home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Stres Ternyata Membuat Seseorang Menerima Berita Buruk dengan Berbeda

Stres Ternyata Membuat Seseorang Menerima Berita Buruk dengan Berbeda

Stres menjadi salah satu masalah utama yang sering dialami oleh kebanyakan orang dari berbagai usia. Mulai anak hingga dewasa pasti pernah mengalami stres berkepanjangan. Namun, sebuah studi menunjukkan bahwa stres mampu mengubah cara orang menangani kabar buruk. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Stres dapat mengubah cara orang menangani kabar buruk

Cemas saat membaca berita covid-19

Di tengah wabah COVID-19 yang meluas di seluruh dunia, tidak heran masyarakat semakin khawatir dan waspada kapan pandemi ini akan berakhir. Berita-berita di media terkait angka kasus kematian dan berita buruk lainnya pun tidak jarang membuat rasa cemas semakin meningkat.

Pandemi dunia yang meningkatkan stres pada sebagian orang ini ternyata dapat mengubah persepsi mereka saat memahami dan menyebarkan informasi, termasuk kabar buruk.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Scientific Report menunjukkan adanya hubungan antara hormon stres dengan cara orang menerima informasi yang berisiko. Pada penelitian tersebut, para ahli mempertemukan psikolog dari DFG Cluster Excellecnce di Universitas Konstanz, Jerman.

Kehidupan selama pandemi yang di bawah tekanan ini membuat peneliti ingin melihat bagaimana pikiran yang sadar memahami kabar buruk tersebut. Maka dari itu, sebuah pertanyaan pun muncul, apakah stres dapat mengubah cara pandang seseorang memproses kabar buruk.

stres pemilu

Para peneliti pun mencoba mencari tahu jawabannya dengan meminta peserta membaca artikel tentang bahaya zat kimia tertentu. Kemudian, mereka akan melaporkan pendapat mereka tentang zat tersebut sebelum dan sesudah membaca artikel serta bagaimana menyampaikannya ke orang lain.

Sebelum dimulai, setengah dari kelompok tersebut mengalami tekanan stres akut. Stres akut ini meliputi kesulitan berbicara di depan umum dan pengaruh kesehatan mentalnya di depan khalayak ramai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa memproses dan menangani kabar buruk di tengah stres mengubah cara mereka untuk berbagi informasi tersebut. Peserta yang merasa tertekan ternyata tidak terlalu terpengaruh oleh artikel dan cukup selektif ketika membagikan informasi.

Sementara itu, peserta yang melaporkan tingkat stres sedang menunjukkan kecemasan yang lebih tinggi dan cara membagikan informasi yang lebih mengkhawatirkan. Maka dari itu, peneliti kemudian menyimpulkan bahwa menangani berita buruk di bawah tekanan dan stres membuat orang lebih teliti, terutama ketika membagikannya.

Bagaimana stres pengaruhi persepsi dalam menerima informasi?

menghilangkan stres dan sakit kepala

Sebenarnya, alasan mengapa stres dapat berpengaruh terhadap cara menangani kabar buruk adalah hormon endokrin. Umumnya, reaksi hormon stres endorkin dapat membuat seseorang meremehkan risiko dari sebuah informasi.

Sementara itu, tidak sedikit pula stres berkontribusi terhadap melihat segala sesuatu sebagai hal yang berisiko tinggi. Keduanya tentu memiliki efek yang berbahaya.

Mereka yang meremehkan informasi yang berisiko tentu dapat membuat orang tersebut menjadi acuh tak acuh. Sedangkan melebih-lebihkan suatu informasi dapat menimbulkan rasa cemas berkepanjangan dan menimbulkan perilaku yang berbahaya.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek perbandingan dari tekanan ketika seseorang membaca berita-berita negatif, terutama seputar COVID-19. Tidak hanya berlaku untuk satu orang saja, melainkan juga bagaimana efeknya terhadap orang lain.

Walaupun demikian, studi ini membutuhkan keterlibatan peserta yang lebih banyak dan beragam agar dapat melihat apakah efeknya sama dengan masyarakat awam.

Tips menangani kabar buruk saat stres

Suka atau tidak berita buruk akan selalu tersebar dan bisa Anda dengar di manapun, baik media sosial maupun dari mulut ke mulut. Kebutuhan akan berita untuk memperoleh informasi terbaru pun membuat Anda mau tidak mau membacanya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan agar bisa menangani kabar buruk ketika dilanda stres?

1. Menerima kenyataan yang ada

menyimpan ponsel

Salah satu cara untuk menangani kabar buruk saat dilanda stres adalah menerima kenyataan yang ada. Maksudnya, ada banyak hal dari berita yang dibaca benar-benar di luar kendali Anda.

Kebanyakan orang merasa tertekan karena perasaan tidak dapat mengendalikan apa yang mereka hadapi. Perasaan yang tidak terkendali ini dapat dilampiaskan dengan berbagai cara yang positif. Sebagai contoh, mengembangkan strategi memecahkan masalah dan berbicara dengan teman setidaknya dapat membantu Anda untuk kembali dalam ke kenyataan.

2. Mencari kegiatan untuk dunia yang lebih baik

Setelah berhasil menerima kenyataan yang ada, menangani kabar buruk saat dilanda stres dapat dilakukan dengan mencari kegiatan positif. Tidak hanya hobi yang Anda sukai, melainkan juga menjadi sukarelawan atau memberi perhatian penuh kepada keluarga dan teman yang membutuhkan.

Hal ini bertujuan untuk membantu menjaga pandangan tentang berita yang menyedihkan dan bagaimana Anda berkontribusi dalam membantu mereka. Dengan begitu, Anda bisa melakukan hal-hal bermakna dan membuat diri sendiri lebih dapat diandalkan.

3. Menjaga kesehatan fisik

Pada saat masa-masa penuh tekanan dan stres terjadi, terutama saat menangani kabar buruk, penting untuk tetap menjaga kesehatan fisik. Makan teratur, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup merupakan bagian dari cara agar Anda tidak mudah stres.

Apabila Anda dalam keadaan tidak sehat, tentu akan sulit untuk membantu dan memastikan orang lain dalam keadaan baik-baik saja. Intinya, Anda perlu menjaga diri sendiri agar stres tidak berdampak terlalu besar pada kesehatan fisik dan mental.

Walaupun stres dapat membuat seseorang lebih teliti dalam menangani kabar buruk, bukan berarti Anda harus selalu stres. Mengelola stres pun perlu agar kualitas hidup lebih baik dan mampu menangani masalah dengan lebih sehat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Beyer, R. (2019). How to cope with news. Stanford Magazine. Retrieved 15 May 2020, from https://stanfordmag.org/contents/how-to-cope-with-the-news

Kim, S. (2015). How the negative news cycle can impact mental health. Good Therapy. Retrieved 15 May 2020, from https://www.goodtherapy.org/blog/how-the-negative-news-cycle-can-impact-mental-health-1110152

Popovic, N., Bentele, U., Pruessner, J., Moussaïd, M., & Gaissmaier, W. (2020). Acute Stress Reduces the Social Amplification of Risk Perception. Scientific Reports, 10(1). doi: 10.1038/s41598-020-62399-9. Retrieved 15 May 2020. 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 03/06/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x