home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mengenal Makanan Fortifikasi dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Mengenal Makanan Fortifikasi dan Manfaatnya Bagi Kesehatan

Ketika membaca kemasan makanan, Anda mungkin pernah melihat tulisan ‘difortifikasi’ atau ‘diperkaya’ yang diikuti dengan zat gizi tertentu. Tulisan ini biasanya dijumpai pada produk susu, tepung, atau sereal. Namun, belakangan Anda pun bisa menemukan makanan fortifikasi berupa roti, bumbu-bumbu masak, bahkan makanan anak-anak.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan makanan terfortifikasi? Lalu, apakah makanan yang telah melalui proses ini menjadi lebih menyehatkan dibandingkan makanan biasa? Simak jawabannya dalam informasi berikut ini.

Mengenal makanan fortifikasi dan manfaatnya

makanan bersih saat banjir

Makanan fortifikasi atau yang diperkaya adalah asupan yang telah ditambahkan dengan berbagai macam zat gizi yang secara alamiah tidak terkandung dalam makanan tersebut. Contohnya, susu difortifikasi dengan vitamin D, sereal difortifikasi dengan vitamin B, dan lain-lain.

Selain memperkaya kandungan nutrisi bahan pangan, fortifikasi juga bermanfaat untuk mengembalikan zat gizi yang hilang dalam proses pengolahan. Dengan begitu, bahan pangan dalam kemasan tetap mengandung zat gizi yang sama dengan bahan bakunya.

Fortifikasi bahan pangan sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak tahun 1930-an. Tujuannya untuk mencegah kekurangan vitamin dan mineral dengan menambahkannya ke dalam bahan pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat, seperti susu dan beras.

Zat gizi yang ditambahkan ke dalam makanan fortifikasi umumnya merupakan zat gizi mikro, yakni zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil. Meski dibutuhkan dalam jumlah kecil, zat gizi mikro berperan penting dalam menjalankan fungsi normal tubuh.

Di Indonesia, fortifikasi telah dilakukan dengan menambahkan zat besi pada tepung terigu, vitamin A pada minyak goreng, dan yodium pada garam. Hal ini bertujuan untuk mengatasi stunting, kurang gizi, dan gangguan akibat kekurangan yodium pada anak.

World Health Organization menyatakan bahwa fortifikasi adalah cara yang efektif untuk memberikan zat gizi kepada masyarakat tanpa mengubah pola makan secara drastis. Bahkan, program ini juga dapat mencegah penyakit akibat kekurangan zat gizi mikro.

Apakah asupan berfortifikasi lebih menyehatkan?

makanan kemasan

Bahan pangan fortifikasi sangat berguna dalam mencegah gangguan kesehatan yang terkait dengan kekurangan zat gizi mikro. Makanan ini juga amat penting bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan pola makan khusus.

Walau demikian, makanan yang difortifikasi juga memiliki kekurangan. Bahan pangan ini biasanya sudah melewati banyak pengolahan dan telah dikemas. Proses tersebut akan menambah kandungan lemak, natrium, serta gula di dalamnya.

Anak-anak juga berisiko mengalami kelebihan asupan vitamin dan mineral jika terlalu sering mengonsumsi makanan yang diperkaya. Kelebihan asupan vitamin dan mineral dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Orang dewasa pun bisa mengalami kelebihan asupan zat mikro, terutama bila mereka juga rutin meminum suplemen. Kelebihan vitamin A misalnya, bisa merapuhkan tulang pinggang pada lansia dan mengganggu perkembangan janin pada ibu hamil.

Meski begitu, manfaat dari makanan yang difortifikasi tetaplah lebih besar dibandingkan risikonya. Pasalnya, penambahan zat gizi tidak dilakukan tanpa pertimbangan. Jenis zat gizi untuk fortifikasi juga telah disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat tiap negara.

Kuncinya yakni mengonsumsi makanan yang bervariasi. Ini berarti selain mengonsumsi makanan fortifikasi, Anda juga mendapatkan asupan makanan padat gizi dari sumber alami. Pola makan yang bervariasi akan memberikan tubuh Anda asupan zat gizi yang beragam, tapi tetap seimbang.

health-tool-icon

Kalkulator Kebutuhan Kalori

Gunakan kalkulator ini untuk menentukan berapa kebutuhan kalori harian Anda berdasarkan tinggi, berat badan, usia, dan aktivitas sehari-hari.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Perbaiki Gizi, Pemerintah Lakukan Fortifikasi Pangan. https://www.sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20190219/1729527/perbaiki-gizi-pemerintah-lakukan-fortifikasi-pangan/ Diakses pada 9 Januari 2020.

Are Fortified and Enriched Foods Healthy? https://www.healthline.com/health/food-nutrition/fortified-and-enriched-foods#1 Diakses pada 9 Januari 2020.

Fortification. https://www.nutritionintl.org/what-we-do/by-programs/fortification/ Diakses pada 9 Januari 2020.

Guidelines on food fortification with micronutrients. https://www.who.int/nutrition/publications/guide_food_fortification_micronutrients.pdf Diakses pada 9 Januari 2020.

List of Fortified Foods. https://www.livestrong.com/article/27826-list-fortified-foods/ Diakses pada 9 Januari 2020.

Fortified Foods Can Be Too Much of a Good Thing. https://www.webmd.com/food-recipes/news/20000710/fortified-foods-too-much#1 Diakses pada 9 Januari 2020.

What Is Fortified Cereal, and Is It Healthy? https://www.healthline.com/nutrition/fortified-cereal Diakses pada 9 Januari 2020.


Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x