backup og meta
Kategori
Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Sapi? Ini Faktanya

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 27/06/2022

Bolehkah Ibu Hamil Makan Daging Sapi? Ini Faktanya

Daging kaya akan protein, vitamin, dan mineral, sehingga bisa menjadi asupan yang sehat selama masa kehamilan. Namun, sangat penting bagi calon ibu mengetahui jenis daging apa saja yang boleh dikonsumsi pada masa kehamilan. Pertanyaannya, bolehkah ibu hamil makan daging sapi, seperti daging sapi kurban yang dimasak sebagai rendang atau sop daging sapi?

Bolehkah ibu hamil makan daging sapi?

Mungkin banyak calon ibu yang sudah mengetahui bahwa selama masa kehamilan, ada beberapa jenis makanan yang harus dihindari atau tidak boleh dimakan.

Salah satunya, yaitu daging ikan yang mengandung banyak merkuri. Lalu, bagaimana dengan daging sapi?

Ibu hamil dengan kondisi kehamilan yang sehat umumnya boleh untuk mengonsumsi daging sapi, baik itu yang berasal dari daging segar atau olahan, seperti sosis dan bakso.

Bahkan, daging sapi mungkin disarankan oleh dokter sebagai bagian dari menu makanan yang baik untuk ibu hamil.

Namun, sebelum itu, pastikan daging yang dikonsumsi sudah matang dengan sempurna. Ini dapat ditandai dengan tidak ada lagi bagian daging yang berwarna merah muda (pink) atau mengandung sisa darah.

Ini sama seperti ketika ibu hamil mengonsumsi jenis daging lainnya. Pastikan ibu hamil tidak makan daging sapi yang setengah matang atau belum matang sama sekali.

Pasalnya, dilansir dari March of Dimes, daging yang belum matang atau setengah matang bisa mengandung bakteri berbahaya yang bisa menyebabkan keracunan makanan, misal infeksi bakteri salmonella (salmonellosis).

Selain itu, ibu hamil yang makan daging mentah juga berisiko mengalami toxoplasma yang bisa menjadi penyebab keguguran.

Perlu diketahui

Agar matang sempurna, paling tidak daging sapi harus dimasak hingga suhu 145° Fahrenheit atau setara 62,8° Celsius. Pastikan tidak ada bagian daging yang masih mentah atau berwarna merah muda.

Adakah manfaat makan daging sapi saat hamil?

makan steak saat hamil

Manfaat daging sapi, yakni sebagai sumber protein, zinc, zat besi, dan vitamin B yang baik bagi tubuh.

Zat-zat gizi tersebut termasuk nutrisi yang penting untuk ibu hamil dan harus dikonsumsi dalam jumlah yang cukup selama masa kehamilan.

Lalu, apa saja manfaat yang bisa ibu hamil dapat dari daftar nutrisi tersebut? Berikut adalah beberapa manfaat makan daging sapi untuk ibu hamil.

1. Mendukung pertumbuhan janin

Protein sangat penting bagi pertumbuhan janin selama masa kehamilan. Zat gizi ini membantu janin mengembangkan kulit, rambut, kuku, dan ototnya selama di dalam kandungan.

Angka kecukupan gizi (AKG) protein yang dianjurkan bagi ibu hamil, yaitu sekitar 71 gram per hari.

2. Mencegah anemia

Sementara itu, asupan zat besi selama kehamilan dari daging sapi dapat membantu mencegah anemia pada ibu hamil. Pasalnya, zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah.

AKG zat besi yang dianjurkan bagi ibu hamil, yaitu dua kali lipat dari wanita yang tidak hamil atau sekitar 27 mg per hari.

3. Mencegah gangguan saraf pada janin

Zinc berfungsi untuk membantu pertumbuhan sel dan perkembangan otak janin. AKG zinc berdasarkan rekomendasi untuk ibu hamil, yaitu 15 mg per hari.

Sementara itu, asupan vitamin B selama hamil dari daging sapi juga bisa mencegah gangguan serius pada perkembangan otak dan sumsum tulang belakang janin.

AKG yang disarankan yaitu 600-1000 mcg per hari selama masa kehamilan.

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, ibu hamil disarankan untuk setidaknya mengonsumsi 5 ons daging tanpa lemak setiap hari, baik dari ikan, ayam, sapi, atau kambing.

Adakah risiko jika ibu hamil makan daging sapi terlalu banyak?

Meski aman, ibu hamil perlu memperhatikan jumlah daging sapi yang dikonsumsi.

Jika berlebihan, daging sapi bisa menimbulkan efek yang tidak baik bagi tubuh, termasuk pada ibu hamil.

Beberapa peneliti dari Harvard School of Public Health menemukan fakta bahwa mengonsumsi daging merah dalam jumlah yang terlalu banyak bisa meningkatkan risiko kematian sebanyak 13 persen.

Berdasarkan penelitian terkini dari Nurses’ Health Study II, ibu hamil dianjurkan membatasi konsumsi daging merah untuk menjaga kesehatan diri sendiri dan janin yang sedang dikandung.

Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa wanita yang mengonsumsi daging merah secara berlebihan berisiko lebih tinggi mengalami diabetes gestasional.

Selain itu, beberapa jenis daging sapi juga bisa mengandung kadar lemak yang tinggi.

Jika dikonsumsi secara berlebihan, ini bisa menyebabkan kadar kolesterol tinggi dan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

Tips mengolah daging sapi untuk ibu hamil

manfaat daging sapi

Agar ibu hamil bisa makan daging sapi dengan aman, ada beberapa tips memasak daging mentah yang dapat dilakukan, meliputi berikut ini.

  • Pilih daging sapi yang rendah lemak. Jika Anda membeli daging potong, Anda bisa meminta bagian daging dengan sedikit atau tanpa lemak. Bila membeli daging sapi kemasan, baca keterangan pada label untuk mengetahui kadar lemak yang terkandung di dalamnya.
  • Hindari menambahkan lemak pada daging, misal dengan tidak menggunakan minyak goreng. Lebih baik masak daging dengan cara dipanggang daripada digoreng.
  • Gunakan termometer daging saat memasak, jika ada, untuk memastikan daging sudah benar-benar matang.
  • Pastikan tingkat kematangan daging sempurna, yang bisa ditandai dengan tidak ada daging yang berwarna pink atau mengandung sisa darah.

Setelah selesai memasak daging sapi, jangan lupa untuk segera cuci tangan, alat masak, dan permukaan meja.

Pasalnya, bakteri berbahaya bisa dengan mudah menyebar melalui sentuhan, termasuk bakteri yang menempel pada benda.

Maka dari itu, selalu berhati-hati saat menyimpan dan memasak daging mentah, termasuk daging sapi. Jauhkan daging dari makanan siap makan, seperti roti, buah, dan sayuran.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Reikha Pratiwi · Tanggal diperbarui 27/06/2022

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan