Leukoplakia

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu leukoplakia?

Leukoplakia adalah salah satu jenis masalah mulut, di mana bercak-bercak keputihan atau abu-abu muncul pada bagian dalam dinding mulut, gusi, atau lidah.

Terkadang, leukoplakia tidak hanya menimbulkan bercak putih saja, tapi juga membuat permukaan lidah kasar atau berbulu yang disebut sebagai oral hairy leukoplakia (OHL).

Bercak keputihan ini dapat terbentuk akibat beberapa faktor. Namun, penyebab paling umum dari kondisi ini adalah konsumsi tembakau jangka panjang, salah satunya rokok.

Selain rokok, pemasangan gigi palsu yang tidak tepat serta kebiasaan menggigit bagian dalam pipi juga berpotensi menimbulkan bercak-bercak tersebut.

Timbulnya kondisi leukoplakia adalah karena reaksi mulut terhadap iritasi kronis pada selaput lendir mulut. Kondisi ini berbeda dengan masalah mulut lain yang memiliki gejala serupa, seperti sariawan atau lichen planus karena kondisi ini berpotensi berkembang menjadi kanker mulut.

Namun, tidak semua kasus kondisi ini dapat berubah menjadi kanker mulut. Alih-alih merupakan kondisi medis tertentu, leukoplakia adalah sebutan untuk berbagai macam luka berwarna putih di mulut.

Kemungkinan kanker muncul tergantung pada ukuran, bentuk, dan keberadaan sel-sel abnormal pada mulut. Dokter gigi Anda dapat menyarankan biopsi apabila area tersebut terlihat membahayakan.

Seberapa umumkah leukoplakia?

Leukoplakia adalah masalah mulut yang cukup jarang terjadi. Menurut Medscape, diperkirakan hanya terdapat 1% dari populasi dunia yang terdampak oleh kondisi ini.

Kondisi ini termasuk berisiko dan dapat berkembang menjadi kanker. Dalam 15 tahun, ditemukan sel kanker skuamosa pada 3 hingga 17,5 persen penderita leukoplakia.

Masalah mulut ini lebih umum terjadi pada pasien berusia lanjut, yaitu yang berada di rentang usia 40 hingga 70 tahun. Kasus kejadian penyakit ini pada pasien berusia 20-an relatif rendah.

Selain itu, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada pasien berjenis kelamin pria dibanding dengan pasien wanita, dengan rasio pria dan wanita sekitar 2:1.

Leukoplakia merupakan kondisi yang dapat diatasi dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter gigi.

Jenis

Apa saja jenis-jenis leukoplakia?

Leukoplakia dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Berikut merupakan penjelasan mengenai masing-masing jenis dari leukoplakia, di antaranya adalah:

1. Homogenik

Bercak yang terdapat pada jenis ini memiliki warna putih yang merata, tekstur lunak, berkerut, dan kasar. Bentuk dari bercak homogenik menyerupai bercak yang terdapat di sariawan biasa.

2. Nonhomogenik

Bercak jenis nonhomogenik memiliki warna putih dan merah, tidak merata, bertekstur seperti benjolan-benjolan kecil (nodular) dan timbul.

Leukoplakia jenis nonhomogenik memiliki kemungkinan 7 kali lebih besar untuk berkembang menjadi sel kanker jika dibandingkan dengan jenis homogenik.

3. Proliferative verrucous leukoplakia (PVL)

PVL, atau yang juga disebut dengan florid papillomatosis, merupakan salah satu subtipe dari nonhomogenik yang paling langka dan berkembang secara cepat apabila dibanding dengan jenis-jenis lainnya.

Bercak yang terdapat pada PVL dipercaya merupakan infeksi dari virus Epstein-Barr, salah satu jenis virus herpes. Terkadang, bercak yang muncul disertai pula dengan serat-serat halus yang menyerupai rambut. Kondisi ini disebut dengan oral hairy leukoplakia (OHL).

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala leukoplakia?

Tanda-tanda dan gejala dari penyakit ini dapat dilihat dengan jelas, yaitu munculnya perubahan pada tampilan gusi, bagian dalam pipi, bawah mulut, atau lidah Anda. Perubahan tersebut dapat muncul dalam bentuk:

  • Area berwarna putih atau keabuan yang tidak dapat dihilangkan dengan cara digosok
  • Tekstur yang tidak teratur atau rata
  • Penebalan pada area
  • Disertai luka merah (eritoplakia), yang kemungkinan menunjukkan perubahan menuju fase awal kanker

Pada beberapa kasus leukoplakia, khususnya pada jenis yang berambut, umumnya memengaruhi orang dengan sistem imun yang melemah akibat pengobatan atau penyakit. terutama HIV/AIDS.

Kondisi ini menyebabkan munculnya bercak yang putih dan berbulu halus. Bercak tersebut menyerupai lipatan atau benjolan dan ditemukan di bagian samping lidah.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter.

Kapan saya harus periksa ke dokter gigi?

Kadang luka pada mulut dapat mengganggu atau terasa sakit walaupun tidak membahayakan. Namun pada kasus tertentu, masalah pada mulut dapat mengindikasikan kondisi yang lebih serius.

Kunjungi dokter gigi apabila Anda memiliki:

  • Plak putih atau luka pada mulut yang tidak sembuh dengan sendirinya dalam 2 minggu
  • Benjolan atau area berwarna putih, merah atau gelap pada mulut
  • Perubahan pada jaringan mulut

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan medis yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan, periksakan gejala apapun yang Anda rasakan ke dokter gigi terdekat sesegera mungkin.

Apa saja komplikasi yang bisa terjadi?

Umumnya, leukoplakia dapat diatasi dengan mudah dan tidak akan menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan-jaringan mulut Anda.

Namun, jika leukoplakia tidak segera ditangani, bercak putih yang terdapat di mulut berpotensi meningkatkan risiko terkena kanker mulut.

Sel-sel kanker dapat berkembang dari bercak-bercak putih. Meskipun bercak putih telah dibersihkan dengan operasi, ada kemungkinan sel-sel kanker masih tersisa di dalam mulut.

Penyebab

Apa penyebab leukoplakia?

Hingga saat ini, para ahli masih menelusuri apa penyebab pasti dari leukoplakia. Namun, diyakini bahwa penyebab dari leukoplakia adalah iritasi kronis pada mulut.

Mulut yang teriritasi dalam jangka panjang dapat menyebabkan jaringan-jaringan di dalamnya mengalami pembengkakan, penebalan, dan terkadang menghasilkan zat yang disebut dengan keratin.

Keratin merupakan protein penting yang menjaga kesehatan lapisan terluar kulit. Selain itu, keratin berperan dalam pembentukan struktur sel-sel kulit, serta melindungi kulit dari cedera atau luka. Protein ini juga membantu menyembuhkan luka terbuka pada kulit.

Bercak-bercak putih di dalam mulut umumnya merupakan gejala dari cedera atau luka ringan, dan terkadang tidak selalu dikaitkan dengan leukoplakia.

Beberapa kondisi diyakini dapat menimbulkan cedera atau luka pada mulut. Faktor yang paling berperan adalah tembakau yang terkandung di dalam rokok.

1. Tembakau

Pada perokok aktif, zat yang dihasilkan dari pembakaran tar tembakau dan resin dapat mengiritasi mulut. Merokok dalam jangka panjang berpotensi memicu pembentukan bercak-bercak putih di dalam mulut.

2. Alkohol

Ada efek samping dari minuman beralkohol yang bisa terjadi pada tubuh. Hal ini dikarenakan kandungan bahan-bahan yang berisiko merusak membran mukosa, yaitu lapisan dalam kulit.

3. Masalah pada anatomi gigi dan mulut

Jika bentuk mulut dan gigi memiliki kelainan sejak lahir, seperti adanya maloklusi (gigi berantakan), atau gigi yang terlalu tajam, bagian dalam dinding mulut berisiko sering tergigit. Hal ini yang menyebabkan muncul luka dan timbul bercak putih.

4. Infeksi virus

Sementara untuk oral hairy leukoplakia, penyebab utamanya adalah infeksi virus Epstein-Barr (EBV). Tepat setelah terinfeksi, virus EBV akan menetap di dalam tubuh Anda seumur hidup. Namun, biasanya virus ini tidak aktif.

Ketika sistem kekebalan tubuh Anda sedang melemah, virus EBV akan aktif kembali sehingga bisa mengembangkan bercak putih leukoplakia berbulu kapan saja.

Kondisi-kondisi lain yang kemungkinan memengaruhi munculnya leukoplakia adalah:

  • Menjalani kemoterapi.
  • Menderita HIV/AIDS.
  • Makanan atau minuman yang terlalu panas.
  • Terdapat jamur Candida albicans di dalam mulut.
  • Pemasangan gigi palsu atau kawat gigi yang kurang tepat.
  • Kurang menjaga kesehatan mulut dan gigi.
  • Kebiasaan menggigit lidah atau bagian dalam pipi.
  • Kekurangan vitamin A dan B.

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko saya terkena leukoplakia?

Leukoplakia adalah kondisi mulut yang dapat terjadi pada hampir setiap orang, terlepas dari berapa pun usianya dan apa kelompok rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Perlu Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan menderita suatu kondisi kesehatan atau penyakit.

Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan seseorang terkena penyakit atau kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu kemunculan leukoplakia adalah:

1. Usia

Kondisi kesehatan ini lebih umum ditemukan pada pasien yang memasuki usia 50-70 tahun. Sekitar 80% penderita kondisi ini berusia di atas 40 tahun.

Jadi, apabila Anda termasuk di dalam rentang usia tersebut, risiko Anda untuk mengalami kondisi ini lebih tinggi.

2. Jenis kelamin

Kebanyakan kasus kemunculan bercak putih di mulut terjadi pada pasien berjenis kelamin laki-laki dibanding dengan pasien perempuan. Namun, penyebab pasti dari faktor ini masih belum diketahui secara pasti.

3. Aktif merokok

Tembakau pada rokok diyakini merupakan penyebab utama dari timbulnya bercak-bercak putih pada mulut. Maka dari itu, apabila Anda termasuk perokok aktif, peluang Anda untuk mengembangkan penyakit ini lebih besar.

4. Pemasangan gigi palsu yang tidak baik

Apabila Anda pernah menjalani prosedur pemasangan gigi palsu, namun prosedur tersebut dilakukan secara kurang tepat, hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya iritasi pada mulut.

Iritasi tersebut dapat meningkatkan risiko kemunculan bercak keputihan pada mulut.

5. Menderita HIV/AIDS

Penyakit yang memengaruhi sistem imun tubuh, seperti HIV/AIDS, dapat meningatkan risiko penderitanya untuk memiliki bercak-bercak di dalam mulutnya.

Selain itu, penderita HIV/AIDS juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terpapar infeksi virus Epstein-Barr, yang dapat memperbesar peluang terkena leukoplakia.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis leukoplakia?

Dalam mendiagnosis kondisi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan yang berfokus pada bagian mulut Anda, seperti:

  • Mengecek adanya bercak putih di dalam mulut.
  • Mencoba mengelap bercak putih yang ada.
  • Mendiskusikan riwayat medis serta faktor risiko yang ada.
  • Menentukan apa penyebab-penyebabnya.

Ketika dokter atau tim medis meyakini bahwa bercak putih yang Anda miliki bukan sariawan biasa, Anda mungkin akan menjalani pemeriksaan tambahan berupa biopsi. Berikut penjelasannya.

1. Biopsi oral brush

Prosedur ini dilakukan dengan cara mengambil sel-sel dari bercak dengan sikat kecil. Namun, hasil dari biopsi jenis ini terkadang tidak cukup akurat untuk menentukan apakah ada sel kanker pada bercak.

2. Biopsi eksisional

Pada prosedur ini, dokter akan menyayat sebagian jaringan dari bercak putih di mulut Anda. Kemudian, jaringan tersebut akan diperiksa di laboratorium.

Apa saja pengobatan untuk leukoplakia?

Fokus utama dari pengobatan leukoplakia adalah untuk menghilangkan bercak-bercak putih, serta mencegah kondisi tersebut kambuh di lain waktu. Selain itu, menghilangkan sumber atau mengatasi penyebab iritasi juga dapat membantu.

Tingkat keberhasilan pengobatan akan lebih tinggi apabila bercak atau luka ditemukan pada fase awal, yaitu ketika ukurannya masih kecil.

Jadi, usahakan untuk selalu memerhatikan jika ada perubahan yang tampak tidak biasa di area gigi dan mulut. Lalu, sebaiknya segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.

Untuk kebanyakan kasus, pengobatan berfokus pada mengurangi atau menghilangkan sumber iritasi, salah satunya adalah konsumsi tembakau atau alkohol.

Namun, apabila cara tersebut dinilai kurang efektif, dokter akan merekomendasikan penanganan lainnya:

1. Obat-obatan

Anda mungkin akan diberi resep obat-obatan sistemik, misalnya obat antivirus. Obat-obatan tersebut bertujuan untuk melawan virus Epstein-Barr, terutama yang ditemukan pada kasus leukoplakia berambut.

Selain obat minum, dokter juga akan meresepkan obat oles atau topikal retinoat yang diaplikasikan langsung pada area kulit yang terdampak.

2. Operasi

Dalam beberapa kasus, dokter akan menyarankan Anda untuk melakukan prosedur bedah atau operasi untuk menghilangkan bercak.

Bercak dapat dihilangkan dengan beberapa metode. Di antaranya adalah dengan menggunakan pisau bedah, laser, atau alat yang dapat membekukan dan menghancurkan sel kanker (cryoprobe).

3. Pemeriksaan lanjutan

Setelah berhenti menjalani pengobatan atau prosedur bedah, Anda diharuskan kembali ke dokter untuk pemeriksaan lanjutan. Hal ini penting karena kemungkinan bercak putih masih dapat muncul kembali di lain waktu.

Rutin konsultasikan kondisi Anda supaya dokter bisa terus memantau perkembangan Anda sekaligus menyarankan pengobatan lanjutan bila memang diperlukan.

Pencegahan

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan di rumah yang dapat saya lakukan untuk pencegahan?

Berikut adalah tips perubahan gaya hidup yang bisa Anda ikuti untuk mengatasi kondisi ini:

1. Berhenti merokok

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rokok adalah salah satu pemicu utama kondisi ini. Oleh karena itu, sebaiknya Anda berhenti merokok atau menggunakan produk tembakau lainnya.

Bicarakan dengan dokter tentang metode atau strategi paling tepat untuk membantu Anda berhenti merokok.

2. Rutin melakukan pemeriksaan mulut dan gigi

Pastikan Anda memiliki jadwal rutin mengunjungi dokter gigi, setidaknya 6 bulan sekali. Hal ini penting agar kesehatan dan kebersihan mulut Anda senantiasa terjaga, sehingga Anda terhindar dari risiko mengalami kondisi ini.

3. Menjalani pola makan yang sehat

Kondisi ini juga berkaitan dengan defisiensi atau kekurangan vitamin A dan B. Maka dari itu, tambahkan menu makanan yang sehat, bernutrisi, dan tentunya kaya akan kedua jenis vitamin tersebut.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Menjadi Social Smoker Ternyata Sama Bahayanya dengan Perokok Aktif

    Istilah social smoker yaitu sebutan bagi yang hanya merokok saat bersosialisasi. Namun, apa Anda tahu dampak kesehatannya sama saja seperti perokok aktif?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki

    Rokok Kretek: Kandungan dan Bahayanya untuk Kesehatan

    Rokok kretek adalah rokok asli Indonesia yang tak kalah berbahaya dengan rokok filter biasa. Kenali kandungan dan bahayanya dalam ulasan berikut.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini

    5 Cara Mudah dan Efektif untuk Membersihkan Paru-Paru Perokok

    Asap rokok yang dihirup penuh dengan racun yang bisa merusak paru. Oleh karena itu, yuk cari tahu berbagai cara untuk membersihkan paru-paru perokok.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini

    11 Cara Berhenti Merokok yang Terbukti Ampuh dan Bebas Risiko “Sakau”

    Selain kanker paru, ada banyak penyakit yang mengintai perokok aktif. Segera cari cara berhenti merokok yang paling pas agar tak menyesal di kemudian hari.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini

    Direkomendasikan untuk Anda

    infeksi mulut

    5 Kebiasaan Harian yang Bisa Bantu Mencegah Masalah dalam Mulut

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Dipublikasikan tanggal: 08/05/2020
    kebersihan gigi dan mulut

    4 Cara Menjaga Kebersihan Mulut Agar Tak Jadi Sarang Penyakit

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Dipublikasikan tanggal: 06/05/2020
    menjaga kesehatan mulut saat puasa

    Cara Menjaga Kebersihan Mulut Saat Berpuasa

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Roby Rizki
    Dipublikasikan tanggal: 06/05/2020
    menghilangkan bau mulut saat puasa

    7 Cara Cepat Menghilangkan Bau Mulut Saat Puasa

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Dipublikasikan tanggal: 24/04/2020