home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Pilihan Bahan Herbal yang Ampuh Sebagai Obat Usus Buntu

Pilihan Bahan Herbal yang Ampuh Sebagai Obat Usus Buntu

Radang usus buntu atau apendisitis bisa bersifat akut (terjadi tiba-tiba dan sebentar) atau kronis (berkepanjangan). Selain pengobatan dokter, gejala usus buntu bisa saja diatasi dengan obat herbal dari bahan alami. Apa saja?

Obat alami untuk meringankan gejala usus buntu

bawang putih mengobati kutu air usus buntu

Sebelum mencoba apa pun, penting Anda pahami bahwa obat herbal hanya dapat meringankan gejala dan tidak menyembuhkan usus buntu sampai tuntas. Mengobati usus buntu sampai sembuh hanya bisa lewat konsultasi dan tindakan medis oleh dokter.

Beberapa obat alami dari tanaman herbal yang dapat membantu meringankan gejala sakit usus buntu, antara lain:

1. Bawang putih

Bawang putih mungkin dapat Anda jadikan obat alami untuk mencegah infeksi di usus buntu.

Menurut penelitian dari Avicenna Journal of Phytomedicine, kandungan allicin dalam bawang putih terbukti efektif melawan dua jenis bakteri (Salmonella dan E. coli) yang sering menginfeksi saluran pencernaan, termasuk usus buntu.

Selain itu, studi lain yang diterbitkan dalam Journal of Immunology Research mengatakan berbagai zat aktif dalam bawang putih dapat membantu merangsang jenis sel tertentu dalam sistem imun untuk meningkatkan kerjanya.

Sistem imun yang kuat dapat bekerja lebih cepat dan efisien untuk melawan virus dan bakteri di usus buntu sebelum akhirnya menginfeksi lebih lanjut.

Untuk mendapatkan manfaat obat alami untuk usus buntu ini, cobalah kunyah potongan bawang putih mentah atau tambahkan irisan bawang putih pada masakan Anda sehari-hari.

2. Minyak jarak

Minyak jarak adalah obat herbal yang dapat digunakan untuk mengobati sakit perut sebelah kanan yang sering diakibatkan oleh radang usus buntu.

Beberapa praktisi pengobatan alternatif juga cukup sering menggunakan minyak jarak untuk meredakan rasa sakit dan mengurangi peradangan.

Namun, minyak jarak tidak boleh dikonsumsi dengan cara diminum sebagai obat alami untuk meredakan gejala usus buntu. Anda hanya perlu menempelkan di perut sebagai kompres hangat.

Berikut adalah langkah-langkah yang bisa Anda lakukan saat menggunakan minyak jarak sebagai obat herbal usus buntu.

  1. Siapkan minyak jarak, botol air hangat, baskom, dan kain handuk yang bersih, selembar plastik.
  2. Tuang minyak jarak dalam baskom, dan celupkan sebagian kain handuk ke dalamnya.
  3. Letakkan kain handuk yang menganduk minyak jarak ke area yang nyeri, lalu letakkan plastik di atasnya.
  4. Letakkan botol air hangat di atas plastik.
  5. Setelah 20 menit, bersihkan tubuh yang terkena dengan larutan baking soda dan air.

3. Jahe

Jahe punya banyak khasiat untuk kesehatan. Salah satunya diyakini sebagai obat herbal usus buntu. Rimpang jahe diketahui bersifat antibakteri yang dapat membantu sistem imun melawan infeksi bakteri di saluran cerna.

Hal tersebut juga diamini oleh sebuah penelitian pada 2017 yang diterbitkan dalam International Journal of Molecular Sciences.

Rangkuman penelitiannya melaporkan ekstrak jahe dapat membantu melawan bakteri Campylobacter coli, Escherichia coli, Salmonella, dan Campylobactor jejuni yang cukup sering ditemukan di sistem pencernaan; kemungkinan juga di usus buntu.

Selain manfaatnya untuk melawan infeksi bakteri, jahe juga terkenal pamornya sebagai herbal antimual dan muntah. Jahe mengandung beberapa senyawa bermanfaat seperti gingerol, beta-karoten, capsaicin, asam caffeic, curcumin, dan salicylate yang bisa meredakan mual.

Anda bisa mendapatkan berbagai manfaat jahe sebagai obat alami untuk meredakan usus buntu dengan mengunyah potongan jahe segar, atau menjadikannya teh herbal.

Caranya, campurkan satu sendok teh parutan jahe segar ke dalam satu cangkir air mendidih. Seduh selama 10 menit dan saring sebelum diminum hangat-hangat. Minumlah air jahe setiap kali Anda mulai merasa mual atau sakit perut.

4. Teh daun mint

Daun peppermint (mint) dapat dijadikan sebagai obat herbal untuk meredakan mual dan kembung karena infeksi usus buntu.

Sebuah penelitian pada 2014 terbitan Journal of PeriAnesthesia Nursing menjabarkan bahwa baik daun segar dan minyak esensial mint dapat membantu mengatasi gangguan sistem pencernaan serta sindrom iritasi usus.

Selain itu, aroma minyak daun peppermint juga dapat dijadikan sebagai obat alami untuk meredakan gejala mual akibat usus buntu seperti yang pernah dilaporkan oleh Lauren Richter, seorang asisten dosen di Pusat Pengobatan University of Maryland School of Medicine.

Anda bisa merebus 3 – 4 helai daun mint segar selama 5 – 10 menit. Saring setelahnya dan tambahkan satu sendok teh madu asli sebagai pemanis. Minum teh daun mint selagi hangat untuk meredakan gejala mual akibat usus buntu.

5. Sari lemon

Sari lemon dapat membantu meringankan rasa sakit dan radang berkat sifat dari sitrusnya yang dapat membantu pada gangguan pencernaan dan sembelit. Tidak hanya itu saja, lemon juga dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah infeksi.

Untuk menggunakannya sebagai obat, Anda cukup memeras sari satu buah lemon, kemudian campurkan dengan madu alami dengan jumlah yang sama dengan sari lemon. Campuran ini bisa dikonsumsi beberapa kali sehari.

Gunakan obat usus buntu alami dengan bijak

tes untuk dermatitis kontak

Sebelum pakai obat alami atau suplemen herbal apa pun untuk mengatasi radang usus buntu, sebaiknya selalu konsultasi dulu ke dokter.

Dokter dapat menilai apakah rencana penggunaan obat herbal benar-benar bermanfaat untuk kondisi Anda saat ini.

Jika ya, dokter juga dapat membantu mempertimbangkan obat herbal seperti apa yang dapat dan boleh digunakan, sesuai dengan kondisi yang Anda alami. Begitu pula dengan anjuran dosis, waktu minum, dan cara pakainya.

Konsultasi dokter bertujuan untuk mencegah obat alami maupun herbal untuk usus buntu digunakan secara berlebihan, salah penggunaannya, dan mencegah risiko interaksi obat yang berbahaya.

Sebelum membeli obat herbal, pastikan dulu produk tersebut sudah terdaftar resmi di situs Badan Pengawas Makanan dan Obat (BPOM). Produk obat herbal dan suplemen makanan yang terdaftar resmi di BPOM artinya sudah lolos uji keamanan dan kelayakan konsumsi.

Periksa juga tanggal kedaluwarsanya sebelum digunakan, dan jangan lupa ikuti dosis yang tertera pada kemasan atau sesuai anjuran dokter agar khasiatnya bisa Anda dapat secara optimal.

Obat usus buntu alami tidak ampuh, solusinya operasi

operasi usus buntu

Sampai saat ini belum ada obat herbal yang terbukti secara medis manjur menyembuhkan usus buntu. Obat alami umumnya hanya berfungsi untuk membantu meredakan gejala yang menyertai penyakitnya, atau untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Namun, bukan total mengobati infeksi usus buntu.

Pengobatan standar untuk radang usus buntu adalah pemberian obat pereda nyeri, antibiotik untuk usus buntu (hanya untuk kasus tertentu), serta operasi pengangkatan usus buntu (appendektomi) lewat pembedahan.

Operasi usus buntu termasuk prosedur yang aman dan jarang menimbulkan efek samping atau komplikasi parah. Apendektomi telah menjadi andalan sebagai pengobatan radang usus buntu akut sejak 1889.

Penting untuk segera konsultasi kepada dokter saat mengalami radang usus buntu. Pengobatan yang terlambat berisiko komplikasi hingga fatal. Salah satu komplikasinya yaitu peritonitis yang bisa menyebabkan sepsis bahkan kematian.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

jikMadineh, H., Yadollahi, F., Yadollahi, F., Mofrad, E. P., & Kabiri, M. (2017). Impact of garlic tablets on nosocomial infections in hospitalized patients in intensive care units. Electronic physician, 9(4), 4064–4071. Retrieved 5 January 2021.

Sites, D., Johnson, N., Miller, J., Torbush, P., Hardin, J., Knowles, S., Nance, J., Fox, T. and Tart, R. (2014). Controlled Breathing With or Without Peppermint Aromatherapy for Postoperative Nausea and/or Vomiting Symptom Relief: A Randomized Controlled Trial. Journal of PeriAnesthesia Nursing, 29(1), pp.12-19. Retrieved 5 January 2021.

 Ghahramani, L., Roshanravan, R., Khodaei, S., Rahimi Kazerooni, S., & Moslemi, S. (2015). Acute Appendicitis as Complication of Colon Transit Time Study; A Case Report. Middle East journal of digestive diseases, 7, 185–188. Retrieved 5 January 2021.

 Appendicitis. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 5 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543

Liu, Q., Meng, X., Li, Y., Zhao, C. N., Tang, G. Y., & Li, H. B. (2017). Antibacterial and Antifungal Activities of Spices. International journal of molecular sciences, 18(6), 1283. doi:10.3390/ijms18061283

Bayan, L., Koulivand, P. H., & Gorji, A. (2014). Garlic: a review of potential therapeutic effects. Avicenna journal of phytomedicine, 4(1), 1–14. Retrieved 5 January 2021.

Arreola, R., Quintero-Fabián, S., López-Roa, R. I., Flores-Gutiérrez, E. O., Reyes-Grajeda, J. P., Carrera-Quintanar, L., & Ortuño-Sahagún, D. (2015). Immunomodulation and anti-inflammatory effects of garlic compounds. Journal of immunology research, 2015, 401630. doi:10.1155/2015/401630. Retrieved 5 January 2021.

Sites, D., Johnson, N., Miller, J., Torbush, P., Hardin, J., & Knowles, S. et al. (2014). Controlled Breathing With or Without Peppermint Aromatherapy for Postoperative Nausea and/or Vomiting Symptom Relief: A Randomized Controlled Trial. Journal Of Perianesthesia Nursing29(1), 12-19. doi: 10.1016/j.jopan.2013.09.008. Retrieved 5 January 2021.

 

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 19/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x