Serangan Panik

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi serangan panik

Serangan panik atau panick attack adalah episode dari rasa takut yang amat sangat dan memicu reaksi fisik tertentu. Serangan semacam ini dapat membuat seseorang merasa panik tanpa ada alasan jelas. Hal ini berbeda ketika ketinggalan benda tertentu, seperti dompet atau telepon seluler.

Saat mengalami serangan panik, Anda bisa benar-benar merasa ketakutan seolah nyawa sedang terancam dan dihadapkan pada bahaya, meski sebenarnya tidak sedang terjadi apapun yang membahayakan nyawa.

Hal ini, kemudian, membuat Anda merasa kehilangan kontrol diri hingga akhirnya berpotensi menyebabkan serangan jantung atau bahkan meninggal.

Sebenarnya, tidak sedikit yang pernah mengalami serangan panik, khususnya saat sedang dalam kondisi tertekan dan stres. Namun, setelah kondisi yang menyebabkan stres berakhir, serangan panik ini pun tidak pernah terjadi kembali.

Apakah serangan panik umum terjadi?

Meski secara umum serangan panik bukan gangguan mental yang membahayakan nyawa, kondisi ini bisa terasa menakutkan bagi orang yang mengalaminya. Belum lagi, kondisi ini bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya.

Segera hubungi dokter ahli kesehatan mental jika mengalami kondisi ini, sehingga dokter dapat membantu mengatasi serangan-serangan panik yang Anda alami.

Tanda & gejala serangan panik

Serangan panik atau panic attack adalah munculnya rasa takut berlebihan yang terjadi secara tiba-tiba dan bisa bertahan selama beberapa menit. Ciri-ciri atau gejala dari panic attack yang bisa Anda waspadai termasuk:

  • Palpitasi atau jantung berdegup kencang dan tak beraturan.
  • Berkeringat.
  • Tubuh gemetar.
  • Napas terengah-engah.
  • Rasanya seperti sedang dicekik.
  • Nyeri dada atau dada terasa tak nyaman.
  • Mual dan perut terasa tak nyaman.
  • Kepala terasa pusing dan ingin pingsan.
  • Sensasi mati rasa.
  • Takut tidak bisa mengontrol diri atau menjadi tak terkendali.
  • Merasa takut akan mati detik itu juga.

Oleh karena itu, jika Anda merasakan satu atau lebih dari gejala dari salah satu jenis gangguan kecemasan tersebut, lebih baik segera periksakan kondisi kesehatan ke dokter yang tepercaya.

Penyebab serangan panik

Sebenarnya, masih belum dapat dipastikan apa yang menyebabkan terjadinya serangan panik. Namun, beberapa kondisi berikut mungkin berpengaruh:

1. Faktor genetik atau keturunan

Percaya atau tidak, panic attack mungkin kondisi yang turun-temurun dalam keluarga. Artinya, jika orangtua atau saudara kandung Anda mengalami panic disorder atau gangguan panik, risiko untuk mengalami kondisi yang sama jauh lebih besar.

2. Karakteristik tertentu

Ada sebagian orang yang dianggap lebih sensitif atau lebih peka jika dibandingkan dengan sebagian orang lainnya. Karakteristik ini sebenarnya baik, karena orang yang memiliki sensitivitas tinggi bisa lebih peka dan peduli terhadap orang dan lingkungan di sekitarnya.

Sayangnya, rasa sensitif yang dimiliki sebagian orang bisa membuatnya memiliki gangguan kecemasan termasuk serangan panik. Meski demikian, tidak semua orang yang sensitif akan mengalami kondisi ini. Bahkan, ada pula orang yang terlihat tenang dan kalem, tapi memiliki gangguan panik.

3. Stres

Rupanya stres bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya serangan panik. Artinya, saat sedang stres, Anda semakin rentan untuk merasa cemas hingga mengalami serangan panik. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, Anda juga bisa mengalami depresi karenanya.

Faktor risiko serangan panik

Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan potensi Anda mengalami serangan panik atau memiliki gangguan panik, seperti:

  • Riwayat kesehatan keluarga yang berkaitan dengan serangan atau gangguan panik.
  • Stres berat akibat masalah tertentu dalam hidup, seperti anggota keluarga mengalami penyakit serius atau meninggal dunia.
  • Kejadian traumatis di masa lalu, seperti kekerasan seksual atau kecelakaan serius.
  • Perubahan besar dalam hidup, seperti perceraian atau bertambahnya momongan.
  • Kebiasaan merokok atau terlalu banyak mengonsumsi kafein.
  • Kenangan buruk di masa lalu.

Komplikasi dari serangan panik

Jika tidak segera mendapatkan penanganan, panic attack bisa memengaruhi berbagai aspek dalam kehidupan. Setelah mengalami serangan panik, Anda mungkin akan takut dan khawatir akan munculnya serangan-serangan yang sama di kemudian hari.

Rasa takut dan khawatir yang berlebihan akhirnya mengganggu dan mengacaukan kualitas hidup Anda. Ada beberapa kondisi yang mungkin terjadi jika Anda tidak segera mencari bantuan atau pertolongan medis untuk mengatasi kondisi ini. Beberapa di antaranya:

  • Mengalami fobia tertentu, seperti takut bepergian atau takut berkendara.
  • Melakukan kontrol kesehatan terus-menerus, karena memiliki kekhawatiran mengalami penyakit-penyakit tertentu.
  • Menghindari situasi atau kondisi sosial dan memilih untuk menyendiri.
  • Memiliki masalah baik di sekolah maupun di tempat kerja.
  • Mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya.
  • Melakukan percobaan bunuh diri.
  • Mengonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang yang dapat membahayakan nyawa secara berlebihan.
  • Mengalami masalah keuangan.

Diagnosis & pengobatan untuk serangan panik

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana serangan panik didiagnosis?

Jika pernah atau baru-baru ini terjadi kondisi yang gejala-gejalanya menunjukkan bahwa Anda sedang mengalami panic attack, lebih baik segera periksakan kondisi ke dokter.

Saat berkonsultasi dengan dokter, pastikan memberi tahu segala informasi yang sekiranya akan dibutuhkan oleh dokter untuk melakukan diagnosis terhadap kondisi yang Anda alami.

Ada beberapa hal yang mungkin akan dilakukan dokter untuk mencari tahu apakah benar Anda memang mengalami panic attack:

  • Pemeriksaan fisik menyeluruh.
  • Tes darah, untuk memeriksa kelenjar tiroid dan berbagai kemungkinan adanya masalah kesehatan tertentu.
  • Evaluasi psikologis, di mana dokter akan bertanya langsung mengenai gejala, rasa takut, dan kondisi yang menimbulkan stres yang sedang Anda alami.

Apa saja jenis pengobatan untuk mengatasi serangan panik?

Menurut National Health Service, pengobatan untuk panic attack lebih mengarah untuk mengurangi frekuensi serangan panik yang dialami dan meredakan gejala yang muncul.

Ada beberapa hal yang bisa Anda coba lakukan untuk mengatasi kondisi ini, contohnya:

1. Terapi psikologi (psikoterapi)

Terapi psikologi atau psikoterapi merupakan salah satu metode yang dianggap cukup efektif untuk mengatasi kondisi ini. Bahkan, metode ini selalu direkomendasikan oleh dokter sebagai pilihan pertama pengobatan yang patut dicoba.

Terapi ini dapat membantu Anda memahami kondisi yang sedang dialami, dan bagaimana cara menghadapinya (jika terjadi di kemudian hari).

Salah satu jenis psikoterapi, cognitive behavioral therapy (CBT), dapat membantu Anda memahami bahwa gejala dari gangguan panik yang muncul sebenarnya tidak berbahaya.

Selama proses psikoterapi ini, ahli terapi akan membantu Anda secara perlahan untuk merasakan gejala-gejala yang muncul saat terjadi panic attack, tapi tentu dilakukan secara aman.

Saat sensasi fisik yang Anda lakukan tidak lagi terasa berbahaya, serangan-serangan yang Anda alami akan mulai terasa berbeda atau justru berkurang frekuensinya.

Meski begitu, Anda perlu ingat bahwa untuk mendapatkan hasil dari terapi ini memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Anda mungkin harus menjalani terapi ini selama beberapa kali terlebih dahulu untuk benar-benar merasakan hasil yang maksimal.

2. Penggunaan obat-obatan

Ada beberapa jenis obat yang mungkin akan diresepkan dokter untuk mengatasi kondisi ini, di antaranya:

  • Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRIs).
  • Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitor (SNRIs).
  • Benzodiazepines.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Wanita Berbulu Lebat Nafsu Seksnya Tinggi?

Yang jelas, bulu alias rambut halus yang lebat ini diakibatkan tingginya hormon testosteron. Tapi apakah ini berarti nafsu seksualnya juga lebih tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Satria Perdana
Kesehatan Seksual, Tips Seks 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Kumis dan Jenggot Tidak Tumbuh pada Sebagian Pria

Tak semua pria itu sama. Ada yang brewokan dan kumisan, tapi ada juga yang tidak tumbuh jenggot dan kumis di wajahnya. Apa penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Pria, Penyakit pada Pria 25 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Benarkah Obat Kumur Bisa Mengobati Sariawan?

Banyak orang menggunakan obat kumur sebagai pengganti obat sariawan. Apa saja kandungan dalam obat kumur? Benarkah bisa mengobati sariawan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Penyakit Gusi dan Mulut, Gigi dan Mulut 25 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

Mengenal Jenis-Jenis Yoga dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Yoga adalah salah satu jenis olahraga yang diminati banyak orang. Tapi, apakah Anda tahu apa saja manfaat yoga untuk kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fitriana Deswika
Latihan Kelenturan, Kebugaran 25 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bahaya pakai earphone saat tidur

Waspada Bahaya Infeksi Telinga Akibat Pakai Earphone Saat Tidur

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Thendy Foraldy
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
Apa Fungsi Obat Methylprednisolone

Obat Penambah Tinggi Badan, Apakah Benar Bisa Membuat Tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
luka gatal mau sembuh

Kenapa Biasanya Luka Terasa Gatal Kalau Mau Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit
patah hati menyebabkan kematian

Benarkah Patah Hati Dapat Sebabkan Kematian?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 26 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit