Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenali 4 Tahapan dalam Proses Pertumbuhan Rambut

Mengenali 4 Tahapan dalam Proses Pertumbuhan Rambut

Proses pertumbuhan rambut tidak sesederhana yang Anda kira. Rambut yang tumbuh harus melewati beberapa fase atau tahapan, dari rambut yang mulai mencuat di kulit kepala, lalu memanjang, hingga rontok.

Penting mengetahui proses pertumbuhan rambut untuk menjaga kesehatan rambut dan kulit kepala, termasuk mencegah kerontokan dini.

Proses pertumbuhan rambut

Ada empat tahapan pada proses pertumbuhan rambut baru. Setiap fase memiliki rentang waktunya masing-masing. Kenali apa saja yang terjadi pada setiap tahapan pertumbuhan rambut.

1. Fase anagen

Anagen adalah fase pertumbuhan rambut. Fase anagen membutuhkan waktu paling panjang. Proses pertumbuhan rambut di fase ini berlangsung selama 3–10 tahun.

Selama fase ini, terjadi pembelahan sel yang cepat pada bulbus rambut, yakni bagian akar yang memiliki folikel rambut, pewarna atau pigmen rambut, serta pembuluh darah.

Pembelahan sel ini nantinya akan membentuk batang rambut. Selain itu, papila dermal juga tumbuh pada fase anagen.

Papila dermal ini terdiri dari sel-sel di folikel rambut yang berperan penting dalam mengatur pertumbuhan rambut.

Mengutip riset terbitan jurnal Clinical, Cosmetic, and Investigational Dermatology (2017), sebanyak 90% rambut yang ada di kulit kepala berada pada fase anagen.

2. Fase katagen

Tahapan ini merupakan fase transisi antara fase pertumbuhan dan fase berhentinya pertumbuhan rambut. Fase katagen berlangsung selama 2–3 minggu.

Selama proses pertumbuhan rambut ini, pembelahan sel-sel pun berhenti dan produksi pigmen rambut juga berhenti.

Folikel rambut ikut menyusut dan proses pertumbuhan rambut melambat. Rambut pun terpisah dari bagian bawah pada folikel rambut.

Meski demikian, rambut-rambut ini masih berada pada posisi yang sama.

3. Fase telogen

Pertumbuhan rambut juga melalui fase istirahat yang disebut dengan fase telogen. Fase ini berlangsung selama 3–4 bulan.

Pada fase telogen, proses pertumbuhan rambut terhenti, tetapi helai rambut belum rontok. Folikel rambut terbentuk akan menggugurkan rambut yang telah terbentuk di fase katagen.

Ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa ini merupakan fase rambut rontok dari kulit kepala.

Namun, sebagian ahli lainnya menganggap bahwa fase kerontokan rambut terbagi menjadi dua, yakni telogen dan eksogen.

4. Eksogen

Eksogen sebenarnya adalah perpanjangan fase telogen. Proses ini menyebabkan rambut benar-benar rontok dan lepas dari kulit kepala.

Umumnya, fase ini berlangsung selama 2–5 bulan. Sebanyak 50 hingga 100 rambut yang rontok pada proses eksogen.

Menurut American Academy of Dermatology Association, jumlah tersebut tergolong normal.

Cara menjaga pertumbuhan rambut

cara merawat rambut tipis

Rambut yang tebal dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti hormon, genetik, dan asupan gizi.

Ada beberapa hal yang bisa Anda upayakan agar proses pertumbuhan rambut tetap berjalan optimal sehingga mengurangi risiko rambut rontok, bahkan kebotakan.

1. Menjaga asupan gizi harian

Selalu penuhi asupan protein harian. Protein merupakan zat gizi yang penting untuk menjaga proses pertumbuhan rambut.

Pasalnya, rambut dan folikelnya tersusun atas protein yang disebut keratin.

Selain itu, Anda perlu memastikan kebutuhan vitamin dan mineral tercukupi. Inilah vitamin dan mineral yang membantu mempertahankan proses pertumbuhan rambut.

  • Zat besi: kekurangan zat besi menyebabkan oksigen dan zat gizi untuk memperbaiki sel perangsang pertumbuhan rambut pun berkurang.
  • Selenium: mineral yang diperlukan untuk produksi protein di dalam tubuh.
  • Seng: seng membantu produksi protein dan mengatur pertumbuhan dan pemisahan sel-sel folikel rambut.
  • Vitamin C: menyerap zat besi dan mempercepat pembentukan kolagen, asam amino yang berperan dalam pembentukan protein rambut dan akar rambut.

Beberapa jenis zat gizi lainnya yang mampu mengurangi rambut rontok, yakni:

  • vitamin D,
  • asam folat, dan
  • vitamin B12.

2. Kelola stres

Stres ternyata bisa mengganggu proses pertubuhan rambut. Berikut tiga jenis kerontokan yang dipicu akibat stres.

Telogen effluvium

Stres berat bisa membuat folikel rambut kembali ke fase istirahat atau telogen. Hal ini membuat proses pertumbuhan rambut berhenti dan rontok.

Trikotilomania

Trikotilomania adalah stres yang menyebabkan seseorang menarik rambut untuk mengatasi emosi negatif.

Alopesia areata

Stres ini menyebabkan tubuh mengalami gangguan autoimun. Kekebalan tubuh menyerang folikel rambut dan mengakibatkan kerontokan dan kebotakan.

Untuk itu, penyebab rambut rontok yang satu ini bisa Anda kelola dengan berbagai cara, seperti mengobrol dengan orang yang bisa dipercaya, menjalani hobi, meditasi, atau melakukan konseling dengan psikolog.

3. Tata tampilan rambut hati-hati

Sebaiknya, pastikan Anda tidak mengikat rambut tidak terlalu kencang. Efek samping mengikat rambut dengan kencang akan menarik kulit kepala.

Bila dilakukan dalam jangka waktu lama dan berulang-ulang, hal ini menyebabkan rambut rontok.

Selain itu, kurangi alat-alat penata rambut dengan panas, seperti catokan atau pengering rambut. Panas bisa merusak keratin sehingga membuat rambut rapuh.

Kurangi pula mengecat rambut dan menggunakan bleaching atau bahan peluntur pigmen rambut.

Produk ini bisa mengandung radikal bebas yang bisa merusak kulit kepala sehingga kesehatan rambut pun terganggu. Akibatnya, rambut pun rontok.

4. Gunakan serum untuk merangsang pertumbuhan rambut

Ada beberapa serum rambut yang bisa digunakan sebagai cara merawat rambut. Beberapa bahan ini di antaranya adalah minoxidil dan minyak rosemary.

Minoxidil membantu memperpendek fase telogen sehingga rambut kembali ke fase pertumbuhan atau anagen dengan lebih cepat.

Kandungan ini pun memperpanjang durasi fase anagen sehingga proses pertumbuhan rambut menjadi lebih lama.

Minoxidil juga membuat pembuluh darah pada kulit kepala melebar sehingga merangsang pertumbuhan rambut.

Kandungan ini pun membantu menghambat efek hormon androgen yang memicu kerontokan rambut.

Pastikan Anda mendapatkan minoxidil sesuai resep dokter. Di Indonesia, kandungan ini tergolong keras sehingga tidak dijual bebas.

Sementara itu, minyak rosemary mengandung carnosic acid yang bisa memperbaiki saraf di kulit kepala sehingga bisa memulihkan pertumbuhan rambut.

Ada pula studi terbitan Skinmed (2015) yang menemukan bahwa minyak esensial untuk rambut ini juga sama efektifnya dengan minoksidil untuk mempercepat pertumbuhan rambut pada kebotakan.

5. Kelola penyakit pada kulit kepala

Ada beberapa macam masalah kulit kepala yang mengganggu proses pertumbuhan rambut baru. Hal ini menyebabkan rontok, menipis, bahkan kebotakan di area tertentu.

Beberapa di antaranya, yakni:

  • infeksi jamur (tinea capitis),
  • psoriasis,
  • dermatitis seboroik,
  • eksim, dan
  • pityriasis rubra pilaris.

Memang, ada beberapa kondisi yang tidak bisa disembuhkan. Jika kondisi muncul akibat infeksi, segera obati penyakit tersebut.

Kondisi penyakit yang tak bisa sepenuhnya disembuhkan bisa dikelola untuk mengurangi keparahan dan gejala yang muncul.

Proses pertumbuhan rambut terjadi selama bertahun-tahun. Ada tiga fase yang harus dilalui rambut, yakni anagen, katagen, dan telogen.

Ada juga beberapa hal yang bisa merangsang dan mengganggu proses pertumbuhan rambut.

Untuk mengurangi risiko rambut rontok hingga botak, jalani pola hidup sehat dan kendalikan penyakit pemicu masalah rambut.

Verifying...

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Burg, D., Yamamoto, M., Namekata, M., Haklani, J., Koike, K., & Halasz, M. (2017). Promotion of anagen, increased hair density and reduction of hair fall in a clinical setting following identification of FGF5-inhibiting compounds via a novel 2-stage process. Clinical, Cosmetic, and Investigational Dermatology, Volume 10, 71-85. doi: 10.2147/ccid.s123401

Schwartzenfeld, D., & Karamikian, J. (2010). Hair Transplantation. Plastic Surgery Secrets Plus, 123-127. doi: 10.1016/b978-0-323-03470-8.00018-1

Taghiabadi, E., Nilforoushzadeh, M., & Aghdami, N. (2020). Maintaining Hair Inductivity in Human Dermal Papilla Cells: A Review of Effective Methods. Skin Pharmacology and Physiology, 33(5), 280-292. doi: 10.1159/000510152

Do you have hair loss or hair shedding?. (2022). Retrieved 4 April 2022, from https://www.aad.org/public/diseases/hair-loss/insider/shedding

Yang, F., Zhang, Y., & Rheinstädter, M. (2014). The structure of people’s hair. Peerj, 2, e619. doi: 10.7717/peerj.619

Guo, E., & Katta, R. (2017). Diet and hair loss: effects of nutrient deficiency and supplement use. Dermatology Practical & Conceptual, 1-10. doi: 10.5826/dpc.0701a01

Wang, B., Yang, W., McKittrick, J., & Meyers, M. (2016). Keratin: Structure, mechanical properties, occurrence in biological organisms, and efforts at bioinspiration. Progress in Materials Science, 76, 229-318. doi: 10.1016/j.pmatsci.2015.06.001

Can stress make you lose your hair?. (2022). Retrieved 4 April 2022, from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/stress-management/expert-answers/stress-and-hair-loss/faq-20057820

Nazik, H., Altintaş Aykan, D., Seyithanoğlu, M., Öztürk, P., Mülayim, M., & Nazik, H. (2020). Evaluation of the effects of hair colouring products on the oxidative status in rats. Advances in Dermatology and Allergology, 37(5), 766-770. doi: 10.5114/ada.2020.100486

Lima, C., Couto, R., Freire, T., Goshiyama, A., Baby, A., & Velasco, M. et al. (2019). Heat‐damaged evaluation of virgin hair. Journal of Cosmetic Dermatology, 18(6), 1885-1892. doi: 10.1111/jocd.12892

Badri, T., Nessel, T., & D, D. (2021). Minoxidil. Statpearls. Retrieved from https://www.statpearls.com/ArticleLibrary/viewarticle/25181

Yoshida, H., Mimura, J., Imaizumi, T., Matsumiya, T., Ishikawa, A., & Metoki, N. et al. (2011). Edaravone and carnosic acid synergistically enhance the expression of nerve growth factor in human astrocytes under hypoxia/reoxygenation. Neuroscience Research, 69(4), 291-298. doi: 10.1016/j.neures.2010.12.016

Y, P., M, T., ET, M., & A, S. (2015). Rosemary oil vs minoxidil 2% for the treatment of androgenetic alopecia: a randomized comparative trial. Skinmed, 13(1). Retrieved from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25842469/

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Larastining Retno Wulandari Diperbarui 4 weeks ago
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro