Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya
ask-doctor-icon

Tanya Dokter Gratis

Kirimkan pertanyaan atau pendapatmu di sini!

Ingin Bleaching Rambut? Simak Dulu Bahayanya Berikut Ini

    Ingin Bleaching Rambut? Simak Dulu Bahayanya Berikut Ini

    Proses bleaching rambut sering dan biasa dilakukan ketika seseorang hendak melakukan pewarnaan rambut. Bleaching ini juga bisa dibilang sebagai pemutihan helai rambut, dan fungsinya agar warna rambut yang keluar selanjutnya jadi maksimal. Masih banyak orang yang enggan melakukan tahap bleaching karena takut merusak rambut. Apakah benar?

    Apa itu bleaching rambut?

    Bleaching rambut merupakan sebuah metode untuk menghilangkan warna rambut asli. Biasanya dilakukan dengan melalui proses oksidasi yang membuka lapisan kutikula rambut, sehingga zat hidrogen peroksida pada krim bleaching meresap dan memutihkan batang helai rambut.

    Kandungan hidrogen peroksida dalam krim bleaching juga mengoksidasi pigmen rambut dan menghilangkan melanin pada tiap batangnya. Proses bleaching ini juga menghadirkan tingkatan tersendiri, semakin tinggi tingkat bleachingnya, semakin terang juga warna yang dihasilkan rambut. Hasil warna dari bleaching rambut pada dasarnya tidak semua sama, ada yang berwarna kuning, abu-abu, hingga putih. Proses bleaching biasanya memakan waktu 30 sampai 45 menit.

    Apa efek samping bleaching?

    Cara menghilangkan warna rambut ini sering membuat rambut lebih kering, lebih rapuh, dan kurang elastis dibanding sebelumnya. Tidak jarang dan sudah umum pula kalau bleaching rambut dapat menyebabkan rambut rusak dan sulit untuk diperbaiki.

    Selain itu karena proses bleaching membuka lapisan kutikula, rambut Anda mungkin cenderung gampang kusut. Parahnya lagi, kalau Anda membiarkan Jika Anda membiarkan rambut di-bleaching terlalu lama, lama kelamaan warna rambut akan memutih akibat terbukanya keratin protein rambut terlalu lama. Berikut ini beberapa dampak berbahaya yang timbul akibat bleaching rambut terlalu lama:

    1. Rambut bisa rontok

    Bleaching tidak hanya dapat menyebabkan rambut rapuh dan mudah patah. Ini terutama terjadi bila proses bleaching dilakukan terlalu sering. Akibatnya rambut patah atau pun rontok dari akarnya. Risiko ini akan semakin besar bila proses bleaching dilakukan dengan cara yang tidak benar, misalnya dengan menggunakan konsentrasi krim yang terlalu tinggi.

    2. Dapat menimbulkan iritasi hingga kanker

    Mengecat rambut dengan bahan pewarna kimia saja, sebetulnya sudah cukup berisiko mengalami iritasi, terlebih jika Anda sebelumnya melakukan bleaching untuk memaksimalkan warna rambut. Pada beberapa penelitian, paparan terhadap bahan kimiawi yang digunakan selama proses bleaching juga dikaitkan dengan beberapa penyakit kanker seperti leukemia, limfoma, dan kanker kandung kemih.

    Setelah bleaching rambut, jangan langsung keramas pakai shampo

    Hindari melakukan keramas setelah Anda melakukan bleaching rambut. Mengapa demikian?

    Begini, rambut yang habis dioleskan krim bleaching memiliki kadar asam sulfonat yang tinggi dan lebih rapuh dari sebelumnya sehingga membutuhkan pelembab. Baiknya, Anda segera menggunakan conditioner rambut terlebih dahulu segera sesudah bleaching untuk mempertahankan kelembaban dan kilau rambut.


    Pernah alami gangguan menstruasi?

    Gabung bersama Komunitas Kesehatan Wanita dan dapatkan berbagai tips menarik di sini.


    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    Bleaching hair  http://www.livestrong.com/article/67889-bleaching-hair/ Diakses pada 3 Juli 2017

    Effect hair bleaching http://www.livestrong.com/article/70824-effects-bleaching-hair/ Diakses pada 3 Juli 2017

    Significant damage of hair bleaching https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20860738 Diakses pada 3 Juli 2017

    https://www.cancer.org/cancer/cancer-causes/hair-dyes.html

    http://www.livestrong.com/article/25946-bleaching-dying-hair-cause-hair/

     

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Novita Joseph Diperbarui Oct 21, 2020
    Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri
    Next article: