Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Waspada, Ini 7 Hal yang Paling Sering Menjadi Pemicu Stres

Waspada, Ini 7 Hal yang Paling Sering Menjadi Pemicu Stres

Bukan lagi menjadi rahasia bahwa generasi milenial sulit menghindari tiga masalah psikologis, yaitu stres, kecemasan, dan kurangnya produktivitas. Seringnya, stres timbul karena pekerjaan, ambisi, dan berbagai pilihan berat dalam hidup. Namun, beberapa kebiasaan sehari-hari tanpa Anda sadari juga bisa jadi pemicu stres.

Faktor-faktor utama pemicu stres

stres memicu diabetes

Data dari American Psychological Association(APA) menunjukan bahwa generasi milenial lebih rentan mengalami stres dan kurang mampu mengendalikannya bila dibandingkan dengan generasi lain.

Bukan hanya buruk bagi kesehatan mental, kecemasan dan stres juga berkaitan dengan risiko penyakit jantung, migrain, gangguan pernapasan kronis, dan masalah kesehatan lainnya.

Banyak hal yang dapat memicu stres dan berkurangnya produktivitas. Berikut beberapa faktor utama yang biasanya menyebabkan kondisi ini.

1. Pekerjaan dan sekolah

Tugas yang menumpuk, ujian, dan evaluasi kinerja kerap menjadi pemicu stres serta burnout syndrome, baik pada pekerja maupun pelajar. Biasanya, stres terjadi ketika seseorang merasa cemas bila apa yang dikerjakannya belum mencapai target yang diinginkan.

Memang, terkadang tantangan yang ditemui dalam tugas sehari-hari bisa memberikan motivasi serta kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang baru. Meski demikian, banyak orang justru memaksakan tubuh dan pikirannya sampai lupa beristirahat.

Dampaknya tak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga fisik Anda. Bahkan, stres yang tak ditangani berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang lebih serius, seperti penyakit jantung dan sindrom metabolik.

2. Perubahan besar dalam hidup

phk karena COVID-19

Selama hidupnya, manusia akan sering dihadapkan dengan berbagai macam perubahan, misalnya perubahan karier atau peralihan menuju kehidupan yang baru seperti pernikahan.

Namun, manusia tidak selalu bisa memprediksi perubahan yang akan terjadi dalam hidupnya, apalagi menentukan apakah perubahan ini berdampak baik atau justru sebaliknya.

Ketidakpastian ini pun menciptakan bias negatif sehingga otak menganggap perubahan sebagai ancaman, padahal Anda sebenarnya bisa menghadapi perubahan dalam hidup dengan cara beradaptasi.

Kesulitan beradaptasi dengan situasi yang baru seringkali dilampiaskan dengan perasaan sedih, khawatir, cemas, atau keinginan untuk menarik diri dari orang lain.

3. Masalah keuangan

Berdasarkan survei yang diadakan oleh American Psychological Association (APA) pada 2015, keuangan merupakan salah satu pemicu utama stres. Masalah keuangan bisa menimpa siapa saja, tetapi lebih sering dialami oleh orang-orang berpenghasilan rendah.

Orang-orang yang mengalaminya kerap terlibat dalam konflik yang berkaitan dengan uang atau merasa bersalah setelah menghabiskan uang untuk membeli hal-hal yang tidak penting.

Tak jarang pula, seseorang khawatir bila suatu hari nanti mereka tidak mampu mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kebiasaan sehari-hari yang dapat menjadi pemicu stres

Ada kalanya seseorang merasa stres dan tidak bahagia meski hidupnya baik-baik saja. Tanpa mereka sadari, ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang juga bisa memicu stres.

1. Kebiasaan tidur yang buruk

Pola tidur yang kurang baik memang diketahui menjadi salah satu faktor utama penyumbang stres, kecemasan, dan kecenderungan untuk tidak produktif.

Sebuah penelitian oleh University of California menyatakan bahwa kurangnya waktu tidur dapat berdampak pada bagian otak yang menimbulkan rasa cemas pada manusia.

Penyebab kurang tidur antara lain waktu memulai tidur yang tidak teratur, tidur terlalu malam, serta yang sering terjadi yakni sibuk menggunakan laptop, ponsel, atau gadget lainnya sebelum tidur.

2. Makan tidak teratur

Tidak hanya berkaitan dengan metabolisme tubuh, pola makan yang teratur juga terbukti berpengaruh baik terhadap kondisi mental seseorang.

Sebaliknya, pola makan yang buruk seperti makan tidak teratur atau melewatkan sarapan dapat menjadi pemicu stres, kebingungan, dan pusing. Ditambah lagi, kebiasaan ini juga berdampak negatif terhadap gula darah dan kesehatan secara umum.

Dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh juga dapat menimbulkan akibat yang sama, sebab pada dasarnya makanan dan minuman merupakan kebutuhan primer biologis.

3. Minum kopi

waktu terbaik minum kopi

Dalam jangka pendek, kopi memang sering kali kita gunakan sebagai solusi mengatasi kantuk dan kurangnya konsentrasi. Minum kopi bisa membuat kita lebih fokus dan awas selama beberapa jam ke depan.

Namun, di balik manfaat tersebut, ternyata minum kopi bisa memicu stres. Kopi membuat kita lebih sensitif, mudah tersinggung, cemas, dan gugup karena kandungan kafeinnya.

Kafein memompa rasa panik dalam diri kita, dan membuat kita lebih awas terhadap lingkungan sekitar. Kafein juga bersifat diuretik, yang berarti merangsang produksi urine. Hal tersebut ternyata menambahkan kecemasan tersendiri.

4. Duduk terlalu lama

Realitasnya, kini sebagian besar pekerjaan menempatkan kita di meja kerja dan seluruh pekerjaan dapat diakses melalui komputer. Namun, ternyata hal ini juga tidak baik untuk kesehatan mental Anda.

Gaya hidup yang kurang aktif, seperti duduk terlalu lama di satu posisi, dapat menjadi pemicu cemas dan stres. Terlebih lagi bila Anda jarang berolahraga.

Pada dasarnya, tubuh perlu tetap bergerak agar seluruh fungsinya dapat berjalan dengan efektif. Jarang berolahraga dapat berdampak pada hormon stres dan hormon lainnya yang mengatur kondisi emosional Anda.

5. Pemakaian telepon genggam

gebetan menjauh

Dalam banyak konteks, memang ada banyak manfaat yang bisa kita capai dengan teknologi yang ditawarkan oleh telepon genggam. Sayangnya, teknologi tersebut juga membuat kita semakin rentan kecanduan gadget.

Penelitian oleh Baylor University pada 2014 menyatakan bahwa layar handphone sebagai pusat informasi dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf. Peningkatan pada aktivitas sistem saraf dapat memicu rasa cemas yang berlebihan.

6. Terlalu lama menonton TV

Sebenarnya, menonton TV saja tidak memberikan pengaruh yang drastis terhadap tingkat stres Anda. Namun, bila Anda sudah memiliki gangguan kecemasan, terlalu sering menonton TV mungkin akan menjadi pemicu stres.

Banyak orang lebih senang menonton program-program televisi yang menegangkan. Bukan hanya film horor, beragam reality show dan film dokumenter juga dapat memicu perasaan tegang yang sedikit banyak memengaruhi tingkat stres Anda.

7. Terlalu sering mendengarkan curhatan orang lain

Mencurahkan kecemasan kepada orang lain memang merupakan suatu usaha untuk menenangkan pikiran. Akan tetapi, Anda sebaiknya tidak terlalu sering mendengarkan curhatan orang lain.

Menurut sebuah penelitian lama terbitan jurnal Personality And Individual Differences, Anda justru bisa mengalami stres jika terus-terusan menjadi tempat bagi orang lain yang mencurahkan perasaan dan emosinya.

Begitu pun jika curhat dilakukan dalam sebuah kelompok. Orang yang sedang curhat ternyata bisa menularkan kecemasannya pada kelompok tersebut.

Stres memang perasaan wajar yang dialami oleh manusia. Meski demikian, jangan biarkan berbagai pemicu di atas semakin membuat Anda jatuh dalam stres berkepanjangan.

Bila Anda masih merasa stres walau masalah yang menjadi pemicunya sudah berlalu, jangan ragu untuk berkonsultasi kepada psikolog.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Causes of Stress. (2017). Mind. Retrieved 14 February 2022, from https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/stress/causes-of-stress/

Stress Effects on The Body. (2018). American Psychological Association. Retrieved 14 February 2022, from https://www.apa.org/topics/stress/body

Stress… At Work. (2014). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 14 February 2022, from https://www.cdc.gov/niosh/docs/99-101/

Winston, A., Hardwick, E., & Jaberi, N. (2005). Neuropsychiatric effects of caffeine. Advances In Psychiatric Treatment, 11(6), 432-439. Retrieved 14 February 2022.

Teychenne, M., Costigan, S. A., & Parker, K. (2015). The association between sedentary behaviour and risk of anxiety: a systematic review. BMC public health, 15, 513. Retrieved 14 February 2022.
Anxiety and Television. (2020). Calm Clinic. Retrieved 14 February 2022, from https://www.calmclinic.com/anxiety/causes/television
Muris, P., Roelofs, J., Rassin, E., Franken, I., & Mayer, B. (2005). Mediating effects of rumination and worry on the links between neuroticism, anxiety and depression. Personality And Individual Differences, 39(6), 1105-1111. Retrieved 14 February 2022.
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Winona Katyusha Diperbarui Apr 11
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa