Lichen Planus

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 8 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Definisi lichen planus

Lichen planus adalah penyakit kulit berupa peradangan kronis yang menyerang kulit, kuku, dan lapisan mulut. Kejadiannya ditandai dengan kemunculan bintik-bintik berwarna merah keunguan.

Kondisi ini biasanya bersifat sementara, rata-rata berlangsung 10 tahun dan paling sering memengaruhi orang dewasa yang berusia lebih dari 40 tahun.

Seringnya penyakit ini tidak menimbulkan gejala yang parah sehingga dapat diatasi sendiri di rumah. Namun, bila bintik-bintik terasa gatal atau bahkan nyeri, Anda tentunya akan membutuhkan obat-obatan dari dokter.

Lichen planus bukanlah penyakit kulit menular. Jadi, Anda tak perlu khawatir akan tertular bila berada di dekat orang-orang yang menderita penyakit ini.

Seberapa umumkah lichen planus?

Lichen planus sangat umum terjadi, namun biasanya lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding laki-laki. Meski sering terjadi pada orang dewasa, lichen planus dapat mempengaruhi pasien usia berapa pun.

Untungnya, kondisi ini dapat dikelola dengan mengurangi faktor risiko. Silakan berdiskusi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Tanda dan gejala lichen planus

Pada kulit, jenis penyakit kulit ini akan menimbulkan bintik atau benjolan berwarna ungu kemerahan yang tampak mengilap dan kencang.

Bintik-bintik ini dapat muncul di bagian tubuh mana saja, tapi lebih sering pada pergelangan tangan, punggung, bawah, dan pergelangan kaki.

Kebanyakan orang mengalami kemunculan bintik-bintik yang lebih sedikit, tapi ada juga yang bintik-bintiknya tersebar di area yang luas dalam jumlah yang banyak.

Gejala lain yang juga menyertai adalah:

  • muncul sisik yang terasa kasar pada area kulit yang terus ditumbuhi benjolan,
  • gatal-gatal,
  • lepuhan (lebih jarang terjadi), dan
  • nyeri, terutama bila benjolan muncul di kulit sekitar alat kelamin.

Seperti yang sudah disebutkan, lichen planus juga bisa terjadi pada kuku. Tanda-tanda yang akan muncul berupa:

  • tonjolan atau lekukan pada kuku,
  • kuku yang terlihat membelah atau menipis, dan
  • kehilangan kuku, bisa sementara atau permanen.

Umumnya, penyakit ini hanya menyerang beberapa kuku saja.

Sedangkan pada lichen planus yang terjadi di dalam mulut, seringnya gejala muncul di bagian dalam pipi, tapi bisa juga di lidah, bibir, dan gusi. Tanda-tandanya adalah:

  • munculnya bercak atau garis putih kecil di dalam mulut yang terlihat seperti renda,
  • gusi membengkak dan kemerahan,
  • gusi yang mengelupas, serta
  • munculnya luka yang terasa sakit atau menimbulkan sensasi seperti terbakar.

Kapan harus periksa ke dokter?

Anda harus segera memeriksakan diri jika benjolan-bejolan tersebut menimbulkan rasa sakit dan panas yang mengganggu.

Selain itu, temui dokter ketika Anda mengalami gejala lichen planus pada mulut, alat kelamin, kulit kepala, atau kuku.

Tubuh setiap orang berbeda, respons yang akan diberikan saat terserang suatu penyakit pun akan berbeda pula. Bila Anda khawatir tentang gejala tertentu, silakan konsultasikan pada dokter.

Penyebab dan faktor risiko lichen planus

Apa penyebab lichen planus?

Penyebab lichen planus belum diketahui secara pasti. Diduga kuat penyakit ini terjadi karena adanya masalah pada kerja sistem kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan bekerja untuk melindungi tubuh dari penyakit. Pada orang-orang yang memiliki kelainan autoimun, sistem kekebalan keliru menganggap protein dalam kulit atau mukosa sebagai zat asing yang berbahaya. Sehingga, tubuh pun menyerang protein tersebut dan menimbulkan berbagai gejala pada kulit.

Kemungkinan lainnya, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi pemicu kemunculan penyakit ini. Di antaranya adalah:

  • penggunaan beberapa obat-obatan seperti obat diuretik (obat tekanan darah tinggi dan penyakit jantung) atau obat pereda nyeri,
  • infeksi hepatitis C,
  • tambalan logam pada gigi yang dapat menimbun lumut planus dalam mulut, dan
  • vaksin flu.

Apa yang meningkatkan risiko terkena lichen planus?

Penyakit ini dapat menyerang siapa saja. Namun, terdapat faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya. Faktor tersebut termasuk:

  • tidak menjaga kebersihan mulut,
  • merokok,
  • sering minum alkohol,
  • memiliki penyakit infeksi seperti hepatitis C,
  • memiliki reaksi alergi pada bahan atau zat tertentu, dan
  • memiliki riwayat keluarga yang pernah mengalami lichen planus.

Diagnosis dan pengobatan

Bagaimana penyakit ini didiagnosis?

Seringnya, dokter bisa mengetahui penyakit yang Anda derita hanya dengan melihat gejala yang ada di kulit, kuku, atau bagian dalam mulut Anda.

Namun, guna menegakkan diagnosis, terkadang dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan seperti:

  • biopsi, dengan mengambil sedikit sampel kulit atau jaringan yang terkena untuk diperiksa di bawah mikroskop,
  • tes hepatitis C, lewat pengambilan darah untuk melihat kemungkinan adanya virus, atau
  • tes alergi.

Apa saja pilihan pengobatan saya untuk lichen planus?

Seringnya, lichen planus yang ringan tidak membutuhkan penanganan khusus. Gejalanya bisa menghilang dengan sendirinya meski akan memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Obat-obatan baru akan dibutuhkan bila gejala seperti gatal-gatal atau nyeri sudah tak tertahankan dan mengganggu aktivitas Anda. Jenis obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi kondisi ini adalah sebagai berikut.

  • Salep kortikosteroid: cukup dioleskan di atas area kulit yang bermasalah. Bila kondisi makin parah, dokter mungkin akan memberkan obat dalam bentuk pil atau suntikan. Kortikosteroid hanya digunakan untuk jangka pendek.
  • Obat anti infeksi: salah satu jenisnya adalah obat antibiotik metronidazole oral.
  • Obat penahan sistem imun: untuk gejala yang lebih parah, obat-obatan seperti azathioprine atau mycophenolate akan diberikan guna menghambat kerja sistem imunitas tubuh yang berlebihan.
  • Antihistamin: untuk mengurangi rasa gatal yang muncul akibat lichen planus.

Pada beberapa kasus, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani fototerapi. Jenis fototerapi yang sering dilakukan untuk lichen planus adalah terapi yang menggunakan sinar ultraviolet B (UVB).

Fototerapi akan membantu menghilangkan bintik-bintik dan memperbaiki tampilan kulit.

Pasien harus menjalani terapi selama beberapa minggu, durasinya bergantung dengan kondisi masing-masing. Biasanya fototerapi dilakukan sebanyak dua sampai tiga kali seminggu.

Bila keadaan tak membaik setelah diberi obat atau terapi, dokter akan meresepkan obat retinoid yang diminum seperti acitretin. Sayangnya, obat ini tidak disarankan untuk ibu hamil karena dapat menimbulkan risiko cacat lahir.

Apa pun pengobatan yang dipilih, Anda tetap harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Hal ini penting agar Anda bisa memastikan bahwa penggunaan obat atau terapi benar-benar tepat dan aman untuk kondisi Anda.

Pengobatan di rumah

Sulit untuk mencegah lichen planus oral, tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan gejalanya. Di antaranya adalah:

  • menghindari stres,
  • tidak menggaruk area yang gatal,
  • menempelkan kompres dingin atau mandi oatmeal untuk mengurangi gatal,
  • kurangi atau berhenti merokok,
  • sikat gigi dua kali sehari, serta
  • mengurangi konsumsi makanan asam, pedas, dan yang mengandung kafein.

Anda juga perlu melakukan pemeriksaan gigi secara teratur, sehingga setiap masalah dengan gigi atau mulut dapat diidentifikasi dan diobati lebih dini.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perut Gatal Saat Hamil? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Perut gatal saat hamil merupakan hal yang normal tapi memang tidak nyaman. Ini bisa disebabkan oleh kulit ibu yang kering. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Atifa Adlina
Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 13 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Paronikia

Paronikia adalah infeksi yang terjadi di kulit sekitar kuku. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta pengobatan paronikia di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Kesehatan Kulit, Perawatan Kuku 8 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Impetigo

Impetigo adalah penyakit infeksi kulit bagian paling atas yang sangat menular. Apa penyebab dan gejalanya? Bagaimana mengobati kondisi ini?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Penyakit Kulit pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 3 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Pruritus

Prutitus atau kulit gatal merupakan kondisi yang umum terjadi. Penyebab penyakit ini cukup banyak. Apa saja itu? Bagaimana cara meredakannya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Kesehatan Kulit, Penyakit Kulit Lainnya 3 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit



Direkomendasikan untuk Anda

kutu bulu mata

Sering Tidak Disadari, Bulu Mata Juga Bisa Kutuan! Apa Gejalanya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Elita Mulyadi
Dipublikasikan tanggal: 1 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
gatal setelah mandi

Gatal Setelah Mandi? Beberapa Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Andisa Shabrina
Dipublikasikan tanggal: 28 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
bayi tumbuh gigi

11 Ciri Bayi Tumbuh Gigi yang Perlu Diketahui Orangtua

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 25 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
gatal di selangkangan

8 Penyebab Gatal di Selangkangan dan Cara Ampuh Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit