Anda dapatkan bisa bertahan lebih lama.

Asam amino sendiri merupakan senyawa organik pembangun protein yang membentuk sekitar 75% dari tubuh manusia.

Asam ini terlibat dalam hampir seluruh fungsi tubuh, tak hanya dalam penyediaan energi tapi juga dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh serta kelancaran pencernaan.

Namun, bila Anda hanya minum susu saja untuk menu pagi hari apalagi secara rutin tidaklah disarankan. Sebab, meski awalnya Anda merasa kenyang, gula dalam susu dapat membuat Anda lebih cepat lapar lagi.

Maka dari itu, minumlah susu dengan tambahan makanan lain yang tak kalah sehat guna memenuhi kebutuhan nutrisi pagi hari yang lebih lengkap.

Seperti apa seharusnya sarapan yang sehat?

sarapan sehat
Sumber: Kitchen Stories

Serupa seperti menu makan di waktu lainnya, menu sarapan yang sehat idealnya harus terdiri atas jenis zat gizi makro seperti protein, karbohidrat, serat, dan lemak.

Untuk karbohidrat, Anda bisa mendapatkannya dari makanan yang terbuat dari biji-bijian utuh atau sayuran yang tinggi karbo. Beberapa contohnya adalah roti gandum, sereal gandum, atau kentang.

Untuk proteinnya, pilihlah protein yang rendah akan kandungan lemak, misalnya telur dan kacang-kacangan.

Selanjutnya, lengkapi menu Anda dengan buah dan sayuran. Cobalah membuat smoothies dari perpaduan keduanya tanpa tambahan gula.

Pilihan lemaknya sendiri, tak melulu harus minum susu, Anda bisa menggantinya dengan yogurt atau keju rendah lemak seperti keju cottage sebagai selingan menu pagi hari.

Kapan waktu terbaik untuk minum susu?

Bila bicara tentang waktu terbaik untuk minum susu, ini tergantung dari apa tujuan Anda.

Bila untuk membantu cepat terlelap, susu baik Anda konsumsi pada malam hari menjelang tidur. Bukan minum susu saat sarapan.

Alasannya, susu mengandung triptofan dan melatonin yang bisa memberikan efek penenang. Bila disajikan dalam keadaan hangat, kedua komponen tersebut akan bekerja lebih aktif.

Adapun bagi seseorang yang sedang menurunkan berat badan dan melakukan penambahan otot, minum susu jangan dilakukan saat sarapan, tetapi bisa dilakukan setelah berolahraga.

Pasalnya, minuman kaya protein seperti susu dapat meningkatkan metabolisme dan meningkatkan rasa kenyang setelah makan.

Dengan demikian, seseorang tidak akan makan banyak makanan yang otomatis mengurangi masuknya kalori ke dalam tubuh.

Selain itu, minum susu setelah olahraga pun dapat mendukung pertumbuhan otot dan peningkatan komposisi tubuh. Namun, jangan mengonsumsinya terlalu banyak karena malah akan menyebabkan kenaikan berat badan.

Selain hal tersebut, susu pun diklaim baik untuk sistem pencernaan. Meski demikian, tidak ada ketentuan waktu yang tepat, apakah saat sarapan atau waktu lainnya, untuk minum susu bagi yang ingin meningkatkan kesehatan sistem pencernaan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Healthy Breakfast: Quick, Flexible Options. (2020). Mayo Clinic. Retrieved 6 April 2021, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/food-and-nutrition/art-20048294

A Doctor’s Recipe for A Healthy Breakfast. (2017). Harvard Health Publishing. Retrieved 6 April 2021, from https://www.health.harvard.edu/blog/a-doctors-recipe-for-a-healthy-breakfast-2017100612479

Rumbold, P., Shaw, E., James, L. and Stevenson, E., 2015. Milk Consumption Following Exercise Reduces Subsequent Energy Intake in Female Recreational Exercisers. Nutrients, 7(1), pp.293-305. Retrieved 6 April 2021.

dela Peña, I., Hong, E., de la Peña, J., Kim, H., Botanas, C., Hong, Y., Hwang, Y., Moon, B. and Cheong, J., 2015. Milk Collected at Night Induces Sedative and Anxiolytic-Like Effects and Augments Pentobarbital-Induced Sleeping Behavior in Mice. Journal of Medicinal Food, 18(11), pp.1255-1261. Retrieved 6 April 2021.

 

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh Ihda Fadila
Tanggal diperbarui 22/11/2020
x