9 Penyebab Rambut Botak di Usia Muda dan Cara Mengatasinya

    9 Penyebab Rambut Botak di Usia Muda dan Cara Mengatasinya

    Umumnya, kebotakan mulai terjadi di usia pertengahan dan terus berlanjut secara bertahap hingga usia senja. Namun beberapa orang bisa mulai mengalami rambut botak di usia muda. Ketahui penyebab dan cara menumbuhkan kembali rambut botak di usia muda.

    Berbagai penyebab rambut botak di usia muda

    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa rambut botak akibat alopesia berhubungan dengan meningkatnya risiko penyebab penyakit jantung.

    Rupanya, kebotakan di usia muda berkaitan dengan dengan penurunan kualitas sperma yang bisa memengaruhi kesuburan pria.

    Berikut ini beberapa penyebab umum rambut rontok dan botak di usia muda.

    1. Alopesia androgenetik

    Alopesia adalah kondisi rontoknya rambut dalam jumlah besar, yang dapat menyebabkan kebotakan penuh pada kulit kepala.

    Rata-rata rambut rontok 25 – 100 helai per hari. Anda disebut mengalami alopesia jika rambut rontok lebih dari 100 helai per hari.

    Apabila kebotakan mulai terjadi di usia muda, bahkan bisa terjadi semenjak masa awal pubertas, kondisi ini disebut sebagai alopesia androgenetik.

    Alopesia androgenetik dipengaruhi oleh hormon androgen dan faktor keturunan.

    2. Hipogonadisme

    Pada beberapa kasus, seseorang yang mengalami kebotakan di usia muda juga dapat mengalami hipogonadisme.

    Hipogonadisme adalah kondisi kekurangan hormon reproduksi, yang salah satunya ditandai dengan kekurangan kadar testosteron pada seorang pria.

    Padahal, hormon testosteron memegang peranan penting untuk pertumbuhan dan perkembangan seksual pria.

    Pria yang mengalami kekurangan testosteron dapat dilihat dari rambut botak atau rambut yang menipis seiring waktu, serta bulu ketiak dan kemaluan yang tidak tumbuh.

    3. Alopesia areata

    Alopesia areata adalah kondisi autoimun yang menyebabkan rambut rontok.

    Kondisi autoimun berkembang ketika tubuh Anda salah mengira sel-sel sehat dalam tubuh Anda sebagai benda asing.

    Dalam kasus alopesia areata, sistem kekebalan Anda menyerang folikel (tempat tumbuhnya rambut).

    Anda mungkin mendapati rambut rontok di kulit kepala, alis, bulu mata, atau tubuh Anda.

    Menurut jurnal Disease primers (2017) menjelaskan bahwa alopesia areata memengaruhi sekitar 2% populasi di seluruh dunia.

    Kebanyakan orang mengembangkan kondisi ini sebelum usia 30 tahun, bahkan bisa dimulai sejak masa kanak-kanak.

    4. Malnutrisi

    efek samping lapatinib rambut rontok

    Malnutrisi adalah kekurangan zat gizi yang dapat disebabkan oleh tidak cukup makan, makan makanan rendah gizi, atau tidak asupan gizi yang simbang.

    Seng memainkan peran kunci dalam membuat protein di rambut Anda dan sel-sel lainnya.

    Tubuh Anda tidak dapat menghasilkan seng, jadi Anda perlu mendapatkan mineral yang baik untuk rambut ini dari makanan atau suplemen.

    Tanda-tanda kekurangan seng seperti rambut rontok, penyembuhan luka yang lama, dan indera perasa atau penciuman yang lemah.

    Kekurangan zat gizi di bawah ini dapat memicu rambut botak meski Anda masih berusia muda. Beberapa zat gizi tersebut antara lain:

    • vitamin A,
    • vitamin E,
    • seng,
    • vitamin C,
    • besi,
    • niasin,
    • vitamin D,
    • vitamin E,
    • biotin,
    • asam folat, dan
    • selenium.

    5. Gangguan tiroid

    Gangguan tiroid yang memicu kekurangan atau kelebihan produksi hormon tiroid dapat menyebabkan rambut rontok atau rapuh.

    Ketika produksi hormon tiroid terganggu, khususnya hormon T3 dan T4, akan memengaruhi perkembangan rambut di akar.

    Rambut yang sudah rontok mungkin tidak digantikan oleh rambut baru. Akibatnya, terjadi penipisan rambut di kulit kepala dan area lain seperti alis.

    Namun, dengan perawatan yang tepat, seperti terapi hormon tiroid, rambut yang rontok di usia muda bisa tumbuh kembali.

    6. Lupus

    Lupus adalah kondisi autoimun yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan dan organ tubuh.

    Gangguan autoimun ini dapat menyebabkan gejala seperti nyeri sendi, kelelahan, ruam berbentuk kupu-kupu, dan rambut rontok.

    Orang dengan lupus mungkin mengalami penipisan kulit kepala secara bertahap.

    Rambut rontok mungkin tidak tumbuh kembali meski di usia muda.

    7. Sindrom ovarium polikistik

    Sindrom hiperstimulasi ovarium

    Polycystic ovary syndrome (PCOS) atau sindrom ovarium polikistik adalah masalah hormon yang terjadi selama masa subur.

    Jika Anda menderita PCOS, Anda mungkin tidak terlalu sering mengalami menstruasi.

    Selain itu, Anda mungkin mengalami menstruasi yang berlangsung beberapa hari.

    Tubuh mungkin juga memproduksi terlalu banyak hormon androgen.

    Terlalu banyak hormon androgen menyebabkan gejala seperti siklus menstruasi yang terganggu, jerawat, dan penipisan rambut.

    8. Pewarnaan dan penataan rambut

    Sering mewarnai rambut atau menata rambut dengan hair dryer dan catokan dapat menyebabkan rambut rusak.

    Dampak jangka panjang dari kebiasaan ini adalah rambut botak di usia muda.

    Ketika mewarnai rambut, proses memutihkan (bleaching) rambut mungkin dilakukan.

    Jika terlalu sering melakukan bleaching, kerusakan akar rambut bisa tak terhindari.

    Sementara itu, paparan suhu panas yang berlebih dari penggunaan hair dryer atau catokan bisa mengurangi kekuatan akar dan batang rambut.

    9. Penyebab lain rambut botak di usia muda

    Selain beberapa penyebab tadi, ada beberapa penyebab lain terjadinya rambut botak di usia muda.

    • Kurap kulit kepala: infeksi jamur yang dapat menyebabkan kulit gatal, bersisik, meradang, hingga rontok.
    • Alopesia traksi: kerontokan rambut akibat ikatan rambut yang terlalu ketat, bisa juga dipengaruhi stres kronis.
    • Trikotilomania: gangguan psikologis yang menimbulkan keinginan untuk mencabuti rambut.
    • Telogen effluvium: kerontokan rambut mendadak dipicu stres, penyakit, persalinan, atau penurunan berat badan.

    Cara mengatasi rambut botak di usia muda

    Ada beberapa perawatan untuk kebotakan dan rambut rontok seperti penggunaan obat-obatan, terapi, dan operasi.

    Berikut beberapa cara mengatasi dan menumbuhkan kembali rambut botak di usia muda.

    1. Pengobatan

    Obat-obatan yang umum digunakan untuk mengatasi kebotakan.

    • Minoksidil: membantu menumbuhkan rambut kembali atau memperlambat laju kerontokan rambut. Pengobatan minoksidil biasanya dilakukan selama 6 bulan.
    • Finasteride: obat resep untuk memperlambat kerontokan rambut dan membantu pertumbuhan rambut baru.
    • Obat-obatan lain: spironolactone dan dutasteride oral.

    2. Menjalani terapi dan konsumsi vitamin

    Jika masalah tiroid jadi penyebab rambut rontok di usia muda, Anda bisa menjalani terapi hormon untuk menstabilkan pertumbuhan rambut.

    Anda juga perlu menambah asupan seng, zat besi, dan vitamin B12 untuk memperbaiki masalah malnutrisi.

    Cara ini juga bisa meningkatkan kesehatan folikel rambut serta mengembalikan warna alami rambut.

    3. Transplantasi rambut

    Prosedur cangkok atau transplantasi rambut bisa menjadi pilihan akhir untuk mengatasi kondisi kebotakan yang serius.

    Transplantasi dilakukan dengan mengambil jaringan kulit dan rambut dari bagian tubuh lain untuk ditanam pada bagian kulit kepala yang botak.

    Metode cangkok ini akan menumbuhkan batang rambut baru.

    Rambut botak di usia muda mungkin dapat menandakan kondisi medis tertentu.

    Deteksi dini terhadap risiko penyakit serius serta konsultasi dengan dokter diperlukan agar dapat memperoleh penanganan yang tepat.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Grant, J. E., & Chamberlain, S. R. (2016). Trichotillomania. The American journal of psychiatry, 173(9), 868–874. https://doi.org/10.1176/appi.ajp.2016.15111432

    Griggs, J., Burroway, B., & Tosti, A. (2021). Pediatric androgenetic alopecia: A review. Journal of the American Academy of Dermatology, 85(5), 1267–1273. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2019.08.018

    Guo, E. L., & Katta, R. (2017). Diet and hair loss: effects of nutrient deficiency and supplement use. Dermatology practical & conceptual, 7(1), 1–10. https://doi.org/10.5826/dpc.0701a01

    Pratt, C. H., King, L. E., Jr, Messenger, A. G., Christiano, A. M., & Sundberg, J. P. (2017). Alopecia areata. Nature reviews. Disease primers, 3, 17011. https://doi.org/10.1038/nrdp.2017.11

    Hair loss – Diagnosis & treatment. (2022). Mayo Clinic. Retrieved September 28, 2022 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hair-loss/diagnosis-treatment/drc-20372932

    Hair loss – Symptoms & causes. (2022). Mayo Clinic. Retrieved September 28, 2022 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hair-loss/symptoms-causes/syc-20372926

    Polycystic ovary syndrome (PCOS) – Symptoms & causes. (2022). Mayo Clinic. Retrieved September 28, 2022 from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pcos/symptoms-causes/syc-20353439

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Ilham Fariq Maulana Diperbarui Oct 05
    Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan