backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan
Konten

Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri · General Practitioner · Integrated Therapeutic


Ditulis oleh Annisa Hapsari · Tanggal diperbarui 22/03/2024

Penyakit Jantung Koroner (PJK)

Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Salah satu jenis penyakit kardiovaskular yang cukup umum terjadi adalah penyakit jantung koroner.

Lalu, apa pengertian dari penyakit jantung koroner? Bagaimana penyakit ini bisa terjadi? Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Apa itu penyakit jantung koroner?

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi ketika aliran darah menuju ke jantung terhambat atau tersumbat. Terkadang, penyakit ini juga disebut penyakit arteri koroner.

PJK disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri. Hal ini terjadi karena ada penumpukan kolesterol yang membentuk plak di dalam arteri.

Proses penyempitan dinding pembuluh arteri yang berlangsung lama ini disebut aterosklerosis.

Ketika plak kolesterol pecah, akan terbentuk gumpalan-gumpalan darah yang menyumbat arteri koroner dan menghambat aliran darah yang kaya akan oksigen menuju jantung. 

Kondisi ini disebut sebagai serangan jantung. Itu artinya, penyakit jantung koroner adalah salah satu penyebab serangan jantung. 

Jika tidak segera diobati, PJK bisa melemahkan otot jantung sehingga menimbulkan komplikasi, seperti gagal jantung dan aritmia (gangguan irama jantung).

Penyakit jantung koroner bisa dialami oleh siapa saja. Penelitian dalam jurnal BMJ Open (2020) menyebut sekitar 1,45% penduduk Indonesia pada usia kerja mengidap PJK.

Tanda dan gejala penyakit jantung koroner

nyeri dada sebelah kiri dan kanan yang hilang timbul

Pada tahapan awal, PJK umumnya tidak langsung menimbulkan gejala. Namun, seiring berjalannya waktu, ada beberapa gejala penyakit jantung koroner yang perlu Anda waspadai.

1. Angina

Angina merupakan nyeri dada intens yang terjadi karena otot jantung tidak mendapat cukup pasokan darah kaya oksigen. Rasa sakitnya mirip dicubit atau dada tertindih benda berat.

Sensasi ini bisa menyebar ke pundak, leher, rahang, dan punggung kiri. Rasa nyeri bisa muncul dan menjadi lebih parah saat Anda melakukan aktivitas berat, misalnya berolahraga.

Gejala angina pada wanita mungkin berbeda. Wanita cenderung merasakan nyeri spesifik di bawah dada dan perut bagian bawah.

2. Keringat dingin dan mual

Ketika pembuluh darah menyempit, otot jantung akan kekurangan oksigen. Lama-kelamaan, hal ini dapat menyebabkan suatu kondisi yang disebut iskemia.

Kondisi ini akan memicu suatu sensasi yang sering digambarkan sebagai keringat dingin. Selain itu, iskemia juga dapat menyebabkan reaksi mual dan muntah.

3. Sesak napas

Jantung yang tidak berfungsi normal akan kesulitan memompa darah ke paru-paru sehingga Anda pun kesulitan bernapas. 

Selain itu, cairan yang terkumpul pada paru-paru juga memperparah sesak napas. Sesak napas yang menjadi gejala PJK biasanya terjadi bersamaan dengan nyeri dada.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda merasakan nyeri dada intens yang dicurigai sebagai serangan jantung, segeralah pergi ke unit gawat darurat (UGD) terdekat. Selain itu, periksakan diri Anda ke dokter secara rutin jika memiliki tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, atau kebiasaan merokok.

Penyebab penyakit jantung koroner

Hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan merokok merupakan beberapa faktor utama yang menjadi penyebab penyakit jantung koroner.

Saat arteri rusak, plak akan lebih mudah menempel dan lambat laun menebal. Penyempitan ini kemudian akan menghambat aliran darah kaya oksigen ke jantung.

Apabila plak ini pecah, trombosit akan menempel pada luka di arteri dan membentuk gumpalan darah yang menyumbat arteri. Hal ini dapat menyebabkan angina makin parah.

Ketika bekuan darah cukup besar, dinding arteri akan tertekan. Kondisi ini menyebabkan infark miokard yang juga sering disebut sebagai serangan jantung. 

Faktor risiko penyakit jantung koroner

Berikut adalah faktor-faktor yang meningkatkan risiko Anda untuk terkena penyakit jantung koroner.

  • Usia lanjut. Kondisi pembuluh arteri akan makin menyempit dan rapuh pada usia tua.
  • Jenis kelamin. Pria lebih berisiko terkena penyakit arteri koroner bila dibandingkan dengan wanita.
  • Genetik. Apabila ada anggota keluarga Anda yang mengidap gangguan jantung, risiko Anda terkena penyakit jantung koroner juga dapat meningkat.
  • Kebiasaan merokok. Nikotin dalam rokok menyebabkan penyempitan pembuluh arteri dan karbon monoksida bisa menimbulkan kerusakan pembuluh.
  • Riwayat kesehatan. Orang yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan/atau kadar lemak darah yang tinggi berisiko lebih tinggi terkena PJK.
  • Trauma atau stres. Orang yang mengalami trauma mental atau stres psikologis berat dalam waktu panjang punya risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan jantung.

Komplikasi penyakit jantung koroner

gagal jantung kanan

Menurut National Blood, Lung, and Blood Institute, penyakit arteri koroner dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang masih berkaitan erat dengan kondisi kesehatan jantung.

Berikut ini adalah beberapa komplikasi dari penyakit jantung koroner yang perlu Anda ketahui.

1. Angina

Selain menjadi salah satu gejala PJK, angina juga termasuk komplikasi yang mungkin terjadi.

Saat pembuluh arteri menyempit, jantung Anda tidak menerima darah sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini dapat menyebabkan nyeri dada dan sesak napas yang merupakan gejala khas angina.

2. Serangan jantung

Penyumbatan arteri membuat jantung tidak menerima cukup darah kaya oksigen. Terhambatnya aliran darah bisa menimbulkan kerusakan pada otot jantung.

Makin cepat Anda mendapat penanganan terhadap serangan jantung, makin kecil pula kerusakan yang terjadi pada otot jantung.

3. Gagal jantung

Penyakit jantung koroner juga bisa menimbulkan gagal jantung. Kondisi ini terjadi saat sebagian jantung mengalami kekurangan oksigen karena tersumbatnya pembuluh darah.

Jantung yang rusak akibat serangan jantung juga bisa menyebabkan gagal jantung. Itu artinya, organ ini mungkin sudah tidak berfungsi dengan baik untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

4. Gangguan irama jantung

Komplikasi lain yang mungkin terjadi karena PJK adalah gangguan ritme jantung atau dikenal sebagai aritmia

Kondisi ini biasanya terjadi karena jantung tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup.

Hal lain yang bisa menyebabkan aritmia adalah adanya jaringan pada jantung yang  mengganggu impuls listrik jantung.

Diagnosis penyakit jantung koroner

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa dilakukan oleh dokter untuk mendiagnosis penyakit arteri koroner.

  • Elektrokardiogram. Tes dengan elektrokardiogram ini akan merekam aktivitas listrik pada jantung. EKG dapat menunjukkan irama jantung abnormal yang menandakan serangan jantung.
  • Ekokardiogram. Tes dengan ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar jantung. Hal ini membantu dokter mengetahui apakah semua bagian jantung bekerja normal saat memompa darah.
  • Tes stres EKG. Tes ini akan mengukur tingkatan stres pada jantung selama Anda beraktivitas fisik. Dokter akan meminta Anda berjalan di atas treadmill atau mengayuh sepeda statis sembari memeriksa jantung dengan EKG.
  • Kateterisasi jantung. Tes yang juga disebut angiogram koroner ini menggunakan pewarna khusus untuk menampilkan sumbatan pada pembuluh arteri. Zat pewarna ini dimasukkan ke dalam arteri koroner melalui tabung kateter.
  • CT scan jantung. Tes pencitraan untuk memeriksa timbunan kalsium yang dapat menimbulkan penyempitan dan penyumbatan pada arteri.

Pengobatan penyakit jantung koroner

konsultasi dokter lansia

Beberapa jenis obat dan prosedur medis yang umumnya dokter lakukan untuk mengobati penyakit arteri koroner adalah sebagai berikut.

1. Obat penurun kolesterol

Obat penurun kolesterol membantu mengurangi kadar kolesterol dalam darah. Alhasil, obat ini dapat mengurangi penumpukan lemak yang menempel pada pembuluh darah arteri.

Jenis obat-obatan penurun kolesterol yang dapat digunakan untuk mengatasi PJK yakni statin, niasin, dan juga fibrat.

2. Asam asetilsalisilat

Asam asetilsalisilat atau dikenal sebagai Aspirin adalah obat pengencer darah untuk melarutkan darah yang tersumbat.

Konsumsi obat ini juga bisa membantu mengurangi risiko pasien untuk terkena stroke atau serangan jantung.

Meski begitu, Aspirin mungkin bukan pilihan yang tepat bila Anda memiliki gangguan pembekuan darah. Pastikan bahwa penggunaan obat ini sudah disetujui oleh dokter. 

3. Beta-blocker

Obat beta-blocker memiliki efek memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah.

Pada pasien yang mempunyai riwayat serangan jantung, obat ini dapat membantu menurunkan risiko serangan jantung pada kemudian hari.

4. Nitrogliserin

Obat untuk penyakit jantung koroner lainnya adalah nitrogliserin. Obat golongan vasodilator ini bekerja dengan memperlebar arteri jantung.

Efek ini membantu meredakan gejala angina atau nyeri dada akibat PJK dan serangan jantung.

5. Prosedur operasi

Selain konsumsi obat-obatan, Anda juga bisa melakukan prosedur operasi di bawah ini sebagai pengobatan terhadap penyakit arteri koroner.

  • Pemasangan stent atau ring jantung untuk memperlebar arteri koroner yang menyempit.
  • Bedah koroner, seperti operasi bypass jantung untuk menciptakan jalan baru bagi aliran darah kaya oksigen agar mengalir dengan lancar ke jantung.
  • Dokter juga dapat melakukan angioplasti atau prosedur untuk membuka arteri koroner yang menyuplai darah ke jantung, bila diperlukan.

Pengobatan penyakit jantung koroner juga perlu dikombinasikan dengan perbaikan pola hidup.

Beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penyakit jantung adalah berhenti merokok, makan makanan sehat, berolahraga rutin, dan mengelola stres dengan baik.

Kesimpulan

  • Penyakit jantung koroner atau PJK adalah kondisi terhambatnya aliran darah ke jantung akibat penyempitan atau penyumbatan arteri koroner.
  • Gejala umum PJK yakni nyeri dada (angina), keringat dingin, mual, serta sesak napas.
  • Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok adalah beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung ini.
  • Konsumsi obat-obatan, operasi, dan perubahan pola hidup adalah pengobatan utama untuk mengatasi penyakit jantung koroner dan komplikasinya.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Tania Savitri

General Practitioner · Integrated Therapeutic


Ditulis oleh Annisa Hapsari · Tanggal diperbarui 22/03/2024

ad iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

ad iconIklan
ad iconIklan