Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Bagaimana Dokter dan Staf Medis COVID-19 Menjaga Kesehatan Mentalnya?

Bagaimana Dokter dan Staf Medis COVID-19 Menjaga Kesehatan Mentalnya?

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Wabah COVID-19 yang telah menewaskan lebih dari 2.700 korban jiwa dan menyebabkan sekitar 81.000 kasus secara global ternyata memberikan dampak gangguan mental terhadap orang sehat, termasuk tenaga kesehatan. Seperti apa dampak kesehatan terhadap tenaga kesehatan yang bertugas menangani pasien COVID-19?

Isu kesehatan mental di antara kalangan dokter dan tenaga kesehatan lainnya kadang diabaikan karena tidak terlihat secara kasat mata. Akan tetapi, apabila masalah ini berlangsung terus menerus dan dalam waktu yang lama, tentu akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik.

Maka itu, penting sekali membahas kesehatan mental yang dimiliki oleh dokter dan tenaga kesehatan dalam menghadapi COVID-19.

Kesehatan mental dokter menghadapi COVID-19

dokter spesialis

Sampai saat ini, jumlah kasus COVID-19 terus meningkat, baik di Tiongkok maupun di luar Tiongkok. Tidak mengherankan, ada sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang kewalahan mengurusi pasien yang terus bertambah. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan akhirnya meninggal dunia.

Menghadapi wabah penyakit menular dalam skala besar ini, tentu membuat mereka berada di bawah tekanan besar. Pada akhirnya mental mereka pun terganggu.

Jumlah dokter dan tenaga medis yang tidak sebanding dengan jumlah pasien yang datang membuat mereka dituntut untuk bekerja tanpa henti dan kurang beristirahat. Selain itu, mereka juga menyaksikan puluhan ribu pasien yang tersiksa akibat COVID-19, sehingga tidak heran jika kesehatan mental tim dokter terganggu.

sedang stres

Pemerintah Tiongkok pun menyadari hal tersebut dan mencoba berbagai hal untuk memandu staf medis menangani masalah psikologis umum. Tetapi, menurut penelitian dari Lancet, layanan tersebut mengalami hambatan. Banyak tenaga kesehatan enggan berpartisipasi dalam bantuan yang diberikan pemerintah.

Beberapa perawat menunjukkan sikap penolakan, menolak beristirahat, tetapi menunjukkan tanda-tanda tertekan secara batin meskipun mengatakan tidak memiliki masalah. Maka itu, para peneliti melakukan wawancara selama 30 menit dengan para dokter dan tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 untuk melihat isu kesehatan mental mereka.

stres saat puasa

Hasilnya, diketahui beberapa alasan mengapa para staf medis mengalami tekanan psikologis selama menjalankan tugas:

  • awal bekerja tidak begitu khawatir dapat terinfeksi virus
  • tidak ingin membuat keluarga cemas
  • tidak tahu bagaimana menangani pasien ketika mereka tidak mau melakukan karantina
  • mencemaskan ketersediaan alat pelindung diri dan masker
  • merasa tidak mampu ketika dihadapkan dengan pasien yang kritis

Tidak sedikit dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang mengungkapkan bahwa mereka tidak membutuhkan psikolog. Mereka justru memerlukan waktu beristirahat lebih banyak tanpa gangguan dan ketersediaan alat pelindung yang cukup.

Bahkan, staf medis menyarankan untuk menyediakan pelatihan keterampilan psikologis. Pelatihan tersebut bertujuan untuk membantu menangani kecemasan, kepanikan, dan masalah emosional yang dihadapi oleh pasien.

Bagaimana pemerintah Tiongkok mengatasi masalah ini?

akibat stress berat

Isu kesehatan mental yang dialami oleh tim dokter dan tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 tentu bukan masalah yang dapat diabaikan begitu saja.

Pada saat kesehatan mental terganggu ketika mengobati pasien tentu akan berdampak pada kesehatan fisik mereka. Akibatnya, staf medis lebih rentan tertular dari pasien atau dokter lainnya yang sudah terinfeksi virus SARS-CoV-2.

Oleh karena itu, akhirnya pemerintah menyesuaikan cara membantu staf medis dalam menghadapi isu kesehatan mental mereka, seperti:

1. Menyediakan tempat istirahat bagi tim medis

Istirahat langkah pengobatan akibat penularan hepatitis a

Salah satu cara pemerintah untuk menangani isu kesehatan mental yang dialami oleh dokter dan tenaga kesehatan yang menangani COVID-19 adalah menyediakan tempat istirahat. Tempat istirahat yang disediakan oleh pihak rumah sakit sifatnya seperti ‘ruang isolasi’ dari keluarga dan rekan kerja mereka.

Selain itu, mereka juga dijamin makanan dan persediaan barang sehari-hari. Bahkan, para dokter dan tenaga kesehatan juga dibantu dalam merekam kegiatan sehari-hari di rumah sakit untuk dibagikan kepada keluarga mereka.

Hal ini bertujuan untuk mengurangi rasa cemas yang dirasakan oleh anggota keluarga mereka. Intinya, kesejahteraan ketika merawat pasien sangat diutamakan dalam menjaga kesehatan mental para staf medis.

physical distancing

2. Mengadakan pelatihan pra-kerja

belajar hal baru

Selain mengadakan pelatihan pra-kerja tentang pengetahuan penyakit dan cara mengurangi risiko menularnya infeksi, para staf medis juga dibekali tentang masalah psikologis pasien. Maksudnya, para dokter akan dibekali pengetahuan dasar tentang merespons pasien COVID-19 yang mengalami isu kesehatan mental terkait wabah tersebut.

Para dokter yang tidak tahu harus berbuat apa ketika pasien menolak dikarantina juga akan dibantu. Rumah sakit akan mengirimkan staf keamanan agar pasien lebih kooperatif. Dengan begitu, tekanan psikologis yang dialami oleh dokter dan tim medis terkait pasien yang tidak dapat bekerja sama atau mengalami isu kesehatan mental dapat berkurang.

3. Mengembangkan peraturan tentang APD COVID-19

tenaga kesehatan pengobatan diabetes

Para tenaga medis juga khawatir terhadap persediaan alat pelindung diri (APD), seperti baju pelindung dan masker. Akhirnya mereka berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan metode konvensial yang ternyata tidak cukup aman, seperti:

  • menambal masker pelindung sekali pakai
  • menggunakan googles sekali pakai berulang kali
  • membungkus sepatu dengan kantong plastik karena penutup khusus tidak ada

Kekurangan tersebut meningkatkan risiko penularan kepada staf medis menjadi cukup tinggi, mengingat mereka berada di ‘sarang’ virus, yaitu rumah sakit.

Agar persediaan dapat kembali terpenuhi, pemerintah akhirnya mengeluarkan aturan penggunaan masker yang diterapkan di seluruh Wuhan. Hal ini bertujuan sebagai salah satu upaya ‘menyelamatkan’ kesehatan mental para dokter yang menangani COVID-19.

4. Memberikan fasilitas untuk bersantai

istirahat santai

Pemerintah Tiongkok sangat khawatir dengan kegiatan dokter dan staf medis lainnya yang sibuk menangani COVID-19, sehingga mengabaikan kesehatan mental mereka. Maka itu, beberapa rumah sakit membuka fasilitas untuk bersantai dan pelatihan cara bersantai di tengah wabah penyakit untuk mengelola stres staf medis.

Pemerintah pun mendatangkan konselor psikologis secara teratur yang akan mengunjungi tempat istirahat mereka. Selama sesi tersebut berlangsung, para dokter dan tenaga kesehatan lainnya diminta untuk bercerita dan konselor akan memberikan dukungan yang sesuai.

Dengan begitu, ratusan staf medis di pusat wabah Wuhan dapat beristirahat di tempat yang sudah disediakan. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang merasa nyaman dengan fasilitas ini.

Menjaga kesehatan mental staf medis seperti dokter dan perawat saat menangani penyakit menular COVID-19 ini ternyata cukup penting. Walaupun demikian, pendekatan terbaik menyelesaikan isu tekanan psikologis selama wabah penyakit berlangsung masih belum jelas.

Akan tetapi, langkah-langkah yang dilakukan pemerintah setidaknya dapat mengurangi beban stres yang dialami oleh mereka.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Buckley, C., Wee, S., & Qin, A. (2020). China’s Doctors, Fighting the Coronavirus, Beg for Masks. Retrieved 26 February 2020, from https://www.nytimes.com/2020/02/14/world/asia/china-coronavirus-doctors.html 

Chen, Q., Liang, M., Li, Y., Guo, J., Fei, D., & Wang, L. et al. (2020). Mental health care for medical staff in China during the COVID-19 outbreak. The Lancet Psychiatry. doi: 10.1016/s2215-0366(20)30078-x. Retrieved 26 February 2020. 

Rimmer, A. (2019). Doctors still see their own mental health problems as a sign of weakness, research finds. BMJ, l1861. doi: 10.1136/bmj.l1861. Retrieved 26 February 2020. 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nabila Azmi Diperbarui 30/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x