Yang Terjadi Pada Tubuh Saat Anda Stres

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Setiap waktu, Anda bisa saja mengalami stres, bisa saja karena pekerjaan, masalah keuangan, masalah dengan pasangan atau keluarga, atau bisa saja hanya karena kemacetan di jalan –hal yang tidak terduga. Hal-hal kecil yang membuat tensi Anda sedikit naik, bisa saja membuat tubuh Anda stres. Namun, sebaiknya kelola stres Anda sebisa mungkin karena dampak stres pada tubuh sangat banyak dan pastinya merugikan kesehatan Anda.

Apa itu stres?

Stres dapat terjadi karena perubahan lingkungan di sekitar kita, sehingga tubuh akan bereaksi dan meresponnya sebagai upaya perlindungan. Tubuh bereaksi terhadap stres dengan memberi respon fisik, mental, dan emosional.

Tubuh bereaksi terhadap segala hal yang dianggapnya sebagai bahaya, entah itu benar-benar membahayakan atau tidak. Ketika tubuh merasa terancam, maka di dalam tubuh akan terjadi reaksi kimia yang memungkinkan Anda untuk mencegah cedera. Reaksi ini disebut dengan “fight-or-flight” atau respon stres. Saat tubuh Anda merespon stres, Anda akan merasakan denyut jantung meningkat, pernapasan lebih cepat, otot menegang, dan tekanan darah Anda naik.

Stres bisa terjadi berbeda-beda antar orang. Apa yang menyebabkan stres pada diri Anda, belum tentu juga bisa menyebabkan stres pada diri orang lain. Ini semua tergantung dari bagaimana Anda melihat sesuatu yang bisa menyebabkan stres dan cara Anda menangani stres. Stres ringan mungkin dapat membantu Anda dalam menyelesaikan tugas. Namun, jika stres berat atau stres kronis terjadi pada Anda, maka bisa merugikan kesehatan Anda.

Bagaimana dampak stres pada tubuh?

Saat Anda merasa stres, semua sistem dalam tubuh Anda akan meresponnya dengan cara yang berbeda-beda. Stres kronis dapat berdampak pada kesehatan Anda secara keseluruhan.

Pada sistem saraf pusat dan endokrin

Sistem saraf pusat adalah yang paling bertanggung jawab dalam merespon stres, mulai dari pertama kali stres muncul sampai stres menghilang. Sistem saraf pusat menghasilkan respon “fight-or-flight” saat tubuh mengalami stres. Juga, memberikan perintah dari hipotalamus ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin dan kortisol.

Saat kortisol dan adrenalin dilepaskan, hati menghasilkan lebih banyak gula dalam darah untuk memberi energi pada tubuh Anda. Jika tubuh Anda tidak menggunakan semua energi tambahan ini, maka tubuh akan menyerap gula darah kembali. Namun, bagi orang yang rentan terhadap diabetes tipe 2 (seperti orang obesitas), gula darah ini tidak bisa diserap semua sehingga mengakibatkan kadar gula darah meningkat.

Pelepasan hormon adrenalin dan kortisol menyebabkan peningkatan detak jantung, pernapasan lebih cepat, pelebaran pembuluh darah di lengan dan kaki, dan kadar glukosa darah meningkat. Saat stres mulai menghilang, sistem saraf pusat juga yang pertama kali memerintahkan tubuh untuk kembali ke normal.

Pada sistem pernapasan

Stres membuat pernapasan Anda lebih cepat sebagai upaya untuk mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Hal ini mungkin tidak masalah bagi banyak orang, tetapi bisa menyebabkan masalah pada orang dengan asma atau emfisema. Napas cepat atau hiperventilasi juga dapat menyebabkan serangan panik.

Pada sistem kardiovaskular

Saat Anda mengalami stres akut (stres dalam waktu singkat, seperti karena terjebak macet di jalan),  detak jantung akan meningkat, serta pembuluh darah yang menuju ke otot besar dan jantung akan melebar. Hal ini menyebabkan peningkatan volume darah yang dipompa ke seluruh tubuh dan meningkatkan tekanan darah. Pada saat stres, darah perlu dialirkan dengan cepat ke seluruh tubuh (terutama otak dan hati) untuk membantu menyediakan energi bagi tubuh.

Juga, saat Anda mengalami stres kronis (stres dalam jangka waktu lama), detak jantung Anda akan meningkat secara konsisten. Tekanan darah dan kadar hormon stres juga akan meningkat secara berkelanjutan. Sehingga, stres kronis dapat meningkatkan risiko Anda terkena hipertensi, serangan jantung, atau stroke.

Pada sistem pencernaan

Saat stres, peningkatan detak jantung dan pernapasan dapat mengganggu sistem pencernaan Anda. Anda mungkin akan makan lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya. Risiko Anda mengalami heartburn, refluks asam, mual, muntah, atau sakit perut juga meningkat. Stres juga dapat memengaruhi pergerakan makanan dalam usus Anda, sehingga Anda bisa mengalami diare atau sembelit.

Pada sistem otot rangka

Otot-otot Anda akan menegang saat stres dan kemudian akan kembali normal lagi saat Anda sudah tenang. Namun, jika Anda mengalami stres yang berkelanjutan, maka otot Anda tidak mempunyai waktu untuk rileks. Sehingga, otot-otot yang tegang ini akan mengakibatkan Anda mengalami sakit kepala, nyeri punggung, serta nyeri di seluruh tubuh.

Pada sistem reproduksi

Stres juga berpengaruh pada gairah seksual Anda. Mungkin gairah seksual Anda akan menurun saat Anda sedang mengalami stres kronis. Namun, pria lebih banyak menghasilkan hormon testosteron selama stres, yang dapat meningkatkan gairah seksual dalam jangka pendek. Jika stres berlangsung dalam waktu lama, kadar hormon testosteron pria akan mulai menurun. Hal ini dapat mengganggu produksi sperma, yang akan menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi.

Sedangkan, pada wanita, stres dapat memengaruhi siklus menstruasi. Saat stres, Anda mungkin mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, tidak mengalami menstruasi sama sekali, atau mengalami menstruasi yang lebih berat.

Pada sistem imun

Saat Anda stres, tubuh merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja. Jika stres yang Anda rasakan bersifat sementara, ini akan membantu tubuh Anda dalam mencegah infeksi dan penyembuhan luka. Namun, jika stres terjadi dalam waktu lama, maka tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang akan menghambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat asing. Sehingga, orang yang mengalami stres kronis akan lebih rentan untuk terkena penyakit, seperti influenza, flu biasa, atau penyakit infeksi lainnya. Stres kronis juga membuat Anda lebih lama untuk sembuh dari sakit atau cedera.

BACA JUGA

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD adalah kondisi serangan panik yang dipicu oleh trauma pengalaman masa lalu. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Gangguan Mental Lainnya 14 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

5 Tanda Gula Darah Anda Terlalu Tinggi, Plus Cara Tepat Mengatasinya

Tak hanya orang diabetes, orang yang sehat juga bisa saja memiliki kadar gula darah tinggi. Apa saja tanda dan gejala gula darah tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 10 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

5 Cara Jitu Menghilangkan Trauma yang Bisa Anda Coba

Anda tentu tidak mau terjebak pada trauma akibat kejadian di masa lampau. Oleh sebab itu, cari tahu cara menghilangkan trauma berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 1 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

10 Hal yang Dapat Menjadi Penyebab Gula Darah Naik

Anda mungkin sudah membatasi makanan manis, tapi gula darah tetap naik. Ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab gula darah tinggi. Apa saja?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Diabetes, Gula Darah Normal 28 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

adaptogen adalah

Mengenal Khasiat Adaptogen, Zat Penangkal Stres di Dalam Tanaman Herbal

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
serangan panik panic attack

Serangan Panik

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 18 Februari 2021 . Waktu baca 7 menit

Batasan Kadar Gula Darah yang Normal dalam Tubuh

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit
tekanan darah naik turun

Penyebab Tekanan Darah Naik Turun: Ketahui yang Normal dan yang Mengkhawatirkan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit