home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Impotensi (Disfungsi Ereksi)

Impotensi (Disfungsi Ereksi)

Impotensi bagi sebagian kalangan juga dikenal dengan istilah impoten atau disfungsi ereksi. Lantas, bagaimanakah kondisi ini memengaruhi kesehatan seksual pria?

Apa itu impotensi?

Impotensi adalah kondisi ketika pria tidak memiliki kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk mendapatkan kepuasan seksual.

Disfungsi ereksi bisa menjadi tanda masalah kesehatan lain yang kemungkinan membutuhkan perawatan medis tertentu, termasuk risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

Masalah kesehatan ini juga bisa memengaruhi kualitas hidup, di mana mungkin Anda akan merasa stres, kurang percaya diri, dan mengalami masalah dengan pasangan.

Seberapa umumkah disfungsi ereksi terjadi?

Disfungsi ereksi memengaruhi pria dari segala ras dan negara. Umumnya, impotensi terjadi saat pria memasuki usia tua, lebih banyak diderita oleh pria umur 40 tahun atau lebih.

Sebuah studi pada tahun 2019 menyebutkan bahwa prevalensi pria yang mengalami disfungsi ereksi sekitar 35,6% pada pria berusia 20 hingga 80 tahun di Indonesia.

Studi tersebut juga mengungkapkan risiko impotensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi disfungsi ereksi berkisar 6,5% pada kelompok usia 20-29 tahun hingga 88% pada kelompok usia 60 tahun ke atas.

Kondisi kesehatan, seperti hipertensi, stroke, diabetes, penyakit ginjal, riwayat penyakit jantung, riwayat operasi prostat, dan stres juga secara signifikan terkait dengan disfungsi ereksi.

Impotensi bukanlah kondisi yang tidak bisa diobati. Selalu konsultasikan dengan dokter atau ahli urologi, apabila Anda memiliki gejala-gejala disfungsi ereksi.

Apakah impotensi berhubungan dengan infertilitas?

Masalah kesuburan atau infertilitas pada pria dapat terjadi karena adanya faktor-faktor tertentu, misalnya ketika kepuasan seksual menurun yang memicu beban psikologis.

Hal inilah yang menjadikan impotensi dan infertilitas saling berhubungan. Salah satu gejala infertilitas adalah ketika pria punya masalah fungsi seksual, termasuk disfungsi ereksi.

Tanda dan gejala impotensi

Gejala utama impotensi adalah ketidakmampuan penis untuk mencapai ereksi, walaupun sudah mendapatkan rangsangan saat akan melakukan hubungan seksual.

Menurut National Institute of Health, impotensi bisa menjadi masalah jangka pendek atau jangka panjang. Anda mungkin mengalami kondisi ini, ketika:

  • mengalami ereksi kadang-kadang, tapi tidak setiap kali anda ingin berhubungan seks,
  • bisa ereksi, tapi tidak bertahan cukup lama untuk mendapatkan kepuasan seks, atau
  • tidak bisa ereksi kapan saja.

Mungkin ada beberapa tanda atau gejala yang tidak tercantum di atas. Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang gejala disfungsi ereksi, silakan konsultasikan ke dokter.

Kapan sebaiknya harus periksa ke dokter?

Anda perlu mencari tahu informasi dan mendapatkan bantuan dari dokter, jika mengalami masalah ereksi. Segera temui dokter jika Anda mengalami kondisi, seperti:

  • khawatir tentang ereksi atau pengalaman masalah seksual lainnya, termasuk impotensi, ejakulasi dini, atau telat ejakulasi,
  • menderita kondisi komorbid, termasuk diabetes, penyakit jantung, atau kondisi kesehatan lainnya yang terkait dengan impotensi, serta
  • menderita gejala-gejala lain bersamaan dengan impotensi.

Penyebab dan faktor risiko impotensi

Ada beragam kondisi yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi. Sejumlah faktor risiko, seperti penyakit dan gaya hidup juga bisa meningkatkan risiko Anda mengalami masalah ini.

Apa saja penyebab disfungsi ereksi?

Ereksi penis normal sangat dipengaruhi oleh integrasi proses fisiologis yang cukup kompleks. Hal ini mencakup sistem saraf pusat, sistem saraf perifer, hormonal, dan pembuluh darah.

Faktor psikologis, seperti stres dan gangguan kecemasan juga dapat memperburuk disfungsi ereksi, sehingga bisa kondisi ini menimbulkan impotensi pada pria berusia muda.

Gangguan pada salah satu atau kombinasi antara fisik dan psikologis, akan memengaruhi ereksi penis dan menjadi penyebab utama impotensi.

Penyebab fisik

Terdapat cukup banyak kasus impotensi yang disebabkan oleh penyakit fisik, meliputi:

  • penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah,
  • diabetes,
  • tekanan darah tinggi,
  • kolesterol tinggi,
  • obesitas dan sindrom metabolik,
  • penyakit Parkinson,
  • gangguan hormonal, termasuk kondisi tiroid dan defisiensi testosteron,
  • kelainan struktural atau anatomi penis, seperti penyakit Peyronie,
  • perawatan untuk penyakit prostat,
  • komplikasi bedah,
  • cedera pada daerah panggul atau sumsum tulang belakang, dan
  • terapi radiasi ke daerah panggul.

Penyebab psikologis

Otak memiliki peran dalam mekanisme ereksi saat mendapatkan stimulasi erektogenik. Namun, saat perasaan seksual terganggu tentu hal ini dapat menimbulkan disfungsi ereksi.

Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab psikologis terjadinya impotensi, antara lain:

  • merasa bersalah,
  • stres,
  • takut akan keintiman,
  • depresi,
  • kecemasan berat, dan
  • masalah hubungan dengan pasangan.

Faktor apa saja yang meningkatkan risiko kondisi ini?

Bertambahnya usia sering dikaitkan pada faktor yang memicu kesulitan ereksi. Biarpun begitu, faktor risiko yang sangat penting terhadap impotensi adalah gangguan pembuluh darah.

Selain itu, pria dengan penyakit penyerta tertentu (komorbid) juga memiliki risiko lebih besar untuk menderita disfungsi ereksi.

Berdasarkan sebuah studi, kondisi ini diderita oleh 31% pria dengan penyakit kardiovaskular, 26% pria dengan hipertensi, 26% pria dengan kolesterol tinggi, dan 26% pria dengan stres, depresi, atau gangguan kecemasan.

Menurut studi lain, pria dengan penyakit diabetes melitus juga mengalami peningkatan risiko hingga tiga kali lipat untuk menderita disfungsi ereksi.

Selain dari kondisi komorbid tersebut, ada beberapa faktor lainnya yang dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi seperti berikut ini.

  • Kelebihan berat badan atau obesitas.
  • Perawatan medis tertentu, seperti operasi prostat atau pengobatan radiasi untuk kanker.
  • Cedera, terutama jika merusak saraf atau pembuluh darah yang mengontrol ereksi.
  • Pengaruh obat-obatan, termasuk antidepresan, antihistamin, dan obat-obatan untuk mengobati kondisi tekanan darah tinggi, nyeri, atau prostat.
  • Kebiasaan merokok yang membatasi aliran darah ke pembuluh darah dan arteri.
  • Penggunaan narkoba dan kecanduan alkohol.

Diagnosis dan pengobatan impotensi

Impotensi dapat ditangani secara medis. Deteksi dini dan pengobatan terhadap kondisi ini juga membantu Anda untuk kembali merasakan hubungan seksual yang memuaskan.

Bisakah pria melakukan deteksi dini impotensi?

Melihat prevalensi dan faktor risiko yang dapat menyebabkan disfungsi ereksi, maka penting bagi Anda untuk melakukan deteksi dini secara mandiri.

Sexual Health Inventory for Men (SHIM)

Pertama, Anda bisa menjawab kuesioner SHIM dengan pertanyaan dan skor tertentu. Hal ini membantu Anda dalam mengidentifikasi apakah mengalami impotensi atau tidak, beserta tingkat keparahannya.

Dalam menjalani tes ini, Anda harus memilih salah satu jawaban dari setiap pertanyaan berdasarkan pengalaman dalam enam bulan terakhir.

1. Bagaimana kepercayaan diri Anda dalam mencapai dan mempertahankan ereksi?

  1. Sangat rendah
  2. Rendah
  3. Sedang
  4. Tinggi
  5. Sangat tinggi

2. Ketika Anda mencapai ereksi melalui rangsangan seksual, seberapa sering ereksi tersebut cukup keras untuk dapat melakukan penetrasi (senggama) pada pasangan Anda?

  1. Hampir tidak pernah atau tidak sama sekali
  2. Hanya beberapa kali (kurang dari separuhnya)
  3. Kadang-kadang (sekitar separuhnya)
  4. Sering kali (lebih dari separuhnya)
  5. Hampir selalu atau selalu

3. Selama bersenggama, seberapa sering Anda dapat mempertahankan ereksi tersebut setelah Anda melakukan penetrasi pada pasangan Anda?

  1. Hampir tidak pernah atau tidak sama sekali
  2. Hanya beberapa kali (kurang dari separuhnya)
  3. Kadang-kadang (sekitar separuhnya)
  4. Sering kali (lebih dari separuhnya)
  5. Hampir selalu atau selalu

4. Selama bersenggama, seberapa sulit bagi Anda untuk mempertahankan ereksi hingga senggama selesai?

  1. Sangat sulit sekali
  2. Sangat sulit
  3. Sulit
  4. Agak sulit
  5. Tidak sulit

5. Ketika Anda mencoba bersenggama, seberapa sering aktivitas tersebut dapat memuaskan diri Anda?

  1. Hampir tidak pernah atau tidak sama sekali
  2. Hanya beberapa kali (kurang dari separuhnya)
  3. Kadang-kadang (sekitar separuhnya)
  4. Sering kali (lebih dari separuhnya)
  5. Hampir selalu atau selalu

Jumlahkan skor jawaban dari setiap pertanyaan, kemudian Anda bisa melihat interpretasi hasilnya seperti berikut ini.

  • 22 – 25: Tidak terjadi disfungsi ereksi
  • 17 – 21: Disfungsi ereksi ringan
  • 12 – 16: Disfungsi ereksi ringan hingga sedang
  • 8 – 11: Disfungsi ereksi sedang
  • 5 – 7: Disfungsi ereksi berat

Erection Hardness Score (EHS)

Kedua, Anda bisa membandingkan derajat kekerasan ereksi melalui hasil observasi mandiri, yang kemudian dibandingkan dengan Erection Hardness Score (EHS).

Untuk mempermudah orang awam dalam memahaminya, derajat kekerasan ereksi juga dapat dianalogikan dengan empat jenis makanan seperti berikut ini.

  • Derajat 1 (tahu/tofu): penis besar, tetapi tidak keras.
  • Derajat 2 (pisang yang sudah dikupas): penis besar dan keras, tetapi tidak cukup keras untuk penetrasi.
  • Derajat 3 (pisang tidak dikupas): penis besar dan cukup keras untuk penetrasi, tetapi tidak keras sepenuhnya.
  • Derajat 4 (mentimun): penis besar dan keras sepenuhnya.

Apa saja pemeriksaan medis untuk mendeteksi disfungsi ereksi?

Jika kurang yakin dengan kondisi Anda, segera lakukan pemeriksaan. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat medis untuk mendiagnosis impotensi.

Setelahnya, dokter mungkin merekomedasikan beberapa pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi tertentu yang menyebabkan impotensi.

  • Tes darah. Pemeriksaan dengan mengambil sampel darah untuk memeriksa gejala penyakit jantung, diabetes, kadar testosteron rendah, dan kondisi kesehatan lainnya.
  • Tes urine. Pemeriksaan dengan sampel urine untuk mencari tanda-tanda diabetes dan kondisi kesehatan lain yang mendasar.
  • Ultrasonografi (USG). Tes ini akan menghasilkan gambar yang akan jadi petunjuk bagi dokter apabila Anda memiliki masalah pada pembuluh darah.
  • Uji ereksi semalam. Pemeriksaan untuk mengukur jumlah dan kekuatan ereksi yang dicapai dalam semalam dengan perangkat khusus saat Anda tertidur.
  • Uji psikologis. Pemeriksaan melalui sejumlah pertanyaan untuk mendeteksi depresi dan faktor psikologis lainnya yang menyebabkan disfungsi ereksi.

Selain dari beberapa tes tersebut, terkadang dokter juga akan melakukan kombinasi suntikan obat ke dalam penis untuk merangsang aliran darah dan menghasilkan ereksi.

Apa saja pilihan pengobatan untuk disfungsi ereksi?

Secara umum, tidak ada perawatan atau pengobatan yang khusus untuk penderita disfungsi ereksi. Pengobatan akan dokter lakukan sesuai dengan penyebab yang Anda alami.

Namun, terapi impotensi terus berkembang hingga saat ini. Berikut ini adalah pilihan cara mengobati impotensi yang dokter akan sarankan.

Obat minum

Dokter dapat memberikan resep obat-obatan untuk mengobati impotensi. Obat umum meliputi sildenafil (Viagra), vardenafil (Levitra, Staxyn), tadalafil (Cialis), dan avanafil (Stendra).

Jika kesehatan Anda secara umum baik, dokter mungkin meresepkan salah satu obat-obatan ini. Semua obat tersebut bekerja dengan meningkatkan aliran darah ke penis.

Namun, efek obat ini tidak bisa membuat ereksi otomatis. Anda tetap perlu mendapatkan rangsangan seksual untuk merasakan efeknya dalam menangani gangguan ini.

Perangkat vakum

Jika terapi obat tidak berhasil, dokter mungkin dapat mengobati dengan menggunakan alat tabung vakum penis yang dirancang khusus.

Pengobatan ini Anda lakukan dengan menempatkan penis ke dalam tabung yang terhubung ke pompa. Hal ini membantu mengalirkan darah dan membuat penis lebih besar dan kencang.

Namun, Anda perlu perhatikan efek samping vakum, seperti nyeri penis, penis tidak terasa, hingga memar atau lebam pada permukaan kulit penis akibat hematoma.

Terapi suntik

Jika tidak terjadi perubahan, dokter akan menganjurkan Anda untuk terapi suntik. Perawatan ini menggunakan obat yang disuntikkan, seperti alprostadil, papaverine, dan phentolamine.

Terapi suntik dokter lakukan dengan menyuntikkan obat ke sisi badan penis (intracavernosal) dengan jarum yang sangat halus untuk membantu melebarkan pembuluh darah penis.

Adapun semua pengobatan dengan terapi suntik dapat menimbulkan efek samping, seperti hematoma, fibrosis penis, dan penis ereksi berkepanjangan (priapismus).

Low-intensity extracorporeal shock wave therapy (LI-ESWT)

Terapi LI-ESWT merupakan terapi baru untuk mengobati disfungsi ereksi. Terapi ini bertujuan memulihkan mekanisme ereksi, sehingga penis bisa ereksi alami atau spontan kembali.

Pengaplikasian terapi gelombang kejut (shock wave) telah banyak digunakan dalam dunia medis, seperti untuk memecahkan batu saluran kemih dan pengobatan ortopedi.

Dalam pengobatan disfungsi ereksi, dokter akan menggunakan perangkat gelombang kejut dengan intensitas rendah pada batang penis.

Hal ini akan memicu efek angiogenesis atau proses pembentukan pembuluh darah baru, yang memungkinkan darah mengalir lebih ke penis dan menimbulkan ereksi.

Terapi LI-ESWT tidak membutuhkan suntik, anestesi, atau pembedahan. Prosedur ini umumnya tidak berlangsung lama, tetapi efeknya bisa bertahan hingga kurang lebih dua tahun.

Walaupun begitu, terapi ini mungkin bisa menimbulkan infeksi, inflamasi, gangguan pembuluh darah, tumor, hingga pertumbuhan tulang rawan epifisis di daerah terapi shock wave.

Pengobatan medis lainnya

Selain pengobatan dan terapi tersebut, dokter mungkin menyarankan Anda untuk melakukan prosedur medis lainnya seperti berikut ini.

  • Terapi hormon testosteron, apabila pasien memiliki kadar hormon rendah yang mana terapi ini dapat membantu meningkatkan suasana hati dan gairah seksual.
  • Perawatan bedah, yang merupakan sebuah prosedur operasi dengan menggunakan implan penis.

Dokter juga bisa melakukan terapi psikologis untuk memperbaiki faktor mental dan perasaan, apabila hal tersebut merupakan penyebab disfungsi ereksi yang Anda alami.

Perawatan ini mungkin membutuhkan waktu yang lama dan perlu menggunakan beberapa metode untuk mencapai kondisi yang Anda inginkan.

Pengobatan di rumah untuk impotensi

Impotensi dapat disebabkan atau diperburuk oleh pilihan gaya hidup. Beberapa perubahan gaya hidup berikut ini mungkin bisa Anda lakukan untuk mengatasi masalah ereksi.

  • Berhenti merokok dan konsumsi tembakau.
  • Menurunkan berat badan, karena kelebihan berat badan dapat menyebabkan – atau memperburuk – impotensi.
  • Olahraga teratur dapat mengurangi stres serta meningkatkan aliran darah dalam tubuh.
  • Menghindari konsumsi alkohol berlebihan atau menggunakan obat-obatan terlarang dapat memperburuk disfungsi ereksi.
  • Mengonsumsi makanan sehat, seperti sayuran hijau, biji-bijian, ikan, dan sumber makanan laut lainnya.
  • Selesaikan masalah hubungan dengan pasangan, misalnya dengan mempertimbangkan konseling pernikahan jika mengalami kesulitan meningkatkan komunikasi.

Apabila ada pertanyaan atau kekhawatiran lainnya, lebih baik konsultasikan lebih lanjut dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Erectile Dysfunction (ED). National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Retrieved 25 August 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/urologic-diseases/erectile-dysfunction?dkrd=hispt0408#sec7 

Birowo, P., Deswanto, I., & Rasyid, N. (2019). Epidemiology of erectile dysfunction: A cross-sectional web-based survey conducted in an Indonesian national referral hospital. F1000research, 8, 817. https://doi.org/10.12688/f1000research.18930.1 

Lotti, F., & Maggi, M. (2018). Sexual dysfunction and male infertility. Nature reviews. Urology, 15(5), 287–307. https://doi.org/10.1038/nrurol.2018.20 

Gruenwald, I., Appel, B., Kitrey, N. D., & Vardi, Y. (2013). Shockwave treatment of erectile dysfunction. Therapeutic advances in urology, 5(2), 95–99. https://doi.org/10.1177/1756287212470696 

Awad, H., Salem, A., Gadalla, A., El Wafa, N., & Mohamed, O. (2009). Erectile function in men with diabetes type 2: correlation with glycemic control. International Journal Of Impotence Research, 22(1), 36-39. https://doi.org/10.1038/ijir.2009.39 

Goldstein, I., Mulhall, J. P., Bushmakin, A. G., Cappelleri, J. C., Hvidsten, K., & Symonds, T. (2008). The erection hardness score and its relationship to successful sexual intercourse. The journal of sexual medicine, 5(10), 2374–2380. https://doi.org/10.1111/j.1743-6109.2008.00910.x 

Cappelleri, J. C., & Rosen, R. C. (2005). The Sexual Health Inventory for Men (SHIM): a 5-year review of research and clinical experience. International journal of impotence research, 17(4), 307–319. https://doi.org/10.1038/sj.ijir.3901327 

Rosen, R. C., Fisher, W. A., Eardley, I., Niederberger, C., Nadel, A., Sand, M., & Men’s Attitudes to Life Events and Sexuality (MALES) Study (2004). The multinational Men’s Attitudes to Life Events and Sexuality (MALES) study: I. Prevalence of erectile dysfunction and related health concerns in the general population. Current medical research and opinion, 20(5), 607–617. https://doi.org/10.1185/030079904125003467

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh dr. Akbari Wahyudi Kusumah, Sp.U Diperbarui 3 minggu lalu
x