Asma Bronkial

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal update Mei 20, 2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu asma bronkial?

Asma bronkial adalah sebutan lain untuk penyakit asma umum yang disebabkan oleh peradangan dalam saluran udara (bronkus). Peradangan membuat saluran pernapasan bengkak dan sangat sensitif.

Akibatnya, saluran pernapasan menyempit sehingga udara yang masuk ke paru-paru jadi terbatas.

Peradangan juga membuat sel di saluran pernapasan membuat lebih banyak lendir dari biasanya. Lendir ini dapat makin mempersempit saluran pernapasan dan menyulitkan Anda untuk bernapas lega.

Tergantung faktor pemicunya, penyakit ini terdiri dari banyak jenis. Namun, jenis yang paling umum meliputi:

  • Asma olahraga
  • Asma nokturnal (kambuh hanya di malam hari)
  • Asma karena pekerjaan tertentu
  • Asma batuk
  • Asma alergi

Seberapa umumkah kondisi ini?

Menurut data World Health Organization (WHO), lebih dari 339 juta orang di dunia mengidap asma bronkial. Indonesia sendiri menempati peringkat ke-20 sebagai negara dengan kasus kematian akibat asma bronkial yang terbanyak.

Penyakit yang memengaruhi pernapasan ini lebih sering menyerang anak-anak. Namun, orang dewasa yang berusia di bawah 40 tahun juga bisa mengalaminya.

Asma adalah salah satu penyakit tidak menular paling umum di seluruh dunia, dengan tingkat kematian yang relatif rendah.

Namun, kebanyakan kasus kematiannya ditemukan di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah, termasuk Indonesia.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda dan gejala asma bronkial?

Serangan asma muncul ketika saluran udara mengalami peradangan dan tersumbat.

Gejala asma sangatlah beragam. Satu orang dan lainnya bisa mengalami gejala yang berbeda, termasuk tingkat keparahannya, durasi serangan, hingga frekuensinya.

Hal yang menandai terjadinya asma bronkial adalah ketika adanya peningkatan kepekaan saluran napas terhadap debu, udara dingin, dan lain-lain.

Anda mungkin saja mengalami serangan asma setelah lama tidak kambuh, dan selanjutnya tiba-tiba jadi mengalami serangan asma secara berkala. Orang lain mungkin mengalami gejala setiap hari, tapi hanya di malam hari atau hanya setelah beraktivitas misalnya.

Beberapa ciri-ciri dan gejala khas dari penyakit asma bronkial adalah:

1. Batuk

Batuk dapat berupa batuk kering maupun berdahak (berlendir). Umumnya batuk cenderung akan semakin parah pada malam hari dan membuat Anda sulit tidur.

2. Mengi

Mengi adalah suara berbunyi lirih seperti “ngik-ngik” yang terdengar setiap kali Anda bernapas. Bunyi ini terjadi karena udara dipaksa keluar melalui saluran pernapasan yang tersumbat.

3. Dada sesak

Saluran udara yang tengah meradang dan tersumbat menyebabkan dada terasa sesak atau sakit. Dada Anda mungkin terasa seperti ditekan atau ditindih dengan benda yang sangat berat.

4. Sesak napas

Saluran udara yang meradang dan tersumbat akan membuat sulit bernapas. Sesak napas yang terjadi kemudian dapat menyebabkan perasaan gelisah, yang mungkin makin memperburuk gejala ini.

5. Gejala lain

Selain yang sudah disebutkan di atas, orang dengan kondisi ini juga bisa memunculkan gejala, seperti:

  • Badan lemas, lesu, dan tidak bertenaga
  • Suara sengau
  • Menghela napas terus-terusan
  • Rasa gelisah yang tidak biasa

Bila Anda mencurigai satu atau beberapa gejala yang sudah disebutkan, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter.

Kenali tingkat keparahan penyakit ini

Gejala-gejala di atas bersifat kambuhan dan dapat muncul secara tiba-tiba. Kemungkinan untuk kambuh sebenarnya tergantung pada tingkat keparahan asma yang dimiliki masing-masing orang.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit yang Anda alami. Dengan begitu, Anda dapat mengendalikan gejalanya sebelum terlanjur kambuh.

Untuk mengetahui seberapa parah penyakit asma Anda, maka jawablah pertanyaan berikut ini. Jawaban tentu harus disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda.

  • Berapa hari dalam seminggu, Anda merasa dada terasa kencang, batuk, sulit bernapas, dan sesak napas?
  • Apakah Anda sering terbangun di malam hari akibat mengalami gejala asma? Seberapa sering bangun dalam satu minggu?
  • Seberapa sering dalam satu minggu, Anda menggunakan inhaler sebagai obat untuk mengatasi asma Anda?
  • Apakah asma yang Anda miliki menyebabkan aktivitas Anda terganggu?

1. Asma intermiten

Ciri-ciri tingkat intermiten adalah:

  • Gejala: 2 hari atau kurang dalam satu minggu.
  • Terbangun di tengah malam: 2 kali atau kurang dalam satu bulan.
  • Menggunakan inhaler: 2 kali atau kurang per minggu.
  • Tidak mengalami gangguan saat beraktivitas.

Pasien dengan asma jenis ini tidak memerlukan obat pengendali jangka panjang. Dokter mungkin hanya meminta Anda untuk menghindari berbagai pemicu penyakit ini.

2. Asma persisten ringan

Ciri-ciri tingkat persisten ringan meliputi:

  • Gejala: gejala muncul lebih dari 2 hari dalam satu minggu.
  • Terbangun di tengah malam: 3-4 kali dalam satu bulan.
  • Menggunakan inhaler: lebih dari 2 kali per minggu.
  • Aktivitas sedikit terganggu.

Jika Anda mengalami penyakit asma jenis ini, maka dokter hanya akan memberikan obat antiradang untuk mengatasi gejala-gejala yang dirasakan.

3. Asma persisten sedang

Tingkat persisten sedang memiliki ciri-ciri seperti:

  • Gejala: gejala muncul hampir setiap hari.
  • Terbangun di tengah malam: lebih dari 2 kali dalam satu minggu.
  • Menggunakan inhaler: hampir setiap hari.
  • Aktivitas terganggu

Orang yang memiliki asma persisten sedang akan diberikan obat untuk mengendalikan gejala-gejala yang dideritanya. Selain itu, pasien dengan tingkat penyakit ini akan dianjurkan untuk mengikuti terapi bronkodilator.

Bronkodilator adalah terapi yang terdiri dari berbagai obat-obatan untuk melegakan dan memperlancar pernapasan.

4. Asma persisten berat

Tingkat persisten berat memiliki ciri-ciri seperti:

  • Gejala: gejala muncul setiap hari, bahkan hampir seharian.
  • Terbangun di tengah malam: setiap malam.
  • Menggunakan inhaler: beberapa kali dalam satu hari.
  • Aktivitas sangat terganggu.

Obat pengendali asma yang diberikan pada tingkat persisten berat ini tak cukup satu jenis saja. Dokter akan memberikan beberapa kombinasi inhaler kortikosteroid dalam dosis tinggi.

Penyebab

Apa penyebab terjadinya penyakit ini?

Para ahli belum mengetahui secara pasti penyebab asma bronkial. Akan tetapi, serangan umumnya terjadi ketika seseorang terpapar pemicu asma. Berbagai pemicu yang bisa terjadi, adalah:

  • Perokok aktif dan perokok pasif.
  • Infeksi saluran pernapasan atas (seperti pilek, flu, atau pneumonia).
  • Alergen seperti makanan, serbuk sari, jamur, tungau debu, dan bulu hewan peliharaan.
  • Paparan zat-zat di udara (seperti polusi udara, asap kimia, atau racun).
  • Faktor cuaca (seperti cuaca dingin, berangin, dan panas yang didukung dengan kualitas udara yang buruk dan perubahan suhu secara drastis).
  • Mengonsumsi obat-obatan tertentu (seperti aspirin, NSAID, dan beta-blocker).
  • Makanan atau minuman yang mengandung pengawet (seperti MSG).
  • Mengalami stres dan kecemasan berat.
  • Bernyanyi, tertawa, atau menangis yang terlalu berlebihan.
  • Parfum dan wewangian.
  • Memiliki riwayat penyakit refluks asam lambung (GERD).

Faktor-Faktor Risiko

Siapa saja yang berisiko tinggi terkena penyakit ini?

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, bahkan orang dewasa yang berusia 30 atau 40-an sekalipun. Memang, kebanyakan kasus sudah diketahui sejak pasien masih bayi atau kanak-kanak.

Namun, kira-kira sejumlah 25 persen dari pengidap asma baru pertama kali mengalami serangan di usia dewasa.

Menurut WHO, penyakit ini adalah penyakit yang paling umum dialami anak-anak karena:

  • Orangtua memiliki riwayat penyakit ini.
  • Memiliki infeksi pernapasan, misalnya pneumonia, bronkitis, dan lain sebagainya.
  • Memiliki alergi atopik tertentu, misalnya alergi makanan atau eksim.
  • Lahir dengan berat badan rendah.
  • Kelahiran prematur.

Di antara anak-anak, anak laki-laki lebih berisiko tinggi terkena penyakit ini dibandingkan anak perempuan. Akan tetapi di antara orang dewasa, wanita lebih sering terkena penyakit ini dibanding pria.

Sayangnya, sampai saat ini tidak diketahui pasti bagaimana jenis kelamin dan hormon seks memainkan peran sebagai faktor risiko penyakit asma.

Diagnosis

Bagaimana cara dokter mendiagnosis penyakit ini?

Penyakit asma ini hanya bisa didiagnosis oleh dokter. Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan Anda (termasuk jenis dan frekuensi gejala), riwayat medis keluarga, serta menjalani pemeriksaan fisik dan tes fungsi paru-paru.

Beri tahu dokter bila keluarga terdekat Anda, seperti orangtua, saudara kandung, serta kakek dan nenek ada yang mengalami kondisi ini.

Lalu, beri tahu dokter juga soal gejala yang Anda keluhkan selama ini. Mulai dari kapan dan seberapa sering Anda mengalaminya.

Selama pemeriksaan fisik, dokter akan mendengarkan pernapasan Anda dan mencari tanda-tanda penyakit pernapasan atau alergi.

Dokter kemudian akan menggunakan tes yang disebut spirometri untuk memeriksa cara kerja paru-paru Anda. Tes ini mengukur seberapa cepat dan banyak udara yang dapat Anda hirup serta embuskan.

Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan sejumlah tes lain, seperti:

  • Tes alergi untuk mengetahui alergen yang mempengaruhi Anda, jika ada.
  • Tes bronkus untuk mengukur sensitivitas saluran pernapasan Anda.
  • Tes untuk menunjukkan apakah Anda memiliki kondisi lain dengan gejala yang sama seperti asma (misalnya refluks asam lambung, kelainan pita suara, atau sleep apnea)
  • Rontgen dada atau EKG (electrocardiogram). Tes ini akan membantu mengetahui apakah benda asing atau penyakit lainnya menyebabkan gejala Anda.

Pengobatan

Bagaimana cara mengobati penyakit ini?

Penyakit asma tidak dapat disembuhkan. Pengobatan yang ada ditujukan hanya untuk mengurangi gejala dan mencegah timbulnya kekambuhan.

Pengobatan asma bronkial tidak hanya diputuskan sepihak oleh dokter saja. Anda sebagai pasien juga harus ikut merancang penanganan pengobatan. Hal ini dilakukan guna mendapatkan hasil pengobatan yang efektif dan maksimal.

Berikut adalah pilihan pengobatan yang diberikan oleh dokter:

1. Obat kontrol jangka panjang

Apabila asma yang dialami termasuk kronis atau persisten ringan hingga berat, pengobatan yang cocok untuk Anda adalah terapi jangka panjang.

Pengobatan jangka panjang bertujuan untuk mengendalikan keparahan gejala, dan mencegahnya kambuh secara berkelanjutan.

2. Obat kontrol jangka pendek

Jika Anda memiliki asma intermiten, dokter akan merekomendasikan pengobatan jangka pendek.

Pengobatan jangka pendek lebih bertujuan untuk segera meredakan serangan akut saat kejadian. Fungsi obat ini adalah membantu meringankan gejala yang baru muncul dan kambuh sewaktu-waktu. Namun, obat ini tidak boleh diminum lebih dari 2 minggu.

Jika Anda menggunakan obat-obatan ini lebih dari 2 minggu, segera laporan ke dokter. Dokter dapat membuat perubahan rencana aksi yang disesuaikan dengan kondisi Anda.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi?

Penyakit asma yang tidak dikendalikan dengan  baik dapat memengaruhi kesehatan Anda secara keseluruhan. Bahkan, penyakit ini dapat berdampak langsung pada fungsi tubuh Anda. Begitu pula jika pengobatannya tidak tepat.

Berikut beberapa komplikasi asma yang mungkin bisa terjadi:

  • Pneumonia (infeksi paru-paru)
  • Rusaknya paru-paru sebagian atau keseluruhan
  • Kegagalan pernapasan, di mana kadar oksigen dalam darah menjadi sangat rendah, atau kadar karbon dioksida menjadi sangat tinggi
  • Status asmatikus (serangan asma berat yang tidak merespon pengobatan)

Berbagai komplikasi ini membutuhkan bantuan medis darurat karena dapat berisiko fatal.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah kambuhnya serangan asma?

Meski tak bisa disembuhkan, serangan penyakit ini dapat Anda cegah supaya tidak kambuh.

Berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah kambuhnya gejala penyakit asma, di antaranya:

1. Buat rencana aksi asma

Setiap pasien dengan kondisi ini dianjurkan untuk menentukan rencana perawatan bersama dokter dan tim kesehatan lainnya. Dokter akan membantu dalam menent​​ukan jenis obat dan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Pastikan Anda mengikuti rancangan perawatan tersebut supaya kambuhnya gejala dapat dicegah. 

2. Menghindari faktor pemicunya

Seseorang akan mengalami serangan gejala bila terpapar pemicunya. Maka dari itu, kenali hal-hal apa saja yang dapat memicu kekambuhan gejala Anda.

Beberapa faktor pemicu yang paling umum adalah paparan zat iritan dari asap rokok, polusi udara, bahan kimia dalam produk rumah tangga hingga bulu binatang dan serbuk sari. 

3. Rutin cek fungsi paru-paru

Rutin mengecek fungsi paru-paru dengan peak flow meter juga bisa jadi cara mencegah kekambuhan serangan. Peak flow meter membantu mengukur jumlah aliran udara dalam napas penderita sehingga akan memudahkan penanganan sebelum gejalanya memburuk.

Di sisi lain ini alat ini pun dapat membantu mengenali pemicu atau penyebab penyakit asma, sehingga penderita dapat menghindarinya. 

4. Minum obat sesuai yang dianjurkan dokter

Ketika gejala penyakit asma muncul, segera minum obat yang dianjurkan dokter dan hentikan aktivitas yang memicu kekambuhan gejala. Bila gejala yang Anda alami tidak juga membaik, jangan ragu untuk segera periksa ke dokter.

Jangan menghentikan pengobatan tanpa sepengetahuan dokter meski Anda merasa sudah lebih baik.

Pastikan Anda juga selalu membawa obat-obatan asma ke mana pun Anda pergi, dan setiap kali akan berkonsultasi ke dokter. Hal ini akan memudahkan dokter untuk melihat efek pengobatan yang sedang Anda jalani. 

6. Vaksin flu

Gejala dapat kambuh dipicu oleh batuk berkepanjangan akibat flu. Maka itu, tidak ada salahnya untuk melakukan vaksin flu. Namun pastikan Anda berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter. 

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Asma Okupasi di Tempat Kerja: Gejala, Penyebab, Cara Mengatasi, dan Mencegahnya

Asma akibat kerja (asma okupasi) disebabkan oleh zat yang dihirup di tempat kerja, seperti debu, bahan kimia, asap, gas, debu atau zat berbahaya lainnya.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Asma, Health Centers Desember 22, 2019

5 Obat yang Paling Sering Digunakan untuk Meredakan Batuk Karena Asma

Bagaimana cara mengobati batuk karena asma yang sudah lebih dari 8 minggu?Cek di sini rekomendasi obat batuk asma yang paling ampuh.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Asma, Health Centers Desember 20, 2019

5 Pilihan Obat Asma Alami yang Aman untuk Anak-anak

Asma anak dapat diredakan dengan menggunakan obat-obatan herbal yang ada di dapur. Ssst.. obat asma anak tradisional ini sudah dikenal sejak zaman dulu lho!

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Asma, Health Centers Desember 19, 2019

7 Pilihan Obat untuk Meredakan Gejala Asma Alergi

Obat asma alergi biasanya merupakan kombinasi dari obat asma dan alergi, bisa yang dihirup maupun yang diminum. Lantas, apa saja obat yang ampuh?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Asma, Health Centers Desember 14, 2019

Direkomendasikan untuk Anda

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Panduan bagi Penderita Asma Selama Pandemi COVID-19

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang Mei 24, 2020
Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Apa Benar Cuaca Dingin Dapat Memicu Asma Kambuh?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Roby Rizki
Tanggal tayang April 13, 2020
5 Cara Preventif untuk Mencegah Asma Kambuh Akibat Polusi Udara

5 Cara Preventif untuk Mencegah Asma Kambuh Akibat Polusi Udara

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Roby Rizki
Tanggal tayang Maret 26, 2020
Curiga Anak Kena Asma, Kapan Waktu yang Tepat Mengajaknya Berobat ke Dokter?

Curiga Anak Kena Asma, Kapan Waktu yang Tepat Mengajaknya Berobat ke Dokter?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh Risky Candra Swari
Tanggal tayang Januari 11, 2020