home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Tinea Capitis (Kurap Kulit Kepala)

Tinea Capitis (Kurap Kulit Kepala)
Definisi|Tanda-tanda & Gejala|Penyebab & Faktor Risiko|Diagnosis|Pengobatan|Pencegahan

Definisi

Apa itu tinea capitis?

Tinea capitis adalah sebutan untuk penyakit kurap yang menyerang kulit kepala. Kurap sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur. Kondisi ini tak hanya memengaruhi kulit tetapi juga dapat berdampak pada batang-batang rambut.

Tinea capitis memiliki ciri khas yang ditandai dengan munculnya bercak botak berbentuk lingkaran yang terlihat kering dan bersisik pada kepala. Ukuran bercaknya dapat bervariasi, baik besar maupun kecil.

Penyakit ini termasuk ke dalam jenis penyakit kulit menular. Bila Anda tinggal bersama orang yang sedang terkena tinea capitis, maka kemungkinan Anda tertular penyakit yang sama menjadi lebih tinggi.

Seberapa umum kondisi ini terjadi?

Tinea capitis bisa terjadi pada orang-orang dari golongan usia berapapun. Namun, kondisi ini lebih umum menyerang anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa, terutama pada mereka yang berusia 5 – 10 tahun. Angka infeksi biasanya juga lebih tinggi pada laki-laki.

Sayangnya prevalensi kejadian tinea capitis di seluruh Indonesia belum terdata dengan baik. Meski demikian, dilansir dari MedScape, tingkat infeksi penyakit di Asia Tenggara dilaporkan telah menurun dari 14% menjadi 1,2% dalam 50 tahun terakhir.

Besar kemungkinan hal tersebut dipengaruhi oleh perbaikan kondisi sanitasi umum dan kebersihan pribadi.

Tanda-tanda & Gejala

Apa saja tanda dan gejala tinea capitis?

Seperti yang sudah disebutkan, ciri khas yang menandakan penyakit ini adalah kemunculan bercak yang terasa gatal pada kepala. Infeksi ini membuat bagian rambut di sekitar area yang terdampak rontok, sehingga meninggalkan area yang bersisik, botak, dan kemerahan.

Beberapa gejala lainnya meliputi:

  • bercak memiliki titik hitam kecil sisa dari rambut yang terputus dari kulit kepala,
  • bercak membesar secara perlahan,
  • bercak terasa lembut namun nyeri saat disentuh, serta
  • rambut menjadi rapuh dan mudah dicabut.

Pada kasus yang lebih serius, tinea capitis dapat menimbulkan munculnya kerion, bercak besar yang terasa nyeri, meradang, dan membengkak di kulit kepala.

Terkadang pembengkakan ini juga mengandung nanah. Nantinya, kerion dapat melepuh dan mengeras.

Munculnya kerion bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut (lapisan pengganti kulit yang terluka) pada area yang rambutnya rontok.

Kapan harus ke dokter?

Anda atau anak Anda sebaiknya segera periksa ke dokter bila telah merasakan gejala-gejala yang tertera di atas guna mendapatkan diagnosis dan penanganan lebih cepat.

Tubuh setiap orang dapat menimbulkan reaksi yang berbeda-beda terhadap infeksi. Oleh sebab itu, bila Anda juga merasakan gejala lainnya atau khawatir akan tanda-tanda tertentu, silakan konsultasikan pada dokter.

Penyebab & Faktor Risiko

Apa penyebab tinea capitis?

Kurap pada kulit kepala disebabkan oleh infeksi jamur dermatofita. Kelompok jamur ini membutuhkan lapisan keratin sebagai sumber makanannya untuk bertahan hidup. Keratin adalah lapisan yang melindungi kulit, rambut, dan kuku untuk menjaga kesehatannya.

Ketika pertumbuhannya tak terkendali, jamur ini akan merusak lapisan keratin dan menimbulkan berbagai gejala penyakit tinea capitis.

Berdasarkan inangnya (tempat hidup dan berkembang), jamur dermatofita terbagi menjadi tiga jenis, yaitu spesies antropofilik yang mendiami kulit manusia, spesies zoofilik yang hidup pada hewan, dan spesies geofilik yang hidup dalam tanah.

Beberapa jenis jamur antropofilik yang dapat menyebabkan kondisi ini adalah T. tonsurans, T. schoenleinii, T. rubrum, dan M. audouinii. Sedangkan jamur dari spesies zoofilik meliputi M. nanum, M. canis, T. equinium, dan T. verrucosum.

Pada spesies geofilik, yang menjadi penyebab penyakit kurap kepala adalah M. gypseum. Namun, kemunculan penyakit akibat jenis jamur ini jarang terjadi.

Berbagai jamur tersebut memiliki cara yang berbeda saat menembus dan menginfeksi kulit kepala.

Contohnya adalah jamur M. canis. Setelah menembus lapisan kulit kepala, jamur ini akan masuk ke dalam akar rambut lalu tumbuh sampai menutupi permukaan rambut dan menghancurkan kutikula (lapisan pelindung rambut). Infeksi ini disebut sebagai infeksi ektotrik.

Lain lagi dengan infeksi endotrik, jamur ini akan menyerang batang rambut dan tumbuh di dalamnya tanpa menghancurkan kutikula. T. tonsurans termasuk ke dalam kategori ini.

Tinea capitis yang disebabkan oleh jamur spesies antropofilik dapat ditularkan melalui kontak dengan orang yang terinfeksi atau bisa juga melalui penggunaan barang bersama.

Sedangkan kondisi yang disebabkan oleh jamur spesies zoofilik dapat ditularkan melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, misalnya dari binatang peliharaan seperti kucing atau anjing. Jamur zoofilik juga bisa menyebar dari orang ke orang.

Apa saja faktor-faktor yang meningkatkan risiko terkena tinea capitis?

Seseorang lebih berisiko terkena penyakit ini apabila:

  • masih berada pada usia balita atau sekolah dasar,
  • memiliki hewan peliharaan,
  • bekerja di sekolah atau pusat penitipan anak, di mana wabah sering terjadi dan infeksi lebih mudah menyebar,
  • tinggal di lingkungan yang lembab dan hangat, sebab kelembaban berlebih dapat menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan jamur, atau
  • memiliki kondisi yang membuat imunitas tubuh menjadi lemah.

Diagnosis

Bagaimana dokter mendiagnosis kondisi ini?

Seringnya, tinea capitis dapat didiagnosis oleh dokter spesialis kulit hanya dengan melihat kondisi kulit kepala pasien yang terinfeksi. Pada saat pemeriksaan, dokter juga akan menanyakan seputar gejala yang dirasakan serta riwayat kontak Anda dengan orang lain atau binatang peliharaan.

Bila diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan dengan mengambil sampel kulit dan rambut yang nantinya akan diamati menggunakan mikroskop. Hal ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya jamur yang mendiami kulit.

Terkadang dokter juga menggunakan wood lamp, sebuah alat serupa lampu ultraviolet yang akan disinari di kulit kepala untuk melihat jenis jamur yang menginfeksi kulit.

Ada pula pemeriksaan kultur dari sampel yang telah diambil. Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengamati bagaimana jamur tumbuh dan berkembang. Namun, karena dapat memakan waktu sampai berminggu-minggu untuk mendapatkan hasilnya, cara ini jarang dilakukan.

Pengobatan

Apa saja pengobatan yang dapat dilakukan?

Berbeda dengan jenis kurap lainnya, penyakit ini tidak bisa diatasi dengan obat kurap seperti krim atau salep. Sebab, obat tersebut tidak dapat menembus akar rambut dengan baik.

Untuk mengatasi tinea capitis, pasien membutuhkan obat-obatan berefek sistemik, yang berarti obat bekerja dengan cara beredar ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

Obat sistemik dapat berupa obat oral (minum) atau obat injeksi (disuntik). Umumnya, obat yang digunakan untuk kondisi ini adalah obat oral. Jenis yang paling sering diresepkan di antaranya adalah obat antijamur griseofulvin dan terbinafine.

Griseofulvin berfungsi untuk menghentikan pembelahan jamur, tetapi tidak membunuh jamur secara langsung. Sehingga, obat ini harus diminum selama beberapa minggu atau bulan. Biasanya obat diminum setelah makan.

Sementara itu, terbinafine bekerja dengan menghentikan sel-sel pembuat ergosterol, komponen utama pembentuk dinding sel jamur. Obat ini sering diresepkan untuk pasien anak-anak karena durasi pengobatannya yang tidak terlalu lama, hanya berkisar 2 – 4 minggu.

Namun, terbinafine tidak boleh diberikan pada ibu hamil karena dapat menimbulkan risiko cacat lahir.

Selain minum obat-obatan, Anda juga bisa keramas dengan sampo khusus yang mengandung bahan-bahan seperti povidone-iodine, ketoconazole, dan selenium sulfida untuk mengurangi perkembangan jamur.

Pencegahan

Apa saja langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah tinea capitis?

Kurap kepala cukup sulit untuk dicegah karena jamurnya dapat menular bahkan sebelum gejala mulai muncul. Namun bukan berarti Anda tak bisa mencegah kejadiannya. Berikut berbagai langkah untuk mengurangi risiko Anda terkena kurap.

  • Menjaga kebersihan kulit kepala dengan keramas secara teratur, terutama setelah potong rambut.
  • Menjaga kebersihan dengan mandi dan mencuci tangan setiap setelah melakukan aktivitas yang rentan akan kotoran dan keringat.
  • Jangan berbagi barang pribadi seperti pakaian, handuk, atau sikat rambut. Karena lebih mudah terjadi pada anak-anak, ajari si kecil untuk tidak meminjamkan peralatan pribadi.
  • Bila memiliki hewan peliharaan, bawalah ke dokter untuk diperiksa kesehatannya secara rutin.

Bila Anda masih memiliki pertanyaan seputar tinea capitis, silakan diskusikan dengan dokter Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ringworm (Scalp). (2018). Mayo Clinic. Retrieved 7 October 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ringworm-scalp/symptoms-causes/syc-20354918

Tinea Capitis: Background, Pathophysiology, Etiology. (2020). MedScape. Retrieved 7 October 2020, from https://emedicine.medscape.com/article/1091351-overview

Tinea Capitis. (2003). DermNet NZ. Retrieved 7 October 2020, from https://dermnetnz.org/topics/tinea-capitis/

Tinea Capitis (Scalp Ringworm). (2020). MSD Manual. Retrieved 7 October 2020, from https://www.msdmanuals.com/professional/dermatologic-disorders/fungal-skin-infections/tinea-capitis-scalp-ringworm

Terbinafine. (2014). DermNet NZ. Retrieved 7 October 2020, from https://dermnetnz.org/topics/terbinafine/

Griseofulvin. (2003). DermNet NZ. Retrieved 7 October 2020, from https://dermnetnz.org/topics/griseofulvin/

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Winona Katyusha
Tanggal diperbarui 10/11/2020
x