backup og meta
Kategori
Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

7 Cara Mudah Mencegah Anemia pada Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 03/01/2023

7 Cara Mudah Mencegah Anemia pada Ibu Hamil

Anemia dapat menyebabkan komplikasi berbahaya pada ibu dan janin. Inilah mengapa upaya pencegahan anemia pada ibu hamil sangat penting.

Simak informasi berikut untuk mengetahui cara mencegah anemia pada ibu hamil.

Pencegahan anemia pada ibu hamil

Perubahan pola makan merupakan hal penting dalam upaya pencegahan anemia pada ibu hamil.

Namun, perlu diingat bahwa meski kerap dikaitkan dengan kekurangan zat besi, anemia bisa disebabkan oleh kekurangan zat gizi lainnya.

Anemia pada ibu hamil juga bisa disebabkan oleh kekurangan asam folat, vitamin C, vitamin B12, hingga masalah lingkungan. Oleh karena itu, ibu hamil perlu mengonsumsi makanan yang beragam dengan gizi seimbang.

Nah, berikut beberapa cara pencegahan anemia pada ibu hamil, baik dari segi makanan hingga gaya hidup.

1. Makan makanan tinggi zat besi

zat besi untuk anak

Ibu hamil disarankan untuk mendapatkan asupan zat besi sebanyak 3o mg setiap hari. Dilansir dari laman UCSF Health, Anda bisa mendapatkannya melalui beberapa jenis makanan, seperti:

Zat besi yang berasal dari sumber protein hewani akan lebih mudah dicerna oleh tubuh. Ibu hamil boleh makan daging sapi, tapi hindari daging yang mentah karena itu bisa membahayakan kehamilan.

2. Mengonsumsi makanan tinggi asam folat

Anemia karena kekurangan asam folat merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada ibu hamil. Selama kehamilan, Anda disarankan mengonsumsi 400–800 mcg asam folat setiap harinya. 

Sebagai upaya pencegahan anemia pada ibu hamil, berikut beberapa jenis makanan tinggi asam folat yang dapat dikonsumsi.

  • Biji bunga matahari.
  • Jus jeruk.
  • Sayuran hijau seperti kangkung, bayam, dan kubis.
  • Alpukat.
  • Kacang tanah.

Meski sumbernya berlimpah, kebutuhan asam folat saat hamil biasanya sulit terpenuhi hanya dengan makanan. Oleh karena itu, dokter Anda mungkin menyarankan penambahan melalui suplemen.

3. Menambah asupan suplemen

Jika Anda diketahui mengalami anemia defisiensi besi atau folat pada pemeriksaan kehamilan, dokter akan memberikan suplemen zat besi atau folat.

Suplemen zat besi diberikan dengan dosis 60–120 mg dan diturunkan menjadi 40 mg per hari jika jumlah zat besi dalam tubuh sudah terpenuhi.

Sementara pada pemberian suplemen asam folat, dokter biasanya meresepkan dengan dosis 400 mcg.

Jangan minum suplemen Anda dengan produk susu atau suplemen berkalsium. Selain itu, pastikan bahwa Anda mengonsumsi suplemen kehamilan sesuai dengan resep dokter.

4. Makan makanan tinggi vitamin C

Salah satu cara mencegah anemia pada ibu hamil adalah meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan atau suplemen dengan mengonsumsi vitamin C.

Jumlah vitamin C yang direkomendasikan untuk ibu hamil tiap harinya yaitu 85 mg. Vitamin C untuk ibu hamil bisa diperoleh dari jeruk, tomat, atau stroberi.

Jika Anda mengonsumsi suplemen dengan jus jeruk, usahakan untuk memilih suplemen yang tidak mengandung kalsium. Kalsium dalam suplemen justru akan menurunkan penyerapan zat besi.

5. Meningkatkan konsumsi vitamin B12

Bersama asam folat, vitamin B12 memiliki peran penting membentuk sel darah merah. Produksi sel darah merah yang cukup selama kehamilan tentu akan mencegah terjadinya anemia.

Oleh karena itu, penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12 melalui beberapa sumber makanan, seperti:

Tidak hanya mencegah anemia, vitamin B12 pada ibu hamil juga penting untuk perkembangan otak dan tulang belakang pada bayi.

6. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

Salah satu penyebab anemia yaitu malaria. Penyakit ini terjadi karena adanya parasit Plasmodium yang dibawa oleh gigitan nyamuk jenis Anopheles.

Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh kemudian akan berkembang di dalam hati dan mulai menyerang sel darah merah Anda.

Penyakit ini juga dapat ditularkan ke bayi dalam kandungan. Kondisi ini disebut malaria kongenital.

Menjaga kebersihan tempat tinggal merupakan cara terbaik untuk mencegah malaria. Anda juga sebaiknya menghindari berkunjung ke daerah dengan wabah penyakit ini.

7. Menjaga jarak kehamilan

Berdasarkan sebuah penelitian dalam jurnal Contraception and Reproductive Medicine (2020), ibu dengan jarak kehamilan kurang dari dua tahun memiliki risiko anemia lebih besar daripada mereka yang memiliki jarak kehamilan lebih lama.

Salah satu alasannya adalah karena ibu belum sepenuhnya pulih dari persalinan sebelumnya. Selama kehamilan, dikhawatirkan penyerapan zat gizi untuk janin tidak optimal sehingga risiko anemia pun lebih besar.

Program WHO dalam pencegahan anemia

Saat ini World Health Organization (WHO) tengah menjalankan program Global Nutrition Monitoring Framework.
Gerakan ini diharapkan dapat mengurangi potensi anemia hingga 50% pada wanita produktif pada 2025 mendatang.

Mengapa pencegahan anemia pada ibu hamil penting dilakukan?

perempuan atau wanita dengan kondisi kelebihan zat besi

Kebutuhan sel darah merah selama kehamilan akan meningkat karena sel darah merah juga akan digunakan untuk mengangkut oksigen ke rahim.

Jika kebutuhan sel darah merah ini tidak diimbangi dengan asupan gizi yang seimbang, kadar hemoglobin ibu hamil akan berkurang sehingga menyebabkan anemia.

Anemia pada ibu hamil tentu membawa beberapa risiko yang berpotensi membahayakan ibu dan bayi.

Berikut beberapa kondisi yang mungkin dialami ibu hamil jika mengidap anemia.

  • Perdarahan post-partum atau perdarahan yang berlebihan setelah melahirkan.
  • Plasenta previa atau posisi plasenta berada di bagian bawah rahim.
  • Kelahiran prematur.
  • Berat badan lahir yang rendah.
  • Kematian janin.

Pencegahan anemia dapat dilakukan sedini mungkin atau bahkan saat Anda merencanakan kehamilan.

Selain itu, perlu diingat bahwa risiko anemia saat hamil pada setiap orang mungkin berbeda. Jadi, konsultasikan terlebih dahulu kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh pada dokter pada awal masa kehamilan.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 03/01/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan