Penyakit Usus Buntu

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11 Mei 2020 . Waktu baca 16 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu penyakit usus buntu?

Apendisitis atau penyakit usus buntu (radang usus buntu) atau adalah suatu kondisi yang menyebabkan peradangan pada usus yang buntu (appendix). Usus buntu sendiri adalah sebuah organ berbentuk selang kecil dan tipis yang menempel pada bagian awal usus besar.

Usus buntu terletak di perut bagian kanan bawah. Organ yang satu ini tidak memiliki fungsi, tapi saat tersumbat dapat membahayakan dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

Jika tidak diatasi dengan segera, ada kemungkinan usus buntu yang meradang dapat pecah, mengeluarkan feses/tinja ke rongga perut. Hal ini dapat berpotensi menyebabkan infeksi yang membahayakan (peritonitis), namun infeksi dapat tertutup dan membentuk abses.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Penyakit usus buntu merupakan suatu kondisi yang umum dan dapat terjadi pada semua usia. Namun kebanyakan penyakit ini terjadi pada usia 10 sampai 30 tahun.

Penyakit ini dapat dicegah dengan menurunkan faktor risiko Anda. Diskusikan dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala penyakit usus buntu?

Gejala penyakit usus buntu pertama yaitu nyeri perut yang diawali pada area perut tengah atas dekat pusar. Nyeri ini biasanya berpindah ke perut kanan bawah. Nyeri ini diperburuk dengan pergerakan batuk dan mengejan.

Dikutip dari Mayo Clinic, gejala penyakit usus buntu lain dapat berupa:

  • Mual dan muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Konstipasi atau diare
  • Tidak dapat kentut
  • Perut membesar
  • Demam ringan

Terlalu lama menunda terapi medis dapat menyebabkan gejala penyakit usus buntu makin menjadi lalu pecah dan menyebabkan infeksi berat yang membahayakan nyawa.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala apendisitis yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Namun, tidak semua gejala penyakit usus buntu itu sama

Dilansir dari Everyday Health, tidak semua pasien merasakan gejala yang sama. Ada beberapa orang yang tidak mengalami gejala secara menyeluruh (atipikal).

Menurut penelitian yang diterbitkan pada 2007 dalam The Journal of American Medical Association, gejala penyakit usus buntu antara bayi dengan orang dewasa tidak selalu sama. Oleh karena itu, orangtua harus paham betul apa yang gejala-gejala yang muncul terutama pada anak.

Bayi usia 2 tahun atau kurang sering menunjukkan gejala seperti berikut ini:

Sedangkan untuk anak-anak dan remaja cenderung mengalami:

Pada ibu hamil, gejala penyakit usus buntu mungkin mirip dengan ketidaknyamanan selama kehamilan, seperti morning sickness. Karena gejalanya meliputi berkurangnya nafsu makan, kram perut, mual, dan muntah.

Namun, perlu ditekankan bahwa apendisitis saat hamil bisa menyebabkan rasa nyeri bukan di sisi kanan bawah perut melainkan di perut bagian atas.

Hal ini sedikit berbeda karena posisi usus terdorong menjadi lebih tinggi akibat adanya janin pada rahim. Selain itu, gejala lainnya adalah terasa sakit ketika buang air. Gejala demam dan diare jarang terjadi pada ibu hamil.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter bila Anda mengalami gejala penyakit usus buntu berikut ini:

  • Nyeri perut kanan bawah yang tidak membaik
  • Diare atau BAB berdarah
  • Perut membesar
  • Demam

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan Anda.

Penyebab

Apa penyebab penyakit usus buntu?

Sebenarnya hingga saat ini, alasan mengapa seseorang mengalami apendisitis belum diketahui. Namun, para ahli percaya bahwa penyebab utama penyakit usus buntu adalah penyumbatan.

Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh gumpalan feses, garam kalsium dan feses (fekolit) atau tumor (jarang). Saat tersumbat, bakteri dapat bertumbuh dan berkembang, hingga menyebabkan peradangan dan infeksi.

Hal ini menyebabkan usus  yang buntu membengkak dan terisi nanah. Jika usus pecah, bakteri dapat menyebar dan menyebabkan infeksi ke seluruh tubuh. Pada beberapa kasus usus yang buntuk ini meradang akibat dari infeksi.

Penyebab lainnya adalah lymphoid hyperplasia terkait dengan penyakit peradangan dan infeksi seperti penyakit Crohn, campak, amebiasis, gastroenteritis, infeksi pernapasan dan mononukleosis.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk penyakit usus buntu?

Berikut adalah berbagai faktor risiko penyakit usus buntu:

1. Keturunan

Selain karena penyumbatan oleh feses maupun benda asing, faktor genetik ternyata turut ikut ambil bagian dalam kemunculan usus buntu akut. Sebanyak 56 persen penyebab kondisi merujuk pada faktor genetik.

Risiko bisa terjadi pada anak yang setidaknya terikat darah dengan satu anggota keluarga inti yang punya riwayat penyakit usus buntu (aktif atau sudah pernah diobati), meningkat sepuluh kali lipat dibandingkan dengan anak yang berasal dari keluarga bebas penyakit usus buntu.

Penyebab penyakit usus buntu akut diturunkan oleh keluarga dilaporkan terkait dengan sistem HLA (antigen leukosit manusia) dan golongan darah. Mereka juga menemukan bahwa golongan darah A memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami kondisi daripada golongan O.

2. Terkena virus

Dr. Edward Livingston, kepala Operasi GI endokrin di UT Southwestern, menyatakan bahwa kondisi ini mungkin saja disebabkan oleh infeksi virus penyebab atau infeksi yang belum ditentukan. Hasil ini tertuang dalam sebuah makalah yang terbit di Archives of Surgery edisi Januari tahun 2010.

Para peneliti juga menemukan kecenderungan peningkatan kasus penyakit apendisitis ini selama musim panas. Meski begitu, belum ditemukan hubungan sebab-akibat pasti antara kedua faktor ini

3. Kurang makan makanan berserat

Pada dasarnya, makanan bukanlah penyebab apendisitis. Akan tetapi, penyumbatan usus yang kemudian meradang bisa saja terjadi akibat penumpukan makanan tertentu yang tidak hancur saat dicerna. Misalnya makanan cepat saji, yang tinggi karbohidrat dan rendah serat.

Dalam sebuah penelitian terhadap hampir dua ribu orang anak di Yunani, terdeteksi bahwa anak-anak yang mengalami apendisitis memiliki asupan serat yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang sehat.

Dalam studi kasus lainnya yang dilakukan di Amerika Serikat, ditemukan bahwa anak-anak yang asupan seratnya lebih dari cukup mengalami penurunan risiko apendisitis hingga 30% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang jarang makan serat.

Apendisitis paling sering disebabkan oleh penumpukan feses yang mengeras, tanda sembelit. Serat dapat meningkatkan berat dan ukuran feses karena bersifat menyerap air, membuatnya lebih lunak sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan melalui anus.

Feses yang keras bisa menjadi tanda bahwa Anda kurang mengonsumsi makanan berserat.

4. Paparan polusi udara

Terdapat juga kaitan antara polusi udara – terutama, kadar ozon yang tinggi – dan radang usus buntu. Para ahli tidak yakin mengapa polusi udara terkait dengan peningkatan risiko radang usus buntu, namun kemungkinan kadar ozon yang tinggi meningkatkan peradangan usus atau mengganggu mikroba pada usus.

Penelitian menunjukkan bahwa radang usus buntu lebih sering terjadi pada musim panas, kemungkinan akibat kombinasi peningkatan polusi udara, infeksi pencernaan dan tingginya konsumsi makanan cepat saji dan makanan yang tinggi karbohidrat dan rendah serat.

Obat & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk penyakit usus buntu?

Perawatan untuk radang usus buntu bervariasi. Pada kasus yang langka, radang usus buntu dapat membaik tanpa operasi. Perawatan dapat hanya melibatkan antibiotik dan diet cairan.

Pada kebanyakan kasus, operasi akan diperlukan. Jenis dari operasi akan tergantung pada detail kasus Anda.

Jika Anda memiliki abses yang belum pecah, Anda mungkin akan diberikan antibiotik terlebih dahulu. Kemudian, dokter akan mengeluarkan abses dengan tabung yang dimasukkan melalui kulit. Operasi akan mengangkat usus buntu setelah Anda menerima perawatan untuk infeksi.

Terapi apendisitis yaitu dengan mengangkat usus yang buntu, dikenal dengan apendektomi. Apendektomi yaitu pembedahan perut darurat yang paling sering dilakukan. Ada dua jenis apendektomi:

  • Laparoskopi apendektomi: sebuah selang (scope) yang dimasukkan ke perut untuk melihat dan mengangkat usus buntu
  • Apendektomi terbuka: sebuah operasi usus yang buntu ini akan memotong perut kanan bawah untuk mengangkat usus yang buntu

Pada kasus yang ringan, kebanyakan orang dirawat selama 1 hari atau dapat pulang di hari yang sama dengan operasi. Untuk kasus yang berat di mana usus yang buntu sudah pecah, pasien akan dirawat inap lebih lama dan akan diberikan suntikan antibiotik. Dokter akan memonitor adanya komplikasi.

Adakah obat-obatan alami yang dapat mengatasi penyakit usus buntu?

Berikut adalah obat-obatan alami yang mungkin bisa mengatasi penyakit usus buntu:

1. Bawang putih

Bawang putih dapat membantu mengurangi gejala apendisitis, karena kaya akan antiinflamasi yang dapat menyebabkan penurunan radang.

Tidak hanya itu, bawang putih juga dapat mengurangi sakit perut dan membantu memperbaiki masalah seperti muntah dan mual. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk menambahkan bawang putih pada rutinitas harian Anda.

  • Makanlah 2-3 siung bawang putih mentah pada perut kosong setiap hari. Anda juga dapat menggunakan bawang putih pada masakan.
  • Pilihan lain adalah untuk mengonsumsi kapsul bawang putih, tetapi ini dapat dilakukan hanya jika Anda telah berkonsultasi dengan dokter.

2. Minyak jarak

Minyak jarak dapat membantu mencegah penyakit usus buntu, terutama pada gejalanya. Ini dapat membantu penyumbatan usus buntu yang mengarah ke mengurangi masalah peradangan. Tidak hanya itu, minyak jarak juga dapat memberikan bantuan pada masalah sembelit, masalah usus, dan masalah gas jika dikonsumsi secara oral.

  • Siapkan minyak jarak dan kain flanel besar yang dilipat.
  • Berbaringlah dengan dialasi oleh handuk.
  • Tuangkan 2 sendok makan minyak jarak di atas perut Anda, kemudian letakkan kain di atasnya.
  • Ulangi mengonsumsi obat penyakit usus buntu ini sebanyak 3 kali seminggu selama 2-3 bulan.

3. Jahe

Jahe dapat ditemukan di hampir setiap dapur dan dapat membantu mengurangi gejala radang apendisitis. Jahe kaya akan antiradang alami yang membantu dalam mengurangi peradangan dan nyeri perut.

Jahe juga efektif dalam memberikan bantuan pada gejala lain seperti mual dan muntah. Agar Anda dapat merasakan manfaatnya, Anda dapat mengonsumsi teh jahe atau menggunakan jahe untuk memijat bagian perut.

  • Minum teh jahe sebanyak 2-3 kali sehari. Untuk membuatnya, didihkan satu sendok teh jahe parut atau iris dalam secangkir air mendidih selama 5-10 menit.
  • Pijat bagian bawah perut Anda dengan minyak jahe beberapa kali sehari.
  • Anda juga dapat mengonsumsi kapsul jahe, namun setelah berkonsultasi dengan dokter.

4. Sari lemon

Sari lemon dapat membantu meringankan rasa sakit dan radang berkat sifat dari sitrusnya yang dapat membantu pada gangguan pencernaan dan sembelit. Tidak hanya itu saja, lemon juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah infeksi dan sebagai obat penyakit usus buntu alami

  • Keluarkan sari dari satu buah lemon.
  • Campurkan dengan madu alami dengan kuantitas yang sama.
  • Konsumsi campuran ini beberapa kali sehari.
  • Ulangi hal ini setiap hari selama beberapa minggu.

5. Teh mint

Teh mint dapat membantu menyembuhkan banyak gejala penyakit usus buntu. Ini membantu dalam meredakan mual dan muntah, serta mengurangi masalah gas dan sakit perut. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi teh mint secara teratur untuk mendapatkan pengaruhnya pada radang usus yang buntu.

  • Buatlah teh mint dengan menambahkan satu sendok makan daun mint segar pada secangkir teh mendidih, dan biarkan selama 5-10 menit.
  • Saring dan tambahkan beberapa madu segar ke dalam teh.
  • Minum teh ini 2-3 kali sehari selama beberapa minggu.
  • Untuk memerangi mual dan muntah, Anda dapat mengunyah beberapa daun mint segar.

6. Makanan tinggi serat

Sembelit dapat berkontribusi untuk apendisitis. Jadi, makanan yang kaya akan serat sangatlah dianjurkan.

Selain itu, menurut sebuah studi tahun 2000 yang diterbitkan dalam International Journal of Food Science and Nutrition, asupan serat yang rendah bisa memainkan peran dalam munculnya penyakit usus buntu.

Makan makanan tinggi serat seperti kacang, mentimun, tomat, bit, wortel, brokoli, kacang polong, beras merah, gandum, biji labu, biji bunga matahari, dan buah, serta sayuran hijau lainnya sangat baik untuk obat penyakit usus buntu.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit ini?

Pemeriksaan fisik diperlukan untuk mengeliminasi penyakit lain yang menghasilkan gejala lain yang menyerupai gejala radang usus buntu. Dokter akan memulai dengan melakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik melihat sensitivitas pada kuadran bawah kanan perut. Jika Anda sedang hamil, mungkin akan terasa lebih sakit. Jika terjadi lubang, perut Anda dapat menjadi keras dan bengkak.

Perut yang bengkak dan kaku adalah gejala yang harus didiskusikan dengan dokter segera.

Selain melihat sensitivitas, dokter akan melakukan beberapa tes untuk radang usus buntu:

  • Urinalisis dapat mengeliminasi infeksi saluran kemih atau batu ginjal
  • Pemeriksaan pelvis dapat memastikan bahwa wanita tidak memiliki gangguan reproduksi, serta mengeliminasi infeksi pelvis lainnya
  • Tes kehamilan dapat mengeliminasi dugaan kehamilan ektopik
  • Abdominal imaging dapat menentukan apakah Anda memiliki abses atau komplikasi lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan X-ray, ultrasound atau CT scan.
  • X-ray dada dapat mengeliminasi pneumonia lobus kanan bawah, yang kadang memiliki gejala menyerupai radang usus buntu.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyakit ini?

Berikut adalah gaya hidup dan pengobatan rumahan yang dapat membantu Anda mengatasi radang usus buntu:

1. Hindari aktivitas berat

Jika apendektomi dilakukan melalui laparoskopi, batasi aktivitas Anda selama 3-5 hari. Jika Anda memiliki apendektomi terbuka, batasi aktivitas Anda selama 10-14 hari.

Selalu tanyakan dokter tentang batasan pada aktivitas dan kapan Anda dapat kembali melakukan aktivitas normal setelah operasi.

2. Tahan perut Anda saat batuk

Letakkan bantal di atas perut dan berikan tekanan sebelum Anda batuk, tertawa atau bergerak untuk membantu mengurangi rasa sakit.

3. Hubungi dokter jika obat penawar rasa sakit Anda tidak membantu

Merasa sakit dapat memberikan stres tambahan pada tubuh dan memperlambat proses pemulihan. Jika Anda masih merasa sakit walau telah menggunakan penawar rasa sakit, hubungi dokter.

4. Bangun dan bergerak saat Anda siap

Mulai dengan perlahan dan tingkatkan aktivitas saat Anda sudah merasa siap. Mulailah dengan jalan sedikit demi sedikit.

5. Tidur saat Anda merasa lelah

Saat tubuh Anda dalam pemulihan, Anda mungkin akan lebih merasa mengantuk dari pada biasanya. Santai saja dan beristirahat saat Anda membutuhkannya.

6. Diskusikan untuk kembali ke tempat kerja atau sekolah dengan dokter Anda

Anda dapat kembali bekerja saat Anda sudah siap. Anak-anak dapat kembali bersekolah dalam kurang dari seminggu setelah operasi. Anak-anak harus menunggu 2-4 minggu untuk kembali melakukan aktivitas berat, seperti kelas olahraga.

Pencegahan dan Peringatan

Benarkah penyakit usus buntu bisa kambuh?

Sebenarnya, sampai saat ini para ahli tidak mengetahui penyebab pasti dari apendisitis yang kambuh lagi. Ada beberapa hal yang mungkin menyebabkan radang usus buntu kambuh dan membuat Anda mengalami rasa sakit di bagian perut kanan bawah.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 mengungkapkan bahwa peluang penyakit usus buntu kambuh bisa diakibatkan karena ketika operasi usus buntu, masih ada bagian atau usus yang masih tertinggal.

Studi lain juga menyatakan hal yang sama. Bila infeksi berikutnya terjadi pada bekas operasi, bisa disebabkan karena masih ada bagian usus buntu yang tersisa sekitar 3-5 milimeter.

Ketika radang usus buntu kambuh, maka hal ini biasanya akan ditangani dengan cara melakukan operasi usus buntu lagi. Inilah mengapa saat Anda merasakan sakit seperti saat mengalami penyakit usus buntu beberapa waktu lalu, segera periksakan diri ke dokter.

Bagaimana cara mencegah kondisi ini kambuh?

Karena belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan hal ini, sebenarnya tak ada ketentuan khusus bagaimana mencegah kondisi ini. Namun, Anda bisa melakukan beberapa hal berikut ini untuk menghindari komplikasi setelah melakukan operasi usus buntu yang pertama kalinya.

  • Tetap mengonsumsi makanan yang dianjurkan dokter dan menghindari makanan yang jadi pantangan.
  • Setelah operasi usus buntu berhasil, perbanyak makan serat untuk membantu memperlancar pencernaan.
  • Pastikan tubuh Anda tidak kekurangan cairan dengan cara minum air sebanyak 8-10 gelas per hari.
  • Rawat bekas luka dengan baik. Jika memang Anda sudah diperbolehkan untuk pulang satu atau dua hari setelah operasi, maka Anda harus pulang dengan keadaan luka operasi usus buntu yang masih ‘basah’. Biasanya luka operasi usus buntu membutuhkan waktu 2-3 minggu setelah operasi. Sering-sering berkonsultasi dan memeriksakan luka Anda ke dokter.
  • Tanyakan pada dokter kapan Anda dapat melakukan aktivitas fisik kembali. Setiap orang lama sembuhnya berbeda-beda. Namun, rata-rata orang yang baru menjalani operasi usus buntu memerlukan waktu minimal 4 minggu untuk kembali pulih.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Begini Cara Akar Manis Membantu Melindungi Lambung

    Akar manis berguna untuk lambung dalam banyak cara. Yuk, luangkan waktu membaca penyebab lambung bermasalah dan manfaat licorice bagi lambung.

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Konten Bersponsor
    gambar akar manis alias licorice yang bermanfaat untuk lambung
    Gangguan Pencernaan, Health Centers 18/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Sindrom Usus Bocor, Masalah Pencernaan yang Misterius dan Memicu Banyak Penyakit

    Sindrom usus bocor adalah kondisi saat bakteri dari saluran cerna memasuki darah lewat celah dinding usus. Uniknya, kondisi ini belum diakui dunia medis.

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Gangguan Pencernaan, Health Centers 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

    6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

    Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

    Bagaimana Stres Memicu dan Memperparah Gejala IBS?

    Stres dan cemas ternyata memengaruhi kualitas hidup orang dengan IBS. Bagaimana bisa terjadi dan adakah cara untuk mengatasinya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Gangguan Pencernaan, Health Centers 06/06/2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    Konten Bersponsor
    tanda cacingan

    Perlu Tahu! Segudang Tanda Cacingan yang Sering Diabaikan

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Willyson Eveiro
    Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 5 menit
    bahan kimia alat masak celiac

    Bahan Kimia pada Alat Masak Antilengket Tingkatkan Risiko Penyakit Celiac

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit
    mengusir perut kembung

    9 Makanan yang Ampuh Mengusir Perut Kembung

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 6 menit
    Konten Bersponsor
    perbedaan maag dan gerd

    Apa Beda Sakit Maag, Dispepsia, dan GERD?

    Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda
    Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . Waktu baca 4 menit