home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Cara Mengobati Radang Usus Buntu Melalui atau Tanpa Operasi

Cara Mengobati Radang Usus Buntu Melalui atau Tanpa Operasi

Radang usus buntu (apendisitis) menandakan adanya peradangan pada apendiks. Penyebabnya adalah penyumbatan, baik itu oleh fekalit (feses yang mengeras) maupun infeksi bakteri. Lantas, bagaimana cara mengobati radang usus buntu dengan atau tanpa operasi?

Pilihan cara mengobati radang usus buntu

Penyakit usus buntu harus segera diobati dengan cara yang tepat agar tidak berujung komplikasi. Di bawah ini adalah beberapa cara yang biasanya direkomendasikan untuk mengatasi usus buntu.

1. Minum antibiotik

obat-obatan saat haji

Bila kondisi peradangan Anda cukup ringan, cara mengobati usus buntu bisa dilakukan tanpa operasi. Pengobatan akan difokuskan dengan pemberian antibiotik untuk usus buntu dan obat-obatan lain untuk meredakan gejala.

Obat yang akan diberikan dapat meliputi amoksisilin yang dikombinasikan dengan asam klavulanat beserta sefotaksim atau fluoroquinolon. Terkadang, dokter juga memberikan obat seperti metronidazole atau tinidazole.

Biasanya obat diberikan melalui infus terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan obat-obatan minum. Durasi pengobatan kebanyakan dilakukan dalam rentang waktu sekitar 8 – 15 hari.

Pada beberapa pasien, pengobatan usus buntu dengan menggunakan antibiotik saja bias menjadi metode yang efektif. Bahkan, keefektifannya pernah dibuktikan pada beberapa penelitian.

Salah satunya dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of American Medical Association. Sebanyak 99,6 persen dari total 530 peserta yang memiliki radang usus buntu akut melaporkan rasa sakit yang berkurang setelah 10 hari diberi antibiotik.

Selanjutnya juga ditemukan, bahwa 73 persen pasien yang selama 1 tahun menderita usus buntu dan dirawat dengan antibiotik menjadi tidak perlu dilakukan operasi.

Periset juga menyatakan kalau kondisi usus buntu yang tidak darurat menjadi salah satu faktor keberhasilan mengobati usus buntu tanpa operasi.

Kemudian, penelitan tersebut diuji ulang pada 2018 melalui British Medical Journal. Hasilnya, menunjukkan bahwa antibiotik bisa menjadi cara untuk mengobati radang usus tanpa operasi yang tidak diikuti komplikasi.

Namun, bukan berarti dengan hanya mengonsumsi obat antibiotik radang usus buntu bisa sembuh begitu saja. Masih ada kemungkinan cukup besar untuk radang usus buntu kambuh kembali, bahkan setelah minum antibiotik sampai habis.

Dari penelitian di atas, cara mengobati radang usus buntu tanpa operasi ini bisa menimbulkan kekambuhan sebesar 39,1 persen dalam waktu 5 tahun. Bagi beberapa orang yang mengalami kekambuhan, satu-satunya jalan keluar adalah dengan cara operasi.

2. Perawatan di rumah untuk mendukung pemulihan

sakit perut dan keputihan

Mengobati radang usus buntu tidak akan efektif tanpa cara perawatan yang juga tepat di rumah. Oleh karena itulah Anda wajib melakukan perawatan di rumah. Jika tidak luka bekas operasi bisa menimbulkan komplikasi pasca operasi usus buntu, salah satunya peradarahan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan selama masa pemulihan tubuh dari usus buntu, antara lain:

  • menghindari aktivitas berat atau membuat Anda banyak bergerak seperti olahraga setelah operasi usus buntu, Anda baru bisa melakukan aktivitas ini setelah 2 hingga 6 minggu setelah operasi (jika memang dilakukan),
  • menggunakan waktu sebaik mungkin untuk berisitirahat demi meningkatkan sistem imun dalam menyembuhkan infeksi maupun mencegah terjadinya infeksi, dan
  • mengikuti pola makan yang diterapkan oleh dokter atau ahli gizi agar tidak memperberat kinerja usus yang sedang dalam masa pemulihan.

3. Operasi usus buntu (appendektomi)

operasi usus buntu

Operasi usus buntu atau appendektomi adalah cara mengobati usus buntu yang paling diutamakan. Seperti dilansir laman National Health Service, prosedur ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik berikut.

Operasi keyhole

Operasi lebih sering menjadi pilihan karena cenderung lebih cepat proses pemulihannya ketimbang operasi terbuka. Cara mengobati usus buntu dengan operasi ini dilakukan dengan membuat 3 atau 4 sayatan kecil di sekitar perut.

Kemudian, beberapa alat akan dimasukkan ek dalam perut Anda, seperti:

  • tabung berisi gas yang yang berfungsi untuk mengembangkan perut, alat ini membantu dokter bedah agar dapat melihat kondisi usus Anda lebih jelas,
  • laparoskopi atau tabung kecil yang dilengkapi kamera kecil untuk menyalurkan gambar di dalam perut pada monitor, serta
  • alat bedah kecil yang diperlukan untuk mengangkat usus buntu yang meradang.

Setelah apendiks yang bermasalah berhasil diangkat, dokter akan menutup sayatan dengan jahitan. Jahitan ini dapat dilepas dalam waktu 7 – 10 hari.

Operasi terbuka

Dalam beberapa kasus, operasi keyhole tidak dianjurkan sebagai cara untuk mengobati radang usus buntu. Sebagai gantinya, dokter akan merekomendasikan operasi terbuka.

Beberapa kondisi radang usus buntu yang perlu menggunakan metode pembedahan ini adalah:

  • usus buntu telah pecah dan terbentuk abses, serta
  • pasien sebelumnya telah menjalani oprerasi perut terbuka.

Operasi untuk mengobati usus buntu ini dilakukan dengan membuat sayatan lebih besar di sisi kanan bawah perut.

Ketika usus buntu telah pecah dan menyebabkan infeksi lebih luas ke lapisan peritoneum (peritonitis), sayatan biasanya dibuat di bagian tengah perut. Prosedur medis ini disebut juga deegan laparotomi.

Pada kasus usus buntu yang menyebabkan abses, dokter lebih dahulu mengeluarkan nanah dan mengeringkannya. Doter akan memasukkan tabung sebagai jalur nanah abses keluar dari tubuh.

Setelah memastikan infeksi sudah hilang (beberapa minggu), barulah operasi usus buntu dilakukan. Selama masa pengeringan abses, dokter akan memberikan suntikan antibiotik. Selanjutnya, antibiotik diberikan lewat mulut (antibiotik oral).

Cara mengobati usus buntu harus cepat tanggap

sakit gejala usus buntu

Tidak seperti flu atau pilek yang bisa diobati dengan pengobatan rumahan dan istirahat, radang usus buntu butuh penanganan dokter langsung.

Sebelum berobat ke dokter untuk mencari cara terbaik mengobati radang usus, Anda juga perlu memahami bedanya sakit perut biasa dengan gejala apendisitis. Sakit perut akibat usus buntu yang meradang berbeda dengan sakit perut karena maag kambuh, misalnya.

Perlu diingat bahwa sakit perut pertanda usus buntu biasanya muncul di sisi kanan bawah perut. Sementara sakit perut biasa terasa di bagian tengah atau tepat di bawah dada. Selain itu, gejala lain yang umumnya menyertai adalah mual dan muntah, demam, serta diare.

Saat seseorang terkena apendisitis, bagian usus yang bertugas memengaruhi sistem kekebalan tubuh mengalami peradangan.

Tanpa perawatan, usus buntu bisa membentuk abses yaitu benjolan yang berisi nanah. Nanah merupakan kumpulan bakteri, sel jaringan, dan sel darah putih yang mati.

Jika dalam waktu 48 – 72 jam tidak juga diobati dengan tepat, usus buntu bisa pecah. Pecahnya usus yang meradang ini bisa menyebarkan bakteri penyebab infeksi ke seluruh tubuh. Bakteri bisa masuk ke dalam aliran darah menyebabkan sepsis (keracunan darah) yang bisa berujung dengan kematian.

Oleh karena itu, ketika Anda telah mengalami gejala-gejala tersebut dan mencurigainya sebagai radang usus buntu, jangan menunda dan segera kunjungi dokter.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Antibiotics instead of surgery safe for some appendicitis. (2012). Harvard Health Publishing. Retrieved 5 January 2021, from https://www.health.harvard.edu/blog/antibiotics-instead-of-surgery-safe-for-some-with-appendicitis-201204114588

Surgery for appendicitis? Antibiotics alone may be enough. (2019). Harvard Health Publishing. Retrieved 5 January 2021, from https://www.health.harvard.edu/blog/surgery-for-appendicitis-antibiotics-alone-may-be-enough-2019010915692

Appendicitis – Symptoms and causes. (2019). Mayo Clinic. Retrieved 5 January 2021, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/symptoms-causes/syc-20369543

Salminen, P., Tuominen, R., Paajanen, H., Rautio, T., Nordström, P., & Aarnio, M. et al. (2018). Five-Year Follow-up of Antibiotic Therapy for Uncomplicated Acute Appendicitis in the APPAC Randomized Clinical Trial. JAMA320(12), 1259. doi: 10.1001/jama.2018.13201. Retrieved 5 January 2021.

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui 19/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro