home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hipogonadisme

Apa itu hipogonadisme?|Apa saja tanda dan gejala hipogonadisme?|Apa saja penyebab hipogonadisme?|Bagaimana cara dokter mendiagnosis hipogonadisme?|Apa saja pengobatan untuk hipogonadisme?|Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan?
Hipogonadisme

Apa itu hipogonadisme?

Hipogonadisme adalah suatu kondisi di mana kelenjar seks menghasilkan hormon dalam jumlah yang sangat sedikit atau tidak sama sekali.

Kelenjar seks, atau yang juga bisa disebut dengan gonad, biasanya terdapat di dalam testis pada pria dan ovarium pada wanita.

Hormon seks adalah hormon yang membantu mengendalikan perubahan fisik pada laki-laki dan perempuan, seperti saat memasuki masa pubertas.

Hormon ini juga berperan dalam memproduksi sperma pada pria dan siklus menstruasi pada wanita.

Dikutip dari Mayo Clinic, secara umum hipogonadisme dibagi menjadi dua, yaitu hipogonadisme primer dan sekunder.

Hipogonadisme primer

Kondisi ini terjadi akibat adanya masalah pada kelenjar seks atau organ seks. Otak masih memberikan sinyal ke gonad untuk memproduksi hormon, tetapi testis atau ovarium tidak dapat melakukannya.

Hipogonadisme sekunder (sentral)

Pada hipogonadisme sekunder atau sentral, otak gagal memberikan sinyal ke kelenjar seks untuk memproduksi hormon.

Kesalahan terletak pada bagian hipotalamus dan kelenjar pituitari yang ada di otak.

Seberapa umumkah hipogonadisme?

Hipogonadisme adalah kondisi yang lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita.

Kondisi ini lebih banyak dialami oleh pria, yaitu sekitar 1 dari 500-1.000 orang. Sementara wanita hanya sekitar 1 per 2500 hingga 10.000 orang.

Selain itu, jenis primer lebih sering terjadi dibanding jenis sekunder.

Hipogonadisme dapat menyerang pada usia berapa pun. Namun, gejala dan konsekuensi yang diderita oleh masing-masing kelompok umur berbeda.

Misalnya, apabila kondisi ini terjadi saat sebelum lahir, bayi akan terlahir dengan jenis kelamin yang bermasalah.

Jika kondisi ini terjadi setelah masa pubertas, penderitanya akan mengalami masalah kesuburan, disfungsi seksual, dan kemandulan.

Apa saja tanda dan gejala hipogonadisme?

Penyakit ini merupakan suatu kondisi yang bisa dimulai selama masa perkembangan janin, sebelum pubertas, atau selama usia dewasa.

Tanda dan gejala tergantung kapan kondisinya berkembang.

Pada pria, gejala utama terjadinya hipogonadisme adalah gangguan hormon testosteron pada pria.

Kondisi ini dapat didiagnosis saat testosteron tergolong rendah, kelelahan, energi semakin berkurang, serta dorongan seksual yang juga berkurang.

Lalu, gejala lainnya adalah adanya masalah kesuburan atau infertilitas pada pria.

Maka dari itu, hal ini bisa menjadi salah satu hambatan ketika Anda dan pasangan ingin melakukan program hamil.

Hal ini karena kadar sperma yang sedikit di dalam tubuh.

Selain itu, gejala hipogonadisme lain pada pria seperti:

  • Fungsi dan fisik alat kelamin tidak normal
  • Berkurangnya massa otot
  • Gangguan pertumbuhan bulu tubuh
  • Gangguan pertumbuhan penis dan testis
  • Perkembangan jaringan payudara (ginekomastia)
  • Disfungsi ereksi
  • Kemandulan
  • Kehilangan massa tulang (osteoporosis)

Sementara itu, gejala hipogonadisme pada wanita, yaitu:

  • Berhenti menstruasi
  • Gairah seksual berkurang
  • Pertumbuhan payudara terlambat
  • Mengeluarkan cairan seperti susu dari payudara (dari prolaktinoma)
  • Merasa panas
  • Perubahan energi dan suasana hati

Mungkin masih terdapat beberapa gejala yang tidak tercantum di atas. Jika ingin bertanya tentang gejala, konsultasikan kepada dokter.

Kapan harus pergi ke dokter?

Temui dokter jika memiliki gejala hipogonadisme di atas atau ingin bertanya lebih lanjut. Selalu diskusikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik bagi kondisi Anda.

Apa saja penyebab hipogonadisme?

Ada dua jenis hipogonadisme, yaitu primer dan sekunder.

Penyebab umum hipogonadisme primer meliputi:

  • Kelainan autoimun tertentu macam penyakit Addison dan hipoparatiroidisme
  • Kelainan genetik seperti sindrom Turner (pada wanita) dan sindrom Klinefelter (pada pria)
  • Infeksi
  • Penyakit hati dan ginjal
  • Radiasi
  • Operasi
  • Kelebihan zat besi (hemokromatosis)

Sementara penyebab umum hipogonadisme sekunder, seperti:

  • Anorexia nervosa
  • Pendarahan di area pituitari
  • Minum obat seperti glucocorticoid dan opiates
  • Menghentikan penggunaan anabolic steroid
  • Gangguan genetik termasuk sindrom Kallmann
  • Infeksi
  • Kekurangan gizi
  • Radiasi
  • Kehilangan berat badan yang drastis (termasuk kehilangan berat badan setelah operasi bariatrik)
  • Operasi
  • Tumor
  • HIV / AIDS

Namun, secara garis besar penyebab hipogonadisme, yaitu:

1. Bawaan lahir

Kondisi ini kemungkinan bisa muncul sejak bayi masih di dalam kandungan. Beberapa penyakit yang dapat memicu terjadinya kondisi ini adalah:

2. Muncul saat dewasa

Hipogonadisme juga bisa saja terjadi tanpa diturunkan dan terjadi akibat faktor dari luar, seperti:

  • Infeksi
  • Radiasi
  • Zat-zat beracun dari alam
  • Agen alkilasi
  • Obat ketoconazole
  • Obat glucocorticoids
  • Penggunaan obat steroid berlebihan
  • Penyakit sistem imun lemah

3. Idiopatik

Selain penyebab yang sudah dijelaskan di atas, ada kemungkinan kondisi hipogonadisme terjadi pada Anda tetapi tidak diketahui apa penyebab pastinya.

Bagaimana cara dokter mendiagnosis hipogonadisme?

Informasi yang dijabarkan bukan pengganti bagi nasihat medis. SELALU konsultasi ke dokter Anda.

Ketika mendiagnosis kelainan ini, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.

Seluruh bagian tubuh akan diperiksa, apakah perkembangannya sesuai dengan usia atau tidak.

Dokter mungkin akan mengecek massa otot, rambut di seluruh tubuh, dan organ reproduksi Anda.

Kemudian, apabila diperlukan, dokter akan menyarankan Anda melakukan beberapa tes tambahan, seperti:

1. Tes hormon

Apabila dokter menduga Anda mengidap hipogonadisme, pemeriksaan yang akan dilakukan berikutnya adalah mengecek kadar hormon di dalam tubuh.

Dokter akan melakukan tes darah untuk mengetahui kadar hormon follicle-stimulating (FSH) dan luteinizing hormone (LH).

Selain itu bagi perempuan, dokter akan mengukur kadar hormon estrogen.

Pada laki-laki, yang diukur adalah kadar hormon testosteron. Tes ini biasanya dilakukan di pagi hari, saat kadar hormon sedang mencapai puncaknya.

2. Tes sperma

Tes jumlah sperma biasanya juga akan dilakukan oleh dokter ke pasien laki-laki. Hal ini karena hipogonadisme dapat mengurangi jumlah sperma di dalam tubuh.

3. Tes zat besi, prolaktin, dan tiroid

Dokter mungkin juga akan mengecek kadar zat besi di dalam darah karena zat besi dapat memengaruhi produksi hormon seks manusia.

Beberapa dokter juga akan mengecek kadar prolaktin dan hormon tiroid Anda. Prolaktin adalah hormon yang berperan dalam pertumbuhan payudara dan ASI.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan hormon ini ditemukan di kedua jenis kelamin.

Sementara tiroid yang bermasalah biasanya menunjukkan gejala yang menyerupai hipogonadisme.

4. Tes pencitraan

Sejumlah tes gambaran dibutuhkan, misalnya sonogram ovarium atau testis. Jika penyakit pituitari terdeteksi, MRI atau CT scan otak mungkin dilakukan.

Apa saja pengobatan untuk hipogonadisme?

Pengobatan serta perawatan dari kondisi hipogonadisme cukup bervariasi karena dilihat dulu dari apa penyebabnya dan untuk siapa.

Berikut beberapa pengobatan atau penanganan yang biasa dilakukan, seperti:

1. Penggantian hormon testosteron

Ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan pria sebelum memutuskan untuk terapi penggantian testosteron sebagai pengobatan hipogonadisme.

Hal ini dilakukan untuk mengembalikan kadar hormon testosteron agar kembali normal.

Perlu diketahui bahwa pria membutuhkan testosteron agar gairah seksual pun kembali.

Beberapa jenis terapi penggantian hormon untuk pria adalah:

  • Gel yang bisa diaplikasikan pada lengan, bahu, atau paha
  • Injeksi atau suntik pada area otot atau di bawah kulit
  • Patch yang ditempel pada bagian paha
  • Permen karet yang ditempel pada bagian gusi sehingga hormon diserap melalui darah
  • Semprotan hidung yang diaplikasikan tiga kali dalam sehari
  • Implan yang dilakukan melalui pembedahan

Dari beberapa jenis terapi, terdapat efek samping seperti penurunan produksi sperma, gangguan tidur, timbul jerawat, hingga peningkatan produksi sel darah merah.

2. Merangsang pubertas

Ada pula pengobatan atau perawatan yang bisa dilakukan bagi anak laki-laki yang mengalami delayed puberty (pubertas tertunda).

Cara mengatasinya adalah dengan memberikan suplemen testosteron selama 3 hingga 6 bulan. Hormon bisa diberikan melalui suntikan.

3. Terapi hormon untuk wanita

Pengobatan yang dilakukan untuk wanita dengan kondisi hipogonadisme adalah dengan meningkatkan jumlah hormon seks di dalam tubuh.

Meningkatkan kadar hormon estrogen dan progesteron dapat memperkuat tulang serta mendorong gairah seks.

Estrogen dan progesteron terkadang dikombinasikan untuk menurunkan kemungkinan berkembangnya kanker endometrium.

Wanita dengan hipogonadisme yang gairah seksualnya menurun mungkin juga diresepkan testosteron dosis rendah.

 

Hal ini tidak menutup kemungkinan kadar hormon seks Anda akan berkurang jika menghentikan pengobatan.

Perlu diperhatikan, apabila kondisi hipogonadisme disebabkan tumor pada kelenjar pituitari (organ di bawah otak), maka Anda membutuhkan terapi radiasi hingga pembedahan.

Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan?

Hingga saat ini, belum ada cara pasti untuk mencegah hipogonadisme. Namun, Anda bisa melakukan beberapa hal seperti perubahan gaya hidup.

Seperti mempertahankan berat badan normal dengan olahraga atau mengonsumsi makanan dengan nutrisi yang baik untuk tubuh.

Lalu, sebaiknya hindari terlebih dahulu akohol dan obat-obatan secara berlebihan untuk membantu menjaga kadar testosteron tetap normal.

Bila ada pertanyaan lebih lanjut, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Male hypogonadism – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/male-hypogonadism/symptoms-causes/syc-20354881

Hypogonadism. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://www.ucsfhealth.org/conditions/hypogonadism

Hypogonadism: MedlinePlus Medical Encyclopedia. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/001195.htm

Low Testosterone (Low T): Causes, Symptoms, Diagnosis & Treatment. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15603-low-testosterone-male-hypogonadism

Hypogonadism Management and Treatment | Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15216-hypogonadism/management-and-treatment

Hypogonadotropic Hypogonadism – Penn Medicine. (2020). Retrieved 25 August 2020, from https://www.pennmedicine.org/for-patients-and-visitors/patient-information/conditions-treated-a-to-z/hypogonadotropic-hypogonadism

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Shylma Na'imah
Tanggal diperbarui 01/01/2021
x