home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Fungsi Paru Berkurang Setelah Pasien COVID-19 Sembuh, Benarkah?

Fungsi Paru Berkurang Setelah Pasien COVID-19 Sembuh, Benarkah?

Baca semua artikel berita seputar coronavirus (COVID-19) di sini.

Seorang dokter pejabat otoritas rumah sakit di Hongkong merilis penelitian terbaru tentang Coronavirus (COVID-19). Ia melakukan penelitian yang fokus pada fungsi paru-paru pasien COVID-19 yang sudah sembuh dan melihat adanya perubahan pada kondisi mereka.

Studi tersebut mengatakan pasien yang telah dinyatakan sembuh dari COVID-19 memiliki fungsi paru yang tidak semaksimal sebelumnya.

Fungsi paru-paru setelah pasien COVID-19 sembuh

mengatasi kram perut saat lari

Tim dokter penanganan COVID-19 di Hongkong melakukan pengamatan pada selusin pasien Coronavirus yang telah sembuh. Mereka meneliti kondisinya dan menemukan adanya penurunan fungsi paru-paru beberapa pasien COVID-19.

Untuk diketahui, sampel 12 pasien ini adalah kloter pertama pasien positif COVID-19 di Hongkong yang dinyatakan sembuh. Pasien-pasien ini sembuh setelah diobati dengan obat Kaletra (yakni obat HIV/AIDS), obat Ribavirin (yakni obat hepatitis C), Interferon.

Pasien-pasien diminta untuk menjalani beberapa aktivitas untuk mengukur kemampuan paru mereka. Setidaknya tiga pasien tidak dapat melakukan hal-hal yang dapat mereka lakukan sebelum tertular virus SARS-CoV-2. Mereka merasa terengah-engah ketika diminta untuk berjalan sedikit lebih cepat, walau hanya beberapa menit.

Selain itu, hasil scan paru-paru pada 9 pasien ditemukan pola yang mirip, yakni terlihat seperti kaca buram yang menunjukkan mereka menderita kerusakan organ. Kondisi paru-paru seperti itu mirip dengan yang ditemukan pada pasien penderita SARS dan MERS.

Dr. Owen Tsang Tak-yin direktur medis Infectious Disease Center di Princess Margaret Hospital, Hongkong menjelaskan fakta temuannya. Ia mengungkapkan adanya penurunan fungsi paru-paru pada beberapa pasien Coronavirus yang telah sembuh ini.

Dikutip dari South China Morning Post, Tsang mengatakan bahwa beberapa pasien mungkin mengalami pelemahan atau penurunan fungsi paru-paru hingga 30% setelah sembuh dari COVID-19.

Ia menyarankan para pasien COVID-19 menjalani fisioterapi untuk memulihkan kembali dan memperkuat fungsi paru-paru mereka. Fisioterapi tersebut dengan latihan kardiovaskular seperti berenang dan latihan lainnya.

Tsang menambahkan hasil pengamatan ini masih membutuhkan penelitian lanjutan. Yakni pasien masih perlu menjalani tes lebih lanjut untuk menilai berapa banyak fungsi paru-paru yang yang mereka pertahankan.

Ia juga belum bisa mengambil kesimpulan apakah kondisi pengurangan fungsi paru-paru pada pasien Coronavirus ini berpotensi pada masalah jangka panjang atau tidak, misalnya seperti fibrosis paru-paru. Fibrosis paru-paru adalah suatu kondisi di mana jaringan paru mengeras dan organ tidak dapat berfungsi dengan benar.

mencegah tertular coronavirus

Kondisi paru-paru pasien positif Coronavirus

paru pasien coronaviru COVID-19

Tsang menjelaskan fungsi paru-paru pasien positif Coronavirus menunjukkan adanya cairan atau puing-puing bercak. Kondisi ini kemungkinan akan semakin buruk saat infeksi virusnya berkembang dan menyebabkan pneumonia.

Sebelumnya, Jurnal Radiological Society of North America mengeluarkan penelitian yang menunjukkan perburukan kondisi paru-paru pasien yang terinfeksi COVID-19.

Tim peneliti melakukan CT scan pada pasien positif COVID-19 yang memiliki gejala pneumonia, hasilnya terdapat bercak putih yang menunjukkan adanya penumpukan cairan pada rongga paru-paru. Bercak ini disebut ground glass opacity (GGO).

Sebuah penelitian lainnya di American Roentgen Ray Society mengatakan sekitar 86.1 persen paru-paru pasien positif COVID-19 memiliki GGO.

Per hari ini, Senin (16/3), wabah COVID-19 telah menginfeksi lebih dari 169 ribu pasien dari 157 negara di seluruh dunia. Dengan rincian pasien sembuh lebih dari 77 ribu dan kematian setidaknya 6 ribu kasus. Di Indonesia, COVID-19 telah menginfeksi setidaknya 117 positif, dengan 5 kasus kematian dan 8 dinyatakan sembuh.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • South China Morning Post. Coronavirus: some recovered patients may have reduced lung function and are left gasping for air while walking briskly, Hong Kong doctors find. Retrieved 16 March 2020.
  • Pan, F., Ye, T., Sun, P., Gui, S., Liang, B., Li, L., Zheng, D., Wang, J., Hesketh, R., Yang, L. and Zheng, C., 2020. Time Course of Lung Changes On Chest CT During Recovery From 2019 Novel Coronavirus (COVID-19) Pneumonia. Radiology, p.200370.
  • Wei Zhao, Zheng Zhong, Xingzhi Xie, Qizhi Yu, Jun Liu. Relation Between Chest CT Findings and Clinical Conditions of Coronavirus Disease (COVID-19) Pneumonia: A Multicenter Study. American Journal of Roentgenology, 2020; 1 DOI: 10.2214/AJR.20.22976.
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 18/03/2020
x