home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Kekurangan Vitamin D Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19

Kekurangan Vitamin D Pengaruhi Tingkat Kematian COVID-19

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejauh ini masih banyak hal yang belum diketahui peneliti terkait COVID-19. Namun, temuan baru mengungkapkan bahwa kadar vitamin D di dalam tubuh ternyata berperan cukup penting terhadap angka kematian COVID-19. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Peran vitamin D terhadap angka kematian COVID-19

kurang vitamin D pici skizofrenia

Wabah COVID-19 kini telah menyebabkan jutaan kasus di seluruh dunia dan ratusan orang meninggal dunia. Jumlah kasus kematian yang kian hari terus meningkat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mulai dari riwayat penyakit kronis yang diderita pasien hingga keterbatasan fasilitas di rumah sakit.

Baru-baru ini penelitian yang dimuat di medRxiv mengungkapkan salah satu penyumbang angka kematian pada COVID-19 yaitu kekurangan vitamin D.

Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Northwestern University ini menganalisis data statistik dari rumah sakit dan klinik di beberapa negara mulai dari Tiongkok, Perancis, Jerman, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.

Beberapa negara di atas merupakan negara dengan tingkat kematian COVID-19 tertinggi, seperti Italia, Spanyol, dan Inggris. Hampir sebagian pasien dari negara tersebut ternyata mempunyai kadar vitamin D yang rendah dibandingkan negara-negara yang tidak terkena dampak begitu parah.

Penelitian ini dilakukan karena tim peneliti ingin mengetahui perbedaan tingkat kematian COVID-19 yang tidak dapat dijelaskan dari satu negara ke negara lainnya. Maka itu, mereka mencoba memeriksa kadar vitamin D sejumlah pasien dari negara yang terkena dampak parah.

Hal ini dikarenakan salah satu faktor risiko dari kematian COVID-19 adalah badai sitokin. Badai sitokin merupakan kondisi peradangan hebat yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif.

Penelitian tersebut ternyata menemukan adanya hubungan yang cukup kuat antara kadar vitamin D dengan badai sitokin terhadap angka kematian COVID-19.

Pasalnya, badai sitokin dapat memberikan dampak yang cukup parah terhadap paru dan menimbulkan gangguan pernapasan akut yang bisa berujung pada kematian.

Walaupun demikian, bukan berarti masyarakat diminta untuk ‘menimbun’ suplemen vitamin D dalam jumlah banyak. Temuan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan membandingkan negara lainnya yang memiliki kondisi yang berbeda.

Kekurangan vitamin D dapat memicu badai sitokin

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa kekurangan vitamin D berpengaruh terhadap angka kematian COVID-19 karena dapat memicu badai sitokin. Mengapa demikian?

Kecukupan vitamin D dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh bawaan dan mencegah mereka menjadi terlalu aktif. Itu berarti bahwa kadar vitamin D yang sehat kemungkinan besar dapat melindungi pasien COVID-19 dari komplikasi yang parah, termasuk kematian.

Vitamin D mungkin tidak dapat mencegah orang lain dari penularan infeksi virus, tetapi dapat mengurangi risiko terjadinya komplikasi dan kematian pada pasien.

Para peneliti juga berpendapat bahwa hubungan ini juga membantu menjelaskan mengapa anak kecil memiliki risiko kematian COVID-19 yang rendah.

Hal tersebut dikarenakan anak masih mengandalkan sistem kekebalan tubuh bawaan mereka, sehingga kemungkinan besar dapat mengurangi risiko terjadinya reaksi yang berlebihan.

faktor penentu hilang COVID-19

Walaupun vitamin D berperan penting dalam pandemi COVID-19, masyarakat tetap diminta untuk tidak mengonsumsi vitamin D secara berlebihan. Konsumsi suplemen vitamin secara berlebihan tentu akan menimbulkan efek samping.

Maka dari itu, peneliti masih memerlukan studi lebih lanjut untuk melihat bagaimana vitamin D secara efektif dapat digunakan untuk melindungi dari komplikasi COVID-19.

Intinya, kekurangan vitamin D cukup berbahaya, tetapi dapat ditangani lewat penggunaan suplemen yang wajar. Temuan ini mungkin dapat menjadi siasat baru untuk membantu melindungi kelompok yang rentan terhadap COVID-19, seperti pasien lansia.

Sementara itu, dilansir dari Andrew Weil Center for Integrative Medicine, mencukupi vitamin D memang perlu untuk menghadapi COVID-19, terutama mengurangi risiko kematian.

Namun, ketika tubuh mengalami peradangan seperti yang terjadi pada pasien yang terinfeksi COVID-19 dan mengalami kondisi parah, vitamin D justru perlu dihentikan sementara.

Hal tersebut mengingat vitamin D dapat mengaktifkan jalur peradangan dan molekul inflamasi, IL-1B. Hal ini ternyata menjadi ciri dan bisa berpengaruh terhadap munculnya gejala COVID-19.

Maka dari itu, vitamin D mungkin perlu dihentikan sementara waktu saat gejalanya muncul dan dapat dilanjutkan sesuai dengan kondisi pasien.

Siapa yang paling berisiko kekurangan vitamin D?

masalah tidur lansia

Faktor komplikasi COVID-19 yang bisa berujung pada kematian mungkin dapat disebabkan oleh kurangnya kadar vitamin D dalam tubuh. Maka dari itu, penting untuk mencukupi kebutuhan vitamin D harian Anda lewat makanan dan suplemen.

Kebutuhan harian vitamin D bergantung pada usia seseorang, seperti:

  • bayi di bawah usia 12 bulan: 400 IU (satuan internasional)
  • anak berusia 1-13 tahun: 600 IU
  • remaja 14-18 tahun: 600 IU
  • dewasa 19-70 tahun: 600 IU
  • lansia 71 tahun ke atas: 800 IU
  • wanita hamil dan menyusui: 600 IU

Bagi orang yang berisiko tinggi terhadap kekurangan vitamin D, seperti lansia, biasanya membutuhkan lebih banyak asupan harian. Berikut ini beberapa kelompok yang paling berisiko mengalami kekurangan vitamin D, seperti:

  • bayi yang sedang disusui ASI tanpa suplemen vitamin D tambahan
  • lansia karena fungsi ginjal menurun untuk mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif
  • orang dengan kulit gelap
  • penderita osteoporosis
  • orang yang menderita penyakit ginjal, hati kronis, dan obesitas

Beberapa jenis di atas merupakan salah satu kelompok yang berisiko mengalami kekurangan vitamin D. Oleh karena itu, memenuhi asupan harian vitamin D sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing ternyata cukup penting, terutama untuk mengurangi risiko kematian COVID-19.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

COVID-19 FAQ. (2020). Andrew Weil Center for Integrative Medicine. Retrieved 11 May 2020, from https://integrativemedicine.arizona.edu/COVID19/FAQ.html

Daneshkhah, A., Agrawal, V., Eshein, A., Subramanian, H., Roy, H., & Backman, V. (2020). The Possible Role of Vitamin D in Suppressing Cytokine Storm and Associated Mortality in COVID-19 Patients. doi: 10.1101/2020.04.08.20058578. Retrieved 11 May 2020. 

Vitamin D Deficiency. Medline Plus. Retrieved 11 May 2020, from https://medlineplus.gov/vitaminddeficiency.html

Foto Penulis
Ditinjau oleh dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal diperbarui 15/05/2020
x