5 “Fakta” Seputar Kanker Payudara yang Ternyata Tidak Benar

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Banyak kabar burung dan hoax yang beredar seputar penyebab kanker payudara. Meski tampak remeh, berita-berita palsu ini bisa membuat orang-orang awam makin salah paham tentang kondisi ini dan dihantui oleh ketakutan yang sebenarnya tidak perlu. Nah, artikel ini akan mengupas tuntas semua mitos dan fakta penyebab kanker payudara yang beredar di masyarakat – yang tentu saja tidak benar.

Menguak fakta di balik mitos seputar penyebab kanker payudara

Mitos yang berlawanan dengan fakta aslinya menyebabkan masyarakat banyak yang salah paham tentang kanker payudara. Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti melakukan serangkaian penelitian untuk membuktikan kebenaran informasi yang beredar, apakah itu hanya sekedar mitos yang menyebabkan kesalahpahaman, atau itu sebenarnya merupakan teori yang benar, namun belum ada bukti yang mengiringi teori tersebut. Apa saja mitos penyebab kanker payudara dan apakah sudah pasti benar? Berikut ulasannya.

1. Menggunakan bra meningkatkan risiko kanker payudara

Salah. Banyak perempuan yang resah karena banyak info yang beredar bahwa risiko kanker payudara bisa meningkat dengan memakai bra, terutama bra berkawat. Namun, mitos ini dibantah habis-habisan oleh sebuah studi milik tim peneliti dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, AS.

Mereka menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada hubungan antara kanker payudara dengan pemakaian bra, entah seberapa lama, apapun jenisnya, dan ukuran bra yang Anda pakai.

2. Deodoran memicu kanker payudara

Salah. Menurut National Cancer Institute, tidak ada bukti yang kuat bahwa deodoran menyebabkan kanker, terutama kanker payudara. Kandungan murni dari deodoran sendiri itu sendiri merupakan bahan kimia yang mungkin menjadi faktor risiko kanker, tapi suatu produk yang akan beredar di pasaran biasanya akan diuji ketat terlebih dahulu.

National Cancer Institute (NCI) bersama US Food and Drug Administration (FDA) tidak menemukan zat berbahaya terkandung dalam deodoran.

3. Ponsel dapat menyebabkan kanker payudara

Salah. Masyarakat salah tanggap tentang fakta mengenai radiasi sinyal yang dipancarkan oleh ponsel bisa memengaruhi kesehatan bahkan menyebabkan kanker, termasuk kanker payudara.

Radiasi bisa menyebabkan kanker ketika itu memutasi genetik. Dalam kasus ponsel, radiasi yang terpancar sangat kecil, hanya berkisar antara 450-2.700 MHz saja, dengan kekuatan puncak 0,1-5 watt.

Mengingat kekuatan radiasi ponsel yang begitu kecil, maka sangat kecil kemungkinannya untuk bisa memutasi gen dalam jaringan tubuh. Dengan kata lain, radiasi ponsel tidak menyebabkan kanker.

4. Genetik keluarga adalah penyebab kanker payudara

Penyebab utama kanker payudara berasal dari mutasi gen, tapi hanya sekitar 5-10 persen saja kasus kanker payudara yang berasal dari faktor genetik (keturunan). Mutasi gen bisa terjadi pada seseorang karena faktor lingkungan, gaya hidup, dan faktor usia. Persentase untuk kanker yang disebabkan oleh mutasi gen berkisar antara 90 -95 persen.

5. Mamogram, MRI, dan USG menyebabkan kanker payudara

Salah. Melakukan pengecekan payudara dengan mammogram memang memanfaatkan sinar radiasi. Dari sinilah kabar burung mammografi sebagai penyebab kanker payudara berasal.

Fakta yang harus Anda ingat adaah mammogram yang dilakukan rutin  justru sangat membantu menurunkan tingkat kematian akibat kanker payudara pada perempuan usia 45 hingga 75 tahun.

Berbeda dengan mamogram, MRI merupakan pengecekan payudara menggunakan magnet, sedangkan USG menggunakan gelombang suara. Akan tetapi sama dengan mammogram, tak ada penelitian medis kuat yang membuktikan bahwa kedua hal ini menyebabkan kanker payudara.

USG dan MRI malah sangat berjasa untuk mendeteksi dini kehadiran sel-sel penyebab kanker payudara.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Seberapa Sering Wanita Perlu Melakukan Tes Mamografi?

Rutin melakukan tes mamografi dapat mendeteksi dini kanker payudara. Namun, kapan perlu memulai dan seberapa sering tes mamografi perlu dilakukan?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker Payudara, Health Centers 07/04/2020 . Waktu baca 4 menit

Pewarna Rambut Permanen Ternyata Dapat Meningkatkan Risiko Kanker Payudara

Selain dapat menimbulkan kerontokan parah, ternyata pewarna rambut juga bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Benarkah demikian?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Kanker Payudara, Health Centers 04/04/2020 . Waktu baca 5 menit

Kapan Boleh Berhenti Periksa Mamografi?

Mamografi adalah salah satu cara untuk mendeteksi kanker payudara sejak usia 40 tahun. Lalu, kapan boleh berhenti periksa mamografi?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kanker Payudara, Health Centers 28/03/2020 . Waktu baca 4 menit

Segala Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Metastase Kanker Payudara

Metastase atau penyebaran kanker payudara juga bisa disebut sebagai kanker payudara stadium 4. Temukan gejala hingga angka harapan hidupnya di sini!

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kanker Payudara, Health Centers 29/02/2020 . Waktu baca 7 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Hubungan Harmonis Pengaruhi Tingkat Stres Pasien Kanker Payudara

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 10/06/2020 . Waktu baca 5 menit
SADARI kanker payudara

Apakah Kamu Berisiko Terkena Kanker Payudara?

Ditulis oleh: Luthfiya Rizki
Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020 . Waktu baca 1 menit

Berbagai Manfaat Daun Kale, Si Hijau yang Kaya Zat Gizi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 28/05/2020 . Waktu baca 5 menit
merawat pasien kanker payudara

7 Tips Merawat Pasien Kanker Payudara dalam Pengobatan

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18/04/2020 . Waktu baca 5 menit