7 Cara Mencegah Anemia pada Ibu Hamil

    7 Cara Mencegah Anemia pada Ibu Hamil

    Anemia merupakan salah satu penyakit yang kerap ditemukan pada ibu hamil. Sebab kebutuhan sel darah merah selama kehamilan akan meningkat karena sel darah merah juga akan digunakan untuk mengangkut oksigen ke rahim.

    Jika kebutuhan sel darah merah ini tidak diimbangi dengan asupan nutrisi yang seimbang, ibu hamil akan berisiko terkena anemia.

    Lantas, bagaimana cara mencegah anemia pada ibu hamil?

    Pencegahan anemia pada ibu hamil

    Perubahan pola makan merupakan hal penting sebagai upaya pencegahan anemia pada ibu hamil. Namun perlu diingat bahwa, meski kerap dikaitkan dengan kekurangan zat besi, anemia bisa disebabkan oleh berbagai hal lainnya.

    Selain kekurangan zat besi, anemia pada ibu hamil juga bisa disebabkan oleh kekurangan asam folat, vitamin C, vitamin B12, hingga masalah lingkungan. Oleh karena itu pemenuhan zat besi bukanlah satu-satunya yang perlu dilakukan.

    Berikut beberapa cara pencegahan anemia pada ibu hamil

    1. Makan makanan tinggi zat besi

    sayuran hijau

    Ibu hamil disarankan untuk memenuhi kebutuhan akan gizi sebanyak 3o miligram per harinya. Dilansir dari laman UCSF Health, Anda bisa mendapatkannya melalui beberapa jenis makanan seperti:

    Zat besi yang berasal dari sumber protein hewani akan lebih mudah dicerna oleh tubuh. Meski begitu, hindari makan daging mentah karena itu bisa membahayakan kehamilan.

    2. Mengonsumsi makanan tinggi asam folat

    Anemia karena kekurangan asam folat merupakan salah satu hal yang sering terjadi pada ibu hamil. Selama kehamilan, Anda disarankan mengonsumsi 400-800 mikrogram asam folat setiap harinya.

    Berikut beberapa jenis makanan yang tinggi asam folat dan aman untuk ibu hamil.

    • Biji bunga matahari.
    • Jus jeruk.
    • Sayuran hijau seperti kale, bayam, dan kubis.
    • Alpukat.
    • Kacang tanah.

    Meski begitu, kebutuhan ini biasanya sulit terpenuhi hanya dengan makanan saja. Oleh karena itu, dokter Anda mungkin menyarankan penambahan melalui suplemen.

    3. Menambah asupan suplemen

    Suplemen prenatal biasanya mengandung zat besi. Jika selama pemeriksaan kehamilan Anda masih juga mengalami defisiensi zat besi yang menyebabkan anemia, Anda mungkin mendapatkan suplemen ini.

    Suplemen zat besi umumnya diberikan pada dosis 60–120 mg dan diturunkan menjadi 40 mg per hari jika jumlah zat besi dalam tubuh sudah terpenuhi.

    Sementara itu, untuk dosis suplemen asam folat, dokter biasanya meresepkan dengan dosis 400 mcg.

    Jangan minum suplemen Anda dengan produk susu atau suplemen berkalsium. Selain itu, pastikan bahwa Anda mengonsumsi suplemen sesuai dengan resep dokter.

    4. Makan makanan tinggi vitamin C

    Ibu hamil dapat meningkatkan penyerapan zat besi pada makanan atau suplemen dengan mengombinasikannya bersama vitamin C. Vitamin C sendiri bisa Anda peroleh dari jeruk, tomat, atau stroberi.

    Jika Anda mengonsumsi suplemen dengan jus jeruk. Usahakan untuk memilih suplemen yang tidak mengandung kalsium. Kalsium dalam suplemen justru akan menurunkan penyerapan zat besi.

    Jumlah vitamin C yang direkomendasikan untuk ibu hamil tiap harinya adalah 85 mg.

    5. Meningkatkan konsumsi vitamin B12

    Bersama asam folat, vitamin B12 memiliki peran penting membentuk sel darah merah. Keberadaan sel darah merah selama kehamilan tentu akan mencegah terjadinya anemia.

    Oleh karena itu, penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin B12 melalui beberapa sumber makanan seperti berikut.

    Tidak hanya mencegah anemia, vitamin B12 pada ibu hamil juga penting untuk perkembangan otak dan tulang belakang pada bayi.

    6. Menjaga kebersihan lingkungan sekitar

    Salah satu penyebab anemia adalah malaria. Penyakit ini terjadi karena adanya parasit Plasmodium yang dibawa oleh gigitan nyamuk jenis Anopheles.

    Plasmodium yang masuk ke dalam tubuh, kemudian akan berkembang di dalam hati dan mulai menyerang sel darah merah Anda.

    Penyakit ini juga dapat ditularkan ke bayi dalam kandungan yang kemudian disebut malaria kongenital.

    Menjaga kebersihan tempat tinggal merupakan cara terbaik untuk mencegah malaria. Anda juga sebaiknya menghindari berkunjung ke daerah dengan wabah penyakit ini.

    7. Menjaga jarak kehamilan

    gangguan pencernaan pada anak

    Berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Contaception and Reproductive Medicine (2020), seorang ibu yang memiliki jarak kehamilan kurang dari dua tahun memiliki risiko anemia lebih besar daripada mereka yang memiliki jarak kehamilan lebih lama.

    Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh ibu yang belum sepenuhnya pulih dari persalinan sebelumnya. Selama masa hamil, dikhawatirkan penyerapan zat gizi untuk janin tidak optimal sehingga risiko anemia pun lebih besar.

    Program WHO dalam pencegahan anemia

    Saat ini World Health Organization (WHO) tengah menjalankan program Global Nutrition Monitoring Framework.
    Gerakan ini diharapkan dapat mengurangi potensi anemia hingga 50% pada wanita produktif di tahun 2025 mendatang.

    Mengapa pencegahan anemia pada ibu hamil penting dilakukan?

    Anemia pada ibu hamil tentu membawa beberapa risiko yang berpotensi membahayakan ibu dan bayi.

    Berikut beberapa kondisi yang mungkin dialami ibu hamil jika mengidap anemia.

    • Perdarahan post-partum atau perdarahan yang berlebihan setelah melahirkan.
    • Plasenta previa atau tali plasenta berada di bagian bawah rahim.
    • Kelahiran prematur.
    • Berat badan lahir yang rendah.
    • Kematian janin.

    Pencegahan anemia dapat dilakukan sedini mungkin atau bahkan saat Anda merencanakan kehamilan.

    Selain itu, perlu diingat bahwa risiko anemia saat hamil pada setiap orang mungkin berbeda. Jadi, konsultasikan terlebih dahulu kondisi kesehatan Anda secara menyeluruh pada dokter di awal masa kehamilan.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Sumber

    SIFAKIS, S., and G. PHARMAKIDES. “Anemia In Pregnancy”. Annals Of The New York Academy Of Sciences, vol 900, no. 1, 2006, pp. 125-136. Wiley. Retrieved 28 November 2022 from doi:10.1111/j.1749-6632.2000.tb06223.x.

    Prevention of maternal anemia. (2019, September 11). MCHIP. Retrieved 28 November 2022 from https://www.mchip.net/interventions/maternal-health/prevention-maternal-anemia/.

    Anemia and pregnancy. (n.d.). ucsfhealth.org. Retrieved 28 November 2022 from https://www.ucsfhealth.org/education/anemia-and-pregnancy.

    Admin, A. (2022, June 13). Roles of vitamin B in pregnancy. American Pregnancy Association. Retrieved 28 November 2022 from https://americanpregnancy.org/healthy-pregnancy/pregnancy-health-wellness/vitamin-b-pregnancy/.

    Anemia in pregnancy. (2021, April 23). A Non-Profit Hospital in Los Angeles | Cedars-Sinai. Retrieved 28 November 2022 from https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/a/anemia-in-pregnancy.html.

    Prevent iron deficiency anemia during pregnancy. (2022, February 9). Mayo Clinic. Retrieved 28 November 2022 from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/anemia-during-pregnancy/art-20114455.

    Anemia during pregnancy: Symptoms, risks & prevention. (n.d.). Cleveland Clinic. Retrieved 28 November 2022 from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/23112-anemia-during-pregnancy.

    Folic acid. (2022, June 16). Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 28 November 2022 from https://www.cdc.gov/ncbddd/folicacid/about.html.

    Kejela, G., Wakgari, A., Tesfaye, T., Turi, E., Adugna, M., Alemu, N., & Jebessa, L. (2020). Prevalence of anemia and its associated factors among pregnant women attending antenatal care follow up at Wollega University referral hospital, western Ethiopia. Contraception and Reproductive Medicine5(1). Retrieved 28 November 2022 from https://doi.org/10.1186/s40834-020-00130-9.

    Anaemia. (n.d.). World Health Organization (WHO). Retrieved 28 November 2022 from https://www.who.int/data/nutrition/nlis/info/anaemia.

    Foto Penulisbadge
    Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri Diperbarui 4 days ago
    Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa