Memahami Penyebab Kenapa Anda Mungkin Merasa Ingin Bunuh Diri

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 November 2019 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Anda mungkin memiliki pikiran ingin bunuh diri pada satu titik dalam hidup Anda, terutama jika Anda di-bully selama di sekolah atau jika Anda kecewa dengan orangtua atau orang terdekat Anda. Bunuh diri didefinisikan sebagai tindakan dengan mengambil hidup Anda sendiri. Anda mungkin ingin menyerah pada hidup ketika seseorang yang dekat dengan Anda telah meninggal atau ketika Anda mengalami perpisahan yang buruk dari sebuah hubungan. 

Jika Anda mengalami pikiran untuk bunuh diri, ketahuilah bahwa ada beberapa alasan penyebab dari perasaan ini.

Penyakit kejiwaan

Gangguan mental dianggap salah satu penyebab paling umum dari bunuh diri. Salah satu gejala yang terjadi umumnya pada berbagai kondisi kejiwaan adalah merasa tertekan. Kondisi mental tersebut meliputi gangguan bipolar, kecemasan, depresi dan skizofrenia. Ketika Anda dan dokter Anda berjuang untuk menemukan pengobatan yang dapat efektif mengobati kondisi mental Anda, Anda mungkin merasa tak berdaya dan takut bahwa Anda mungkin tidak pernah merasa normal lagi. Anda mungkin merasa satu-satunya cara untuk mengakhiri rasa sakit adalah dengan mengakhiri hidup Anda.

Kecemasan dapat menyebabkan rasa takut pada lingkungan sekitar Anda dan mencegah Anda dari beradaptasi dengan perubahan dalam hidup. Dalam beberapa kasus, kecemasan membuat Anda sulit untuk mempertahankan persahabatan, menyelesaikan sekolah, atau mempertahankan pekerjaan tetap. Maka kombinasi dari kesepian dan ketakutan memicu Anda untuk berpikir tentang bunuh diri.

Depresi berat dianggap menjadi penyebab utama bunuh diri di seluruh dunia. Orang yang tidak mampu untuk mengatasi gejala depresi mereka memiliki risiko lebih besar untuk melakukan bunuh diri. 90% dari kasus laporan depresi memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Pengalaman traumatis

Ketika Anda melalui pengalaman traumatis, Anda mungkin merasa malu berat atau bersalah dan dapat menyebabkan pikiran bunuh diri. Pengalaman traumatis tersebut meliputi peperangan, kekerasan fisik atau seksual. Anda dapat mengembangkan kondisi yang disebut post traumatic stress disorder (PTSD), yang ditandai dengan kilas balik atau terhalangnya kenangan terkait pengalaman traumatis. PTSD dapat menyebabkan kecemasan intens yang dapat mengganggu kehidupan normal. Hal ini dapat menyebabkan munculnya pikiran untuk bunuh diri.

Bullying

Bullying memiliki efek mendalam pada cara seseorang berpikir dan bagaimana mereka merasa, terlepas dari seberapa sering dan metode bully apa yang digunakan. Jika Anda di-bully, Anda mungkin merasa sangat tertekan, tidak berharga, dan putus asa bahwa situasi Anda akan berubah.

Sayangnya, dalam banyak kasus, intimidasi tidak mendapatkan pengakuan cukup dan tidak segera dilaporkan sampai semuanya sudah berada di luar kendali dan bunuh diri menjadi satu-satunya cara bagi korban untuk menghindari rasa sakit yang mereka alami.

Perkembangan teknologi menciptakan fenomena yang disebut “cyber bullying,” di mana korban diintimidasi secara online, sering kali bahkan oleh orang-orang yang mereka kenal. Hal ini biasanya terjadi di situs media sosial, komentar di situs web, dan berbagai blog yang bertujuan untuk merusak reputasi Anda dan membuat Anda merasa malu. Kecuali Anda memiliki solusi untuk mengatasi hal ini, pikiran untuk bunuh diri mungkin akan muncul.

Kecanduan narkoba atau penyalahgunaan zat adiktif

Jika Anda kecanduan obat atau penyalahgunaan obat atau alkohol secara konsisten, inilah saatnya  bagi Anda untuk berhenti. Ada bukti kuat bahwa kecanduan narkoba atau penyalahgunaan zat dapat membuat Anda menjadi tertekan. Meski obat-obatan atau alkohol dapat memberikan bantuan jangka pendek terhadap rasa sakit, itu tidak membantu memecahkan masalah dalam kehidupan nyata Anda. 

Obat-obatan dan alkohol dapat mengubah fungsi otak dan neurotransmitter, sehingga menyebabkan depresi yang mendalam. Anda mungkin merasa tak berdaya untuk mengatasi kecanduan yang Anda hadapi. Gejala kecanduan dan “sakaw” bisa menyakitkan dan tak tertahankan. Pada saat itulah, bunuh diri terasa seperti cara terakhir untuk keluar dari perangkap candu.

Masalah dalam hubungan

Masalah dalam hubungan, misalnya, berada dalam hubungan yang kasar, tidak merasa dihargai, atau baru mengalami perpisahan, dapat menjadi tantangan besar dalam hidup. Hal ini terutama berlaku dalam hubungan percintaan. Masalah dalam hubungan asmara dapat menyebabkan perasaan depresi lebih dalam, kecemasan, rasa bersalah, dan panik. Masalah dalam hubungan juga dapat menyebabkan banyak rasa sakit emosional dan menenggelamkan Anda dalam pikiran untuk bunuh diri. Merasa takut kesepian atau terisolasi, cenderung membuat Anda rela untuk bergabung dengan kelompok teman-teman yang membawa pengaruh buruk, atau mencari bantuan dari obat-obatan dan alkohol.

Ingatlah, perasaan ini akan segera berlalu

Bila Anda tidak bisa mengatasi rasa sakit emosional Anda, Anda mungkin merasa putus asa dan ingin bunuh diri. Tapi penting untuk mengetahui bahwa rasa sakit adalah bagian tak terhindarkan dari kehidupan. Setiap orang dapat mengatasi rasa sakit sampai batas tertentu, tapi rasa sakit emosional yang kuat dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri. Memahami apa yang menyebabkan pikiran untuk bunuh diri muncul akan membantu Anda keluar dari masalah tersebut dan mendapatkan kontrol kembali. 

Jika Anda merasa ingin bunuh diri, konsultasikan dengan dokter untuk membantu mencari cara bagi Anda dalam mengatasi rasa sakit dan mencegah bunuh diri.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Kleptomania

Kleptomania atau klepto adalah kondisi gangguan perilaku yang dilakukan dengan mencuri atau mengutil. Apa saja Penyebab dan Gejalanya? Simak Selengkapnya di Hello Sehat

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 8 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit

Kenapa Penderita Depresi Harus Banyak Konsumsi Probiotik?

Makanan probiotik memang baik untuk sistem pencernaan Anda. Namun siapa sangka probiotik ternyata juga bisa meredakan gejala depresi? Ini dia penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Gangguan Mood 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Batasan Wajar Menggunakan Media Sosial Dalam Sehari, Menurut Psikolog

Anda tak bisa lepas dari akun media sosial setiap harinya? Awas, Anda mungkin sudah melewati batas wajar menggunakan media sosial sehari-hari.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mental, Kecanduan 7 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Rasa Malas Ternyata Disebabkan Gangguan di Otak. Bagaimana Mengatasinya?

Anda mungkin mengira rasa malas hanyalah kebiasaan buruk saja. Ternyata, gangguan di otaklah yang menyebabkan Anda malas. Bagaimana mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan, Informasi Kesehatan 4 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengatasi kesepian

5 Langkah Mengatasi Kesepian, Agar Hidup Lebih Semangat

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
serangan panik atau panic attack

Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
depresi pagi hari

Gejala Depresi Suka Muncul di Pagi Hari? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 13 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
membangun kepercayaan diri

7 Siasat Ini Bisa Jadi Senjata Anda untuk Membangun Kepercayaan Diri

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 11 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit